
Setelah selesai makan, Arlan langsung pamit pada semuanya. Karna dia akan pulang ke rumah kakaknya.
Izza ingin sekali berbicara dengannya, tapi papa seolah tidak mengizinkan. Sehingga Arlan tetap di apit olehnya hingga depan teras.
Izza memandang satu kontak di ponselnya. Ingin menekan Call tapi gengsi. Tapi kekesalannya pada lelaki itu membuatnya nekat.
"Hallo Assalamualikum.. "
"Waalaikum salam.. "
"Ada apa.. ? Bukankah kita baru saja bertemu, apa kamu sudah rindu pada tunanganmu ini Za.. ?"
"Kamu terlalu percaya diri Ar.. apa maksut kamu menerima semua ini.. ?"
"Memangnya salah jika aku menerimanya.. ?"
"Salah.. karna aku tidak menginginkan pertunangan ini.. "
"Lalu kenapa tadi kamu tidak menolaknya.. ?"
"Bagaimana aku mau menolaknya,mama.. " Izza diam mengurungkan niatnya bercerita.
"Kamu melakukannya demi mama mu bukan.. ? Dan aku melakukannya demi diriku sendiri.. "
"Kamu Egois Ar.. kamu ga mikirin perasaan aku.. aku ga mau dengan semua ini.. !"
"Ya.. memang aku egois.. "
"Aku ga mau tau, kamu harus mutusin pertunangan ini secepatnya.. "
"Kenapa bukan kamu saja Za... "
__ADS_1
"Arlan .... !! "
"Kamu bisa meminta apapun, tapi jangan meminta aku untuk mengahiri pertunangan ini.. "
Izza mendesah kesal sendiri. Bagaimana lagi dia akan berbicara. Sejak awal Arlan memang menunjukan ketertarikannya.
"Kamu tau Ar.. aku ini janda. . apa ga lebih baik kamu cari yang lain.. "
"Aku tahu dan aku tidak perduli dengan status mu.. "
Izza ternganga, apa lagi alasan yang bisa dia buat.
"Orang tuamu pasti keberatan.. "
Untuk sesaat tidak ada jawaban dari Arlan. Hening untuk beberapa saat. Izza mulai yakin yang orang tuanya Arlan tentu keberatan dengan statusnya.
"Akan aku fikirkan tentang itu nanti.. kamu istirahat dulu.. sudah malam.. Assalamualaikum.. "
Sambungan pun berakhir. Izza menyimpan ponselnya di atas nakas, sebelah foto Reihan. Dia terus memandangi foto itu, kemudian berpindah pada cincin di jari manisnya.
"Bang.. aku sudah tidak bisa menolak terus-terusan permintaan mama..
maafkan aku bang, aku akan mencari jalan agar Arlan mau mengahiri semua ini.. "
.
Pagi datang di kota Batam.
Izza akan kembali ke Pekan Baru sore ini.
Dia berencana singgah ke rumah Diana dulu sebelum ke bandara.
__ADS_1
"Akak..." Mama datang ke kamarnya dengan wajah sumringah.
"Ya ma... " Izza menoleh ke mamanya sebentar lalu kembali mengecek tas nya.
"Mama tak sabar rasanya.. kejab lagi mama jadi Ninde.. "
Izza hanya tersenyum tipis,
"Apa mama bahagia sekarang..? "
"Mama bahagie jika akak pun bahagie, seiring waktu.. mama yakin yang akak akan bise menerime Arlan juga mencintainya.. " Humairah mengusap lembut rambut anaknya .
"Aku ga bisa menjajikan apa-apa ma.."
"Mama tahu yang akak masih sayangkan Reihan.. cinte die masih melekat kat hati akak. Tapi akak kne ingat, dia dah tak de kak.. dunia nya dah berbeza.. Dia dah tak butuh cinta dan sayang akak. Dia nak kan do'a tulus je dari akak.. ''
"Ma... " Izza menangis di pelukan mamanya.
"Buke lah hati akak sikit je bagi Arlan masuk.. mama yakin, dia juga mencintai akak same besar macam Reihan cintakan akak masa dulu.. "
"Tapi bagaimana jika aku tetap ga bisa ma... huhu... "
Humairah mengurai pelukannya, mengusap pipi yang basah dengan air mata
"Akak belum lagi mencobenye.. mana akak tahu..
Niat kan semua kerne Allah semate..
Bersiap lah, sebentar lagi ada tamu yang akan datang.. "
"Siapa Ma..?"
__ADS_1