
Izza memandang rumah yang tampak paling mentereng di sepanjang jalan yang dia lalui tadi. Rumah keluarga Arlan.
"Ayo masuk.. " Ajak Arlan setelah membayar ongkos taksi.
Mereka menarik koper kecil masing-masing.
Tepat di depan pintu, Izza dan Arlan saling berpandangan sebelum akhirnya Arlan menekan tombol lonceng.
"Aden.. !" Seorang perempuan setengah baya keluar dengan wajah terkejutnya.
"Mbok Mirah.. " Arlan menyalaminya, dan perempuan yang di panggil mbok Mirah itu tersenyum lebar mengalihkan pandangan ke Izza.
"Apa kabar Den.. ?"
"Alhamdulillah mbok. "
"Ini siapa den.. ?"
"Ini Izza mbok.. calon istri ku.. " Terang Arlan bangga .
Izza ikut menyalami mbok Mirah.
"Saya Izza mbok .. "
"Walah.. Ayune. ini baru cocok den.. " Di tunjukkanya jempolnya ke depan.
Arlan tertawa sedang Izza mengerutkan keningnya bingung.
"Ayo masuk dulu.. " Di bukanya pintu lebih lebar.
Arlan memimpin di depan di ikuti Izza dan mbok Mirah setelah menutup pintu.
"Mau minum dulu Den.. minum apa cah ayu.. ?"
"Apa aja mbok.. " Jawab Izza sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah duduk dulu, mbok bikinkan ya.. "
Izza mengangguk lalu duduk di sebelah Arlan. Tak lama sepasang suami istri datang menghampiri mereka.
Izza yakin itu adalah orang tua Arlan. Karna ada kemiripan dari mereka.
"Ibu, Ayah. ." Arlan bangun menyalami mereka. Izza ikut menyalami.
Ayah memberikan senyum ramahnya, tapi tidak dengan ibunya yang memandang menelisik dari atas hingga bawah. Sungguh Izza tidak nyaman di pandang seperti itu.
"Apa kabar Ar. . ?" Ucap Ayahnya.
"Alhamdulillah Ayah.. aku sehat.
Ohh ya.. kenalkan ini Izza.. tunanganku.. "
Ayah mengangguk dan mengajak mereka duduk.
"Kamu melepas Syifa hanya untuk wanita seperti ini Ar.. ? Kebacut.. " Sinis ibunya.
"Bu... " Ayahnya menyenggol tangan istrinya.
"Memang bener pa.Ini kenyataan.. anak kamu ini sudah di bodohkan cinta .. apa lagi dia seorang janda..
Berapa anak kamu.. ?" Cerocos ibunya dengan logat jawanya.
"Saya belum punya anak tante.. " Lirih Izza.
__ADS_1
"Ohh.. kenapa kamu bisa jadi janda.. ?"
Izza mengangkat wajahnya pias,
"Suami saya meninggal dalam kecelakaan kapal tenggelam.. "
"Kenapa kamu bisa selamat.. ?"
"Bu... " Sela Ayahnya yang langsung membuat istrinya melengos.
Arlan meraih tangan dingin Izza, menggenggamnya erat.
"Ini Den.. Den ayu.. minumnya.. ndoro kakung mau minum apa.. ?" Mbok Mirah meletakan 2 cangkir teh di atas meja.
"Tidak usah mbok.. siapkan makan malam saja.. "
"injeh.. " Mbok Mirah langsung mundur ke belakang.
Tak lama mereka pindah ke meja makan.
Ibu masih menatap sinis ke arah Izza saat mereka berada di meja makan. Izza hanya fokus pada makanannya tanpa menghiraukannya.
"Mau nambah lagi Za.. ?" tawar Arlan lembut.
"Cukup Ar.. " Izza menggeleng pelan.
"Harusnya kamu yang di layan dia Ar, kayak Syifa itu. Ini malah kebalikannya.. " Sindir ibunya.
"Ga ada sopan santunnya juga jadi wanita pada calon suaminya.. "
Arlan hanya menghela nafas panjang, menoleh ke Izza berharap wanita nya tidak ambil pusing dengan ucapan Ibunya.
Dan ternyata, Izza memang tidak mengindahkan. Memilih fokus pada piringnya.
Selesai makan Izza di hantar ke kamar milik Arlan di lantai 2. Sedang Arlan memilih tidur di kamar adik bungsunya di bawah.
Anggap kamar sendiri.. 😘
Izza hanya mencebik membaca pesan dari Arlan. Dia menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
Setelah selesai dengan rutinitas mandi, dia segera Sholat. Saat dia baru mengucap salam terdengar pintu di ketuk . Dia pun bangkit masih dengan menggunakan mukenanya.
