CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Janda ?


__ADS_3

Semua berjalan Semestinya, hari ini nenek akan pulang ke semarang. Izza akan ikut, sedang papa akan datang sebelum hari H.


Si kembar merajuk karna ingin ikut, tapi Humairah melarangnya.


"Izza. .. hati-hati disana, ada apa-apa kabari papa.. " Fahat memberikan banyak wejangan sedang Izza hanya tersenyum dan mengiyakan.


"Fahat.. kamu ga percaya sama ibu..? " Nenek menatap tajam anak lelakinya itu.


"Bukan begitu bu.. " Fahat menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Ibu pasti akan menjaga cucu ibu di sana.. kamu urus perut kamu itu yang semakin membesar.. ! "


Izza dan Humairah tampak menahan tartawa, sedang Fahat melirik ke perutnya yang membesar.


"Papa.. kurangi makan bakso, trus olah raganya di lanjutkan ya.. " Izza menggelayut manja di lengan papanya.


"Iya sayang.. kamu ga usah khawatir.. Papa harap kamu tidak ketularan crewetnya nenekmu nantinya.. " Fahat langsung menerima pukulan di bahunya oleh istrinya.


"Aduh.. " Fahat meringis, Izza terkikik sedang nenek Ati menekuk tangannya di pinggang.


"Ibu.. ibu jaga kesehatan. Fahat akan kirimkan uang lebih agar ibu bisa beli sawah lagi. . " Rayu Fahat pada ibunya.


Plakk


Sebuah pukulan mendarat di paha Fahat.


"Anak kurang ajar.. Ayo izza kita berangkat. Humairah.. kamu jangan kasih makan dia malam ini.. !" Nenek menenteng tasnya.


"Hehe.. ibu , jangan marah-marah tak baik buat keduhatan ibu.. " Ucap Humairah sambil salim .


"Iya ya.. Astagfirullah.. " Nenek mengusap dadanya. Fahat mendekat untuk salim. Izza memeluk mamanya. "Akak baik-baik kat sane tau.. mama pasti rindukan akak.. " Humairah memcium kening anaknya.


"Iya ma.. mama juga jaga kesehatan ya ... Izza akan sering-swring nelpon.. "


Akhirnya mereka ber 2 masuk ke bagian Chek-in.Di iringi lambaian tangan dari Fahat dan Humairah.


Menempuh perjalanan selama 5 jam-an dengan sekali transit di jakarta. Membuat tubuh Izza merasakan penat. Sehingga dalam perjalanan ke rumah nenek, dia tertidur di mobil.


"Izza.. Izza.. " Panggil nenek lembut .


Izza membuka matanya,


"Ya nek.. apa kita sudah sampai.. ?"


"Sudah.. ayo turun.. " Nenek membuka pintu dan Izza mengikuti.


Izza memandang suasana sekitar, rumah nenek masih sama hanya catnya sekarang berbeda. Kalu dulu catnya berwarna kuning, sekarang berwarna putih.

__ADS_1


Sebelahnya rumah mas Rizal , anak pakde Rustam. Kakak sulung papanya . Sedang sebelah kirinya rumah nenek adalah rumah bibi Eli dan paman Arfan.


Sopir taksi sudah menurunkan barang bawaan mereka dan nenek Yati membayar ongkos.


"MasyaAllah... Whani... !!" Bibi Eli berlari dari halaman rumahnya meneluk Whani. Wanita itu menangis memeluk Whani.


"Bibi.. apa kabar.. ?" Whani mengurai pelukannya.


"Baik.. alhamdulillah.. kamu apa kabar.. ?" Bibi Eli menyeka air matanya.


"Aku baik bi.. paman Arfan sehat juga kan.. ?"


"Semua sehat.. " bibi berusaha tersenyim meski air matanya masih meleleh.


"kenapa bibi menangis.. ?" Whani memandang bibi kemudian nenek .


"Ohh... bibi hanya rindu. Sudah hampir 2 tahun kan kita ga ketemu.. Ayo masuk... " Bibi Eli menggandeng tangan Whani membawanya masuk.


Whani sedikit bingung, saat budenya yang berarti istri pakde Rustam juga menangis memeluknya saat mereka bertemu.


Seluruh keluarga tahu kejadian yang hampir 2 tahun berlalu itu, mereka semua datang atas undangan Fahat untuk resepsi pernikahan Izza. Awalnya semua terkejut, karna Izza sudah menikah sudah 3 bulan , sedang resepsi baru diadakan saat itu.


