
POV KEVIN
Pagi ini aku mengejar pesawat pagi menuju Pekan Baru demi Whani. Wanita yang aku cintai sejak 5 tahun yang lalu. Pukul 5 aku keluar dari rumah menuju bandara dengan mengendarai mobil sendiri .
Semalam berkali-kali Whani mengirim pesan untukku agar mau membantunya menggagalkan pernikahan Nuri. Aku tidak sampai hati menolaknya.
Ku bulatkan niatku, semua ini aku lakukan demi Whani dan untuk Whani.
Dan sekarang, Setelah drama yang memanas tadi, aku duduk di depan penghulu setelah membaca Syahadat tadi. Ini tidak sesuai rencanaku sebelumnya. Kenapa aku justru terjebak sendiri dengan keputusan yang aku buat.
Aku hanya merasa tidak rela jika Nuri menikah dengan Wahyu dan menjadi istri ke 3 nya. Aku takut, setelah aku pulang kembali ke batam, Wahyu kembali memaksanya. Sehingga ku putuskan untuk menikahinya guna melindunginya.
"Mas kawinnya apa mas.. ?" Suara pak penghulu membuyarkan lamunanku.
Ku rogoh dompetku. Ada 3 lembar uang ratusan dan 50 ribu 1 lembar juga beberapa ribu pecahan.
"Apa kamu mau jika mas kawinnya hanya uang ini.. ?" Tanyaku pada Nuri.
Wajah ayu itu sekarang sudah tidak sepucat tadi, wajahnya sedikit memerah .
"Aku ikhlas kak.. "
Dia mengembangkan senyuman tipis padaku. Make-upnya sudah di benahi. Cukup cantik dan luwes dengan kebayanya. Sedang aku, masih dengan kemeja unguku yang aku pakai dari rumah.
Perias sebenarnya sudah menawarkan jasnya, tapi aku enggan memakainya. Cukuplah seperti ini, apa adanya aku.
Seorang bapak-bapak tiba-tiba datang membuka kotak kertas dan mengeluarkan peci warna hitam. Beliau tersenyum menyematkan di kepalaku.
"Terima kasih pak.. " Ucapku haru.
Bapak itu hanya mengangguk dan mengusap bahuku pelan sebelum kembali duduk di kursi tamu.
Pak penghulu mengajariku cara melafaz Akad. Jantungku serasa berdetak lebih cepat, ini tidak seperti saat aku mengucap janji dengan Megan dulu.
Setelah belajar 2 kali, aku di anggap sudah faseh dan acara pun di mulai.
"Saya terima nikah serta kawinnya Nuri Maulidya dengan mas kawin tersebut. Tunai.. " Ucapku lantang yang di sambut kata 'sah ' para saksi.
Gadis Ayu itu mencium tanganku setelah membaca do'a. Aku tidak menyangka dia sekarang jadi istriku. Menggantikan posisi Megan yang sudah berakhir sejak setahun yang lalu.
Aku ragu ingin mencium keningnya seperti pernikahan yang pada umumnya aku lihat. Sehingga aku hanya diam setelah dia mengangkat wajahnya .
"Sekarang kalian sudah sah jadi suami istri, jadilah pasangan yang saling melengkapi dan saling menerima. Sama-sama belajar untuk menggapai Jannahnya.."
__ADS_1
Penghulu memberikan wejangan pernikahan selama beberapa menit ke depan.
Setelahnya acara akad pun selesai,aku sebagai pengantin Pria merasa sendiri karna tidak ada saudara atau keluarga yang hadir.Semua yang hadir di persilahkan menjamu selera.
Aku memilih duduk di kursi menyendiri, ku buka ponselku untuk mengecek saldo ku di ATM yang ternyata hanya tersisa 2 juta. Aku tersenyum miris,tiba-tiba merasa miskin karna pernikahan 1 milyar ini.
"Kak, kakak mau makan.. ?"
"Boleh.. " Ini memang sudah lewat tengah hari. Dan aku sama sekali belum mengisi perutku sejak bangun tadi.
Nuri melayani makanku dan setelahnya memintaku untuk beristirahat. Aku sudah tidak perduli dengan hiruk pikuk di luar. Mataku sudah lelah dan dalam sekejab aku sudah terpejam.
