
Nuri berjalan gontai ke arah rumahnya. Sesak di dadanya kian terasa saat melihat tidak ada tanda-tanda Kevin menjemputnya.
Apa bener dia pulang ke Batam?
Dia mendesah pelan, mengangkat wajahnya ke atas agar air matanya tidak meleleh di pipinya.
"Buat apa di tangisi, dia aja ga da usaha buat memperbaiki semuanya.. " Gerutunya sendiri sambil berjalan cepat ke arah rumahnya.
"Assalamualaikum. " Sapanya saat membuka pintu.
"Waalaikum salam.. " Kedua orang yang sedang mengobrol di depan TV menoleh bersamaan menyambut Nuri.
Nuri terkejut, apa dia sedang mimpi. Mimpi melihat Kevin datang di rumahnya.
"Kok malah bengong di pintu.. " Suara nenek membuyarkan lamunanya.
Lelaki itu tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat Nuri merasa ser-seran.
Perlahan dia masuk ke dalam.
"Kamu ga usah masak Ri, Kevin sudah beli makan banyak tadi.. "ujar Nenek.
"oh, gitu. Ya udah aku mandi dulu nek.. " Pamitnya lalu masuk ke kamar.
Nenek dan Kevin saling pandang. Nenek mengangguk pelan.
Dan Kevin pun langsung berdiri menuju kamar.
Nuri terkejut melihat Kevin masuk ke kamarnya. Dia memilih sibuk memilih baju untuk ganti.
"Kamu masih marah sama aku.. ?" Tanya Kevin sambil berjalan mendekat.
"Enggak.. "
Dia berbalik dan terkejut Kevin sudah di berdiri tepat di belakangnya.
"Astaga kakak.. ngagetin.. !'' memegang dadanya dan mengatur nafasnya.
Kevin hanya tertawa menyeringai lalu menarik gadis itu mendekat. Tanpa aba-aba sebuah ciuman dia berikan di pipi kanan Nuri yang seketika membuat sang empunya bersemu merah.
Kevin tersenyum gemas, mengusap puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Mandilah, besok kita akan pergi ke pulau Bangka Belitung. ." ucapnya lalu berjalan keluar ke kamar dengan seringai kemenangan. Meninggalkan Nuri yang diam mematung meredam detak jantungnya.
"itu tadi nyata ya. .?" Di pegangnya pipinya yang tadi di cium Kevin. Dan gadis itu langsung girang sendiri. Tapi kemudian mengontrol dirinya untuk keluar kamar untuk mandi.
Makan malam di isi dengan obrolan nenek dan Kevin, Nuri hanya diam menunduk, ada rasa malu di hatinya dengan kejadian tadi.
"Nambah lagi.. " Dia terkejut saat Kevin menambahkan lauk dan nasi di piringnya.
"Aku sudah kenyang. "
"Nuri, tidak baik membuang rejeki." Ucapan nenek membuatnya mau tak mau terpaksa memakan makanan itu dengan wajah di tekuk.
Selesai acara makan malam, Nuri membereskan meja. Sedang nenek mengajak Kevin duduk di depan TV.
"Nenek, besok aku akan membawa Nuri ke rumah orang tuaku, mungkin 2-3 hari di sana. Nenek tidak apa-apa kan sendirian di rumah.. ?" Izin Kevin.
"Tidak apa-apa.." Nenek tersenyum hangat.
"Nenek sekarang sudah lebih sehat, kalian pergilah. Tidak usah terlalu memikirkan nenek. " nenek mendekat ke arah Kevin dan berbisik." Sekalian bulan madu"
Kevin tersenyum lebar mendengar kata-kata nenek dan pandangannya bertemu mata Nuri yang diam membisu di pinggir meja makan memperhatikan keduanya.
"apa yang mereka bicarakan, sampai bisik-bisik gitu.. "
Mbak Za
Hati-hati besok ya, ada apa-apa hubungi mbak. Mbak kasih waktu libur mu seminggu.
Nuri mengerutkan keningnya heran, kapan lelaki bergelar suaminya itu meminta Izin cuti nya pada bosnya.
Kesal atas sikap semaunya Kevin membuat dia semakin jengkel sendiri. Yang semula berencana untuk keluar ikut mengobrol dengan Nenek dan Kevin, dia urungkan dan memilih naik ranjang untuk mainan ponsel hingga dia tertidur.
Tengah malam Nuri merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang, dia tersentak dan membuka matanya. Baru dia akan berbalik tapi di urungkan saat mendengar suara Kevin.
"Tidurlah.. sudah malam.. "
Nuri berusaha mengangkat tangan Kevin dari perutnya, tapi tangan itu seolah semakin memiliki beban berat hingga dia menyerah kesal sendiri.
Terdengar tawa Kevin di belakangnya yang membuatnya bergerak maju agar tidak menempel pada tubuh Kevin.
"Kamu mau kemana sih.. " Rupanya Kevin ikut maju.
__ADS_1
Nuri masih diam, terus bergeser maju sampai di ujung ranjang.
"Sudah Ri, kamu mau kita jatuh bareng-bareng..? " Masih terdengar tawa Kevin .
"Apa sih, kenapa kakak mepet-mepet.. ",Nuri berbalik dan mendelik kesal.
Mata sipit itu hanya terkikik yang membuat Nuri benar-benar merasa jengah. Dia bangun dan beranjak turun.
"Mau kemana.. ?" Menyadari Nuri bangkit Kevin langsung menahannya.
"Bukan urusan kakak.. !" Di tepisnya tangan yang mencekalnya itu.
Kevin menghela nafas pelan, menarik Nuri untuk kembali tidur.
"Ayo tidur, ini sudah jam 12 malem.. "
"Enggak. !"
"Yakin ga mau.. ?"
Kevin tersenyum menarik Nuri kuat hingga gadis itu terjerambab di ranjang. Dengann gerakan pantas Kevin mengukungnya dan membenamkan bibirnya pada bibir Nuri.
Nuri terkejut memukul dadanya berkali-kali tapi Kevin langsung mencekal kedua tangannya dan menarik pelan ke atas kepalanya.
"Kakak ap.. " kata-kata Nuri terputus saat Kevin kembali menciumnya. Bukan hanya sekedar mencium, lelaki itu juga mulai memberikan lumutan-lumutan lembut yang membuat Nuri membeku.
Merasai tiap sentuhan Kevin di bibirnya untuk pertama kalinya dengan jantung berdebar dan tubuh tegang.
Kevin menggigit lembut bibir Nuri hingga Nuri reflek membuka mulutnya, lidah Kevin langsung masuk. Menjelajah ke dalam rongga mulut Nuri.
Saat nafas keduanya mulai tersenggal, Kevin memilih mengahiri ciuman itu.
Memandang Nuri yang terengah-engah dengan wajah memerah.
Di usapnya bibir Nuri yang basah dan sedikit bengkak.
"Tidurlah.. " mengecup kening gadis itu lalu turun, merebah di samping memeluk Nuri erat.
Sekuat tenaga dia berusaha meredam syahwatnya, dia tidak ingin gadis itu besok kesusahan berjalan. Sedangkan mereka akan melakukan perjalanan jauh.
Nuri masih terengos-engos dan bergerak membelakangi Kevin.
__ADS_1
Apa itu tadi yang namanya Ciuman ?