CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Ibu dan Anak sama Saja


__ADS_3

**Hallo Readers yang masih setia baca tulisanku, aku kembali . Setidaknya aku ingin menyibukan diriku dengan menulis lagi, dari pada aku hanya diam melamun.


Iyesss...


Aku sedikit terpuruk kemarin. Merasa sesuatu sudah hilang dan jonjeng.


Tapi bukankah manusiawi..


Tidak ada orang di dunia ini yang "Mau " di tinggalkan, bukankah begitu. .?


Tapi kita harus belajar iklas.. menerima..


Maafkan aku readers, aku jadi curhat.Aku mau curhat di Story kok ga enak, Banyak yang kenal sihh..


jadi.. kuputuskan curhat di sini..


😂😂😂😂😂


Ayukk semangati aku dengan Like kalian..


Aku juga terharu dengan kepedulian kalian yang ikut mengucapkan duka dan bela sungkawa, bahkan do'a2 untuk Almarhum Ayahandaku . Dan terima kasih ku ucapkan pada kalian semua..


Lope-lope


L.E**


Hari ini adalah resepsi dari pihak Arlan. Bertepat di kediaman kedua orang tua Arlan.Sejak semalam Izza dan seluruh keluarga sudah tiba di rumah keluarga besar Arlan.


Dengan pakaian jawa solo warna hitam, kedua mempelai di giring untuk duduk di pelamin nan mewah, di apit oleh kedua orang tua.Senyum bahagia terpancar dari bibir Arlan saat ucapan selamat datang bergulir dari saudara, teman juga rekan kerjanya.


"Ar.. selamat ya. ." Seorang Wanita datang langsung cipika cipiki pada Arlan.


Arlan sedikit melirik istrinya, merasa tidak enak hati dengan perlakuan spontan Miranda. Teman kencannya dulu.


"Thanks Mir... " Ucap Arlan kaku.


Izza sempat memperhatikan sekilas saat wanita itu mencium pipi suaminya, tapi kemudian membuang pandangan ke arah lain.


"Padahal aku masih ngarepin kamu Ar.. tapi kamu malah udah nikah sama orang lain.." ujar Miranda blak-blakan.


Arlan terkesiap, sungguh dia tidak menyangka Miranda akan mengatakan itu . Dia juga tidak enak hati dengan Izza.


"hehe.. kamu bisa aja.. oh ya silahkan menjamu selera dulu Mir.. ada menu karedok kesukaan kamu.. " Usir Arlan halus.


"Kamu masih ingat Ar.. makanan kesukaan aku.. " Wanita itu tertawa tapi tetap terlihat anggun lalu beralih ke hadapan Izza " Selamat ya.. " Ucapnya basa basi sambil mencium pipi Izza


"Terima kasih mbak.. " Jawab Izza seramahnya.


Setelah kepergian Miranda,ada rasa kikuk pada diri Arlan.


"Sayang itu tadi cuma temen.." jelasnya.


"Aku ga nanya Ar... "


"Aku takut kamu salah paham .." Di genggamnya erat tangan istrinya .


"Aku percaya sama kamu.. " ucap Izza dan Arlan langsung mencium punggung tangannya.


"Makasih.. "


"Cieeeeeee. . .!" Seru sekolompok muda mudi yang ternyata rekan kerja Arlan dulu di semarang. Ada juga teman kuliahnya.


"Kalian..." Arlan malu-malu menyapa temannya.


"Aduhh. . bikin hareudang.. " Ucap seorang wanita yang paling depan.


"Iya nih, jiwa jomblo ku meronta-ronta Dokter.... haha... " Sahut satunya.


Bergantian semuanya mengucapkan selamat dan menggoda pengantin baru itu. Arlan memeluk pinggang istrinya merapat saat teman-teman Arlan meminta foto bersama.


Acara pun masih berlanjut hingga sore hari dan Izza sempat berganti pakaian sampai 3 kali.


"Kak.. kite semua nak langsung balek rumah nenek.. " Pamit Humairah pada putrinya saat Izza baru masuk rumah untuk istirahat selesai acara.


"Semua ikut ke rumah nenek kah.. ?"


Fahat mengangguk, di ikuti Si kembar juga paman bibi yang dari Batam.


"Nanti kamu mampir dulu sebelum pulang kembali ke Pekan Baru, ya Arlan. ." Nenek mengusap bahu Arlan lembut.


"InsyaAllah Nek.. " Arlan tersenyum hangat .


