CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Sama-sama Menyerah


__ADS_3

Izza berada di makam Reihan hanya di temani anak saudaranya. Tidak ada yang menemaninya datang ke malaysia bulan ini.


Si kembar sedang sibuk ujian, mama khawatir jika meninggalkan si kembar. Sedang Papanya sibuk mengurus ruko dan semuanya.


Akhirnya dia memilih pergi sendiri.


"Bang... bawa aku bersamamu bang.. Aku benar-benar tidak kuat lagi.


Aku merasa sendiri tanpa kamu..


Maafkan aku jika aku mulai menyerah, aku sudah tidak sanggup menahan semua sendiri tanpa kamu bang.. "


Air matanya turun bersama rinai hujan yang mulai datang.


"Kak.. hari hujan. mae pulang.. "Teriak Alisya dari depan motornya.


Izza mengusap nisan Reihan dan beranjak pulang. Dia tidak mau anak saudaranya sakit gara-gara dia. Malam ini dia memutuskan menginap di rumah peninggalan mertuanya. Dia akan ke johor esok pagi.


Izza termenung sendiri di kamar yang dulu dia tempati, memeluk album foto milik Reihan. Menangis meluapkan kerinduannya pada suaminya. Berharap lelaki itu datang meski dalam mimpinya.


"Kenapa kamu ga mau dateng lagi dalam mimpi aku bang.. aku rindu.. aku rindu sama kamu huhuhu.."


.


.


Sedang di ruangannya , Arlan tampak mondar mandir menelpon nomer yang di berikan oleh Nina tadi siang.


"Ahhh... ga aktif.. Apa Nina bohongin aku.. " Kesalnya.


Baru dia menghela nafas dan duduk, ponselnya sudah berbunyi. Ibunya yang menelpon.

__ADS_1


"Arlan... apa-apaan kamu Ar. kenapa kamu membentak Syifa, kenapa Ar.. kamu juga berkali-kali mengabaikannya. Dia tunangan mu Ar... "


"Itu kemauan ibu , aku sudah menolak pertunangan ini. Tapi ibu terus memaksaku.. aku bisa apa jika aku tidak nyaman dengannya. . "


"Kamu bisa mulai belajar membiasakan perasaanmu Ar. Tresno iku jalaran seko kulino.. "


"Aku sudah mencoba dan nyatanya aku tidak bisa.. jika Syifa memang tidak merasa senang dengan perlakuanku. Akhiri saja pertunangan ini.. "


"Apa yang kamu katakan Ar.. pernikahan kalian sudah mulai di persiapkan.. !!"


"Lakukan apapun yang ingin ibu lakukan.. "


Dia langsung menutup panggilan. Memijit kepalanya yang terasa berdenyut .


Tok tok tok


"Masuk.. " jawabnya sambil menegakkan badannya.


"Apa.. kamu sengaja mau ngerjain saya.. ?" Arlan melotot kesal.


"Ya ga lah Dok.. " Elak Nina.


"Kamu yakin nomer yang di kasih ini benar nomer Izza.. ??" Tanya Arlan.


"Izza.. ?" Nina tampak mengerutkan keningnya.


"Saya bilang tadi saya mau order bunga untuk riasan pernikahan saya Dok.. dan lelaki bernama Juan itu langsung memberikan nomer ownernya ..." Terang Nina.


"Tapi nomernya ga aktif Nin..."


Arlan mendesah pelan, menyandar di kursi. Bersamaan dering ponselnya panggilan dari Syifa.

__ADS_1


"Keluarlah Nin.. nanti saya transfer uangnya. Kirimkan nomer rekening kamu lewat WA.. "


"Tidak Dok.. kalau benar nomernya tidak aktif, berarti saya gagal.. jadi Dokter tidak perlu membayar saya .. "


Arlan tercengang nendengar penuturan Nina.


"Tidak Nin.. saya tetap membayarmu. itu sudah jadi kesepakatan kita kemarin.. "


"Tidak perlu dok, saya sudah iklas.. anggap saja saya gagal dengan tugas saya. Saya permisi..." Nina beranjak keluar.


"Nin... !" Panggil Arlan tapi Nina tak menghiraukannya.


Arlan kembali menyandarkan tubuhnya. Fikirannya begitu rumit. Kenapa dia bersikeras sejauh ini,


Kenapa. ? dan ada apa..?


Apa ini hanya rasa penasarannya saja, karna Izza seorang yang terlihat mengabaikannya.


Atau rasa bersalahnya dulu karna mencemohnya '' janda" dan dia belum sempat minta maaf.


"Apa sebenarnya yang belum selesai antara kita Za... aku bingung.. kenapa begitu mengganjal. ."


.


Keesokannya, Arlan terap berusaha menghubungi nomer itu. Tapi tetap saja, tidak aktif. Dia sudah tidak punya muka untuk datang kembali ke butik, takut pekerja toko bunga itu menuduhnya tidak-tidak.


Hingga malam hari dia membanting ponselnya putus asa. Kenapa takdir seolah begitu mempermainkannya .


Di pertemukan, di pisahkan. Di pertemukan kembali dan kembali di pisahkan .


"Zaaa. . aku nyerah.. ok aku nyerah sekarang ..

__ADS_1


Aku udah putus asa sama semua ini.. Pergilah Za... jangan kembali..!! " Serunya sendiri di dalam kamarnya melepas kekesalannya.


__ADS_2