CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

Arlan keluar kamar saat merasa tenggorokannya kering, sibuk membujuk Izza sampai dia melupakan kebiasaanya menyiapkan air minum sebelum tidur.


Sengaja dia hanya membuka lampu bagian dapur karna takut mengganggu ibunya. Dia menuang air di gelas lalu duduk untuk meminumnya.


Tanpa Arlan tau ternyata Rena belum tidur dan mendengar pergerakan seseorang membuka lampu. Rena yang penasaran langsung bangun dan mengintip keluar. Terlihat Arlan sedang duduk sendiri di meja makan.


Setelah memastikan Arlan benar-benar sendirian, Rena perlahan menutup pintu kamar agar ibunya Arlan tidak mengganggunya. Dia segera berjalan ke arah Arlan.


Kimono yang dia pakai sengaja dia tanggalkan luarannya dan meletakkan di sofa begitu saja.


"Kamu belum tidur Ar..? " sapa Rena lembut. Arlan yang kaget segera menoleh. Terlihat Rena hanya memakai baju tidur yang transparan. Dia segera memalingkan muka, berjalan ke dapur meletakan gelas di singki.


Arlan berniat cepat kembali ke kamar tapi sayangnya wanita itu sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Minggir Ren.. "


"Kok kasar sih Ar, kamu ga kangen sama aku.. " Rena sengaja menggoda Arlan, tangannya menyusuri dada bidang lelaki itu.


Arlan menepis tangan Rena dan berjalan menghindar.


Bukan Rena namanya jika sampai menyerah, mendengar penuturan ibu Arlan , Rena yakin cara ini bisa mudah membuat Arlan berpisah dengan istrinya.


"Tunggu Ar.. " Manjanya.


"Lepaskan tangan mu Ren, kamu tidak sopan.. " tegas Arlan yang memang tidak menyukai sikap Rena.


"Kamu ga kangen Ar berduaan bersamaku, saling menghisap dan menyesap.. "


Arlan sadar, saat berpacaran dengan Rena dulu mereka sudah terlalu jauh, tapi tidak sampai berhubungan badan.


"Itu dulu. Sekarang tidak.. " Arlan kembali menghempas tangan Rena.


Rena pun tak tinggal diam menghadang Arlan kembali, bahkan merentangkan kedua tangannya.


Walaupun sangat seksi, Arlan berusaha membuang pandangannya. Dia tidak mau sampai tergoda.


"Ar, aku merindukanmu .. " menghambur memeluk Arlan erat. Arlan berusaha melepas pelukan Rena. Rena bahkan dengan sengaja menekan bagian da danya yang membusung indah itu. Dulu Arlan begitu menyukai bagian itu saat mereka pacaran.


"Lepas Ren.. lepas.."


"Ga mau, aku rindu kamu.. "


"Gila, aku sudah beristri.. "


"Aku ga perduli, aku yang lebih dulu memegang punyamu.. " ucap Rena frontal .


Arlan jadi kembali teringat dosa masa lalunya. Jujur dia jadi malu. Izza yang seorang janda pun bisa memberikan kesuciannya padanya. Bagaimana dia bisa segila itu dulunya.


Tidak tinggal diam saat menyadari Arlan yang tengah merenung. Rena segera mencium bibir Arlan. Arlan yang terkejut dengan apa yang Rena lakukan, segera mendorong tubuh Rena sampai membentur kabinet dapur.


Druk.


"Dengar Ren, aku memang brengsek dan bego dulu. Tapi aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku sudah menikah, dan aku mencintai istriku.. " desis Arlan pelan. Dia takut membangunkan penghuni rumah yang lain.


Di kamar, Izza yang terbangun karna mendengar benturan sesuatu, bingung karna tidak menemukan suaminya di ranjang. Dia berjalan ke kamar mandi, membuka pintunya. Dan juga tidak ada Arlan di sana.


Sayup-sayup terdengar suara dari luar, meski tidak jelas. Dia pun melangkah menuju pintu.


ceklek.


Dan di sana . Di sofa ruang TV. Penampakan 2 orang sedang. .


Cepat-cepat Izza meraba dan menekan saklar lampu yang mengejutkan 2 orang itu.


"Massss.....!!!" Teriak Izza. Dia membekap mulutnya tidak percaya.


Arlan tadi berlari menuju kamar tapi Rena menahan dan mendorongnya ke sofa hingga Arlan membentur ujung sofa. Rena langsung menaiki tubuh Arlan, tidak perduli bajunya tersingkap. Dia memainkan trik mengecup leher Arlan dan meninggalkan jejaknya di sana di sela berontakan Arlan.


