CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Ulah Mertua


__ADS_3

Orang bilang saat kita menikah. Kita juga harus siap untuk setiap kemungkinan. Bukan berarti saat kalian sudah menikah, di situlah Happy Endingnya.


Kadang kita terlalu berfikir yang indah-indah, hingga jadi tidak siap saat hal-hal buruk yang datang silih berganti .


Ada saat kita benar-benar sedang di uji, pada ujian se uji-ujinya. Berada pada titik terendah. Bisakah kita melewatinya ? Bisa kah pasangan kita tetap bersama kita melalui semuanya bersama.


Ujian tidak selalu dengan materi, ada yang di uji dengan kesetiaan saat godaan datang. Saat kesehatan hanya harapan , mungkin juga dalam ujian hal lainnya.


Orang bilang menikah adalah ibadah terberat dan terlama sepanjang hidup kita . Tidak hanya 4 kali sujut selesai, tidak hanya dengan puasa 1 bulan selesai. Tidak semudah itu kan.


Lika liku pernikahan tiap orang berbeda. Jangan bandingkan hijaunya rumput tetangga ya.Kalian ga tau aja, itu mobil baru, kreditan tiap tengah bulan bikin sesak nafas, apa enggak mending emBeat kalian yang cash. Orang yang tampak humoris dan romantis belum tentu saling memeluk saat tidurnya. Orang yang terlihat cuek tapi justru selalu mengingat hal-hal special tentang pasangannya.


Saat kita memutuskan menikah bermakna juga menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Bukan kah kita juga tidak sempurna, mari kita tetap bersama honey.. Kamu sangat melengkapi aku. Ga papa nanti kita bertengkar atau adu argumen hanya karna pemilihan kepala desa. Asal kau selalu bersama ku, menyayangiku.. Aku tetap cinta padamu.


Astaga. Ini otor koplaj atau somplak. Bicara ngalor ngidul ngetan ngulon hanya karna habis makan Beleger (kata ponakan namanya credipeti)


Mari kita kembali ke rumah bang Arlan. Nanti kalo udah tamat ini kita fokus rumah bang Arga dan April ya. .


Ehh mereka jadi nikah ga ya. . ? Tarik ulur muluk sih..


TKP


#


"Izza Syazwhani.. Aku suamimu mengharamkanmu melangkah barang sejangkah saja dari rumah ini.. !"


Suara menggelegar Arlan tentu membuat Izza ragu. Walau dia bukan wanita sholehah. Tapi mama nya selalu berpesan padanya untuk menjadi istri yang baik, patuh pada suaminya selagi bukan untuk menyekutukan Tuhannya.


"Kamu Egois.. Aku benci sama kamu.. !!" Izza berbalik masuk ke kamar membanting pintu. Dia kembali menangis di atas ranjangnya.


Arlan mengusap rambutnya frustasi. Tidak perduli Izza mengatakannya egois dan membencinya. Asalkan wanita yang begitu dia cintai itu tidak pergi meninggalkannya.


Dia kembali duduk di sofa. Mencengkram kepalanya yang terasa berdenyut. Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.


"Ar.. " Suara ibu menyadarkan Arlan akan fikirannya yang berkecamuk.


"Aku pusing bu, bingung. Kenapa jadi begini . Mana wanita gila itu. " Arlan berdiri menuju kamar ibu. Tempat Rena menginap.


"Ar, sabar Ar.. " Lastri ikut panik dan menahan gerakan Arlan yang akan membuka pintu.


"Gara-gara wanita ular itu rumah tanggaku jadi seperti ini bu.. Aku ga bisa diam saja.

__ADS_1


Rena... !!!! Rena.. !! keluar kamu.. "


Lastri terdiam, bukan kah ini permintaan dia pada Rena. Jadi dia lah yang harusnya di maksut wanita ular itu. Semua kan ulah dia.


"Ar, nanti biar ibu yang bicara pada Rena.. " bujuk Lastri.


"Aku mau dia keluar dari rumah ini pagi ini bu.. " tegas Arlan.


