CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Ketika Tidak Ada Pilihan Untukmu


__ADS_3

Sudah 5 hari Whani tinggal di hotel. Fahat menyita hapenya. Dan akan datang pagi dan malam mengunjunginya. Semua kebutuhan Whani di cukupi. Dan kondisinya juga sudah membaik.


Tapi malam ini Fahat tidak datang berkunjung sendiri. Melainkan dengan Reihan.


"Papa.. " Whani tersenyum cerah, tapi ketika sadar ada orang lain di sebelah papanya. Senyum itu langsung meredup.


Whani sudah merasa tidak punya muka di depan Reihan sejak kejadian yang lalu. Merasa sudah tidak pantas diri lagi mengharap Reihan.


" Sudah makan nak.. ?" Papa mengelus rambut Whani dan mengajaknya duduk.


"Udah pa.. papa udah makan.. ?"


"Sudah.. " Papa tersenyum lalu memandang Reihan yang sedang duduk menunduk .


"Pa.. aku kapan bisa pulang. Luka aku udah sembuh pa. Mama ga akan curiga.. " Mata Whani melihat senyum miring Reihan, yang seperti sedang mengejeknya.


"Besok kita pulang.. tapi tetap kita rahasiakan semua dari mama ya.. papa ga mau mama mu syok.. "


"Maafkan Whani ya pa.. " Whani memeluk papanya erat.


"Whani.. berjanjilah untuk bisa menjaga diri kamu kedepannya.. " Papa mengelus pundak Whani lembut. Whani segera mengurai pelukannya.


"Iya pa.. InsyaAllah.. "


Fahat tersenyum getir. Nyatanya dia memang gagal menjaga Whani. Terlalu membebaskan anaknya, hingga tidak tau anak nya berhubungan dengan Aldi.


"Om.. " Reihan menatap Fahat Intens. Fahat langsung menoleh ke arah Reihan.


"Ada apa Rei.. ??"


"Om saya akan menikahi Whani " Ucap Reihan mantap.


"Kamu bercanda.. " Fahat tertawa menggelengkan kepalanya.


"Saya serius nak menikahi Whani Om.. " Reihan kembali mengatakan, agar tidak di kira main-main.


"Aku ga mau.. " Whani memalingkan wajahnya ke lain tempat saat Reihan menatapnya tajam.


"Kamu tau Rei.. Whani seperti itu, apa kamu tidak akan menyesal menikahinya.. Dia sudah tidak suci lagi.. Carilah wanita lain Rei.. " Ucap Fahat.


"Papa.. aku.. " Whani ingin menjelaskan yang dia masih suci. Tapi ucapanya terhenti oleh suara Reihan.


"Saya bersedia om.. saya iklas menerimanya.. "


Fahat menatap wajah Reihan yang nampak serius, lalu beralih ke Whani yang terlihat sendu.


"Pa.. aku ga mau.. "


"macam mana kalau awak hamil.. apa awak nak kan laki-laki gila tu jadi suami awak.. ?? " Ucap Reihan tajam.


Whani menangis mendengarkan semua ucapan Reihan. Hatinya kecewa karna Reihan juga menganggapnya sudah menyerahkan kehormatanya pada Aldi.


"Pa.. " Whani masih memohon pada papanya agar menolak. Bukan dia tidak mau Reihan yang di dambanya menikahinya, tapi hatinya tidak ingin di nikahi karna perasaan Iba.


"Whani.. jika papa boleh memilih, papa lebih senang jika kamu menikah dengan Reihan. . "

__ADS_1


Whani tercengang mendengar jawaban papanya. Itu artinya dia tidak punya pilihan lain.


"Sayang.. dengar. Cukup sekali kemarin papa merasa gagal karna tidak bisa menjagamu. Biarlah kali ini papa tidak mau kamu gagal dalam mencari pendamping hidupmu. ''


"Terimalah Reihan, sebagaimana dia menerima mu.. " Fahat meneteskan air mata mengusap punggung tangan anaknya itu.


Whani menatap Reihan, meminta Reihan mencabut omongannya lewat isyarat matanya. Tapi laki-laki itu tampak tak bergeming.


.


.


Paginya di rumah Fahat tampak heboh saat Reihan mengatakan keinginannya mempersunting Whani saat dia kembali dari tugas luar kotanya. Untungnya si kembar sudah berangkat sekolah di antar Amir.


"Ko ni serius ke Rei.. ??" Leha mamanya tampak Syok.


"Ma. . Reihan serius, tapi karna kat sini urus surat tu susah, Rei niatkan kita bernikah siri terlebih dahulu. . Setelah kita balik kat Pahang. Rei akan cepat mengurus pengesahannya..


Atau jika om dan tante merasa tak pas jika Reihan dan Whani menikah siri terlebih dahulu. Saya tak kesah nikah kat pahang.. Setelah saya uruskan surat menyurat tu.. " Ucap Reihan gamblang.


