
Pagi ini Whani begitu sibuk, jika biasanya hari libur dia akan bangun siang. Tidak dengan hari ini. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun, mandi dan membantu mamanya di dapur.
Hari ini keluarga Mak cik Leha akan datang. Mereka mengabarkan naik kapal pagi, dan menolak untuk di jemput di pelabuhan.
Hati Whani berbunga-bunga. Sudah hampir setengah tahun dia tidak bertemu Reihan. Terakhir mereka berkunjung adalah saaat Idul Fitri.
"Kakak.. mama tak nak ya kalau akak pakai baju terbuka nanti bila keluarga Acik Leha datang.. " Omel mama pagi ini.
"Jangan buat mama malu.. " Whani diam dengan sibuk menggoreng rempeyek kacang kesukaan Acik Leha.
"Whani cuma mau tampil apa adanya ma... " Ucapnya santai.
"Tak nak - tak nak.. ora oleh.. !"
Whani tertawa, setiap mamanya mengucap bahasa jawa slalu terdengar lucu baginya. Walau sudah bertahun-tahun menetap di indonesia, Mamanya tetap berbahasa melayu.
"Ma... Whani mau donk di nikahin sama Bang Reihan.. " Celetuk Whani.
"Mana mau Reihan dengan mu tu. Dah lah tak pandai masak, malas.Lagi satu suka pakai baju terbuka.. " Mama mengibaskan tangannya.
"Reihan tak kan mau kak.. "
"Mama... anak sendiri di jelek-jelekin.. !!" Whani sedikit kesal karna mamanya tak mendukungnya .
"Dah lah tak payah nak merepek.. cepat selesaikan tu. Lepas tu mandi.. Dah jam 8 dah.. "
"Whani dah mandi ma... " Whani menghentak- hentakan kakinya kesal.
Mama tak perduli, masih sibuk memasak sayur asam untuk menyambut kedatangan Acik Leha.
.
Whani sudah berdandan rapi, Tunik warna hitam menjadi pilihannya. Di padu dengan celana pensil warna soft Blue. Rambut pirangnya dia ikat di atas.
"Cukup sopan bukan.. " Dia berputar-putar di depan lemari kacanya.
Tak lama terdengar suara riuh dari bawah. Teriakan mama dan Acik Leha menggema sampai atas.
Whani menarik nafas panjang, jantungnya sudah berdegup kencang karna sebentar lagi bertemu Reihan.
Dia berjalan keluar kamar dan mulai menuruni tangga. Dia sudah menangkap Siluit Reihan dari atas. Reihan tengah berdiri memunggunginya sedang berbincang dengan papa Whani.
"Whani. salim dulu nak .. " Mama melambai ke Whani.
Segera dia mendekat, menyalami Acik Leha.
"Apa kabar cik.. ?"
Acik leha langsung memeluknya dan mencium pipinya,
"Acik Alhamdulillah baik nak, Izza ape kabar.. ?"
"Saya Baik juga cik.. "
"awak dah makin dewasa lah, makin cantik.. " Puji acik Leha sambil mengusap kepala Whani.
"Anak aku ni memang cantik.. tapi sayangnya tak pandai masak.. " Mama mulai membuka aib yang membuat semua tertawa.
Whani segera berpindah menyalami suami Acik Leha. Dan tibalah dia di hadapan lelaki yang sejak 10 tahun lalu mengikat hatinya. Whani menatap mata laki-laki itu yang juga tengah menatapnya. Jantungnya berdetak kencang.
Reihan..
__ADS_1
"Apa kabar bang. .?" Dia mengulurkan tangannya lebih dulu dan Reihan menyambutnya
"Alhamdulillah. . "
Seperti biasa, Reihan sangat irit bicara jika dengan Whani. Dan Whani tidak masalah. Baginya bisa menatap wajah Reihan sudah lebih dari cukup.
Setelah itu, seorang lelaki sedikit muda dari Reihan mengulurkan tangannya pada Whani.
"Apa kabar kak.. ??" Dia adalah Amir, adik Reihan.
"Baik.. " Whani tersenyum lebar membalas uluran tangan Amir.
"Makin lawa.. " Puji Amir sambil menyenggol lengan abangnya dan Reihan langsung mengangkat wajahnya menatap Whani yang sedang tersenyum lebar.
Semua langsung menuju meja makan, Whani duduk tepat di hadapan Reihan. Tapi laki-laki itu tidak sama sekali menatapnya dan justru asik mengobrol dengan papa Fahat .
Suasana sangat ramai, tapi tidak dengan hati Whani .Dia menunduk, mengaduk-aduk makanannya. Hatinya sedikit nyeri, Setiap kali datang berkunjung, Reihan selalu bersikap cuek padanya.
"Sedapnya... sapa buat.. ??" Acik Leha mulai memakan Rempeyek buatan Whani.
"Whani yang buat.. " Jawab Mama.
Whani langsung mengangkat wajahnya saat mendengar namanya di sebut. Dan ternyata semua orang tengah menatapnya, tak terkecuali Reihan.
"Awak yang buat sayang..?? " Tanya Acik, dan Whani mengangguk.
"Tak sangke Izza pandai buat rempeyek.. sedap pulak tuh.. " .
