
Gadis yang dulu begitu ceria dan hangat itu kini berbaring tak berdaya di brangkas sebuah rumah sakit. Matanya tetap terpejam meski sudah 3 bulan lamanya dia tertidur.
Orang tuanya bergantian menjaganya, menggenggam anaknya. Memanggilnya untuk bangun dari tidur lenanya .
"Kakak... bangun lah kak. . Akak tak kasian tengok mama.. " Wanita paruh baya berkerudung dan bermata teduh itu menangis sambil menggenggam erat tangan anaknya.
Perlahan gadis itu membuka matanya. Tapi kembali terpejam saat merasakan sinar yang begitu menusuk matanya.
"Mama... " lirihnya lemah.
Humairah terkejut, membuka matanya lebar-lebar . Memastikan itu bukan mimpi belaka.
"Mama.. aku haus.. " Lirihnya lagi.
"Whaniiiii... Alhamdulillah ya Allah... akak dah sadar... mama panggilkan dokter kejab.. " Cepat-cepat dia menekan tombol di belakang ranjang pasien.
Whani berusaha bangun tapi badannya kaku. Mamanya segera membantunya untuk duduk dengan binar penuh kebahagiaan.
Tak lama dokter datang dengan 2 perawatnya dan segera memeriksanya. Humairah segera memberikan kabar pada suaminya.
Setelah bisa makan dan duduk dengan benar, Whani menatap sendu semua orang yang datang mengunjunginya. Mama, papa, si kembar, neneknya yang di jawa, Diana, paman dan bibinya.
Ada seseorang yang dia cari -cari sedari tadi. Tapi tidak berkesempatan untuk mengatakannya saat melihat kehebohan dan kebahagiaan keluarganya melihat dia sudah sadar dari koma.
"Maa.. pa... mana bang Reihan.. ?"
deg.
Mereka saling pandang, Fahat tampak menghela nafas panjang. Si kembar mendekat memeluknya erat dari arah berlawanan.
"Reihan. .. " Mama tampak tak sanggup meneruakan kata-katanya dan justru menangis memeluk suaminya.
"Kak.. Bang Reihan sudah tenang di alam sana. ." lirih Dini.
Whani menatap tajam wajah adik bungsunya, lalu beralih pada Dina yang terlihat mengangguk. Beralih lagi pada seluruh orang yang hadir di ruaangannya.
"Bang Rei... " Air matanya turun seketika, mengingat sesaat sebelum dia jatuh. Berita kecelakaan kapal di selat singapura.
Serasa dunianya hancur, Whani menangis histeris. Menyentak kasar selang impus miliknya hingga darahnya keluar dari ujung tangannya.
"Bang Reihan.... !!!
__ADS_1
Bang Reihannn... !!! " Teriaknya histeris.
Fahat mendekat dan memeluk putrinya erat. Sedang pamannya berlari memanggil dokter.
"Papa... katakan ini bohong pa... Reihan pasti datang pa. Dia sudah berjanji memulai semuanya setelah resepsi ini.. hwaaaaa...
Papa... dia bilang mencintaiku pa... papa... di memintaku menunggunya .. hwaaaa.... !!!"
"Sayang... dengar.. ini sudah ketentuannya... " Fahat membelai rambut putrinya lembut untuk menenangkannya.
"Bang Reihan...!!!
Papa.. bawa dia kesini pa...
Besok kami akan duduk bersandinh di pelamin megah itu pa.. Dia sudah janji pa..
Bang Reihan... !!"
Semua yang ada tanpak menitikkan air mata. Dokter datang dan menyuruh suster segera memasang kembali infus di tangan Whani.
"Lepaskan... aku tidak mau ini. Aku mau menjemput bang Reihan... !!" Teriak Whani histeris .
Dokter segera menyuntikan obat pada infus.
"Bang Reihan huhuhu..
Kamu bilang mencintaiku..
Kamu bilang akan datang.. hwaaa....!!"
"Bang Reihan... kenapa kamu ingkar janji. . " tangis Whani terus melemah hingga matanya terpejam dan papa menidurkannya di ranjang.
"Dok.. " Fahat meminta penjelasan pada dokter.
"Dia syok pak, saya terpaksa memberinya obat tidur.. Semoga saat bangun nanti keadaanya samakin baik.. "
Dokter itu segera keluar ruangan perawatan Whani dan saat dia berjalan ke ruangannya ponselnya berbunyi.
"Selamat sore.. Dokter Arlan.. "
Sapanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"sore dokter Vita.. "
"ada apa.. ??" Ketus Dokter Vita.
"Mbak... aku mohon. mbak tolong bilang sama ibu. Aku ga mau di jodoh-jodohin.. aku udah punya calon sendiri.. "
"Arlan... Araln.. " Desahnya pelan dan duduk di kursinya.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk mu.. "
"Aku tau mbak... tapi aku ga mu di jodoh-jodohkan.. aku akan menikahi Gita.. "
"Cihh.... Gita Gita Gita saja yang ada di matamu itu..
Dia bukan gadis baik-baik Arlan.. "
"Mbak tu belum kenal dia.. makanya mbak .. "
"Stop Arlan.. mbak Lelah.. " Potong Vita.
"Baiklah.. baiklah.. apakah banyak pasien di sana.. ?"
"Lumayan.. tapi wanita yang ku ceritakan koma itu sudah sadar tadi. Kasian.. mbak ikut sedih melihatnya.. "
"Memangnya kenapa dengan pasienmu yang ini.. ?"
"Kehilangan suaminya di kecelakan Ferry 3 bulan lepas yang senter di kabarkan di televisi. Menurut bibinya kemarin.. Itu terjadi sehari sebelum hari resepsi mereka..
Ga bisa membayangkan betapa hancurnya dia sekarang.. "
"Mbak tu terlalu melow... perasa..
Semua pasien di katakan kasian setelah mengetahui cerita mereka.."
"Kita ga bisa menutup mata dan telinga begitu saja Arlan..
Bersyukurlah. . hidup kita lebih baik di banding mereka.. "
"Ya ya ya... ya sudah , aku ada pasien.. bye mbak ku yang cantik.. muahhh... "
"Wong Edan... !!" Vita menatap layar ponsel yang sudah redup. Menggelengkan kepalanya atas sikap adik no 2 nya.
__ADS_1