
Sebuah mobil keluaran terbaru masuk di halaman rumah Fahat. 2 orang lelaki keluar bersama seorang wanita yang menuntun anak umur 6 tahun ikut turun.
"Ini rumahnya Ar.. ?" Vita memandang sekeliling rumah yang tampak terawat rapi.
"Iya mbak.. ayok.. mas.. " Arlan lebih dulu melangkah memimpin jalan.
Sesampainya di depan pintu dia langsung menekan bel rumah.
"Assalamualaikum.. " sapa Arlan saat pintu terbuka.
"Waalaikum salam... kak Arlan..!! " Seru Dini.
Arlan mengembangkan senyumnya,
"Ini siapa kak.. ?" Tanya Dini yang langsung menyalami Vita dan Suaminya.
"Ini mbak nya kakak namanya mbak Vita .. ini suaminya mas Ali dan anak kecil ni namanya Naura.. " Arlan memperkenalkan masing-masing pada Dini.
"Aduh kamu imut banget...!! " Dini menjembem pipi Naura.
"Siapa de.. ?" Fahat muncul dari dalam.
"Loh kalian sudah datang.. " Fahat menyalami semuanya dan mempersilahkan duduk.
"Panggilkan kakak mu juga mama Dini... !" Ucap Fahat sambil ikut duduk bersama tamunya.
"Iya pa... " Dini langsung berjalan ke dalam.
"Saya ga nyangka, ternyata Dokter Vita adalah kakaknya Arlan... kaget saya saat Arlan cerita tadi malam.. " Fahat memandang ke semua wajah tamunya.
"Saya juga tidak menyangka pak, ternyata wanita yang di cari - cari setahunan lebih oleh Arlan adalah Whani.. " Vita tampak tersenyum.
"Dia sudah tidak mau di panggil Whani Dok.. Mintanya di panggil Izza seperti Almarhum suaminya memanggilnya.. " Desah Fahat pelan.
Arlan ikut menghela nafas panjang, dan pandangannya langsung beralih pada seorang wanita yang memakai gamis warna hijau dengan krudungnya. Tampilannya sangat sederhana tapi cukup mempesona.
Disisinya, mamanya tampak tersenyum lebar menggiring anak perempuannya.
Izza menghentikan langkahnya saat menyadari mengenali seseorang di sana.
"Dokter Vita... "
Vita tersenyum dan berdiri,
"Hai Izza.. Naura, ayo salim dulu sama tante sama nenek ... " ucapnya pada anaknya.
Bocah itu tersenyum dan berjalan ke arah Humairah dan Izza.
"Lawanye... sape namanye.. ?" Humairah lebih dulu menyapa.
"Naura.. " ucap bocah itu.
Izza tersenyum saat Naura juga menyalaminya.
"Ayo duduk dulu Za... " Fahat menggeser tubuhnya sedikit ke samping agar Izza duduk di sebelah Arlan.
Karna mamanya lebih dulu duduk di sofa tunggal akhirnya Izza mengalah, duduk di sebelah Arlan.
"Kalian serasi sekali... " Puji mas Ali, yang membuat keduanya saling menengok dan memandang sekilas .
__ADS_1
"Dokter Vita ini kakaknya Arlan Za.. Ini Ali suaminya Dokter Vita.. " Terang Fahat pada Izza yang di jawab anggukan dan senyum tipisnya.
Kedua keluarga langsung membahas maksut kedatanganya. Vita meminta maaf, karna orang tua Arlan dari jawa tidak ikut hadir. Acara lamaran yang mendadak tidak bisa menyiapkan sebagaimana mestinya.
Fahat memaklumi, yang terpenting adalah Putrinya mau menikah lagi.
"Saya tidak jadi hal tentang lamaran.. yang pasti pernikahan Izza dan Arlan tentu saya mengharap bisa segera terlaksana dan semeriah mungkin.. "
Vita mengangguk, paham dengan maksut Fahat.
Arlan kembali menoleh ke Izza yang tampak diam tiada ekspresi. Dia hanya menunduk memainkan cincin di jarinya.
"Za.. kamu mau kita resepsi di mana.. ?"
Izza menoleh ke Arlan sebentar, lalu beralih ke Papa mamanya juga Dokter vita.
"Aku ikut saja.. terserah kamu.., "
Arlan menghela nafas berat, bukankah dari awal wanita ini memang tidak berminat dengan pernikahan ini.
"Mama rase akad kat sini jee.. " Humairah mulai berkomentar.
"Iya.. tapi jika pihak nak Arlan mau mengadakan resepsi di Pekan Baru atau Jawa. kami tidak keberatan.. "
Humairah mengangguki ucapan suaminya.
