CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Kejujuran Izza


__ADS_3

"Kamu keterlaluan Arlan... !


Kamu melamar anak orang tanpa sepengetahuan kami.. !


Kamu bahkan tidak meminta izin pada ibu dan ayahmu ini..?!"


Arlan menghela nafas panjang, dia sudah memperkirakan semuanya. Dia hanya mampu diam mendengar makian ibunya.


"Hanya demi seorang janda kamu sampai seperti ini Arlan.. "


"Maafkan aku bu.. aku mencintainya.. "


"Ibu bener-bener ga habis fikir sama kamu Arlan, sehebat apa memangnya dia. apa gelarnya..? apa lebih dari Syifa.. ?"


Sekali lagi, Arlan hanya mampu diam membisu. Tidak ada guna menyela.


"Aku akan pulang ke rumah dan mengenalkannya pada ibu dan ayah.. "


Ucapnya sebelum mengahiri panggilannya.


Arlan menyambar kunci mobilnya cepat dan berjalan keluar.


"Selamat sore Dokter. . " Sapa perawat yang jaga.


"Sore.. " Arlan mengembangkan senyumnya berjalan pantas ke arah parkir.


Setelah menyalakan mobilnya, dia langsung melaju ke arah rumah Izza. Dia sudah Rindu dengan pujaan hatinya itu.


Menyempatkan membeli kue red velvet untuk Izza, Arlan melanjutkan perjalanan menuju rumah Izza.


Sesampainya disana, dia memarkirkan mobilnya dan turun menuju pintu masuk.


tok tok tok


Setelah ketukan kali ke , pintu terbuka. Izza muncul masih menggunakan mukena warna putihnya yang artinya dia baru selesai sholat.


"Assalamualaikum.. " Sapa Arlan.


"Waalaikum salam.. "


"Apa boleh masuk.. ?"


Izza mengangguk membuka pintu lebar. Mempersilahkan Arlan masuk dan Izza tetap membuka pintu depan .


"Duduk lah.. mau minum apa.. ?"


"Apa aja.. " Arlan mendudukan bokongnya di sofa minimalis warna cream.


"Sebentar ya.. " Izza berjalan kekamarnya.


Arlan mengedarkan pandangannya, rumahnya cukup rapi. Izza mengemasnya begitu sedwehana tapi nyaman.


"Minumlah.. " Di letakkannya teh di meja.


"Iya. . terima kasih.. aku bawakan red velvet kesukaanmu.. " Arlan menyodorkan kotak yang dia bawa.


Izza tersenyum tipis melihat kotak berisi red velvet yang di bawa oleh Arlan.

__ADS_1


"Terima kasih.. "


"Sama-sama..


Oh ya gimana kabar kamu 3 hari ini, apa kamu senang aku tidak mengganggumu.. ?"


"Pertanyaan macam apa sih.. " Izza duduk menyandar pada sofa samping Arlan.


Arlan tertawa kecil. Izza hanya diam memperhatikanya.


"Kamu baru pulang dari rumah sakit.. ?"


"Iya, tapi aku sudah mandi kok tadi.. "


"Sudah makan.. ?" Tanya Izza.


Arlan tersenyum tipis ahh tidak menyangka Izza mulai perhatian .


"Belum.. Kamu.. ?"


Izza hanya menggeleng pelan,


"Aku biasa order online jika malas masak , kamu mau aku orderkan.. ?"


"Ga perlu.. kita makan di luar aja yuk.. mumpung aku free.. "


"Aku ganti baju dulu.. "


"Ok.. "


Setelahnya langsung keluar menenteng tas warna hitamnya.


"Ayo.. "


Arlan langsung bangkit dari duduknya,tersenyum melihat Izza berdandan tipis untuknya. Dua merasa di hargai.


Dia membukakan pintu untuk Izza, lalu keduanya langsung melaju membelah jalan malam kota Pekan Baru.


"Mau makan apa.. ?" tanyanya sambil menoleh sebentar ke Izza.


"Apa aja.. "


Arlan tampak melihat sisi kanan kiri. Namun tidak menemukan tempat yang pas. Dia menggaruk kepalanya bingung.


"Kita ke Mall aja ya.. ada yang mau aku beli.. "


"Aku ngikut aja.. " lirih Izza.


