CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Harapan Orang Tua


__ADS_3

Menjelang sore rombongan pengantin pria berpamitan Pulang. Izza sudah berjalan mendekati mobil pakdenya ketika tiba-tiba seseorang memanggilnya. Dia menoleh, melihat ke arah lelaki rupawan berkemeja batik itu tampak terengah-engah mengejarnya.


"Ya.. ?" Dia sedikit terkejut saat lelaki itu menyodorkan kartu namanya.


"Tolong hubungi aku ya.. " Ucap Arlan lalu berbalik menuju mobilnya yang ada di ujung sebrang .


Fahat tampak tersenyum tipis, bahkan berpandangan dengan nenek yang juga ikut mengulum senyum.


"Sepertinya Arlan menyukai anakmu Hat.. "Ucap pakde pada adiknya yang ikut mengangguk membenarkan.


Izza memandangi kartu nama itu sebentar dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan dia hanya termenung, ada rasa yang menyesakkan dadanya saat melihat Rizal mengucap akad.


Aku mengingatmu bang..


Mengingat setiap detainya saat kamu mengucap akad saat menikahiku..


Aku merindulanmu bang..


Sekuat tenaga dia menahan air matanya selama berada di pesta, agar papanya tidak khawatir. Tapi tidak di dalam kamar. Dia menangis memeluk lututnya erat.


Kesokannya Izza memilih pulang bersama Fahat. Dia ingin segera ke Pahang mengunjungi makam suaminya. Dia begitu rindu.


"Akak ape tak luse je pegi sane.. nanti mama kawankan.. " Sesampainya di Batam, Izza memang langsung meminta izin pada orang tuanya.


"Iya Za.. kamu juga pasti lelah. Lusa saja kesananya.. "


Akhirnya dia mengalah mengiyakan.

__ADS_1


"Aku ke kamar dulu ya ma pa.. " pamitnya.


"Iya.. istirahatlah.. " ucap papa.


"Mama sudah bersihkan kamar akak.. " ucap mamanya.


Izza tersenyum, mencium pipi mamanya.


"Makasih ma.. "


"Same-same sayang.. "


Setelah Izza naik dan masuk kamar. Fahat segera menarik istrinya ke kamar.


"Kamu tau Rah.. ada seorang lelaki yang sedang mendekati Izza saat di semarang.. " Ucap Fahat antusias.


"Aaaa.... serius ke..??" Humairah menangkup tangannya di depan wajahnya.


"Lalu.. ? Apa Izza menghubunginya.. ?"


"Sepertinya belum.. " lirih Fahat lalu duduk di kursi.


Humairah tampak kecewa, dan ikut duduk di sebelah suaminya.


"Tapi Rah.. ini suatu kemajuan, sebelumnya dia memang benar-benar menghindari laki-laki manapun. berbicara pun enggan. Begitu menutup diri.. ini... mereka sudah kenalan.. "


"Iya tapi.. kalau tak menelpon. macam mane nak tersambung.. " Humairah tampak lesu.


"Kite do'akan saja Rah.. semoga Tuhan membukakan pintu hatinya pada orang yang tepat.. " Ucap Fahat.

__ADS_1


"Mama semase membereskan kamarnya tampak semue masih same Pa. Izza tetap menggantung baju Alayarham suaminye kat lemari. Foto mereka. . Semue masih same.. " Humairah tampak menyandar di kursi.


"Papa berharap besar pada Arlan ma.. semoga dia bisa membukan pintu hati anak kita. Tapi masalahnya sekarang Izza tidak merasa nyaman karna Arlan seorang dokter.. "


"Apasal dia trauma sangat ngan Aldi tu. . ? Kan Aldi cuma menciumnya pakse.. " Humairah memang belum tahu kebenarannya sampai saat ini.


"Ehhh... papa mau mandi ma.. " Elak Fahat.


Humairah tampak sedikit mengernyit tapi kemudian bangun menyiapkan ganti untuk suaminya.


Di kamar.


Izza berbaring sesenggukan memeluk potret suaminya.


"Izza Rindu bang... Rindu..


Rasanya begitu sesak menahan rindu ini sendiri bang.. huhu.. "


.


Arlan tampak bolak balik mengecek ponselnya, berharap Izza menghubunginya.


"Haicchhhh... kenapa aku ngarep banget sih.. " Dia mondar mandir lalu kembali duduk di ranjang. Kembali mengecek ponselnya dan ternyata nihil.


"Ahhh sudahlah Arlan.. Di itu Janda, apa kamu akan menikah dengan janda.. ?"


"Ehhh kenapa bahas nikah.. kenal aja baru tadi.. arkkkhhh.... "


Arlan masih tetap bermonolog sendiri hingga tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


Cepat-cepat dia meraihnya. Tapi saat melihat nama pemanggil, dia kembali melempar ponselnya.


"Maaf Dew.. aku lagi males manis-manisin kamu.. "


__ADS_2