
Hari ini Arlan sibuk dengan pekerjaanya hingga sore. Wajah lelah karna kurang tidur semalaman memikirkan istrinya, tak membuatnya lantas mengabaikan tanggung jawabnya.
"Permisi Dokter.. " Nina masuk bersama nenek-nenek yang di tuntun wanita muda.
"Iya nek, gimana.. ? Apa ada keluhan.. ?" Tanya Arlan sambil membaca rekam medis sang nenek yang ternyata menderita Diabetes.
"Aduh Fi.. Dokternya masih muda, ganteng lagi hehe... " Nenek itu menarik tangan wanita muda itu untuk lebih mendekat.
Mendengar pujian sang pasien, Arlan pun mengangkat wajahnya. Wanita muda itu salah tingkah dan membuang pandangan saat Arlan melihat ke arahnya.
"Hehe.. ini cucu saya Dok.. "
Arlan hanya mengangguk dan tersenyun tipis
"Ga ada keluhan Dok.. saya cuma mau cek saja. ." Seorang perawat langsung mengecek kadar gula nenek tersebut.
Lalu mengatakan pada Dokter Arlan.
"Makannya di jaga ya Nek.. yang terpenting nenek harus bahagia.. " Arlan menuliskan resep obat untuk sang nenek.
"Iya Dok.. terima kasih .. " Nenek itu tersenyum.
"Sama-sama Nek.. " Arlan menyerahkan resep ke Nina dan nenek itu di bantu cucunya berdiri untuk keluar.
Si wanita muda sempat menoleh melihat Arlan, tapi Arlan tak menyadari karna sibuk melihat ponselnya.Hanya Nina yang sempat memperhatikan gerakgerik wanita muda itu.
"Ini resep obatnya silahkan di tebus di bagian farmasi ya mbak.. " Ycap Nina.
"Ahh iya Sus, terima kasih" Wanita itu tersenyum malu karna ketahuan memperhatikan Dokter Arlan.
"Sama-sama, saya permisi.. " Nina kembali memanggil pasien berikutnya.
.
Nuri selesai menutup toko langsung berpisah dengan Juan. Mereka berbeda arah pulang. Nuripun mulai menyusuri trotoar menuju rumahnya.
Saat melintasi penyebrangan tubuhnya tiba-tiba limbung karna terserempet motor yang melaju dari arah samping.
Brukk
Nuri jatuh di trotoar.
Pengendara itu langsung meminggirkan motornya.
"Maaf ya, saya ga sengaja.Kamu ga papa.. ?" Pria itu membantu Nuri yang terlihat meringis untuk berdiri.
Nuri melihat kaki dan Lututnya yang lecet karna mencium aspal.
"Ga papa.. cuma lecet.. ",Nuri melepas tangan pria itu dari bahunya.
"Kita kerumah sakit aja ya, untuk memastikan. Saya takut kamu kenapa-kenapa.. "
"Ga perlu, ini cuma lecet.. " Nuri mengangkat wajahnya untuk melihat jelas wajah pria itu saat melepas helm nya dan merapikan rambutnya.
"Kamu yakin ga papa.. ?"
"Ehh iya.. " Nuri sedikit gugup karna posisi mereka begitu dekat.
"Permisi ya.. "
Baru dia akan melangkah, Pria itu mencekal tangannya.
"Tunggu .. "
Jantung Nuri sudah serasa berhenti. Perlahan dia membalikan badannya.
"Yaa.. ?"
__ADS_1
"Aku anterin aja, rumah mu mana.. ?" tawar Pria itu.
"Ehh ga perlu, rumah ku udah dekat.. Bye. . " Cepat-cepat Nuri berjalan memasuki gang tidak perduli dengan teriakan pria yang tadi menyrempetnya.
"Kamu kenapa Ri..? " Tanya nenek saat melihat wajah tegang Nuri.
"Ya Allah.. itu kakimu kenapa. .?"
"Tadi kesrempet nek, cuma lecet kok.."
Nenek langsung mencarikan p3k untuk mengobati Nuri.
Nenek menyeka air matanya. Merasa prihatin dengan nasib cucunya.
"Nek.. kenapa nangis..? "
"Nenek kasian sama kamu, gimana nasib kamu kedepannya.. Nak Kevin juga tidak datang-datang.."
Nuri diam, sejak pertemuannya dengan Kevin di pesta pernikahan Izza. Mereka tidak pernah bertemu lagi, sesama bertukar kabar lewat telpon pun tidak.
"Apa aku pisah aja ya Nek.. ?"
Nenek langsung menghentikan geraknya mengobati luka di kaki Nuri.
"Dia hanya ingin menolongku saat itu Nek, aku tidak mau membebaninya dengan status ini. Pun dengan ku, aku juga tidak ingin terikat dengan pernikahan seperti ini.. "
"Tapi kamu mencintainya Ri.. "
Nuri menatap lekat wajah nenek yang telah merawatnya sejak dulu. Wajah tua yang tampak kelelahan karna usia.
"Apa pentingnya Nek, toh dia tidak mencintaiku.. "Lirih Nuri.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkannya, setidaknya ungkapkan perasaan mu padanya lebih dulu . " Nenek mengusap kepala cucunya dengan sayang.
