CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Pilu yang Menyesakkan Dada


__ADS_3

"Abang. . izza datang huhuhu.... " Whani mengusap nisan bertuliskan Muhamad Reyhan bin Aziz Mualaf.


Setelah seminggu di rawat sesudah koma. Whani memaksa untuk pulang ingin ke Pahang. Mengunjungi makam suaminya.


Menurut cerita papa, 1 hari kemudian setelah kecelakaan. Jasad Reihan dan Amir di temukan oleh nelayan. Sedang orang tuanya keesokannya baru di temukan. Fahat sempat mengikut datang ke pahang di kampung halaman Reihan menyaksikan pengebumian satu keluarga itu.


"Abang... huhu... Kenapa abang ninggalin Izza... "


Papa yang ikut datang menemaninya ikut menitikan air mata. Di ikuti saudara-saudara Reihan yang lain. Mereka diam membiarkan Whani menangis mencurahkan isi hatinya.


"Kenapa abang pergi setelah cinta kita bersatu.. kenapa..kenapa abang tega... "


"Aku serassa ingin mati sekarang bang ... bangun... bangun... !!"


"Kenapa kamu pergi ninggalin aku bang huhu... "


"Kamu bilang minta hadiah kan setibanya di Batam.. ayo bangun bang... aku akan memberikannya pada mu.. semuanya... huhuhu... "


Papa muai mendekat,merangkul bahu anaknya. Whani langsung membenamkan wajahnya di dada papanya.


"Papa... huhu... aku mencintainya pa... aku mencintanya... "


Fahat mengusap rambut Whani lembut. Dia sungguh tidak tahan melihat kesedihan anaknya.


"Izza... jangan buat Reihan bersedih, semua dah takdir. Kite sebagai manusia tak boleh nak melawan takdir ketentuan dari Allah.. Awak kene ikhlas kan semuanye, kita same-same do'akan. Semoga Arwah Arwahi di cucuri rahmat dan di ampunkan dosa-dosanya.. " Ucap Bapak Saudara Reihan pada Whani.


Semua langsung mulai membaca yasin. Mengirim do'a untuk satu keluarga itu. Whani menatap nanar nisan Reihan. Begitu berat semua rasanya tanpa Reihan disisinya lagi.


"Izza pulang bang... InsyaAllah Izza akan slalu datang menjenguk abang.. " Pamitnya mengusap nisan itu sambil mengusap air matanya.


Papa mengajaknya bangun meninggalkan pemakaman itu, karna hari mulai gelap. Whani sempat menoleh beberapa kali sebelum mereka masuk ke mobil untuk pulang.


Dan disinilah dia sekarang, rumah mertuanya. Dia mulai menapaki tangga. ingatannya kembali saat Reihan menariknya ke atas saat resepsi mereka di pahang.


Reihan yang membopongnya ke kamar hingga ranjang. Whani mengingat tatapan mesra lelaki yang di cintainya itu. Begitu lembut penuh cinta.

__ADS_1


Ketika membuka lemari. Whani menatap sendu baju pengantin yang mereka pakai saat resepsi tergantung di dalam Almari. Kebaya melayu warna putih air yang panjang bagian bawahnya. Dan di sebelahnya baju melayu warna senada milik Reihan bersama dengan kain songketnya.


Dia kembali menangis, memeluk erat baju itu. Betapa dia merindukan lelaki itu. Lelaki yang tetap memeluknya erat saat tidur meski mereka sedang bersitegang. Lelaki yang slalu mengusap rambutnya tanpa mau mengucapkan kata-kata apapun.


Tatapannya beralih ke ranjang. Dia mengingat ketika suaminya meminta haknya. Dan justru saat itu dia belum bisa menjalankan kewajibanya sebagai istri. Tangisnya mulai pilu. Memeluk baju itu di ranjang yang mereka gunakan dulu.


"Abang... huhu.... "


Whani mengusap bagian tempat tidur yang biasa di pakai Reihan. Mengusap lembut bantalnya. Berusaha menghirup aroma tubuh suaminya yang tersisa di situ .


Dia menangis hingga kelelahan dan tertidur. Tiba-tiba dia merasa belaian lembut di kepalanya. Seketika dia membuka matanya.