"Pernah ikut temen bikin Cik, terus aku coba aja. . Terima kasih atas pujiannya.. " Jawab Whani .
"Aku pun tadi macam tak yakin Leha tengok dia buat. . takut orang sakit perut bila makan.. " Kelakar mama yang membuat seisi meja makan tersenyum.
.
Usai makan, semua nampak sedang bercanda gurau di ruang keluarga. Whani memelih pergi ke atas mengganti baju, dia ada janji dengan Aldi.
"Ma.. aku keluar dulu, ada urusan.. " Pamitnya pada mama yang tengah memotong kue bolu.
"Kakak.. kenapa pakai baju macam ni.. " Mama mengeret ujung baju Whani sambil melotot.
"Mama.. ini tu udah sopan, ga minim bahan.. " Ucap Whani sebal.
Mama hanya menggeleng, susah sekali mendidik anak sulungnya ini.
Whani segera mencium pipi mamanya.
"Berangkat dulu ma.. " Pamitnya.
Saat melewati ruang tengah, semua mata menatap Whani .
"Mau kemana sayang..? " Tanya Papa.
"Aku ada urusan sebentar pa.. Mari Acik.. " Dia sedikit menenduk pada Acik Leha dan Suaminya. Lalu matanya beralih ke Reihan yang juga tengah menatapnya.
Cepat-cepat dia berjalan keluar menuju mobil. Jantungnya tidak sehat jika slalu menatap Reihan.
.
Di sebuah Cafe.
"Aldi.. maaf, aku ga bisa terima pemberian kamu.. " Whani menyerahkan paperbag yang semalam di beri oleh Aldi.
__ADS_1
"Kenapa sayang.. ? kamu ga suka.. ?" Aldi menatap penuh wajah Whani yang ada di depannya.
"Aku ga biasa nerima barang yang berharga kayak gitu dari orang lain.. "
"Tapi ini aku, bukan orang lain Whani... !" Suara Aldi mulai meninggi.
Whani langsung melihat kekesalan di wajah Aldi. Aldi ini sedikit emosian orangnya. Selama berpacaran, Whani sering melihat Aldi marah hanya karna hal-hal kecil.
"Maaf, aku ga bisa Al.. tolong mengertilah.. " Pintanya.
Aldi menatap kesal pada Whani,
"kamu buang aja kalau kamu ga mau.. !"
Whani menatap jengah Aldi .
"Aku ga tau harus gimana lagi, semakin kesini aku makin ga bisa mengerti sama kamu. Kamu itu suka banget maksain kehendak kamu Al.. "
"Cukup.. !!" Aldi berteriak lantang, membuat sebagian orang di cafe itu menoleh ke arah mereka.
"Lebih baik kita putus.. " Ucap Whani.
Plakk..
Aldi sudah pelayangkan tangannya menampar Whani. Whani menatap Aldi lekat, tidak menyangka Aldi akan menamparnya di tempat umum seperti itu.
Dia segera bangkit dari kursi, berlari keluar menuju parkiran dengan berderai air mata. Di sepanjang jalan dia pulang, air matanya tidak bisa di bendung lagi.
Berkali-kali Aldi menelponnya, tapi dia abaikan. Hatinya begitu lara. Kecewa dan sakit hati atas perlakuan Aldi.
Setibanya di rumah, dia memarkirkan mobilnya lalu berjalan setengah lari sembari mengusap air matanya. Saat dia membuka pintu, rupanya pintu terbuka dari dalam.
"Za. ." Panggil Reihan.
Rupanya Reihan ingin keluar, bertepatan dengan Whani yang ingin masuk. Reihan menatap Whani yang terlihat berantakan dan air mata yang terus mengalir.
Baru dia akan bertanya, Whani sudah mendorong dia untuk minggir dan langsung berlari menuju tangga. Beruntung suasana rumah sedang sepi. Whani menuju kamarnya dan membanting pintu.
"Huuuuu... hu... hu... " Tangisnya langsung pecah di atas ranjangnya.
Rasa panas tamparan Aldi masih terasa di pipiya. Tidak pernah menyangka Aldi akan tega melakukannya.
.
Reihan yang tadinya ingin keluar mengurungkan niatnya. Setelah menutup pintu,dia segera menaiki tangga menuju kamar Whani .
Dia hanya berdiri di depan pintu kamar Whani, sayup-sayup terdengar tangisan Whani dari dalam.
"Rei.. " Suara mamanya mengagetkannya .
"Mama... " lirihnya
"Buat ape kat depan bilik Whani tu.. ?" mama Leha menatapnya penuh selidik.
Reihan yang kebingungan memberi alasan mengusap tengkuknya serba salah.
"Nak.. ajak Whani jalan ma, dah lama tak jalan kat batam ni.. Reihan dah agak lupa jalannnya.. "
"Ohh.. kalau macam tu, ko ketuk lah pintunya. Mana dia tau ko kat luar macam ni kalau tak ko ketuk pintu tu.. "
"Reihan rasa, nanti saja lepas magrib ma. Tak nak ganggu Whani yang tengah rehat.. " Reihan segera berlalu turun menuju lantai bawah.
__ADS_1