Tapi malang siapa yang tahu, mereka tinggal memunggu esok untuk resepsi dan justru di hebohkan kabar kapal suami Izza tenggelam di selat Singapore. Sedang Izza jatuh dari tangga dan koma.


Seluruh keluarga besar syok, begitu prihatin dengan apa yang menimpa Izza. Fahat bahkan hanya diam sepanjang hari, dan segala pembatalan dari gedung dan ketring. Semua di urus oleh Arfan dan saudara yang lain.


Malamnya Nenek mengajak Izza je rumah Pakdenya. Mereka akan makan malam di sana.


"Selamatnya lusa de.. sekarng belum.. haha.. kamu apa kabar, makin cantik pake krudung.. " Rizal pun tampak senang bisa melihat adik sepupunya kembali ceria.


"Aku baik mas.. Alhamdulillah . "


"Ayo makan dulu.. nanti di sambung lagi ceritanya.. !" Seru bude dari belakang.


"Ayo de.. kita makan dulu.. " Rizal mengajak Izza dan Izza pun mengikutinya.


.


Paginya suasana rumah pakde lumayan ramai, Seluruh sanak saudara sudah banyak yang datang. Juga beberapa tetangga datnag membantu .


Nenek memberi tahu semua saudara bahwa nama panggilan cucunya sekarang Izza, bukan Whani. Semua hanya mengangguk, tidak banyak protes. Bagi mereka yang penting Izza sudah bangkit dan bisa semangat hidup kembali. Itu sudah cukup.


Izza ikut menyibukan diri, larut bersama kebersamaan keluarga. Hingga malamnya Fahat datang .


Izza bahagia, melihat papanya tertawa lepas berkumpul dengan saudara mara.


Paginya, Izza bersiap dengan pakaian muslim berwarna putih dan krudung warna merah. Dandanan sederhana membuat sebagian keluarga memujinya. Mereka akan berangkat ke rumah mempelau wanita pukul 7 .

__ADS_1


"Ekhem.. Assalamualaikum.. "


"Waalaikum salam... Arlan.. " Rizal tersenyum lebar memeluk sahabatnya.


" Selamat ya bro.. " aarlan menepuk bahu Rizal.


"Lo kelamaan jadi gue bat duluan.. " Rizal tertawa lebar. Arlan hnaya tersenyum lalu menyalami keluarga Rizal.


"Ini siapa Zal.. ?" Fahat bertanya saat di salimi Arlan.


"Saya Arlan Pak.. " Arlan memperkenalkan diri.


"Ini tu temen suka duka aku paman. . Dia ini dokter, Dokter Arlan namanya.. " Rizal menepuk bahu Arlan bangga.


"Wah.. hebat. masih muda sudah bergelar dokter.. " Fahat tampak salute.


"Bisa aja kamu Zal.. Saya baru dokter magang pak. Belum sehebat itu.. " Arlan merendah diri.


Izza datang dari depan membawa jas untuk Fahat.


"Ini pa.. di pake.. " Dengan telaten membantu Fahat memakainya .


"Terima kasih sayang.. " Fahat tersenyum mengelus kepala putrinya.


Arlan tampak diam menatap Izza,memperhatikanya dari atas sampai bawah. Merasa tidak asing dengan wajahnya.


"Heh... ngapa lo liatin adik gue terus.. " Rizal menyengol bahu Arlan.


"Ehh.. yakin tu adik lo.. " Arlan kembali menatap Izza tapi wanita itu sudah tidak ada di sana.


"Dia adik sepupu gue.. " Rizal masuk ke kamarnya mengambil jas. Arlan mengikutinya dari belakang.


"Kenalin donk Zal.. "


"Emoh... kenalan aja sendiri.. " Rizal mengusap jas yang di pakainya.


"Yaelah.. ga membantu lo.. " Arlan menghempas tubuhnya kasar di ranjang.


Rizal menatap datar Arlan.


"Ar.. gue bukan ga mau membantu, ada hal yang belum lo tahu tentang dia. Jadi lebih baik lo lupain niatan lo buat kenalan.. "


"Maksut lo.. ?" Arlan bangkit mendekat ke Rizal.


"Dia tu janda Ar.. " Dengan menyebutkan setatus Izza, Rizal berharap Arlan mengurungkan niatnya untuk kenal dengan Izza.


"What.. ?

__ADS_1


Janda..? "


Arlan mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2