Menatap sekeliling yang ternyata tidak ada siapa-siapa.


Baju pengantin itu tetap di peluknya erat. Matanya beralih ke arah jendela dan tak lama Adzan berkumandang .


tok tok tok.


"Whani... bangun sayang. udah maghrib.. " Seru fahat dari luar.


Disana dia kembali mengingat , bagaimana usilnya Reihan malam itu saat dia sedang menggosok gigi sebelum tidur.


( "Bang. .. balikin.. " Serunya saat Reihan mengambil sikat yang sedang dia pakai.


Suaminya tertawa dan mengetuk-ketuk pipinya yang tandanya minta di cium. Tak segan -segan Whani mendekat merangkup wajah suaminya dan mencium seluruh wajahnya hingga busa dari pasta gigi itu berpindah di wajah Reihan. Whani tertawa puas


Dan Reihan justru mengecup bibirnya saat itu juga. )


Air matanya kembali mengalir deras, dia bergegas mandi untuk sholat. Malam ini mereka berjamaah dengan keluarga Reihan.


Selesai makan malam, Whani memilih kembali ke kamar. Dia merindukan lelaki itu, meski pada akhirnya hanya tangisan pilu yang akan dia lakukan.


"Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku ini tanpa kamu bang.. bagaimana.. ?


Aku bahkan tidak tau harus memulainya dari mana. Kamu ada di mana-mana bang. Tapi aku tidak bisa menyentuhmu kembali seperti dulu.. "

__ADS_1


Lama dia menangis, menangisi nasibnya yang harus kehilangan suaminya saat Cinta antara mereka baru bersemi.


Tatapannya tiba-tiba tertuju pada kabinet di bawah berbagai piala penghargaan milik Reihan. Dia mendekat, membuka sebuah laci. Dia tidak sadar ada laci itu dulunya saat datang. Karna dia hanya 2 hari di sini.


Di dalamnya terdapat sebuah album besar. Whani membukanya, rupanya itu album semasa sekolah di sabah.


Dia mengusap foto Reihan saat sekolah menengah dulu. kurus tampan meski saat itu Reihan agak hitam karna hobinya main sky saat itu. Whani mengingat cerita Leha mama mertuanya saat mereka berkunjung ke batam .


Setelah selesai, di kembali membuka laci berikutnya . Kotak merah berisi Album dan aneka pernak pernik. Whani mengambilnya.


Semua itu hadiah berupa pernak pernik yang di berikan Whani pada Reihan setiap lelaki itu datang berkunjung ke batam. Whani kembali meneteskan air mata. Reihan masih menyimpan semuanya, meski saat itu tiap Whani memberikan hadiah, hanya tampang datar dan acuh Reihan yang di tunjukkan.


Di bukanya album itu. Semua berisi fotonya. Foto yang terlihat di ambil secara sembunyi-sembunyi saat dia datang ke rumahnya. Begitu banyak foto-foto yang sungguh tidak dia sangka dengan tanggal dan tahun yang berbeda tiap lembarnya.


Reihan menyimpan foto pertama Whani saat Whani berumur 17 tahun. Hati Whani begitu trenyuh,


Dia semakin percaya bahwa suaminya mencintainya sejak dulu.


Kembali dia membuka, dan itu adalah foto wisudanya. Bagaimana almarhum suaminya bisa mendapat foto itu. Nyatanya tidak ada yang bisa menjawab sekarang .


Di lembar terakhir Reihan menuliskan rangkaian kata-kata tepat di bawah foto Whani saat dia mulai mengambil alih ruko milik papanya.


**Biarkan aku hidup dengan cintamu


Meski aku tak bisa menyentuh hatimu.


Biarkan aku bernafas dengan bayangmu.


Meski terkadang bayang itu hilang terbawa waktu..


Izza Syazwhani aku mencintaimu**..


Whani mendekap album itu erat-erat seolah sedang memeluk Reihan. Tangis kepiluannya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Semua begitu menyesakkan dadanya.


"Izzinkan Whani tetap hidup dengan Cinta kasih abang Reihan... izinkan... huhuhuhu.... "

__ADS_1


__ADS_2