Melihat lampu menyala juga teriakan istrinya Arlan mendorong kasar Rena dari atas tubuhnya hingga wanita itu terjerambab di lantai.


Terlihat juga ibu membuka pintu kamarnya, mungkin juga terbangun karna teriakan Izza.

__ADS_1


"Sayang.. ini ga seperti yang kamu fikirkan. " Arlan mendekat ke arah Izza yabg terduduk lemas dan menangis meraung-raung.


''Sayang.. "


"Kamu main gila mas.. hwa..... "


"Sayang, sumpah. Dia menggodaku sayang. aku.. "


Plak. Sebuah tamparan izza layangkan di pipi suaminya.


"Apa. .? mau ngelak kamu. Ngapain kamu keluar kamar malam-malam hah.. ? karna ada dia kan..? " tunjuk Izza pada Rena sambil berurai air mata.


Rena tersenyum menyeringai, membenari bajunya yang terbuka bagoan dadanya.


"Maaf ya.. tadi Arlan yang mengetuk kamar ku. Dia bilang butuh ke hangatan. Karna ga puas sama milik istrinya yang janda.. ups.. sorry honey, aku keceplosan.." ucapnya seolah membuka rahasia Arlan.


"Brengesek kamu Ren.. kapan aku ngomong kayak gitu..!! "


"Sayang, percayalah. . aku ga kayak gitu sayang.. " bujuknya kembali pada Izza .


Ibu justru mematung di depan pintu. Dia juga syok atas yang terjadi. Tujuannya memang memisahkan Arlan dan Izza. Tapi sisi lain hatinya ikut sakit saat melihat Izza menangis meraung seperti itu.


"Lalu ini apa...??!! " tunjuk Izza pada bekas merah di leher Arlan.


"Kamu jahat mas.. kamu jahat.. !!! hwaa.....!!!"


Arlan melayangkan tatapan maut pada Rena. Rasanya dia ingin mencincang wanita itu detik itu juga. Tapi istrinya lebih utama saat ini.


"Sayang.. sumpah sayang.. ini jebakan dia.. "


"Hwaa...... kamu jahat... !! kamu jahat mas hwa...." Izza mendorong tubuh Arlan berusaha memeluknya.


"Sayang aku mohon. Percaya sama aku.. "


Setengah frustasi Arlan masih berusaha membujuk agar istrinya tidak salah paham.


"Hwa..... kamu jahat. Kamu jahat.. !!" Izza mendorong Arlan sampai lelaki itu terjengkang.


Dengan berurai air mata, Izza berusaha berdiri menyandar pada dinding. Saat Arlan kembali mendekat dia langsung masuk kamar dan menutupnya.


Brak.


Izza menangis sendiri di kamar. Hatinya begitu sakit atas penghianatan suaminya. Walau belum terlalu dalam mencintai Arlan , tapi sebagai istri dia sakit hati, marah juga kecewa atas apa yang dia lihat di depan matanya tadi.


"Sayang... aku mohon buka pintunya.. " bujuk Arlan berkali-kali. Dia bahkan ikut meneteskan Air matanya. Segala fikiran buruk berkecamuk di kepalanya.


"Sayang.. tolong buka pintunya.."


"Percaya sama aku sayang, aku ga menghianati kamu.. sayang.. "


Melihat anaknya sesenggukan membujuk istrinya membuat Lastri tersadar. Dia langsung menarik Rena masuk ke kamar dan menutupnya.


"Apa yang kamu lakukan Rena.. ?"


"Aku melakukan apa yang tante inginkan kok, lihatlah mereka bertengkar kan. . " jawab Rena santai lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Senyum puas terpatri di bibirnya.


"Sebentar lagi kamu jadi milik ku Arlan.. "


Lastri yang semula menginginkan semua terjadi, perpisahan anaknya. Sekarang justru runsing sendiri dengan fikirannya.


"Kenapa kamu lakukin ini sekarang Ren.. " Dia mondar mandir menggigit tangannya sendiri.


Rena bangun, menyandar pada kepala ranjang.


"Makin cepet makin baik kan tante, nanti keburu tu janda hamil.. "


"Udah ahh. Aku ngantuk mau bobok.. " Tanpa wajah berdosa Rena mulai merenggangkan tubuhnya lalu bersiap menjemput mimpi.


Lastri tercengang mendengar ucapan Rena.


"Hamil.. cucu.. kenapa aku tidak memikirkan itu. Cucu dari Arlan.. "

__ADS_1


Lastri memutar knop membuka pintu. Matanya tertuju pada anak kesayangannya . Yang sedang menangis sesenggukan membujuk istrinya membukakan pintu.


