
Reihan sengaja mengambil cuti kerjanya di hari rabu. Karna akan menghantarkan Whani menemui dokter Psikolog.
"Kita akan kemana Bang.. ?" Tanya Whani saat mereka sudah melaju di dalam mobil.
"Jumpa dokter.. " Reihan hanya menatapnya sekilas dan fokus ke jalanan yang mulai merayap.
Dan disinilah mereka sekarang, hospital besar yang dekat dengan laut. Reihan menggandeng tangan Whani masuk.
.
"Apa aku separah itu.. ?" Tanyanya saat mereka berjalan pulang.
"Awak rase macam mane.. ?" Reihan menolehnya sekilas.
Tak lama mereka sudah sampai rumah. Whani langsung menuju kamar merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Nak makan ape.. ?" Reihan membuka kaos panjangnya dan mengganti dengan kaos pendek.
"Tak nak makan.. " Lirih Whani setengah memejam. Dia masih memikirkan ucapan dokter yang mereka temui tadi. Bagaimana bisa dia memafkan Aldi jika mengingatnya saja jantungnya serasa mau copot.
"Izza.. boleh abang tanya susuatu.. ?" Reihan duduk di dekat kaki Istrinya.
"Apa.. ?"
"Awak dah lame ke berhubungan dengan Aldi.. ?"
"Jangan sebut namanya.. !"
"Ohh sorry.. jadi dah lame dekat ngan die.. ?"
"3 tahun.. Aku mengenalnya saat pergi liburan tahun baru dengan teman-teman ku di Singapore.. Dia meminta nomer, aku merasa tidak ada salahnya kami berteman. . "
"Sampai akhirnya.. saat hari Valentine dia menyatakan cintanya.. Aku menerimanya, meski aku tidak mencintainya. ."
Reihan meremas tangannya sendiri. Tapi tetap diam mendengar cerita Whani.
"Setahun bersamanya, aku mulai bosan .. Apalagi kita jauh. Dia di jawa aku di batam.. aku tahu dia juga punya pacar di sana. Saat aku tak sengaja membuka ponselnya.. haha.. "
"Kamu tahu bang. aku pura-pura tidak tahu.. sampai akhirnya aku bertemu kevin. Lelaki sipit itu slalu ada untukku.. dengan penuh sayang dan cinta yang tercurah untukku.. "
"Lalu.. ?" Reihan mulai merebahkan badannya di ranjang bagian bawah.
Whani meraih gulingnya, memeluknya erat.
"Aku mulai tidak suka sikap lelaki itu yang kasar dan suka memaksakan kehendak .. Puncaknya adalah saat aku mengembalikan cincin pemberiannya. dia tidak terima dan menamparku di restoran. Aku meminta putus dan dia tidak terima. ." Lirihnya mulai sesenggukan.
"Aku membencinya karna hampir merengut kesucianku.. aku membencinya.. huhu.. "
__ADS_1
Reihan terhenyak. Seketika terduduk menatap Whani. Apa dia tidak salah mendengar apa yang di katakan Whani tadi.
Dia merangkak naik memeluk istrinya erat. Lelah menangus Whani memejamkan matanya tidur. Reihan memadangnya dengan perasaan yang tidak bisa di jabarkan lagi.
Di kecupnya kening istrinya, hatinya sedikit mencelos. Mengingat bagaimana buruknya dia dulu menilai Whani.
.
Pukul 4 petang Whani membuka matanya pelan, badannya lemas dan perutnya terasa lapar. Perlahan dia bangun berjalan menuju dapur. Di lihatnya Reihan sedang duduk di meja makan menontong Tv.
"Bang.. "
Reihan menoleh dan tersenyum,
"Dah bangun.. meh sini. . "
Whani melangkah pelan duduk di kursi, menopang pipinya. Reihan bangkit mengambil piring. Whani meliriknya heran.
"Abang buat Spaghetti.. Tapi rasenya tak tau lah.. " Reihan mulai menyendokkan mie panjang yang berwarna merah tomat itu dan meletakkannya di depan Whani.
