
Izza sudah kembali ke Pekan Baru. Dia mulai sibuk dengan kegiatannya.
Siang ini dia ada janji dengan Arlan. Maksutnya Arlan yang meminta bertemu.
Baru menyusun bunga yang baru di hantar pemasok. Tiba-tiba kepalanya berdenyut hingga limbung.
"Mbak Za ga papa.. ?" Juan panik melihat Izza hampir jatuh.
"Tidak.. sudah lanjutkan kerjamu " Izza melangkah menuju kursinya. Tapi tiba-tiba pandangannya gelap.
"Mbak Za... mbak... !!" Teriak Juan dan Nuri panik.
Mereka langsung mengangkat tubuh Za keluar, menghentikan Taksi dan membawa Izza ke rumah sakit .Juan hanya mengantar ke taksi dan kembali ke toko untuk menutupnya.
Beberapa menit kemudian setengah berlari Nuri meminta pertolongan dari dalam taksi. Petugas dan perawat langsung sigap membawa brangkas rumah sakit.
"Dok.. ada pasien di UGD.. " Ucap Siti ada Arlan.
"Baiklah.. " Arlan melangkah pasti ke arah UGD.
Baru saja dia masuk, wajahnya langsung pias.
"Izza... !!" Berlari menghampiri.
"Pasien pingsan dok.. " Ucap suster..
Arlan segera memeriksanya. Setelah selesai meminta perawat memindahkan ke ruang rawat.
"Bagaimana keadaan.. " Kata-kata Nuri menggantung saat melihat Arlan. Lelaki yang tempo hari dia tuduh orang jahat. Rupanya seorang dokter.
"Apa yang terjadi.. ?" Tanya Arlan.
Nuri menunduk, sedikit segan.
"Kami tidak tau.. tiba-tiba mbak Za pingsan.. "
"Apa dia selalu telat makan.. ?"
"Kami tidak begitu paham, tapi memang jarang.. "
__ADS_1
Arlan mendesah pelan, menyimpan tangannya pada kantong bajunya.
"Dia hanya kurang nutrisi juga ada maag.. Sudah di pindah di ruang rawat. Kamu bisa menjenguknya.. "
"Terima kasih dok.. "
Arlan mengangguk dan berjalan menuju ruangan lain.
Sejam kemudian, dia datang ke ruangan dimana Izza di rawat.
Nuri yang kaget menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Apa kamu sudah menghubungi keluarganya. . ?"
"Belum Dok.. kami tidak tau Kontak mereka.. " jawab Juan.
"Apa kalian membawa ponsel atau tasnya.. ada Alamat dan lainnya di dompetnya.. "
Keduanya menggeleng, mereka melupakan itu.
"Kalian kembalilah ke toko. Biar Izza saya jaga.. ada suster juga di sini..
Nanti sore kalian kesini bawa sekali tas tangannya.. "
"Kalau begitu kami pamit dulu Dok.. " Pamit Nuri.
Arlan mengangguk.
Setelah mereka pergi, Arlan tersenyum tipis mendekat ke arah ranjang.
"Baru kemarin aku bahagia karna berhasil menghubungimu.. tapi ternyata hari ini takdir justru membawamu datang pada ku Za... " Lirihnya pelan.
Di tatapnya wajah Izza yang memang tampak lebih tirus. Dia menggeleng pelan. Ada rasa penasaran dan rasa khawatir. Apa yang membuat wanita ini begitu tertekan batin, hingga membuatnya sering telat makan dan kekurangan nutrisi.
Lama berdiam, dia memutuskan untuk keluar. Baru saja memutar handel pintu, dia kembali menoleh mendengar suara Izza.
"Bang Reihan.. " lirih Izza lemah.
Arlan mengernyit lalu kembali mendekat, dia tidak begitu mendengar jelas igauan Izza.
__ADS_1
"Bang Reihan.. "
Izza masih mengigau sambil mulai tak tenang dan gelisah dalam tudurnya. Arlan mendekat.
"Za.. bangun.."
Tapi Izza tak bergeming, membuat Arlan sedikit bingung. Perlahan dia meraih tangan Izza. Menggenggamnya pelan. Suara Izza langsung melemah dan tak lama kembali tidur.
Arlan melepas pelan genggaman tangannya. Menatap Izza lekat, di usapanya kening wanita itu yang masih berbungkus hijab.
Siapa Reihan.. ? Apa mantan suaminya. . ?
Perlahan, mengikuti nalurinya dia justru mencium kening wanita itu.
Arlan terkesiap dengan apa yang dia lakukan. Cepat-cepat dia beranjak menjauh dan keluar dari ruang rawat Izza.
"Apa yang kamu lakukan Ar... " Umpatnya pelan pada dirinya sendiri.
"Arlan...!!" Suara melengking itu langsung menghentikan langkahnya. Juga menghentikan kesenangannya .
"Kamu kemana aja sih susah di hubungi..? " Syifa meluapkan kekesalannya.
"Aku sibuk.." Arlan melangkah menuju ruangannya.
Syifa mengikuti Arlan hingga masuk ke ruangannya dan langsung menyergap lelaki itu. Arlan terkejut dengan apa yang Syifa lakukan. Dia mendorong kasar tubuh Syifa.
"Apa yang kamu lakukan..!!?" murkanya pada Syifa yang justru tersenyum puas.
"Melakukan apa yang biasa orang lain lakukan pada tunangannya.." Syifa kembali nendekat dan mengecup bibir Arlan rakus.
Arlan kembali mendorongnya , hingga Syifa mundur beberapa langkah.
"Aku bener-bener muak sama sikap kamu Fa.. mulai sekarang kita putus. !!"
"Apa.. ? putus..? ga semudah itu Ar. Pernikahan kita tinggal beberapa minggu lagi. Apa kamu mau mempermalukan keluargamu. . ?"
Arlan tak bergeming dengan gertakan Syifa, dia membuka cincin yang melingkar di jarinya. Dan langsung membuka tangan Syifa, meletakkan cincin itu di sana.
"Aku tidak perduli.. aku akan menelpon orang tua mu nanti .. " Melangkah keluar .
__ADS_1
"Arlannn.... Arlannn.... !!" Teriak Syifa geram.
Dan Arlan tak perduli, terus melangkah menuju ruang Izza.