"Bu, pak, nenek.. mari makan dulu sebelum pulang.. " Ibunya Arlan tiba-tiba nimbrung di tengah-tengah keluarga Izza .


"Ngrepotne mawon bu.. " Fahat menjawab setelah beberapa saat hening hanya saling pandang antara mereka.


"Mboten pak... monggo.. makan dulu.. " Ibu Lastri langsung menarik tangan Humairah untuk masuk ke dalam. Dan seluruh kelurga mengikuti termasuk juga Izza dan Arlan.


"Kamu mau makan apa.. ?" Tanya Arlan saat mengambilkan Izza piring. Izza sedikit kesusahan dengan gaun yang dia pakai. Hingga Arlan berinisiatif mengambilkan makanannya.


"Aku bisa sendiri.. " tolak Izza walau dengan mengangkat gaunnya.


"Kamu duduk aja di sana, aku ambilin.. susah kan ambil makan sambil megang gaun.. " Izza akhirnya mengalah memilih duduk di sebuah sofa depan TV.


Arlan kembali dengan piring penuh makanan dan minuman dingin.


"Banyak banget.." Izza mengambil Alih memperhatikan aneka lauk di aras piring itu yang tampak penuh meninggi.


"Buat kita berdua.. " Arlan menyimpan gelas di meja dan duduk di sebelah Izza.


"Kamu cuma ngambil satu piring..? "


Arlan mengangguk dan tersenyum penuh arti.


"Suapin .."


Izza mendesah kesal tapi kemudian menyuapi Arlan dengan telaten.


"Manja kamu ni.. " Ledek mas Bagas kakak kedua Arlan.


"Biarin.. " Arlan justru menyandar manja pada istrinya.


"Yaelah .. mau-maunya Za nyuapin, suruh makan sendiri sana.. " Vita yang baru datang dari depan dengan suaminya ikut berkomentar.


"Namanya pengantin baru.. " Ujar Ajeng istri dari Bagas menimpali.

__ADS_1


Mereka langsung tertawa sedang


Izza hanya tersenyum malu dan terus menyuapi Arlan.


"Meri yo... !" Jawab Arlan yang langsung membuat para kakaknya gedek-gedek.


"Sayang... dari tadi aku terus, kamu ga nyuap juga.. " Di ambilnya piring itu dan menyuapkan pada Izza .


"Aku udah kenyang.. " Tolak Izza .


"Kapan kamu nyuapnya.. kamu dari tadi nyuapin aku terus. Ayo aa..."


Izza pun mengalah lagi dan membuka mulutnya .


"Kamu makannya yang banyak.. nanti malem kita lembur.." Bisik Arlan dan Izza langsung tersedak makanannya.


"Hati-hati donk sayang ..." Di bantunya Izza untuk minum.


"Hati-hati Za... " Vita ikut bersuara.


"Pelan-pelan makannya.. "


"Iya mbak.. " jawab Izza setelah minum.


"Aku permisi dulu , mau ganti baju.. "


"Ini belum habis makannya... " protes Arlan.


"Buat kamu aja.. " Izza langsung berjalan menuju kamar. Dia sudah rimas.


15 menit kemudian Izza turun dengan menggunakan gamis warna maroon di padu dengan jilbab warna pink .


"Nah.. karna Izza sudah turun, kami semua langsung pamit saja Kang Badri, takut kemaleman.. " Fahat menyalami besannya.


"Iya pak, maaf jika penyambutan kami hanya ala kadarnya.. " Jawab pak Badri Ayahnya Arlan .


"Ini sudah Istimewa Kang .. titip anak saya ya. maaf jika sedikit merepotkan.. "


"Jangan gitu.. dia menantu saya sekarang.. "


Keduanya saling berpelukan sebelum berpisah.


Fahat menghampiri putrinya, mengusap lembut kepalanya.


"Papa.. " Izza langsung menghambur ke pelukan papanya.


"Jadi istri yang baik ya.. " Bisik Fahat yang di angguki oleh Izza.


Setelah mengurai pelukannya dengan Izza, Fahat berpindah pada Arlan.


"Papa mendo'akan yang terbaik untuk kalian.. "


"Makasih Pa. . " Ucap Arlan penuh rasa haru. Mertuanya ini sangat mendukung usahanya mendapatkan Izza selama ini.


Izza memeluk mamanya erat, Humairah menciumi wajah sulungnya .


"Akak baik-baik tau, ape-ape kene dahulukan Arlan.. "


"Iya ma... "


Izza mengangguk menyeka air matanya. Kenapa hatinya tiba-tiba merasa sedih berpisah dengan mamanya.


