
2 hari berlalu. Arlan menghela nafas lega saat polisi mengabarkan sudah menemukan jejak Aldi.
Segera dia melesatkan mobil sewaanya menuju kantor polisi tersebut.
"Jadi begini pak, tersangka membawa korban di vila dekat laut. Dari informasi yang kami dapat dari petugas kebersihan. Tersangka menyekap istri anda di rumah itu. " terang salah satu polisi.
Arlan mengepalkan tangannya. Sambil mendengarkan arahan polisi itu. Malam ini mereka berencana menyergap Aldi di persembunyianya.
Pukul 12 tengah malam, mereka sudah berkumpul di tujuan. Vila itu memang berada di ujung daratan, di kelilingi rumah penduduk lokal.Komandan yang memimpin pasukan memberikan arahan untuk mengepung rumah tersebut. Sementara Arlan di minta menunggu di mobil.
"Pak, saya ingin ikut masuk.. " ucap Arlan.
"Ini berbahaya pak, kita tidak tau apa tersangka menggunakan senjata api nantinya.. "
Arlan risau sendiri, bagaimana dia bisa diam di mobil. Sementara istrinya ada di dalam. Dia mencemaskan Izza.
Terlihat 2 orang polisi mengetuk pintu rumah tapi tidak ada jawaban.
Arlan hanya mampu melihat dari dalam mobil polisi, saat 2 orang yang di maksut mendobrak pintu itu.
Terdengar teriakan dan bunyi tembak membuat dia nekat turun.
"Pak.. anda harus kembali..ini berbahaya . !" bujuk polisi yang menemaninya.
Mendengar suara jerit Izza membuat Arlan nekat berlari masuk. Dia tidak perduli lagi bahaya tidaknya. Yang jelas istrinya dalam keadaan bahaya.
"Lepaskan dia saudara Aldi.." seru salah satu polisi sambil meringsek masuk.
"Berhenti.. !! Atau aku tembak dia!! " Ancam Aldi
Arlan menegang melihat istrinya menangis, sedang di kepalanya sudah tertodong pistol yang siap untuk di tarik oleh Aldi .
Dengan rupa yang begitu berantakan, istrinya bahkan tidak menggunakan krudungnya. Dan hanya memakai baju tidur pendek.
"Sayang.." lirihnya .
__ADS_1
Izza menoleh ke arah samping, melihat Arlan datang membuat dia menjerit.
"Mas Arlan... !!! tolong.... huhu..."
Arlan merasa bingung dan frustasi, berusaha mendekat tapi Aldi mengarahkan pistol padanya.
"Mundurr...!"
"Lepaskan istriku Aldi... " pohon Arlan.
"Haha... kamu masih ingat nama ku Arlan Tri Maulana.. "
"Izza tidak ada hubungannya dengan masalah kita dulu. Ayo lepaskan dia.. " bujuknya lagi.
"Haha.. kamu masih mengingatnya .. Sayangnya, aku belum puas bersenang-senang dengan istrimu ini.. " Aldi mengusap pipi Izza yang basah akan air mata.
"Apa kamu masih mau bersamanya Arlan, dia juga bekas ku sejak semalam.. "
Deg.
"Enggak.. jangan percaya mas. ." Izza menggeleng pelan.
Aldi tersenyum puas melihat reaksi Arlan.Dia memang berniat memprovokasi hubungan mereka agar hancur.
"Hei.. Whani sayang. Aku tidak bisa melupakan erangan mu semalam.. " tambah Aldi.
"Kamu ngomong apa Aldi. Katakan semua itu bohong .. !!" bentak Izza.
"Haha... " Tawa Aldi menggelegar, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Izza yang membuang mukanya ke samping.
"Kalaupun aku tertangkap, aku tidak akan membiarkan mu bahagia bersama Arlan sayang.. " Bisik Aldi lirih dan hanya mereka berdua yang mendengar dengan tangan yang mengusap pipi Izza lembut.
Arlan sakit hati melihat apa yang terjadi di depan matanya. Rasanya sulit percaya, tapi melihat keduanya dulunya adalah mantan kekasih, membuat dia juga ragu.
"Brengsek... !! jauhkan tanganmu dari istriku.. !!"
__ADS_1
"Ahh. Kamu posesif sekali.. aku hanya mengelus pipinya. Bukan paxxxxnya.. " pancing Aldi.
Dan memang Arlan langsung meringsek masuk . Aldi pun santai mengarahkan pistol ke arahnya.
"Majulah, timah panas ini akan bersarang di tubuhmu seketika.. "
Polisi yang dari arah rumah belakang tampak memberi kode. Arlan mengerti, segera menarik perhatian Aldi.
"Sudah cukup kamu bersenang-senang dengannya. Biarkan dia kembali padaku. "
Izza melotot tak percaya mendengar ucapan Arlan. Dia menangis histeris, menggeleng pelan. Meronta dari pelukan tangan Aldi.
"Hahaha... sudah aku katakan. Aku belum puas bodoh.. "
Aldi menciumi leher samping Izza yang menggunakan baju tidur pendek. Darah Arlan berdesir hebat. Tanpa peritungan tepat dia maju.
Dor.
Karna ikut panik melihat Arlan maju, Aldi melesatkan tembakan. Arlan menghindar tapi peluru itu mengenai lengannya.
"Tidak.... !!!" Izza menjerit histeris. Darah sudah mulai mengalir dari balik kemeja yang Arlan kenakan.
Dari arah belakang polisi langsung menyergap Aldi dan menagkis tangannya. Hingga pistol itu terlempar jauh ke samping.
"Brengsek... !!" umpat Aldi yang merasa di jebak.
Izza langsung berlari ke arah Arlan. "Mass... kamu.. " Dia semakin panik melihat lengan baju Arlan basah karna darah.
"Tidak apa-apa.. " Arlan meraih tangan Izza. Mendekap tubuhnya arat.
Seketika tangis Izza kembali pecah di pelukan dada bidang suaminya.
Sementara Aldi langsung di bawa ke balai polisi. Sedang Arlan dan Izza mengikuti untuk memberikan keterangan.
.
__ADS_1