
Sebulan berlalu, Izza sedari pagi merasa tidak tenang .Bolak balik mengintip luar pagar dari jendela. Tentu saja ada yang dia tunggu.
"Kak.. Pinjem Krudung warna kuning ada ga. . ?" Dini muncul dari dalam rumah,mengerutkan keningnya heran, melihat kakaknya melamun di depan jendela. Lalu dia pun mendekat.
"Kak..."
Izza yang melamun langsung tersadar saat merasakan sentuhan di lengannya .
"Dini... ngagetin aja.. "
"Kakak kenapa pagi-pagi nglamun...?"
"Enggak, kenapa sih kamu. gangguin aja.. " gerutu Izza sambil berjalan menuju ruang TV.
"Hem, ngambek lagi. Pusing akutu mau ngomong sama kakak. Dikit-dikit ngambek. Dikit-dikit ketus .. Semoga aja nanti anak kakak nurun kak Arlan aja, kalem,manis, ganteng, penyayang.. " cerocosnya tanpa memperhatikan raut wajah Izza yang sudah tertekuk dalam .
"Terus aja muji suami kakak.. terus... sebel deh.."
"Kan, susah kak. .Udah donk, jangan ngambek.. " bujuknya setelah ingat tujuannya.
"Aku tu mau pinjem krudung warna kuning kak.. "
"Ambil aja sana di lemari.." jawabnya tanpa melihat ke arah adiknya .
"Ok, maacih...." gadis itu berlari menuju tangga meninggalkan kakaknya yang hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Tak lama dua kembar turun sudah cantik dan rapi. Menandakan mereka akan pergi keluar.
"Kalian mau kemana..? " tanya Izza.
"Ini kan hari libur kak, kita mau jalan lah.. " jawab Dina sambil merapikan krudungnya .
"Iya, ada film baru.. " tambah Dini yang tampak imut dengan style nya.
"Kita pergi ya kak, udah di tunggu temen-temen.. " ucap keduanya lalu bergantian keduanya salim dengan Izza.
"Hati-hati... " pesan Izza pada keduanya.
"Ok.... !!" keduanya lari menuju mobil tentu saja berebut untuk bisa duduk di kursi depan.
Izza tak sadar jadi ikut tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Saat dia berbalik alangkah terkejutnya dia karna melihat papa dan mamanya juga tampak rapi .
"Loh, mama sama papa. Mau keluar juga.. ?"
"Iya sayang, papa sama mama ada acara sama teman lama.. " Jawab Fahat.
"Akak kat rumah elok-elok yee.. " pesan Humairah yang anggun dengan gamis hitamnya.
"Iya ma.. " Izza tersenyum kaku . Bersikap baik-baik saja di tinggalkan anggota keluarganya.
Tapi saat mama dan papanya sudah pergi menaiki mobil, dia tiba-tiba menangis.
"Huuu.... kenapa mama sama papa ga ngajak aku.. hwaaaa... "
Hormon ibu hamil membuatnya kadang bersikap ke kanak-kanakan. Orang lain pasti akan tertawa saat melihat Izza menangis sambil memakan es krim.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Izza yang sudah menghabiskan setengah cup besar es cream di kejutkan oleh bunyi bel rumahnya.
"Siapa sih, gangguin orang lagi sedih aja.. " Di usapnya air mata yang masih terus mengalir itu.
Perlahan dia pun bangkit karna bel kembali berbunyi.
"Iya bentar, ga sabaran banget sih jadi Or ... " Umpatannya berhenti saat melihat seseorang di balik pintu rumahnya.
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam saling pandang.
"Arlan... " ucapnya tanpa suara.
Lelaki itu tersenyum tapi kemudian senyumnya lenyap saat melihat mata indah itu memerah.
"Kamu habis nangis.. ? kenapa nangis.. ? ada apa.. ? " berondongnya sambil mendekati istrinya.
Tanpa berniat nenjawab pertanyaan suaminya, Izza langsung menghambur memeluk erat tubuh Arlan. Air matanya pun kembali meleleh.
"Hustt.Udah jangan nangis... " bujuk Arlan lembut sambil membalas pelukan istrinya.
"Huhuhu...." Izza justru tambah terisak mendengar suara suaminya itu. Dia tidak bisa membohongi hatinya yang begitu merindukan sosok lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta secara diam-diam. Tanpa mau mengakuinya.
Arlan memilih membelai punggung istrinya, menghujani ciuman di kepala wanita yang begitu dia sayangi itu. Betapa rindu dia dengan wanita itu.
Tadinya dia risau jika Izza tidak mau bertemu dengannya saat bertemu, berbagai cara pun dia fikirkan untuk membujuk istrinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wanita istimewanya itu justru menangis sesenggukan memeluknya erat.
Beberapa saat kemudian, Izza memilih mengurai pelukannya saat menyadari apa yang dia lakukan. Malu, dia memilih menunduk menutupi kegugupanya. Beberapa bulan bersama, justru baru sekarang Izza merasa sangat gugup hanya untuk menatap wajah tampan yang selalu menebar senyum hangat itu.
Arlan pun merasa sedikit canggung setelah Izza melepas pelukannya, tapi kemudian dia memilih kembali menarik wanita yang masih sesenggukan sehabis menangis itu merapat ke tubuhnya.
Sebuah kecupan hangat dia berikan di kening wanita yang sudah menghuni hatinya itu. Izza bahkan memejamkan mata merasai hangatnya sebuah kecupan di keningnya.
"Kamu kenapa..? " tanya Arlan masih dengan memperhatikan bingkai wajah istrinya. Hidung yang bangir seperti papa mertuanya, bahkan bentuk bibirnya. Bisa di bilang wajah Izza memang fotocopian papa Fahat.
