CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Romansa Berdua


__ADS_3

Suasana rumah Arlan tampak sedikit berantakan malam ini. Izza yang baru masuk ke dalam rumah di buat heran.


"Maaf sayang, aku emang ga bersih-bersih. " Ucap Arlan tersenyum mengusap tengkuknya.


"Dan juga, memang 2 hari ini ada orang benerin dapur. Maksut ku.. "


"Kamu beli peralatan dapur. .?" Tanya Izza antusias saat melihat bagian dapur yang tampak baru.


"Iya, untuk kamu.. "


Izza menarik bibirnya tipis, mengecek bagian dapur yang terlihat baru. Beberapa alat masak, juga yang lainnya tersusun rapi. Kulkas, microwave, dan lainnya.


"Apa ada yang kurang.. ?"


"Aku rasa enggak, kita bisa pindahin barang di rumah lamaku juga kan. .?"


Arlan mengangguk, membiarkan istrinya mengecek bagian kabinet dapur dan isi kulkas.


"Aku belum belanja apa-apa sayang.. "


"ga papa. . besok aku belanja.. " jawab Izza sumringah.


"Iya, ya udah ayok istirahat dulu.. "


Izza mengangguk mengikuti suaminya ke kamar. Dia pun langsung mandi, sedang Arlan hanya mengganti bajunya.


"Sayang... " Panggil Arlan saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


"Ya. . " Izza pun mendekat dan duduk di sebelah Arlan.


"Ini kamu pegang.. " Di serahkannya sebuah Card ke tangan Izza.


"Kenapa.. ?"


"Kamu sekarang yang pegang uangku, kamu yang atur semua. Gaji ku semua masuk di situ.. " Terang Arlan.


"Terus kamu gimana.. ?"


"Aku.. ? kamu tenang aja, aku nanti tinggal minta sama kamu kalau aku butuh uang. ." Mengusap lembut rambut istrinya yang basah itu.


"Apa perlu aku pegang ini ? kayak kemarin aja kenapa, kamu ngasih uang belanja kayak hari itu.. "


"Kamu kan istri aku, aku maunya kamu yang ngatur keuangan keluarga kita. . " Sebuah ciuman mendarat di pipi Izza .


Izza pun tidak mau berdebat lagi. Menyimpan card itu dan mengeringkan rambutnya.


Sedang Arlan ke kamar mandi menggosok gigi.


Tak lama keduanya sudah berbaring di atas ranjang, Arlan menjadikan lengannya untuk bantalan istrinya.


"Udah donk Ar... " Protes Izza saat suaminya itu tak henti-hentinya menciumi wajahnya.


"Aku tu kangen sayang, 2 hari di tinggal kamu kayak setahun.. "


"Lebay ahh.. "


"Ihh, Kok lebay. Ini jujur kacang ijo.. "


Izza hanya tertawa melihat kekonyolan suaminya.


"Apa sih kamu Ar.. bawa-bawa bubur segala.. " Menjawil hidung suaminya.


Arlan terkekeh dan menarik pinggang istrinya lebih merapat.


"Jangan panggil nama, ga sopan.. ayo ganti panggilannya..! "


Izza mencebik. "Ganti apa ? kamu dari dulu juga ga protes di panggil nama. . "


"Kan sekarang, aku protesnya.. " dalam sekali gerak Arlan sudah merubah posisinya untuk berada di atas Izza.Mengukung tubuh itu erat.


"Apaan sih..haha.. geli.. !" Teriak Izza saat Arlan menciumi bagian lehernya.


"Ayo , ganti panggilannya..! " tegas Arlan.


"Emm.. apa, aku bingung.. "

__ADS_1


Arlan mengusap bibir seksi berwarna merah jambu itu, matanya menelisik penuh damba wanita di hadapannya. Yang dulu hanya bisa hadir di tiap mimpinya.


"Aku panggil mas aja ya.. "


Arlan mengerjab, dia terlalu terhanyut sampai terkejut saat melihat bibir itu bergerak dan berbicara.


"Boleh.." Ciuman lembut mendarat di bibir itu. Izza memejamkan matanya, menikmati tiap sapuan-sapuan lembut yang di berikan suaminya.


"Sunah rosul yuk... " ucap Arlan sesaat setelah pautan mereka berakhir.


"Sekali aja ya.. " Iba Izza "Aku cape.. "


"mmm gimana ya.. " Arlan pura-pura berfikir


"Ok, nambahnya besok pagi aja haha... " Dan Izza memukul dada Arlan sebal.


.


Pagi di sambut dengan Ceria oleh Arlan. Mood Bosternya sudah kembali. Setelah sarapan seadanya keduanya langsung berangkat.


"Nanti aku jemput ya.. " Ucapnya saat Izza mencium tangannya sesampainya di toko.


"Emang kamu pulang jam berapa. ?"


"Nanti jam setengah 5 aku udah pulang.. " mencium kening istrinya mesra.


Izza mengangguk dan membuka pintu.


"Assalamualaikum.. "


"Waalaikum salam .. "


Setelah mobil Arlan berlalu, Izza bergegas menuju tokonya.


"Assalamualikum. . " Sapanya setelah membuka pintu.


"Waalaikum salam.. " Jawab Nuri.


"Juan belum dateng Nur.. ?"


