
"Kita mau kemana sih Ar.. ?"
Arlan yang di tanya hanya diam dan melirik tajam. Izza menyadari kesalahannya dan menepuk bibirnya pelan.
"Jangan kayak gitu, bibir mu bisa terluka. . " Arlan mencekal tangan itu.
"Maaf, aku belum terbiasa.. "
"Ga papa. Makanya di biasakan.. " Arlan mendekat.
"Kamu cuma boleh manggil namaku langsung saat kita sedang di atas ranjang " Bisiknya mesra.
Izza memukul dada Arlan kesal yang justru membuat Arlan tergelak.
Saat suara pemberitahuan bergema. Arlan menggandeng tangan Izza untuk masuk.
"Kita mau ke lombok.. ?" Tanya Izza setelah mereka duduk di atas pesawat.
Arlan hanya tersenyum dan mengangguk.
Izza tentu tidak menyangka Arlan akan membawanya ke lombok.
"Apa kita mau Honeymoon.. ? tanya Izza pelan.
"Enggak, aku ada acara di sana.. " bohong Arlan yang langsung membuat Izza cemberut dan membuang pandangan ke arah lain.
Perjalanan malam ini hanya di isi dengan keheningan . Izza yangbrer5idur menyandar pada Arlan, sedang Arlan mendekapnya erat.
Hingga suara awak pesawat yang membunyikan suara membuat Arlan terkejut.
"Sayang, bangun. Kita hampir sampai.. "
Masih dengan mode ngantuknya, Izza berusaha untuk menegakkan badan memperjelas pandangannya.
Tak lama pesawat pun mendarat, dan mereka langsung menuju hotel.
__ADS_1
Karna masih tengah malam , mereka tidak terlalu menikmati pemandangan. Sesampai di hotel pun langsung tertidur dengan saling berpelukan.
"Sayang, hp mu bunyi tu.. " ucap Arlan masih dengan mata terpejam.
Izza pun bangkit untuk meraih ponselnya, melihat siapa yang Menelponya pagi-pagi.
"Papa.. " Dia mengerutkan keningnya heran.
"Hallo Assalamualaikum Pa.. "
"Waalaikum salam, Sayang kamu di mana, baik-baik saja kan.. ?"
"Aku lagi di lombok pa, baru semalem kita nyampek ada apa.. ?" Izza berdiri untuk keluar balkon.
"Papa ada kabar kurang enak di dengar Za.. "
"Tentang apa Pa. . ?"
"Aldi sudah bebas.. "
Deg.
"Bagaimana mungkin, ini baru tahun ke 4 Pa.. "
"Dengan jaminan kedua orang tuanya. Ada juga orang dalam yang membantunya. Papa minta kamu hati-hati Za.. "
"Iy.. ya pa.. "
"Sayang, siapa yang nelpon.. ?" Suara Arlan membuat Izza terkejut sampai jantungnya mau copot.
"Pa, udah dulu. Nanti aku telpon papa lagi.. "
"Iya sayang, hati-hati. Assalamualaikum.. "
"Waalaikum salam. "
__ADS_1
Arlan mendekati istrinya yangbterlihat pucat dan badan sedikit bergetar.
"Kamu kenapa.. ?"
"Eh, ga papa.. "
"Ada apa. .? Ayo kita duduk dulu.. " Arlan menuntun Izza masuk dan duduk di sofa. Mengambilkan mineral di atas nakas. Izza pun menerimanya dan meneguknya.
Setelah di rasa istrinya sudah tenang. Arlan mengusap punggung tangan istrinya.
"Ayo cerita, kita sudah suami istri. jangan ada yang boleh di tutup-tutupin. Harus saling terbuka. " Ujarnya lembut.
Izza hanya diam, menatap wajah penuh suaminya. Ada banyak hal yang dia tau tentang suaminya itu sekarang. Salah satunya adalah, penyabar dan pengertian.
"Kamu ga mau cerita.. ?" Tanya Arlan lagi.
Izza menunduk, badannya kembali bergetar saat mengingat nama di masa lalu yang membuatnya trauma cukup lama.
Air mata tiba-tiba menetes di pipinya. Bayangan kilas masa lalu berputar di kepalanya.
Arlan mendekapnya erat, mengusap lembut surai istrinya.
Izza menangis dengan sesenggukan, membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.
"Aku takut Ar.. aku takut.. huhu.. " tubuh Izza bergetar di pelukan suaminya .
"Dia kembali Ar.. dia kembali.. "
Arlan masih tidak mengerti apa yang di maksut istrinya itu, tidak juga bisa menebak-nebak. Siapa yang di katakan sudah kembali.
"Kamu ga perlu takut sayang, ada aku di sini. Kamu akan baik-baik saja.. " Menciumi kepala istrinya.
Izza masih menangis hingga beberapa menit kedepan.Setelah sedikit tenang, Arlan mengurai pelukannya. Bajunya sudah basah karna air mata Izza.
"Sudah, aku sedih liat kamu kayak gini" Mengusap ingus dan air mata di wajah istrinya dengan tisu.
__ADS_1
"Mau kah kamu bercerita sayang, biar suamimu ini tau apa yang seharusnya di lakukan. ."
Izza mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Ada rasa ragu untuk bercerita. Karna akan ada bait tentang Reihan juga di sana. Tapi melihat tatapan teduh suaminya, membuatnya juga merasa tidak enak hati, tidak ingin membuat Arlan tersinggung jika dia tidak mau bercerita.