CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Diam-Diam Mengagumi


__ADS_3

Selesai makan, Dini mengajak Arlan kembali ke ruang depan.


"Kakak di sini dulu ya, kita nunggu waktu sholat dulu.. " Ujar Dini.


"Baiklah... Dini kelas berapa.. ?" Tanya Arlan.


"1 SMA kak... "


Mereka saling mengobrol sambil bercanda. Arlan juga mengabari mbak nya bahwasannya nanti malam akan menginap di sana.


"Akak.. kawankanlah Arlan tu.. tak kan lah adik yang kene kawankan.. " ucap Humairah sambil memotong kue di meja.


"Malas ma... "


"Kak... " Lirih Humairah.


Izza mendengus kesal, segera ke depan membawakan kue dan teh untuk Arlan. Terlihat Arlan sedang mengobrol dengan Dini. Sedang Dina diam memainkan ponselnya.


Izza meletakkan teh dan kue di meja,.Arlan memperhatikan dengan seksama.


"Dini..Dina.. kalian ke atas dulu istirahat. . "


"Baik kak... " Keduanya langsung bangun untuk menuju ruang atas.


Setelah kepergian adik-adiknya, Izza duduk di sofa depan Arlan.Masih dengan tampang datar nya.


Arlan sendiri bingung, Izza ini sedang marah, atau sedang gimana.


"Apa kamu ingin menanyakan sesuatu padaku Za. . ?"


"Enggak.. " Izza masih tidak mau menatap Arlan.


"Apa kemarin malam kamu datang ke rumah.. ?"


"Iya.. "


Arlan mengulum senyum, menyandarkan badannya ke sofa.


"Kamu seperti seorang wanita yang sedang cemburu Za.. "


Izza langsung mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Arlan.


"Apa maksutmu.. ?"


"Apa kamu belum sadar, kamu sedang marah karna cemburu..?" Goda Arlan.


"Untuk apa aku cemburu.. " Izza menarik bibirnya ke atas.


"Aku tidak punya Alasan untuk cemburu dengan mu.. "


Ada rasa nyeri di dasar hati Arlan, tapi dia berusaha baik-baik saja. Setidaknya sampai nanti malam.


"Ehh... Arlan... !!" Seru Fahat.


"Om... " Arlan langsung bangun untuk menyalami Fahat.


"Bagaimana kabarnya.. ?" Tanya Fahat dengan sumringahnya.

__ADS_1


"Baik Om.. Om apa kabar.. ?"


"Alhamdulillah... ayo duduk lagi. Om mau bebersih.. sebentar lagi Adzan.. "


"Iya om... "


Giliran Izza yang mendekat ke arah Fahat. Dia langsung menghambur.


"Papa.. "


"Ohhh.. putri papa. Kenapa semakin kurus saja sayang.. ?" Fahat menciumi kening anaknya.


"Aku.. aku ga tau pa.. " Izza sempat melirik Arlan.


"Hemm... nanti kita bicara. Papa mau bersih-bersih dulu. . "


"Iya pa... "


Fahat tersenyum menatap Arlan, lalu masuk ke ruang dalam. Izza kembali duduk menemani Arlan.


"Papamu sangat menyayangimu ya . . "


"Iya.. papa orang pertama yang slalu membelaku.." Ucap Izza sambil tersenyum bangga.


Arlan ikut tersenyum, melihat Izza tersenyum.


"Kamu cantik Za kalau tersenyum.."


Izza langsung menatap ke arah Arlan, Lelaki itu juga cukup tampan jika tersenyum begitu. Tapi dia tidak mau mengatakanya langsung .


.


"Kak.. ini best bangett....!!!" Teriak Nuri di area permainan uji nyali.


Mereka sedang berada di sebuah Mall yang menyajikan aneka permainan ala taman bermain.


Kevin hanya tersenyum tipis dan terus memperhatikan wajah ceria Nuri.


Hingga saat akan turun tiba-tiba Nuri terpeleset plastik bekas makanan yang ada di bawahnya. Dengan cekatan Kevin memegang badannya, 1 tangan memegang pinggang Nuri agar Nuri tidak jatuh di lantai .


Wajah mereka begitu dekat, jantung Nuri sudah berdetak kencang sekali.


Dia bisa merasakan hembusan nafas Kevin yang ada di depannya.


1 detik, 2 detik sampai detik ke 5 mereka masih dalam posisi itu dan saling menatap dalam.


"Mas.. kalau mau ciuman jangan di sini.. " Seru pengunjung lainya.


Kevin langsung sadar dan menarik tubuh Nuri untuk tegak.


"Maaf.. "


Nuri sudah bersemu merah, memalingkan wajahnya dan mulai berjalan ke luar arena. Tapi tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya hingga limbung ke belakang.


"Ahhh.. "


Dan lagi-lagi Kevin menangkapnya. Nuri langsung bangun merasa malu setengah mati pada Kevin.

__ADS_1


"Hati-hati.. kita cari minum dulu.. "


Nuri hanya mengangguk, Kevin langsung menarik tangannya menuju arena luar permainan. Pengunjung sangat ramai sore ini.


Nuri sudah tidak fokus pada suasana yang ramai. Dia menatap lekat tangan di genggaman Kevin. Hatinya begitu nyaman. Merasa aman dan di lindungi, juga di sayangi . Hingga tiba-tiba Kevin berhenti.


Dan Nuri yang masih belum sadar juga, langsung menabrak Kevin bertepatan Kevin menoleh ke arahnya.


Nuri membulatkan matanya karna wajahnya sudah mendarat di pipi Kevin. Kevin juga terkejut.


Nuri langsung mundur,


"Maaf kak.. aku ga tau kakak tiba-tiba berhenti.. " Ucapnya malu.


Aduhhh nenek....


Untuk kedua kalinya aku malu di hadapan lelaki ini...


"Kamu melamun.. ?" Kevin mendorong kening Nuri dengan telunjuknya dan menggegeleng pelan.


"Mau minum apa.. ?"


Nuri baru sadar, mereka sudah sampai di depan toko penjual minuman. Jadi tadi Kevin berhenti karna mau menayakan padanya tentang minum.


Nuri semakin bertambah malu.


"Apa saja kak.. aku.. aku ke toilet dulu ya kak.. "


"Jangan dulu, nanti kamu ilang saya gimana mau nyarinya .. "


"Kakak bisa telpon aku nanti.. "


"Saya ga punya nomer kamu.. "


Nuri mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Kevin.


"Kakak tulis nomer kakak.. "


Kevin mengambil ponsel itu dan menuliskan nomernya. Tak lupa mendial agar langsung tersambung pada ponselnya.


Nuri mengambil balik ponselnya. Dan melihatnya.


"Cih.. langsung aja di telpon.. "


"Saya takut kamu kabur.. "


"Memangnya kenapa kalau aku kabur kak.... sah-sah aja kan..??"


"Saya ga tau jalan pulang Burung nuri...!! "


Nuri menganga mendengar panggilan Kevin padanya.


"Masa aku disamain burung. ." Rajuknya.


"Sudah jangan protes.. sana cepat ke toilet.. " Usir Kevin.


Nuri manyun mulai melangkah meninggalkan Kevin.

__ADS_1


Sedang Kevin tersenyum lebar.


"Dia ini lucu sekali kalau manyun gitu.. "


__ADS_2