"Iya Le. Nanti ibu bicara padanya .. "


Arlan membuang pandanganya. Sekarang bagaimana cara dia membujuk istrinya . Dia kembali berjalan ke arah kamarnya. Tapi ragu akan masuk, dan hanya mondar mandir sambil berfikir.


"Ar.Ayo duduk. Ibu bikinkan kopi ya.. " Lastri menuntun putranya kembali ke sofa. Arlan pun manut, karna toh percuma dia mondar mandir. kepalanya justru bertambah sakit.


Tak berapa lama Lastri kembali ke depan, membawakan kopi juga 1 tangkup roti bakar.


"Ayo di minum. Sarapan ya.. nanti kamu sakit Le. "


Arlan tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah asap kopi yang mengepul. Dari baunya dia tahu, ibu menambahkan susu kental manis di kopi itu . Dia merindukan kopi buatan istrinya. Yang mempunyai aroma khas.


Lalu dia melirik ke arah kamar. Berdiri meningalkan ibunya. Hari sudah mulai terang. Perlahan dia memutar knop pintu.


Baru saja dia masuk terdengar suara orang muntah dari kamar mandi. Panik dia berlari , berhenti sebentar saat melihat kaca di dekat lemari baju depan kamar mandi pecah berderai.


Di dorongnya pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Terlihat Izza yang muntah di wastafel.


"Za.. "


Izza menoleh sekilas lalu mencuci wajahnya. Tapi ternyata rasa mual kembali mendera.


Hwek-hwek


Arlan sigap mengurut tengkuk Izza tapi segera di tepis wanita itu.


"Kamu sakit sayang.. ?? " Arlan yang khawatir mengusap dahi istrinya yang berkeringat.


"Ga usah pegang-pegang.. !" Izza sudah setengah lemas berjalan keluar kamar mandi.


Tidak hati-hati dia justru terkena pecahan kaca di kakinya.


"Ichh.. " desisnya.

__ADS_1


Arlan mendekat meraih Izza yang berjinjit bersiap langsung membopongnya. Tapi detik itu juga Izza terkulai lemas.


"Za.. sayang.. !!" Arlan membawa Izza ke ranjang.


"Bu. . ibu.. !!"


"Ada apa Ar.. ?" Lastri berjalan cepat masuk ke kamar mendengar teriakan Arlan.Terlihat menantu yang tak di inginkannya terkulai di ranjang sedang kakinya berdarah.


"Izza kenapa.. ?"


"Tolong ambilkan kotak obat bu.. "


"Di mana.. ?" Lastri panik berlari keluar mencari di dekat dapur tapi tidak menemukan.


Arlan berusaha tenang agar bisa mengingat di mana letak P3K.


"Di dekat TV bu.. !!" teriak Arlan dari kamar.


Lastri berlari menuju ruang TV. menarik beberapa laci dan akhirnya bertemu apa yang dia cari. Cepat-cepat dia kembali ke kamar.


" Ini Ar.. "


Arlan menerimanya lalu membersihkan luka di kaki Izza, mengobatinya agar tidak infeksi.


Setelah selesai Arlan meraih kunci mobilnya.


"Ibu tolong bukakan pintu. juga pintu mobil, Arlan akan membawa Izza ke rumah sakit Denyut nadinya lemah.. " pintanya pada Lastri.


"Ap.. apa Ar. Denyut nadinya lemah.. ??" Lastri setengah syok memastikan.


"Cepat bu.. "


Tergopoh-gopoh Lastri membuka pintu utama lalu mobil Arlan. Dia menarik bantal di bagian depan agar bisa di pakai untuk alas kepala menantunya.


Saat dia berbalik, Arlan sudah memakaikan Izza kerudung dan membopongnya menuju mobil.


Ada rasa takut juga panik di hati Lastri, Takut menantunya kenapa-kenapa dan panik kenapa menantunya bisa pingsan.


Arlan berlari menuju kemudi. Lastri masih bimbang ingin ikut atau tidak.


"Ar.. Ibu ikut.. " putusnya akhirnya..

__ADS_1


__ADS_2