Whani tersenyum, mulai menyuapkan ke mulutnya. Reihan tampak menatapnya serius, ingin tahu reaksi istrinya memakan masakannya.
"Ok tak.. ?"
Whani mengangguk dan mulai menyuap lagi ke mulutnya.
"Abang udah makan.. ?" Reihan menggeleng, Whani pun berinisiatif menyuapnya. Reihan tersenyum menikmati suapan dari istrinya.
Tingtong
Bel rumah berbunyi saat mereka sedang menikmati kebersamaan.
"Siapa.. ?"
Reihan menggeleng dan berjalan melihatnya dari lubang kecil pintunya. Lalu dia kembali ke kursi. Bel kembali berbunyi.
"Kok ga di buka.. ?" Tanya Whani.
"Farah.. " Reihan meneguk minum sampai separuh.
"Kenapa ga di buka.. " Whani sudah akan berdiri tapi Reihan mencegahnya.
"Biar je lah.. Abang belum kenyang lagi .. aaaa... " Whani tertawa kecil segera menyuapkan makanan pada suaminya.
.
Sejak hari itu, hubungan mereka semakin dekat. Reihan hari ini menyempatkan diri menghantar Whani ke pelabuhan untuk kembali ke Batam.
__ADS_1
"Jangan lame-lame.. " Reihan mengatakan itu tapi wajahnya memandang lekat arah jalanan.
"Ngomong apa sih .. ?" Whani tertawa menggoda .
Tak lama mereka telah sampai di pelabuhan, Reihan menahan tangan Whani saat istrinya itu bersiap akan turun dari mobil.
"Izza.. " Reihan tampak gugup memandang wajah istrinya sedekat itu.
"Iya.. ada apa.. ?"
"Ape awak masih nak kan membina rumah tangga ni dengan saye. . ?"
"aku ngikut Abang Aja.. "
"Ape awak memang tak de niat untuk memperbaiki hubungan kita.. ?" Desahnya pelan.
"Abang pengennya gimana.. ,?"
Reihan hanya diam. Tidak menjawab. Whani begitu gemas melihatnya.
"Kalau tidak di sahkan ya buat apa di teruskan.. " Reihan langsung menatap tajam istrinya.
"Nape awak cakap macam tu.. awak memang nak kan berpisah ke.. !?"
Whani tertawa sinis, menatap wajah suaminya yang sudah sedikit memerah.
"Bukannya abang yang nak kan pisah.. karna abang sampai sekarang belum juga mendaftarkan pernikahan kita.. " Whani membuka pintu dan turun. Dia mengetuk pintu bagasi dan Reihan membukanya lalu ikut turun.
"Za.. " Reihan menahan tangan Whani yang akan menarik kopernya .
"Apa.. ?"
"Kenape awak cakap macam tu.. abang.. "
"Aku tau kamu ga niat bang.. jadi sudahlah, aku tidak berharap lebih.. terima kasih karna sudi menikahiku untuk menyelamatkan harga diri keluargaku.. " Whani menghempas kasar tangan Reihan.
"Zaa.. Abang tentu berniat . Abang nak pastilan dulu kalau Izza memang nak kan hidup bersame abang.. "
"Sebelum memastikan, pastikan dulu diri abang.. apa memang abang nak kan kita hidup bersama..?! "
Reihan membeku, menatap manik istrinya. Dia bingung ingin mengungkapkan pada Whani di mulai dari mana. Reihan hanya menarik tubuh Whani mendekat dan memeluknya erat. Untungnya situasi parkiran berada di ujung. Jadi tidak khawatir terlihat orang lain.
"Abang janji akan memperbaiki semuanya bile awak kembali.. "
Whani mengurai pelukan Reihan, menatap wajah seseorang yang dari dulu menghuni hatinya. Tapi dia juga ingin tahu, bagaimana perasaan Reihan padanya.
"Buktikan.. "
__ADS_1