Nuri menggeleng pelan.Dia cukup sadar diri siapa dia dan siapa Kevin.
"Iya.. hati-hati.. "
Nuri pun masuk ke kamarnya bersiap untuk mandi.Selesai mandi dia langsung ke dapur menyiapkan makan malam.
"Enak sayur nya.. " Puji nenek.
"Karna nenek memang suka tahu, kan... ?"
"Kamu kan tau, gigi nenek dah tak do.. "
Keduanya tertawa bersama, menikmati makan malam seadanya. Sayur tahu putih dan ikan goreng.
Setidaknya Nuri bersyukur, karna sudah terbebas oleh hutang..Bisa menikmati hidup mereka dengan tenang.
Selesai makan, Nuri kembali ke kamar mengambil ponselnya. Ada 3 panggilan tak terjawab dari Kevin.
Juga SMS banking menunjukan 3 juta transferan masuk.
Nuri mengerutkan keningnya bingung saat membaca pesan dari Kevin.
My Love
Aku udah transfer uang untuk kamu sama nenek, pergunakan untuk kebutuhan kalian..
Kevin.
Nuri mendudukan tubuhnya di tepi ranjang. Bingung memikirkan Kevin.
"Apa maksutnya coba, tidak pernah datang, ngabari. Tapi ngirim uang. Dia fikir aku cuma butuh uangnya apa.. " Gerutunya kesal sendiri.
Nuri
__ADS_1
Aku ga mau nerimanya, aku kirim balik ya..
2 menit setelah terkirim pesan balasan untuk Kevin. Nuri meninggalkan telponnya di kamar dan kembali ke depan. Menemani nenek nonton TV.
Tanpa dia tau, ponsel dalam nada Silence itu bergetar beberapa kali.
.
Kevin yang tahu Nuri mengirim balik uang transferannya langsung mengumpat kesal. Apa lagi gadis itu juga tidak mau mengangkat telpon darinya.
"Apa sebenarnya maunya dia.. ?"
Dia segera mencari tiket dan bersiap ke Pekan Baru menemui Nuri.
.
Di bandara.
Arlan bolak balik melihat jam di tangannya. Izza memberi kabar langsung pulang ke Pekan Baru tanpa singgah di rumah orang tuanya di Batam. Sehingga Arlan cepat-cepat pulang untuk mandi dan bersiap menjemputnya.
Sudah hampir satu jam menunggu. Belum terlihat batang hidung Izza di pintu kedatangan. Arlan mencoba menghubunginya, tapi nomernya tidak aktif.
Bodohnya Arlan, dia tidak menanyakan maskapai apa yang di gunakan istrinya. Dan Izza hanya mengatakan sekitar pukul 8 akan sampai di Pekan Baru.
Saat pengumuman sebuah maskapai berhasil mendarat. Arlan bangkit menuju pintu kedatangan. Orang-orang mulai ramai keluar. Tapi Izza belum terlihat.
Dan di ujung belakang, seorang wanita menenteng tasnya berjalan anggun menggunakan Rok Denim dengan atasan tunik warna merah senada dengan krudungnya.
Arlan mengembangkan senyumnya, menyambut seseorang yang juga sedang berjalan ke arahnya. Izza berjalan cepat setengah berlari menuju Arlan.
Lelaki itu langsung membentangkan tangannya. Izza yang malu-malu pun memeluknya.
Arlan menciumi seluruh wajah istrinya.
"Aku merindukanmu sayang.. " Bisiknya lembut.
"Udah, aku malu.." Izza mengurai pelukannya, memandang Arlan yang terkekeh mengusap kepalanya.
"Ayo.. " Arlan merai tasnya dan menggenggam tangannya mengajaknya keluar bandara.
Sesampainya di parkiran, Arlan membukakan untuk Izza. Lalu memutari untuk masuk di tempat kemudi.
"Kita makan dulu ya... " Tawar Arlan sambil menoleh ke arah istrinya.
Izza hanya mengangguk dan menikmati perjalanan mereka.
30 menit kemudian Arlan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. Keduanya turun bersama-sama. Arlan menggenggam erat tangan Izza menuju pintu masuk restoran. Lelski itu juga menarik kursi untuk Izza bisa langsung duduk dengan nyaman.
"Kamu mau pesen apa sayang..? "
"Kayaknya ini aja deh.. " Tunjuk Izza pada sebuah gambar di buku menu.
"Ok..pesen nasi ayam 2 ya mbak, tambah sup buntut 1. Minumnya teh anget 2, mineral 1 .. " ucap Arlan pada pramusaji .
"Baik pak.. mohon di tunggu.. "
Pramusaji berlalu setelah mencatat pesanannya dan di angguki Arlan.
"Kamu tau aku mau mesen teh ? aku bahkan belum ngomong.. "
Arlan tersenyum manis, mengusap pipi istrinya.
"Aku kan suami kamu, tentu aku mulai tahu kebiasaan kamu sayang. Kamu ga pernah minum es kalo malem. Dan lebih milih teh anget.."
Izza berusaha memberi senyum terbaiknya, setidaknya untuk menghargai perhatian suaminya .
Tanpa Arlan atau Izza sadari, ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka, sejak awal mereka masuk restoran.
__ADS_1