Giliran si kembar bergantian memeluk kakaknya.


"Kalian jaga mama dan papa ya.. "


"Iya kak... " Serentak keduanya menjawab .


Setelah berpamitan, semua langsung menuju mobil di depan . Di iringi lambaian tangan Izza,Arlan dan keluarganya. Setelah mobil menjauh, semua langsung masuk ke dalam rumah kembali.


Kakak-kakak Arlan akan menginap di rumah orang tua Arlan hingga esok.


"Kamu bisa tolong bantuin mberesin piring kan..?" Suara Ibu Lastri membuat Izza mengurungkan langkahnya mengikuti Arlan ke atas.


"Bisa bu.. " Izza langsung kembali turun.


"Aku naik dulu ya, mau mandi.. " pamit Arlan yang hanya di angguki Izza.


Izza membantu mengemas piring dan menbawanya ke dapur,mbok mirah sibuk menyapu bagian depan di bantu tetangga yang ada.


"Di cuci sekalian.." Ketus Ibu Lastri.


Izza hanya diam dan Mencuci semuanya, cukup banyak karna ini bekas makan keluarganya tadi.


"Loh.. Za.. kamu di sini .. " Vita muncul membawa piring kotor bekas menyuapi anaknya.


"Iya mbak.. " Tersenyum dan kembali sibuk dengan cuciannya.


"Udah biarin aja, nanti kan ada tukang cuci piring yang ngerjain. Orangnya lagi makan di depan.."


"ga papa mbak.. "


"Ya udah habis tu kamu naik, istirahat.. "


"Iya mbak.. "


Vita pamit ke depan lagi saat mendengar anaknya menangis. Meninggalkan Izza yang sudah hampir rampung dengan cuciannya.


"Loh.. mbak yu, kenapa di cuci.. ini pekerjaan saya. " Seorang perempuan paruh baya merebut piring dan spoon dari tangan Izza.


"Saya cuma bantuin mbak... "


"Udah, biar saya lanjutin. inu kerjaan saya.. masa pengantin nyuci piring. " Cerocos wanita itu sambil tangannya cekatan mencuci.


"Ga papa, saya juga nganggur.. ya udah saya ke depan ya mbak.. "


"Monggo-monggo.. "


Izza melangkah ke depan dan Lastri langsung menghampirinya.


"Udah nyuci piringnya, itu di depan masih banyak sampah bekas air kemasan.. di bersihin..!"


"Bu.. biarkan dia istirahat, itu di depan udah beresan juga.. " Bela Vita.


"Za, kamu ke atas istirahat.. "

__ADS_1


Melihat kedatangan anaknya, Bu Lastri langsung melengos pergi.


"Ya udah mbak, aku ke atas dulu.. "


"Iya, ga usah di ambil hati ucapan ibuku ya.. " Hibur Vita yang di angguki Izza.


Izza masuk bertepatan dengan Arlan yang baru selesai Sholat Isya'.


"Udah.. ?" tanya Arlan saat menyadari istrinya membuka pintu.


" Udah, kamu kok ga nungguin aku sholatnya. . " Izza melepas krudungnya dan mengambil ganti menuju kamar mandi.


"Maaf, aku fikir masih lama.. " ucap Arlan saat Izza keluar dari kamar mandi.


Izza langsung sholat. Setelah selesai,dia tidak menemukan Arlan.


"Kemana dia.. ? Ahh... bodo amat,aku mau bobo aja dulu.. " Izza membersihkan riasannyayang masih menempel dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Aduh... capenya..."


Ceklek.


"Udah mau tidur..? " Arlan masuk membawa segelas air dan meletakkan di meja.


"Heem, cape... "


Arlan hanya tersenyum dan masuk ke kamar mandi. Sedang Izza mulai memejamkan matanya.


Tak lama Arlan keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke ranjang mendekap istrinya. Izza yang terkejut langsung membuka matanya.


"Udah ngantuk banget ya.. ?" Arlan menarik tubuh Izza agar menghadapnya.


"Heem.." Izza kembali memejamkan mata.


"Maafin sikap Ibu ya.. " Di usapnya pipi Istrinya lembut. Saat turun mengambil minum, dia sempat di ceritakan kakaknya atas perlakuan ibunya pada Izza.


"Heem.. "


Cup


Arlan mencium kening istrinya sekilas . Yang seketika membuat Izza terjaga.