"Bagaimana dengan tanggalnya.. ?" Giliran mas Ali yang mengeluarkan suaranya.
Fahat tampak berfikir sebentar, dia juga sudah merundingkan dengan keluarga besarnya semalam lewat sambungan telpon.
Keluarga besarnya menyambut antusias kabar itu, apa lagi saat tahu calonnya adalah Arlan, teman dari Rizal.
"Bulan depan tanggal 3 .. apa kamu siap Arlan.. ?" Fahat menoleh ke arah Arlan.
"Saya siap pa.. " Mantap Arlan menjawab.
"Alhamdulillah.. " Jawab semuanya.
"Bagaimana dengan Izza.. ?" Mas Ali justru bertanya balik.
Izza hanya mengangkat wajahnya sebentar, kemudian kembali menunduk.
"Aku ngikut aja.. "
Vita dan Ali saling pandang, Fahat tampak menarik nafas pelan.
"Ayo minum dulu Dokter.. " Ucap Humairah memecahkan kesunyian antara mereka.
"Bu.. jangan panggil Dokter lagi. Tolong panggil Vita saja.. "
"Hehe.. iya. ayo Naura, makan kue ni. .. " Humairah mendekatkan piring kue di hadapan Naura.
"Terima kasih nenek.. " Ucap bocah itu sambil tersenyum.
Humairah mengangguk membalas senyumnya.
Arlan menyesap air minumnya pelan. Fikirannya mulai semrawut padahal semua sudah terlihat jelas di depan mata. Satu yang belum paati, calon istrinya belum bisa menerimanya dengan ikhlas.
Wanita itu hanya menerima semuanya demi orang tuanya semata, bukan karna benar-benar menginginkan membina rumah tangga dengannya.
__ADS_1
.
Setelah cukup berbincang, sejam kemudian Vita dan Ali pamit pulang, sedang Arlan tinggal untuk bersama kembali ke Pekan Baru bersama Izza.
"Arlan, kalau mau istirahat dulu.. ada kamar di tengah.. Ma tolong antarkan Arlan istirahat.. "
Humairah langsung mendekat .
"Meh.. mama antar.. "
"Saya permisi dulu pa.. " Pamit Arlan.
"Iya.. "
Fahat kembali duduk tapi kemudian berdiri menuju kamar anaknya.
tok tok tok
Setelah mendengar sahutan dari dalam, Fahat mendorong pintu hingga terbuka . Terlihat anak sulungnya itu sedang duduk membuka laptopnya.
"Papa... " Sapa Izza langsung berdiri.
"Apa papa mengganggu.. ?"
"Enggak kok.. "
Fahat langsung mendudukan bokongnya di sofa dekat anaknya. Dia melihat anaknya yang sedang mengerjakan rakap pendapatan di tokonya.
"Sepertinya tokonya berkembang pesat.. apa kamu jadi membuka di cabang lain.. ?"
"Iya pa.. lagi survei tempatnya.. " Izza tersenyum bangga atas usahanya sendiri.
Fahat memandang sekeliling kamar, masih sama. Sana sini terpajang kenangan bersama Reihan.
"Papa rasa sudah waktunya kamu menyimpannya Nak... "
"Maksut papa apa.. ?" Izza mengerutkan keningnya.
"Foto-foto Reihan, barang-barangnya.. sebentar lagi kamar ini juga akan jadi kamar Arlan. Papa hanya takut.. " Fahat tidak melanjutlan kata-katanya lagi.
"Apa aku harus membersihkan semua ini demi Arlan pa.. ?"
Fahat hanya diam,mencoba mendalami hati dan fikiran anaknya.
"Papa tau.. kamu tidak menginginkan semua ini.. tapi kalau boleh papa minta Nak, tolong kali ini terima Arlan. Dia lelaki yang baik untukmu..
Papa akan merasa tenang jika kamu sudah menikah lagi.. "
Izza membeku mendengar permintaan papanya. Dia tidak akan sanggup lagi melawan jika papa sudah memohon seperti ini. Hatinya kembali menolak,tapi lisannya tak sampai hati mengucap.
"Pa.. " Air matanya pun mulai merembes.
Fahat mengusap pipi anaknya, membelai lembut kepalanya.
"Buka hatimu Nak, lihat Arlan.. dia sudah menyukaimu sejak kalian bertemu di pernikahan Rizal. Dia bahkan mencarimu sejak itu. . "
Izza semakin tersedu, Fahat langsung merangkulnya, membelai kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Arlan akan mencintaimu seperti Reihan mencintaimu, Izza.. "
__ADS_1
**Maafkan keterlambatan Upnya ya.Kesibukan cece sedang menumpuk..
😂😂😂**