Di dalam mimpiku, aku merasa nyaman dan tenang saat sebuah tangan mengusap pelan rambutku, tangan seorang wanita yang terasa hangat menyusuri wajahku, aku memejamkan mata saat aku merasa sebuah kecupan lembut mendarat di keningku. Rasanya aku begitu bahagia. Meski aku tidak tau siapa wanita itu, karna tidak jelas wajahnya.
Aku terbangun saat mendengar suara Adzan. Memandang bingung pada sekelilingku yang terasa asing.
"Kakak sudah bangun.. ?" Nuri datang dengan senyum manisnya yang meperlihatkan lesung pipitnya.
"Mandi dulu.. biar seger.. "
Aku menerima handuk yang terulur darinya.
"Kamar mandinya di mana.. ?"
"Ga papa.. nanti aku minta temenku meminjamkannya.. "
Setelah mandi, aku menemui nenek yang berada di teras depan, beliau sedang melihat tenda yang sedang di bereskan.
"Nek. ."
"Duduklah nak. . " Nenek tersenyum hangat menyambutku.
"Terima kasih mau menolong kami, nenek benar-benar berhutang budi padamu Nak.. " Wajah Nenek sudah Berkaca-kaca.
"Tidak perlu seperti ini Nek, maaf.. aku menikahi cucumu tanpa meminta izin padamu lebih dulu.. "
"Tidak jadi masalah, nenek yakin kamu lelaki yang baik.. oh iya, kamu berasal dari mana.. ? Wajahmu seperti orang cina.. ?"
"Aku berasal dari pulau Bangka, dan memang orang tuaku Cina Bangka Belitung.. Saat ini aku menetap di Batam, pekerjaan ku di sana.
Dan aku juga meminta izin pada nenek untuk kembali ke sana malam ini.. "
"Bersama Nuri.. ?" Tanya nenek yang langsung membuatku menggeleng.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke Batam sendiri, Nuri akan di sini bersama nenek.. menemani Nenek.. "
Wanita yang sudah tampak tua itu menunduk, raut wajahnya tampak tak terbaca.
"Aku meninggalkan pekerjaanku disana tanpa izin cuti Nek, setelah mendapat Cuti aku akan kembali kesini.. "
"Baiklah... " Nenek mulai tersenyum, setidaknya kata-kataku tadi cukup bisa membuatnya tenang.
"Cepatlah kembali ya.. kasihan Nuri.. "
Aku tersenyum dan mengangguk, lalu ku putuskan untuk masuk mencari Nuri yang ternyata ada di dapur.
"Nuri.. "
"Ya kak... "
Terlihat matanya memerah, apa dia habis menangis. Apa dia menyesal sudah menjadi istriku ?
Berbagai pertanyaan muncul di otakku dan aku tidak berani menanyakannya.
"Aku akan kembali ke Batam malam ini,
Aku tidak meminta izin Cuti sebelum kesini, Karna menurutku mengurus semua ini cukup sehari saja. Semalam Izza berulang kali menelpon dan mengirim pesan agar aku mau membantumu.. Dan aku akhirnya bersedia, tapi maaf jika akhirnya justru jadi seperti ini..
Ini juga tidak sesuai dengan rencana awalku.. "
Gadis itu hanya diam, tidak menyela ataupun menjawab yang justru membuatku semakin bingung. Apa dia memang menyesali pernikahan ini, karna terlihat sama sekali tidak perduli.
Dan akhirnya tepat pukul 7.30 malam aku pamit untuk berangkat ke bandara, karna pesawat akan berangkat pukul 10 nanti.
Nenek berpesan banyak, termasuk hati-hati dan segera memberi kabar sesampainya di sana. Nuri hanya diam, mencium tanganku dan aku langsung memeluknya.
"Maaf.. " Bisikku di telinganya.
Aku mengambil keputusan ini karna juga memikirkan dampak kedepannya. Pernikahan dadakan satu milyar ini sedikit membuatku bingung. Aku tidak tau apa Nuri menerima pernikahan ini atau justru meragu sepertiku.
Aku tidak tau..
Saat ini aku hanya ingin menjauh lebih dulu, sembari memikirkan keputusan apa yang akan aku buat kedepannya..
Aku juga berharap dengan ini, bisa menjadi ruang untuk Nuri memikirkan tentang hubungan ini.
Samada berlanjut, atau berakhir..
__ADS_1