"Belum mbak.. mungkin sebentar lagi.. "


"Udah mbak, tadi makan bubur ayam.. "


Izza mengangguk dan berjalan masuk ke ruangan kecil miliknya.


Bersamaan itu pintu toko berbunyi loncengnya menandakan seseorang telah masuk.


"Juan...kamu ini kebiasaan. suka datang telat. Aku kan jadi ga enak sama mbak Za.. " Cerocos Nuri tanpa memandang ke arah orang yang datang.


"Aku tu cape, musti beresin bunga yang baru dateng sendirian. Kamu malah enak-enakan molor kayak permen karet. ."


Merasa tidak ada sahutan, Nuri jadi bingung dan memalingkan wajahnya mengarah ke pintu depan.


"Kamu.. ?!"


Lelaki tersenyum tipis, berdiri menyandar di dinding kaca. Dengan celana jeans dan kaos panjang warna hitam. Tangannya masuk ke dalam kedua saku celananya.


Tatapan mata sipit yang selalu membuat Nuri membeku.


Ya Tuhan, jadi dari tadi bukan Juan yanga ku ajak bicara. Tapi..


Nuri sungguh merasa malu. Ada saja hal bodoh yang dia lakukan di depan lelaki yang di cintainya itu.


"Kenapa diam.. ?" Kevin berjalan mendekat ke arah Nuri.


"Ka.. kakak ngapain ke sini.. ?"


"Emang aku ga boleh kesini.. ?"


Nuri berusaha menetralkan degup jantungnya. Jarak mereka sungguh terasa dekat hingga dia bisa menghirup aroma maskulin lelaki di hadapannya itu.


Juan yang baru membuka pintu terkejut melihat Nuri dan Kevin.


"Ehkemmm.. aku ga akan ganggu.. " Memilih masuk ke area belakang menyimpan tasnya.

__ADS_1


Nuri segera mundur melihat Juan datang.


"Aku harus kerja kak.. "


Berbalik berjalan ke arah kasir. Tapi tangannya di cekal.


"Aku ingin kita bicara.. "


"Aku ga bisa, aku sedang kerja.. "


"Kamu bisa izin kan untuk cuti sehari ini. Aku dateng jauh-jauh untuk kamu.. "


Jantung Nuri sudah serasa mau melompat keluar mendengar ucapan Kevin.


Apa maksutnya, kata-katanya begitu manis. Membuat aku terbuai..


"A..aku ga bisa.. " melepas cekalan tangan Kevin di lengannya.


Melihat Nuri menuju meja kasir membuat Kevin mendesah pelan. Dia memilih berjalan ke ruangan Izza.


Tok Tok Tok


Setelah mendengar sahutan dari dalam. Kevin membuka pintu itu tanpa menutupnya kembali.


"Kevin.. !" Izza berdiri langsung dari duduknya saat melihat Kevin santai melenggang masuk ke ruangannya.


Tanpa sepengetahuan Kevin, Nuri berjalan mendekat untuk mengintip.


"Aku mau minta Izin membawa Nuri keluar hari ini.. " Kevin duduk di kursi tanpa di persilahkan.


"Apa ini masalah penting.. ?" Izza kembali duduk di kursinya .


"Bisa di bilang begitu.. "


"Baiklah.. aku izinkan. Tapi aku tidak mengizinkan kalau kamu menyakitinya.. "


Mendengar itu, Nuri memilih kembali ke meja kasir. Juan tampak memperhatikan, tapi segan berkomentar.


"Apa aku terlihat se brengsek itu Ni.. " Ucapnya sambil tertawa kecil.


"Mungkin... buktinya sebulan ini kau tidak pernah menghubunginya.. "


Skak Mat.


Kevin hanya menggeleng kan kepala dan tersenyum tipis.


"Aku pergi dulu Nyonya Arlan.. "


Izza melotot kesal ke arah Kevin yang berdiri dan melenggang keluar.


"Apa katanya, Nyonya Arlan.. ?


Lucu sekali.. " Izza menggelengkan kepala lalu ikut keluar.


.


"Aku tidak mau.. !" Tegas Nuri.


"Aku sudah meminta Izin Ri, ayoo.. " Kevin mengulurkan tangannya.


"Jangan memaksa ku kak. Aku tidak akan kemana-mana. Aku bekerja hari ini.. "


Izza yang melihat perdebatan mereka pun menghampiri keduanya.


"Sudah Vin, kalau Nuri tidak mau. Kamu tunggu nanti sore aja sepulang dia kerja.. " Ucapnya menengahi.


"Sebagai suamimu, aku tidak mengizinkanmu kerja hari ini. Ayo pulang.. " Bujuk Kevin bersikeras.


Nuri tak bergeming, tetap diam di tempat. Bahkan mengabaikan uluran tangan Kevin.


"Vin... " Lirih Izza.


"Baiklah, aku pulang ke batam saja.. "


Nuri membeku mendengar kata-kata Kevin. Bahkan dia masih diam kala Kevin mulai melangkah keluar toko.

__ADS_1


Rasa hatinya ingin berlari menahannya agar lelaki yang bergelar suaminya itu tidak pergi .


Tapi, Egonya mengatakan tidak mau perduli, apalagi setelah apa yang laki-laki itu lakukan padanya selama ini.


__ADS_2