Mata keduanya langsung saling mengunci, Izza dapat merasakan sesuatu telah bangun di bawah sana karna rapatnya tubuh mereka.


Tak menunggu lama Arlan langsung mencium bibir Izza dengan satu tangan lebih menekan tengkuk Izza.


Ciuman Arlan cukup memabukkan membuat Izza melayang. Arlan melumut lembut bibir seksi itu dan mulai menjelajah ke bagian leher membuat bekas kepemilikan di sana.


Arlan mulai tahu titik sensitif di tubuh istrinya hingga membuat Izza melengguh dan merintih pelan.


"Aku menginginkanmu.. " Bisik Arlan bergetar dan Izza hanya mengangguk. Tidak munafik, tubuhnya juga merespon tiap sentuhan lembut dari Arlan.


Arlan kembali menyesap manisnya madu di bibir Izza dengan tangan yang mulai lihai melepas apa yang merekat pada tubuh keduanya.


Kamar itu langsung terasa panas untuk keduanya. Rasa kantuk Izza juga langsung hilang seiring permainan Arlan dia atas tubuhnya.


Keduanya saling merasai indahnya puncak nirwana hingga lewat malam.


Menikmati malam kedua mereka, setelah terjeda kesibukan malam kemarin menuju resepsi di semarang.


.


Pagi datang di kota semarang.


Izza turun terlambat karna ulah Arlan yang mengungkungnya sekali lagi setelah sholat subuh. Tubuhnya sudah terasa remuk.


Apa semua pengantin baru kayak Arlan ya..


Dengan agak lemas dia turun di gandeng suaminya.


"Pagi semuanya. ." Sapa Arlan pada keluarganya yang sedang duduk di meja makan.


"Aduhhh yang habis lembur.... " Goda Vita.


Izza langsung sedikit memerah wajahnya sedang Arlan tersenyum lebar menarik kursi untuk istrinya duduk.


"Berapa ronde Za... ??" Tanya Ajeng yang langsung membuat Izza menunduk malu.


"Mbak ni kepo, udah sayang jangan di dengerin... " Arlan langsung menuangkan nasi di piring istrinya.


Izza mengangkat wajahnya yang langsung bersitatap dengan wajah ibu mertuanya yang memandangnya sinis.


Dia berusaha tak mengindahkan dan membantu suaminya mengambil lauk.


"Gimana Za... ? betah kan disini?" Giliran Ayahnya Arlan yang bersuara.


"Betah yah... " tersenyum terpaksa.


"Yang penting bareng Arlan, Izza pasti betah Yah.. Iya kan sayang.. ?"


Izza mengangguk tersenyum kaku sekali lagi. Bagaimana dia akan betah dan nyaman jika ibu mertuanya memadangnya seperti musuh.


"Kalian ga pengen bulan madu... ?" Tanya Vita.


"Pengen donk.. tapi nunggu jadwal senggang dulu.. " jawab Arlan sambil mulai menyantap makanannya.


"Mau kemana..? " Tanya Bagas. Semua langsung menatap ke arah Izza dan Arlan, termasuk juga ibu.


Arlan hanya merangkul bahu istrinya lembut.


"Rahasia.. "


.


Hari-hari di lalui Izza dengan perasaan tertekan.Apa lagi sejak kakak-kalak Arlan sudah kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada lagi orang yang membelanya atas perlakuan ibu mertuanya.


Ibu mertuanya sungguh begitu tega, menyuruhnya untuk ini dan itu sampai tak terjeda untuk istirahat. Apa lagi setiap harinya Arlan justru menemani Ayahnya di Farmasi. Dengan alasan, Dia ingin memanfaatkan libur seminggunya untuk menemani Ayahnya.


Seperti siang ini, Izza mendengus kesal menyandar pada pagar bagian samping rumah dengan sikat gigi bekas di tangannya. Ibu mertuanya memintanya untuk menyikat bagian pagar yang terkena lumut.


Tubuh Izza sudah lemas dan cape, matanya begitu ngantuk. Sejak di sini, dia juga jadi tidur larut malam karna perbuatan Arlan. Di tambah saat suaminya tak ada, mertuanya menyuruhnya melakukan apapun itu.


"Sungguh keterlalun, anak dan ibu sama saja.. hobinya nyiksa aku.. ",Gerutunya . Dia begitu kesal sendiri.


Izza tidak pernah menceritakan apapun pada Arlan dan bodohnya lelaki yang jadi suaminya itu juga tidak peka.

__ADS_1


__ADS_2