Hati Lastri serasa di iris, sedih dan pedih melihat Arlan terpuruk putus asa seperti itu. Bukan kah ini yang dia inginkan, tapi kenapa dia tidak bahagia. Justru rasa bersalah lebih membuncah di hatinya. Rasa bersalah karna berniat menghancurkan rumah tangga anaknya.


"Sayang.. buka sayang.. " Arlan masih berusaha membujuk Izza.


Lastri mengusap air matanya yang tidak sadar ikut mengalir . Dia mendekat pada putra kesayangannya. Merengkuh anak kebanggaanya di pelukannya.


"Bu.. aku gak melakukannya bu .. huhu.. " Ujar Arlan sambil memeluk ibunya.


"Ibu harus percaya.. aku ga menghianati Izza bu.Ga akan pernah.. Aku mencintainya .. "


Suasana masih tidak kundusif, hingga suara orang mengaji dari masjid komplek membuat Izza pelan-pelan bangun. Dia menuju kamar mandi. Membuka seluruh pakaiannya lalu berdiri di cermin.


"Benarkah dia tidak puas denganku.. ?? " Izza menatap pantulan tubuhnya di cermin. Bukankah Arlan selalu mengatakan jika tubuhnya adalah candu baginya. Dia begitu memuja seluruh bagian dari dirinya.


"Tapi kenapa dia menghianatiku.. " Air matanya kembali lolos.


"Pembohong.. "


Dia melempar botol shampo ke arah cermin itu hingga jatuh terberai.


Dengan hati hancur di nyalakannya air untuk mengguyur seluruh tubuhnya. Dia menangis kembali merass sesak, menangisi pengkhianatan Arlan padanya.


.


Selepas Sholat subuh, Izza berganti baju dan berbenah. Arlan yang juga baru selesai sholat, duduk merenung di sofa. Sesekali matanya melirik ke pintu. Berharap istrinya mau membuka pintu itu untuknya. Matanya juga ikut bengkak.Tidak menyangka atas semua yang sudah terjadi. Dia begitu takut Izza meninggalkannya. Di usapnya wajahnya kasar.


Seolah jalan Tuhan, Izza terlihat membuka pintu kamarnya. Arlan segera berdiri mendekat.


"Sayang.. " lirihnya.


Arlan menelisik tampilan istrinya yang rapi dan menjinjing tas.


Bersamaan itu ibu juga membuka pintu kamarnya.


Seolah tidak mengindahkan keberadaan Arlan, dengan mata membengkak Izza berjalan ke arah pintu luar.


"Sayang.. " Arlan mencekal tangan istrinya.


Izza hanya melirik tajam dan menghempas cekalan Arlan.


"Sayang kamu mau ke mana.. ?" Arlan menghalangi langkah istrinya.


"Minggir.. " Izza mendorong tubuh suaminya.


Arlan masih berusaha mencegah. " Kamu mau kemana. ?" Arlan mulai panik.


"Minggir mas... "


"Enggak.. aku ga ngizinin kamu.. "


Keduanya saling dorong dan debat di depan pintu utama. Ibu hanya bisa melihat dari pintu kamar.


"Aku mau pergi.. ga da artinya aku di sini kan.. ?" Sinis Izza. Air matanya kembali merembes.


"Kamu ngomong apa, kamu berarti sayang.. jangan pergi .. " Arlan berusaha memeluk istrinya walau Izza menolak.


"Aku minta maaf Za. Tapi sungguh aku ga menghianati kamu.. "


"bohong..Lepas.. " Izza memberontak dalam dekapan Arlan.


"Sayang.. " Di tangkupnya wajah istrinya. " tatap mata aku sayang, kamu bisa lihat.Aku ga bohong.. " Sungguh pedih hati Arlan melihat kedua mata istrinya membengkak dan memerah.


"Aku ga perduli.. " Izza berhasil terlepas dari kungkungan Arlan. Berjalan tergesa membuka pintu.


"Izza Syazwhani.. Aku suamimu mengharamkanmu melangkah barang sejangkah saja dari rumah ini.. !" Suara Arlan begitu menggelegar di tengah hening subuh. Bahkan Rena yang tertidur lena pun langsung terbangun karna takut ada gempa.


**Apakah Izza akan tetap pergi... ? Atau memilih bertahan dengan larangan Arlan.. ??


Mari bantu otor mikir pemirsah. Untung saja tadi sempet hujan bentar. Adem lah dikit nih otak**.

__ADS_1


__ADS_2