Arlan membelokkan mobilnya ke arah Mall terdekat. Keduanya langsung berjalan turun.


"Pesan apa kak.. ?" Seorang pelayan mendekat saat keduanya baru duduk di kursi sebuah restoran.


Keduanya membuka buku menu dan memilih pesanannya.


"Jadi kan ikut ke jawa. .?" Tanya Arlan.


"Iya.. hari apa..? "

__ADS_1


"Sabtu sore ini.. gimana. . ?"


Izza hanya mengangguk kecil. Di pandanginya lelaki di depannya itu. Dengan kemeja yang di gulung hingga separuh lengan, membuat Arlan terlihat lebih macho. Wajahnya yang sedang fokus menatap layar ponsel mempunyai daya tarik sendiri.


"Aku sudah memesan tiketnya.. " Arlan mengangkat wajahnya tiba-tiba.


Izza gelagapan saat ketahuan sedang memperhatikan Arlan. Dia membuang pandangan ke sembarang arah dan tersenyum kaku.


Tak lama makanan pun datang. Mereka makan dengan khidmat.


"Habis ini kita beli cincin ya.. " Ucap Arlan saat selesai dengan suapan terakhirnya.


"Apa kamu benar-benar yakin.. ?"


"Apa aku terlihat meragukan Za.. ?"


"Banyak hal yang belum kamu ketahui tentang aku Ar.. " Izza meneguk air minumnya hingga tandas.


"Apa.. ?" Arlan bersiap mendengar semuanya. "Katakanlah.. "


Izza menatap Arlan lekat, dia harus menceritkan semuanya. Agar lelaki itu mulai ragu dan mundur.


"Aku pernah punya masa lalu kelam Arlan... " Lirihnya.


"Aku dulu punya mantan seorang calon Dokter juga. Saat ini dia baru bebas dari hukumanya. Dia pernah hampir memperkosaku.. " Izza terlihat menghela nafas panjang. Dahinya berkeringat dingin. Dadanya juga sesak.


Arlan reflek memegang tangannya yang ada di atas meja. Menggenggamnya erat. Ada kenyamanan yang di rasakan Izza setelah itu. Dia memejamkan matanya sebentar.


"Kamu tidak perlu melanjutkan jika kamu tidak sanggup.. " Arlan berucap lembut .


Izza menggeleng,


"Kamu harus tahu semuanya.. "


Dia menghela nafas panjang.


"Aku memang mengalami trauma selepas itu, Bang Reihan selalu menemaniku saat aku terpuruk, dia juga sedia bertanggung jawab dengan menikahiku.. " Imbuhnya.


"Aku begitu bahagia bisa menikah dengannya, lelaki yang sudah aku sukai sejak remaja. Lelaki yang mau menerimaku apa adanya.. "


"Yang aku tidak tau ternyata juga dia menyukaiku sejak dulu. Tapi dia tidak pernah mengungkapkannya.. Reihan terkesan cuek dengan ku sejak dulu. Tapi ternyata dia begitu perduli.. dan.. dan.. aku tahu semuanya setelah dia tidak ada.. "


"Kami berencana menggelar resepsi setelah hampir 4 bulan pernikahan kami, setelah dari pahang aku pulang lebih dulu ke Batam untuk mempersiapkan semuanya.. Tapi rupanya Tuhan mengambilnya sehari sebelum resepsi itu di gelar. Karna panik saat mendengar kabar, Aku jatuh dari tangga dan koma..


" Bulir bening mulai mengalir di pipi mulusnya.


"Sejak itu, aku hidup serasa mati,cintaku dan hati aku sudah pergi di bawa Bang Reihan.. aku memang berkali-kali mencoba bunuh diri. Aku ingin ikut sekali dengannya.. Tapi tangisan mama dan papa membuatku selalu gagal.. "


Izza menghela nafas panjang mengusap air matanya. Arlan masih diam mendengar semuanya.


"Aku tidak mau kamu terjebak dengan semua ini Arlan, hidupku sudah mati.. Fikirkanlah semua sebelum kamu melangkah jauh lagi. Jangan sampai kamu menyesal kemudian.. "


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu.. Hatiku sudah di bawa Reihan.. Aku masih mencintainya sampai sekarang.. "


"Aku mohon padamu Arlan ...


Fikirkanlah semuanya baik-baik sekali lagi.. "

__ADS_1


__ADS_2