CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Siapa Rena?


__ADS_3

Dengan bergandengan tangan begitu mesra. Pasangan suami istri yang beberapa jam yang lalu sempat berselisih. Kini melangkah pasti menuju parkiran.


Setelah membuka pintu dan memastikan sang istri tercinta duduk dengan nyaman. Sang suami pun berlari kecil mengitari mobil kemudian naik di bagian kemudi.


Dengan saling melempar senyum dan lirikan manja, mobil pun mulai melaju membelah jalanan yang mulai kemerahan. Dan tak lama kemudian, keduanya sampai di hunian minimalis mereka.


"Kayaknya ada tamu.. " gumam Izza sambil membuka seatbelt nya. Sedang Arlan yang ikut penasaran segera keluar untuk membukakan pintu untuk istrinya.


"Siapa ya mas.. ?" Tanya Izza saat turun dari mobil, memandang lurus ke arah mobil berwarna putih yang terasa asing.


"Ga tau sayang, ayo masuk. Buar tau siapa tamunya.. " Ajaknya sambil mengulurkan tangan untuk kembali bergandengan.


Sayup-sayup terdengar tawa ibu dari dalam, meski pintu di tutup, tapi masih terdengar gemanya dari luar.


Dengan mengerutkan keningnya, Arlan membuka pintu dan mendorongnya.


"Assalamualaikum.." Ucap keduanya.


"Waalaikum salam.. " jawab 2 orang dari dalam.


Mata Izza langsung bertemu dengan mata seorang wanita cantik berambut lurus lepas bahu. Memakai dress leher rendah, hingga kedua aset sedikit terlihat keluar.


Wanita itu tersenyum manis, sungguh cantik. Dia duduk di sebelah ibu yang juga mengulum senyum terbaiknya.


"Ar, dari tadi Rena nungguin kamu loh.." Ucap Ibu tanpa memperdulikan ada Izza di situ.


Izza pun menoleh ke arah suaminya yang menampilkan wajah sedikit terkejut setelah melihat wanita cantik itu melangkah mendekat ke arah mereka.


"Hai Ar,apa kabar...?" Wanita itu langsung cipika cipiki.


"Eh baik.. " Arlan melirik Izza yang juga tengah menatapnya lekat.


"Ini istri kamu.. ?" Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Izza . "Hai aku Rena, temen Arlan.. "


"Izza.. " Izza terpaksa membalas uluran tangan itu. Setelah itu melotot kesal ke arah suaminya yang hanya diam di cipika cipiki wanita itu. Arlan yang paham pun lngdung menelan ludah kasar.


"Ar, Rena ternyata lagi ada kerja di sini. Dia baru dateng,Karna ini udah malem, ga papa kan kalo Rena nginep di sini. Kasian kalo malam-malam harus cari hotel.. " ucap ibu meminta pendapat .


"Di sini cuma ada 2 kamar bu.. " Izza langsung merasa keberatan dengan usulan ibu.


"Nanti biar tidur sama ibu, udah biasa. Dulu kalo main ke rumah juga tidur sama ibu.. " ketua ibu seperti biasa.


Izza mulai memicingkan matanya. Merasa penasaran, siapa Rena. Sampai-sampai pernah menginap di rumah mereka.


"Sayang, kita ke kamar yuk. Keburu habis waktu magribnya.. " Arlan menarik lembut istrinya untuk masuk kamar.


Sesampainya di kamar Izza langsung menghempas tangan Arlan.


"Jelasin, apa maksutnya semua ini. ? Kenapa kamu diam aja saat ibumu membawa wanita lain nginep di sini, jelasin mas. .?"

__ADS_1


"Dia temen SMA aku.. "


"Temen apa temen.. ?" cerca Izza.


Sebenarnya Arlan suka saat ini melihat wajah Izza yang BT dan terlihat sangat cemburu. Tapi sayang sekali, momentnya bersamaan dengan masalah yang di buat ibunya.


"Temen, maksutku sempet pacaran dulu.. "


"Jadi manta kamu..? "


Arlan mengangguk pasrah, dia tidak mau istrinya salah paham . Dia pun mulai menceritakan siapa Rena.


"Tapi kamu kayak menikmatu gitu mas di cium dia.. "


"Ya Allah sayang, aku tu masih terkejut karna ada Rena. Dan emang dulu kan aku kayak gitu itu biasa.. " Arlan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merasa malu dengan kelakuannya dulu.


"Teruas mau kamu biasain lagi. " Sergah Izza.


"Enggak donk sayang , kan udah ada kamu.. "


Izza hanya memutar bola matanya sebal. berjalan menuju kamar mandi untuk Wudhu.


"Cepetan keburu habis waktunya .. !!"


"iya-iya.. " Menurut. Itu satu-satunya hal yang bisa Arlan lakukan agar kemarahan istrinya sedikit mereda.


.


