
"Kamu sudah bangun.. ??" Arlan menutup kembali pintu rawat kamar Izza.
Izza hanya mengangguk dan kembali menatap depan dengan tatapan kosong.
"Apa perlu aku kabari keluargamu.. ?" Di tariknya kursi agar bisa duduk di samping ranjang Izza .
"Enggak.. jangan.. !"
Arlan mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa..? "
"Aku ga mau bikin mereka khawatir.. " Di tatapnya wajah Arlan dengan tatapan memohon.
Arlan tersenyum simpul.
"Lalu siapa yang akan mengurus mu di sini.. ?"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri.. " Menunduk sedih.
"Kamu yakin bisa sendiri.. ?"
"Ada Nuri sama Juan.. "
"Mereka juga punya keluarga Za.. "
Izza kembali menunduk, iya dia sadar. Nuri punya nenek yang mesti dia jaga. Juan, punya bayi dan Istrinya yang butuh perhatian.
"Aku tidak akan menghubungi keluargamu.. tapi dengan syarat kamu mengizinkan aku yang akan mengurusmu.. "
Izza mengangkat wajahnya, matanya bertemu mata Arlan yang berbinar penuh kasih sayang dan hangat.
Dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya saat Arlan tersenyum.
"Itu tidak mungkin.. Aku tidak mau timbul fitnah.. "
"Kamu mau tau supaya ga timbul fitnah. .?" Arlan mensedekapkan tangannya santai tapi menatap Izza lekat .
"Apa maksut kamu. . ?"
"Menikahlah dengan ku.. Aku siap menjaga kamu, aku tau kamu lelah sendirian menanggung bebanmu..
__ADS_1
Aku siap jadi tempat mu berbagi..
Kamu tidak akan lagi membuat orang tuamu risau dan khawatir, mereka pasti senang.. "
Izza tersenyum remeh, " Itu tidak mungkin Arlan.. Kamu tidak tau.. "
"Aku tau semuanya.. " Potong Arlan.
Izza kembali menatap wajah Arlan yang penuh keseriusan.
"Apa yang kamu tahu.. ?"
"Semuanya.. "
"Tidak mungkin... dari mana kamu tau. " Tersenyun miring setengah mengejek.
"Aku tau dari papamu.. "
Izza langsung memucat, menatap tajam Arlan yang masih terlihat santai.
"Kamu menghubungi papa... ?"
"Kamu.. kamu.. juga.. "
"Tidak.. aku tidak mengatakan kamu sedang di rumah sakit. Terbaring tak berdaya karna kebodohanmu sendiri.."
Izza melotot tajam mendengar perkataan Arlan.
"Apa kamu mau mati perlahan.. dengan tidak makan, hingga tubuhmu kurus seperti ini.. !" Tunjuk Arlan pada tubuh Izza yang berbalut gamis besar.
"Bodoh.." Arlan mengalihkan pandangannya.
"Yaa...aku memang bodoh.. " Lirih Izza.
"Seberapa bodohnya kamu hingga tidak sadar dengan adanya orang yang begitu menyayangi kamu di sekelilingmu.. ?"
"Apa kamu juga mulai egois sekarang.. ? tidak memikirkan perasaan mereka.. ?"
"Kenapa kamu ga sekalian tidur di jalan raya sana.. biarkan mereka berduka dengan kematianmu .. tapi hanya setahun mungkin.. selepas itu mereka akan belajar iklas.. Karna memang sudah takdir kamu berumur segitu.. "
"Cihh.... Pergilah sejauh mungkin menghindar dari semua dengan alasanmu sendiri yang tidak mau melihat mereka risau tentang mu..
__ADS_1
Tapi apa kamu mikir juga.. kamu tu udah menyia-nyiakan hidup yang sudah Tuhan berikan untukmu.. "
Semua kata-kata Arlan seolah menohok bagi Izza. Hingga tak terasa air mata mulai membasahi pipinya yang tirus.
"Kamu wanita yang menyedihkan Za.... "
"Apa perdulimu.. ?" Di usapnya air mata yang mengalir mulai deras itu.
Arlan tertawa getir, "Iya ya.. apa perduliku. ?"
"Aku hanya kasian dengan keluargamu... " Tambahnya.
"Aku juga kasian dengan bekas suamimu itu.. Dia pasti menyesal sudah menikah dengan wanita yang lemah dan rapuh sepertimu..
Sungguh tidak pantas untuk di jadikan seorang ibu yang akan jadi tumpuan anak-anaknya.. "
Kata-kata Arlan sungguh menjadi belati yang menusuk ulu hati Izza.
Dia hanya mampu menangis, menunduk .
"Benar bukan.. ?" Arlan kembali menatap Izza, ada rasa sedih di hatinya melihat Izza lemah seperti itu. Rasanya ingin meraih wanita itu dan memeluknya erat. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan.
Arlan mendesah pelan, mencondongkan tubuhnya meraih tisu dan mengusap air mata Izza, Izza mengangkat wajahnya sedikit mundur karna perlakuan Arlan.
"Hei.. aku hanya kasian dengan air mata itu. Untuk apa mengalir untuk hal yang sia-sia.. "
Izza memberengut kesal, membuang wajahnya ke samping. Di usapnya pipi yang kembali basah dengan air mata.
Arlan tersenyum tipis. bersamaan suster yang datang membawakan makanan.
"Dokter Arlan.. anda di sini.. ?" Sapa suster itu sambil meletakkan makanan untuk Izza.
"Iya.. saya yang mengurus nya sus.. " Arlan mengambil kotak makanan milik Izza.
Suster tampak memperhatikan Izza, memangnya siapa pasien ini. Hingga mengenal Dokter Arlan.
"Saya permisi dulu Dok.. "
"Iya Sus.. terima kasih.. " Arlan tersenyum dan suster pun membalasnya. Izza sempat meliriknya sekilas.
Ganjen..
__ADS_1