Fahat dan Humairah tampak berfikir, memilih mana yang terbaik untuk putrinya.


"Saya tak kesah, lagi bagus dari pada nanti mereka terlepas. Kita sebagai orang tua pastilah yang akan tanggung dosanya.. " Humairah besar berharap, dengan pernikahan ini Whani bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi .


Semua tampak saling padang satu sama lain. Hanya Fahat yang berekspresi datar. Leha dan Aziz juga Humairah tampak bahagia.


"Papa... " Humairah memanggil Suaminya yang tampak datar saja mendengar khabar anaknya di lamar.


"Papa setuju kan.. ?" Humairah mulai merasa panik. Semua orang langsung memandang ke arah Fahat.


"Tentu... " Fahat menampilkan senyum terpaksanya.


"Kami setuju.. " . Jawab Aziz yang langsung dapat anggukan Istrinya.


Reihan tampak diam mendengarkan membicaraan mereka.


"Mama rase, kat pahangpun kita mesti buat resepsi pa.. " Leha mulai menyatap kembali makanannya.


"Tak payah ma... Rei tak nak susahkan mama.. "


"Ape ko cakap ni Rei, ko tak nak ade resepsi ke.. ?" Aziz beralih menatap anaknya tajam.


"Rei rase tak payah pa.. "


"Ape lak ko ni.. orang bekawin tu mestilah ade resepsi.. Sudah ko dan Whani tak payah urus ape-ape, biar papa mama yang akan uruskan. . " Ucap Leha yang langsung tidak bisa di bantah Reihan.


"Akhirnya... kita jadi bebesan Rah.. " Leha tersenyum pada Humairah.


"Yee lah kak. . tak sangke yang obrolan kita semalam Allah langsung ijabahi.. " Humairah tampak tersenyum cerah.


"Kalian.. ??" Aziz memandang keduanya yang tampak mesem-mesem.


"Haha.. kite ni gurau-gurau je. nak jodohkan Whani ngan Reihan.. taunya masyaAllah.. Rei dengan sendirinya cakap nak kawin ngan Whani.. " Leha memandang bahagia ke anak Sulungnya.


.

__ADS_1


"Assalamualaikum... "


"Waalaikum salam.. "


"Kakak.. !!" Humairah langsung bangkit dari duduk di ikuti yang lain.


"Kakak dah balek.. "


Whani segera menghambur ke arah Mamanya yang baru berjalan ke arahnya.


"Mama... " Dia menangis sesenggukan, dan hanya Fahat dan Reihan yang tahu. Kenapa Whani menangis.


"Sayang... apasal menangis.. " Humairah membelai rambut anaknya lembut.


"emmm... mungkin sangking rindunya Whani dengan mama.. " Whani mengurai pelukannya memandang mamanya.


" Mama pun rindu.. kakak apasal pegi tibe-tibe je.. "


"Itu... itu karna di sana ada masalah serius ma... " Whani nemendang papanya lalu segera mendekat dan memeluk papanya.


Setelah papa beralih ke Cik Leha yang langdung memeluknya erat.


"Awak tahu tak.. masa awak pegi ade yang diam-diam rindukan awak.. " Ucap Leha melirik anaknya.


"Ohh ya ... ?" Whani mengurai pelukannya. Lalu salim pada suami cik Leha.


"Kita duduk dulu.. Sayang kamu sudah sarapan..?? " Sela Fahat.


"Belum pa.. "


"Kasianya.. ayo kita makan dulu.. " Mama menarik tangan Whani.


Semua langsung kembali ke meja. Whani duduk di sebelah mamanya. Mama Humairah langsung mengabilkan nasi gireng untuk Whani.


"Makanlah.. sekejab je awak pegi, dah kurus kering macam ni.. Tak de restoran ke kat sana.. ?"


Whani hanya tersenyum mendengar celotehan mamanya. Dan mulai menyantap makanannya. 6 hari di luar dia sangat merindukan masakan mamanya. Sehingga sekejab saja nasi itu sudah habis.


Semua orang tampak memperhatikannya makan kecuali Reihan yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Whani... " Mama mulai ingin bicara pada anaknya itu.


"Ya ma.. "


Humairah tampak melihat ke arah suaminya, dan Fahat mengangguk .


"Sayang... Reihan melamarmu. Apa kamu mau menerimanya.. ?"


Whani tahu, ini lah yang akan di katakan mamanya. Whani memandang Reihan yang juga tengah memandangnya ke arahnya .


"Menurut mama papa gimana.. ?" Whani masih memandang ke arah Reihan.


"Mama dan papa tentu saja senang sayang, ape lagi kita dah tau familynya.. Tapi ape-ape keputusan tetap kat tangan kakak... "


Whani memutus lebih dulu pandangnya pada Reihan, menunduk menghela nafas.

__ADS_1


Apa dia masih punya pilihan?


"Berikan aku alasan agar aku yakin atas kesungguhan Abang " Lirihnya pelan.


__ADS_2