CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Luka Baru


__ADS_3

Arlan mengembangkan senyumnya menemui Izza yang berada di Gazebo samping kolam. Tidak dengan Izza yang berwajah masam menyambut kedatangan Arlan.


"Kamu bener-bener nyebelin Ar.. !"


"Maaf, aku nemenin Ayah nonton bola sampai subuh.. " Di usapnya kepalanya bagian belakang sambil menyeringai.


"Apa kamu lupa ada aku disini... ?"


"Enggak donk.. temenin sarapan yuk.. " Bujuknya manja.


"Males... " Izza meneloyor masuk ke dalam rumah.


Sebenarnya dia bingung mau ngapain lagi di rumah calon mertuanya ini. Tapi seketika dia mengeram kesal saat tangannya di tarik oleh Arlan menuju meja makan.


Arlan mendudukan Izza di kursi, lalu dia duduk di sebelahnya.


"hmm... enak banget masakannya hari ini.. " Arlan mengisi piringnya sendiri. Sedang Izza hanya memperhatikan, tak lama mengambilkan gelas dan menuangkannya untuk Arlan.


"Enak loh udang asam manisnya.. kamu yang masak Za.. ?" tanya Arlan sambil mengunyah.


"Aku bangun semua sudah matang Ar, tentu bukan aku yang masak.. "


Arlan tersenyum menikmati kembali makanannya.


"Tapi kamu bisa masak kan.. ?"


" Enggak.. aku biasa beli.. "


Arlan menghentikan kunyahannya sebentar, menatap Izza lekat.


"Apa kamu menyesal sekarang.. ? Aku tidak sesempurna yang kamu


bayangkan.. " Izza bangkit memilih naik ke kamar Arlan yang dia tempati.


Meninggalkan Arlan yang sendirian di meja makan.


"Mbok ya cari yang lain saja Ar... " Ibu tiba-tiba datang dari depan.Mungkin beliau mendengar obrolan mereka tadi.


"Sudah janda, ga bisa masak.. aduh Ar.. , ibu bingung sama kamu.. apa yang kamu arepin.. " imbuhnya.


Arlan hanya diam tidak menyahut ucapan ibu yang sudah ngalor ngidul mencari nilai minus Izza. Dia memilih fokus kembali makan.


"Ayah kemana bu..? " Tanyanya kemudia setelah selesai dengan ritual makannya.


"Lagi njemput adikmu.. " Ibu membereskan piring bekas Arlan dan menuju dapur.


"Memangnya motornya Deki kenapa.. ?"


"Bocor katanya, ibu tu pusing sama adikmu itu.. jarang pulang ke rumah, malah suka nginep di rumah temennya.. "

__ADS_1


"Namanya juga anak muda bu, udah ga usah di fikirin. . "


"Apa ga bisa di undur lagi Ar pulangnya..? ibu masih kangen loh.. " ibu datang membawakan kue yang baru di beli mbok Mirah dari pasar.


"Aku besok udah kerja bu, nanti aku nginep agak lama habis nikah ya. Aku mau ngajuin cuti seminggu nanti.. "


"Apa kamu serius sama dia..? "


"Bu... " Arlan meraih tangan ibunya yang sedang duduk di sebelahnya.


"Aku serius sama Izza, tolong ibu terima dia ya.. apa ibu juga mau aku di perlakukan seperti ibu memperlakukan Izza saat di rumah keluarganya..? "


"Apa perempuan itu mengadu..?? " Ibu memicingkan matanya.


"Enggak, Aku hanya menebaknya.. " Jawab Arlan singkat.


Ibu diam memilih mengambil kue dan memakannya.


"Assalamualaikum... " Sapa Ayah juga adiknya Arlan.


"Mas.... " Seorang pemuda umur 19 tahun berlari memeluk Arlan.


"Apa kabar Mas..? "


"Baik de, kamu apa kabar.. ?" Arlan mengusap bahu adiknya sayang.


"Aku baik Mas.. ohh iya, mana calon kakak ipar ku. Kata Ayah mas mau nikah bulan depan.. ?"


Arlan tersenyum memanggil mbok Mirah untuk memanggilkan Izza di kamarnya.


Deki kemudian berpindah mencium tangan Ibunya.


"Bocah nakal.. " Ibu mengusap kepala Deki lembut.


"Aku ga nakal bu.. " Deki memberengut lalu kembali ke arah Arlan.


"Ayah ke kamar dulu ya. ." Pamit Ayah yang langsung di ikuti ibu.


"Kamu bisa cuti ga de..? " tanya Arlan.


"Aku usahain mas.. di Batam atau Pekan Baru..? "


"Batam... " Jawab Arlan.


Keduanya langsung menoleh ke atas saat mendengar bunyi sandal turun.


Izza berjalan mendekat ke arah Arlan dan Deki.


"Za, ini adik bungsuku.. Deki Mahendra.. " Arlan memperkenalkan.

__ADS_1


"Deki.. mbak.. " Deki lebih dulu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


"Izza. ." balas Izza .


Ketiganya langsung menuju ruang tengah untuk mengobrol. Deki ternyata sangat supel dan Izza merasa nyaman ikut berbaur mengobrol meski baru kenal. Mereka saling bercanda dan berbagi cerita.


drtt.. drtt.


Ponsel Izza yang di letakkan di atas meja bergetar, dia segera mengangkatnya .


"Hallo Assalamualaikum Vin.. " Sapanya.


"Waalaikum salam.. aku butuh 285 juta.. "


"Ok.. " Izza mematikan sambungannya dan tak lama pesan masuk datang.


"Siapa.. ?" Tanya Arlan.


"Kevin.. "


Segera Izza mentransfer uang yang di minta Kevin.


"Ngapain.. ?" Arlan mengerutkan keningnya kepo.


"Ini.. nanti aku ceritain.. " Izza masih fokus dengan layar ponselnya.


"Mas Arlan cemburu mbak... " Goda Deki.


Arlan hanya melirik jengah ke arah adiknya itu.


"Udah.. ?" Tanya Arlan lagi memastikan.


"Udah.. " Izza meletakkan kembali ponselnya di meja. Arlan langsung meraihnya dan ternyata terkunci kode.


"Kodenya apa.. ?"


"Mau ngapain sih.. ?" kesal Izza sambil menekan kode.


Arlan tidak menjawab dan langsung membuka isi ponsel itu. Sedang Deki tertawa geli.


"Idihhh... yang Bucin.. Bucin dah hahaha... " Deki berdiri menuju kamarnya.


Kekepoan Arlan justru membuka luka baru untuknya sendiri saat melihat galeri Izza penuh fotonya bersama Almarhum Reihan. Ada rasa tidak terima, ada rasa cemburu. Tapi dia bisa apa.?


Izza bisa membaca raut wajah Arlan yang diam itu saat membuka galeri fotonya yang belum pernah dia hapus.


Tapi dia juga bisa apa, karna sejujurnya Reihan tetap di hatinya sampai sekarang.


"Za... aku hanya Figuran ya.. ?"

__ADS_1


__ADS_2