"Tante, ini enak banget.. " Puji Rena saat makan oreg tempe buatan ibu Lastri.


"Kamu suka? ayo makan yang banyak.." Lastri menambahkan beberapa sendok di piring Rena.


Bertepatan itu, Izza juga sedang mengangkat wajahnya. Ada rasa iri di hatinya, dia juga mau di perlakukan seperti itu.


"Kenapa aku jadi iri sih, dari dulu kan ibu selalu gitu. Ga perduli sama aku. Tapi aku juga mau di gituin. Jadi ngerasa di sayangi kayak gitu.Kok jadi melow sih.. " batinnya.


Arlan yang memperhatikan istrinya langsung menggenggam satu tangan Izza. Seketika Izza langsung merasa menghangat. Perasaan nyaman pun langsung mengalur dalam darahnya .


"Ayo di habisin makannya. Aku kangen pengen naik gunung " bisik Arlan.


Seketika kedua mata Izza terbuka penuh,untung saja dia sudah menelan kunyahannya tadi.Jika tidak, bisa di pastikan dia tersedak oleh perkatan mesum suaminya.


"kan tadi udah. " balas Izza memelas.


"Pengen lagi, bawaanya pengen aja kalo deket kamu. "


Izza mencubit pinggang Arlan yang langsung membuat si empunya mengaduh dan tertawa.


"Kalian apa-apaan sih, ada kita di sini malah bisik-bisik.." Seperti buasa Ibu Lastri memandang nyalang ke aeah Izza.

__ADS_1


"Loh, ibu juga lagi ngobrol sendiri kan sama Rena.. " Entah kenapa tiba-tiba Izza menjawab perkataan mertuanya itu. Dia sendiri tidak sadar, karna biasanya hanya diam atas apapun yang mertuanya lakukan.


"Kenapa, apa kamu iri.. ?" Pancing Lastri.


Belum sempat Izza menjawab, suaminya lebih dulu menengahi " Sudah-sudah, lanjutkan makannya.. "


Setengah kesal Izza menghabiskan makannya. Tidak memperdulikan Arlan atau semuanya.


"Sayang, aku mau nambah nasinya.. " pinta Arlan lembut .


Baru Izza akan bergerak, Rena justru lebih dulu mengambilkan dan menuangkan di pirung Arlan.


"Ini Ar.. " sembari tersenyum lebar .


Ke empatnya saling pandang. Izza yang memang sudah panas langsung tidak bisa membendung emosinya.


"Maaf mbak Rena. Selagi ada saya. Biarkan saya mengurus dan melayani suami saya.."


Izza menggeser piringnya, dan mengambil pirung Arlan.


"Kamu makan punya ku.. "


Semua tampak terkejut atas apa yang Izza lakukan. Tak terkecuali Ibu.


"Kamu apa-apaan Izza.. !"


"Apa-apaan gimana bu, aku kan istrinya. Seperti yang ibu pernah bilang dulu kalo aku harus melayani suamiku. Bukankah begitu.. "


"Ohh, jadi begini sifat asli kamu ya.Menjawab terus.. "


"Ibu sudah.. Jangan saling berdebat di depan rejeki .. " Sergah Arlan.


Rena yang sedari tadi kesal atas ulah Izza langsung bangun. " Aku sudah kenyang, aku ke kamar dulu ya Bu, Ar.. "


"Ayo Ren, ibu temenin. Ibu juga udah ga nafsu makan.. " Lastri ikut bangun menyusul Rena yang lebih dulu melangkah ke kamar.


Sepeninggal keduanya, Izza langsung melayangkan tatapan mematikan pada suaminya.


"Kamu kenapa sih, malam ini kok jadi nglawan ibu.. " Arlan menyusahi makannya dan meminum air putih di depannya.


"Aku salah ya.. ?"


"Bukan gitu sayang, ga biasanya kamu nglawan. Biasanya kan kamu diam. "


"Istri mana yang bisa diam liat mertuanya bawa wanita lain di rumahnya , nginep pagi.. " Izaa bangun nengmas piring membawanya ke dapur. Air matanya pun sudah tidak bisa di bendung, sambil mengemas dia sesenggukan menangis.


Ada rasa ngilu di hati Arlan, hampir 4 bulan bersama baru ini mereka berdebat sampai membuat istrinya menangis.


"Sayang.. " Arlan memeluknya erat dari belakang. " Maaf, jangan nangis.. "

__ADS_1


Izza membiarkan Arlan, tetap fokus mencuci piring. Arlan yang merasa di abaikan terus membuntutinya di belakang Izza. Bahkan sampai semua pekerjaan Izza selesai dan mereka masuk ke kamar.


"Sayang.. jangan diemin aku donk, aku ga bisa kamu abaikan kayak gini.. " Arlan masih terus membujuknya. Tapi Izza masih berkeras hati tidak mengindahkannya, memilih memejamkan mata membelakangi Arlan.


__ADS_2