"Aku malu..." Meronta pelan keluar dari pelukan suaminya.
Arlan yang sadar segera memalingkan wajahnya mengawasi sekitar. Sangking rindunya pada sang istri, dia bahkan tidak menyadari yang keduanya berada di depan pintu luar rumah.
"Ehh... sorry... "
Izza hanya mengangguk lalu membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan suaminya masuk.
"Aku bikin minum dulu.."
"Ga usah sayang... Aku ambil sendiri..." Arlan memilih masuk sendiri ke dapur untuk sekalian mencuci tangannya. Dia sadar, perjalanan jauh mungkin membuatnya membawa kuman walau pun tadi sudah memakai penyemprot anti kuman sebelum menemui istrinya, tetap saja hatinya was-was. Apalagi istrinya sedang hamil.
Sedang Izza berdiri mematung merasakan hangat hatinya mendengar panggilan sayang suaminya.
"Astaga.. kenapa rasanya sebahagia ini.. "
Tersenyum geli sendiri Izza memilih membawa tas suaminya menuju kamarnya. Lelaki itu hanya membawa rangsel kecil, karna bajunya di kamar Izza memang ada beberapa potong.
Sedang Arlan yang kembali dari dapur membawa 1 gelas teh dan air hangat celingukan karna tak menjumpai istrinya.
"Sayang.... " panggilnya kemudian sambil mendongak. Dan benar Istrinya muncul melongok di pagar lantai atas.
__ADS_1
"Mandi dulu gih...!!" teriak Izza dari lantai 2 .
Arlan tak mampu menahan senyum bahagianya, memilih langsung berjalan menuju lantai atas.
Bahagia. Itu yang dia rasakan, karna ternyata istri tercintanya bisa menerimanya.
Tiba di kamar itu, Arlan di buat terkejut melihat tampilan lain kamar Izza.
Kamar yang dulu bernuansa biru berubah jadi ungu. Bukan itu yang penting bagi Arlan, justru ke tiadaan barang Reihan di kamar itu yang membuatnya sedikit tak percaya.
Tidak ada foto Reihan, sepatu atau pernak pernik miliknya di ruangan itu.
Dia di buat bingung melihat perubahan yang sungguh dulu begitu dia harapkan.
"Udah aku siapin air angetnya, buruan mandi.. " Suara Izza yang muncul dari balik pintu kamar mandi membuat Arlan terkejut. Dia pun segera meletakkan nampan yang dia bawa.
"Makasih... " Di usapnya kepala berbungkus jilbab itu lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Izza memilih menyiapkan baju ganti dan turun menyiapkan makanan untuk suaminya yang pasti lapar karna hari sudah siang.
Arlan yang sudah siap mandi di buat tersenyum bahagia lagi saat keluar dan melihat baju ganti yang menggantung di depan lemari bajunya.
"Apa kamu sudah bisa memaafkan ku sayang... ? " ucapnya sambil melihat baju pilihan istrinya.
Setelah menyisir rambutnya, iseng Arlan memilih kembali ke ruang ganti. Ragu-ragu dia membuka sebuah lemari yang di dalamnya dulu begitu banyak pakaian lelaki bernama Reihan.
Jantungnya serasa berhenti saat tahu isi lemari yang justru berganti tempat menyimpan selimut, seprei dan handuk. Dia pun langsung membuka lemari lainya, yang ternyata hanya berisi bajunya juga istrinya.
"Barang Reihan semuanya ga ada... "
Arlan berjalan menuju sofa, meraih teh yang tadi dia buat sambil memikirkan yang terjadi. Sungguh dia begitu berharap Izza sudah bisa menerima kepergian Reihan dan bisa menerima kehadirannya. Tapi harapan itu di buat sirna setelah mengingat kebenaran yang Izza ucapkan di rumah sakit dulu. Awalnya dia merasa istrinya sudah bisa menerima kehadirannya, tapi ternyata Izza hanya ingin membahagiakan orang tuanya dan memberikan mereka cucu. Tanpa perduli pada perasaanya.
"Mas... mau makan sekarang..? " Izza menutup kembali pintu kamar dan berjalan malu-malu ke arah Arlan .
Arlan mengembangkan senyumnya. menarik wanita itu untuk duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kabarnya dia.. ?" mengusap lembut perut yang masih datar. Usia kandungan baru 10 minggu.
Izza memperhatikan tangan Arlan yang mengusap perutnya, ada perasaan nyaman tersendiri yang dia rasakan .
"Apa dia menyusahkan mu, sayang.. ?" tambah Arlan.
"Baik, Alhamdulilah. ." jawab Izza yang gugup karna kembali di tatap oleh suaminya.
"Masih mual ga ... ?" kali ini tangan Arlan beralih menggenggam tangan istrinya.
"Masih, tapi pagi aja.. " Bahagia, setidaknya Izza merasa begitu di perhatikan oleh Arlan saat ini.
"Kenapa ga pernah mau ngangkat telpon aku, ga mau bales pesen. hem... ?"
Izza menunduk, bagaimana dia akan membalas karna yang dia inginkan sebenarnya suaminya datang membujuknya.
Arlan mengangkat dagu Izza agar kembali menatapnya.
"Kamu masih marah.. ? belum bisa maafin aku. ?"
__ADS_1
Izza menggeleng pelan. Yang justru membuat Arlan begitu gemas ingin sekali menciumi wajah istrinya itu. Tapi dia sadar situasi.
"Jadi udah maafin aku..? " tanya Arlan penuh binar .