Wajah tampan berhias senyum itu menyapanya sesaat setelah pintu terbuka.
"Kamu ngapain kesini.. ?" Izza menoleh kanan kiri. Memastikan tiada siapapun.
"Maaf, aku mau mengambil sesuatu.. boleh aku masuk. . " Ucapnya dengan tampang tanpa dosa.
Izza tidak menjawab, memilih membuka pintu lebar. Membiarkan Arlan masuk, sedang dia berdiri di pintu luar.
Arlan kembali keluar membawa tumpukan map warna biru.
"Udah.. makasih.. " Dia memajukan wajahnya ingin mencium kening Izza tapi Izza menahannya dengan telapak tangannya.
"hehe.. maaf.. kelepasan.. "
"Kamu sengaja... " Izza melotot kesal dan kembali masuk menutup pintu sebal.
Arlan menyeringai melangkah menuju tangga untuk turun. Sesampainya di bawah Ayah memanggilnya.
"Ar.. mau mengobrol bareng Ayah sebentar.. ?"
"Sebentar.. aku simpen ini dulu yah.. " Sambil mengangkat tumpukan map di tangannya.
__ADS_1
"Ayah tunggu di ruang TV ya.. "
"Iya Ayah.. " Arlan bergegas ke arah kamar adiknya dan menyimpan map nya. Kembali menemui papanya.
"Yah... " Sapanya dan langsung duduk di samping Ayahnya.
"Kamu belum ngantuk kan, sudah lama kamu ga nemenin ayah lihat Bola.. "
Arlan tertawa kecil, menuju dapur mengambil sebuah Apel. Lalu kembali duduk di sebelah Ayahnya.
"Maaf Yah.. aku jarang pulang.. "
"Ayah rasa adikmu itu tidak akan Ayah izinkan dapat orang jauh. Bagaimana lah Ayah nanti menua. Pasti kesepian sekali tanpa kalian.. "
"Mbak mu juga menetap di Batam, Mas mu menetap di jakarta.. Sedangkan kamu. Mungkin kamu akan menetap di Pekan Baru.. Izza dari sana kan.. ?"
"Bukan Yah.. Izza dari Batam.. " Jelas Arlan sambil mengunyah apelnya.
"ohhh yaa.. Ayah kira dari Pekan Baru.. "
Arlan tersenyum, mulai menceritakan awal mula perkenalannya dengan Izza pada Ayahnya. Saat pertama kali bertemu di acara pernikahan Rizal juga pencariannya setelah itu.
"Ohh jadi dia sepupu Rizal.. ?"
"Iya yah.. "
Ayah mengangguk mulai paham. Beliau menyesap tehnya pelan.
"Ayah tidak keberatan kan.. ?"
"Memangny kalau Ayah keberatan pun, apa kamu mau meninggalkannya.. ?"
"Ya enggak lah Yah, aku bener-bener suka sama dia.. "
"Tapi dia janda , kamu ga takut nyesel nantinya.. ?"
"Enggak Yah.. Aku udah mantep sama pilihanku.. "
Ayah kembali mengangguk, dia tahu anaknya sudah cukup dewasa dan sudah bisa mengambil sikap.
"Kalian disini.. " Ibu datang membalut tubuhnya dengan kain jarik.
"Ibu belum tidur.. ?" Arlan merangkul ibunya erat mengajaknya duduk.
"Belum. . nyari Ayahmu. Ternyata lagi ngobrol sama kamu.. "
"Mumpung ada ibu, Arlan mau ngomong kalau awal bulan depan aku dan Izza akan menikah.. Arlan berharap, Ayah dan ibu bisa datang memberi restu .. "
"Kamu ini nikah kok cepet-cepet.. apa kamu bikin dia itu.. " Ibu mempraktekkan dengan tangannya.
"Astagfirullah.. ga lah bu.. senakal-nakalnya aku, aku ga pernah kayak gitu bu sama mantan-mantanku.. " Arlan mendesah kesal.
Ayah tertawa kecil sedang ibu mengusap dadanya pelan.
"Syukurlah, Terus kenapa mendadak.. ?"
"Itu kemauan orang tuanya bu .. sudah menjadi pertimbangan mereka.. "
"Kamu siap Ar.. ?" Giliran Ayah nya yang bersuara.
"Siap. " Mantap Arlan menjawab.
" Ibu sebenarnya keberatan, kenapa harus janda Ar.. " Ibu menunduk sedih.
__ADS_1