CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Dia Dokter


__ADS_3

Suasana di rumah pengantin perempuan tampak meriah. Tepat pukul 9.30 Rizal mengucapkan ijab kabulnya.


"Saahhhh.... " Teriak mereka semua.


Suasana jadi heboh. Izza menunduk mengusap air matanya. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali.


Arlan tampak memperhatikannya sedari tadi. Dari saat Rizal akan mengucap akad, tampak Izza meremas tangannya gelisah. Sampailah pada kata "Sah" , Izza tampak menangis. Mereka duduk terpisah dan bersebrangan , membuat Arlan lebih leluasa memandangnya.


"apa dia sedang mengingat bekas suaminya... "


Setelah akad dan proses kembar mayangan. Acara semakin meriah dengan hadirnya para penyanyi dadakan yang mengalunkan suara mereka. Izza begitu menikmati lagu yang kebanyakan bahasa jawa itu mendendang cukup keras di iringi gurauan orang-orang di pentas.


"Boleh duduk.. ?"


Izza menoleh menatap kedatangan Arlan di sampingnya.


"Silahkan.. "


Setelah mendapatkam izin, Arlan mendudukan bokongnya pada kursi yang berada tepat di sebelah Izza.


Izza tampak sedang mengambil record papanya di atas panggung yang sedang menyanyikan lagu didu kempot.


"Kamu ga makan.. ?" Tanya Arlan membuka pembicaraan.


"Nanti saja.. " Izza sempat menoleh sekilas.


"Mau aku ambilkan.. ?" Tawar Arlan.


Izza mengernyit menoleh kembali ke arah Arlan.


"Tidak perlu, terima kasih.. "


Arlan semakin bingung mau bertanya apa lagi. Sedang Izza masih sibuk merecord papanya.


Setelah Fahat selesai menyanyi, Izza menghentikan rekamannya dan melihat beberapa foto yang tadi dia ambil. Dia akan mengirimkan pada adiknya.


Fahat sempat melihat kedatangan Arlan di sebelah kursi putrinya dari atas panggung. Saat turun dia memilih untuk tidak menghampiri Izza. Besar harapannya Putrinya mau atau memulai membuka hatinya untuk lelaki yang lain.


Izza tampak memandang ke depan dan melihat sekeliling mencari papanya. Tapi tidak terlihat. Dia segera bangun dari duduk.


Arlan cukup terkejut melihat Izza tiba-tiba bangun.


"Hei mau kemana.. ?"

__ADS_1


Izza menoleh ke Arlan lalu kembali ke depan.


"Mencari papaku.. "


"Ohh papamu.. mungkin beliau di toilet.. duduklah, beliau pasti kesini etelah urusannya selesai.. "


Izza diam dan tampak berfikir, mungkin ada benarnya juga apa yang di katakan orang di sampingnya itu.


Akhirnya dia kembali mendudukan diri.


"Ekhemmmm kita belum kenalan, siapa namamu nona.. Namaku Arlan..?" Arlan mengulurkan tangannya.


Izza tampak menatapnya sebentar lalu mengangkat kedua tangannya ke depan dada .


"Izza.. "


Arlan tersenyum, menarik tangannya kembali. Tidak menyangka meski kebanyakan janda sedikit korslet tapi tidak dengan Izza yang terlihat sedikit menjaga jarak dengam lawan jenis.


"Nona Izza.. anda tinggal di mana kalau boleh tau.. ?"


"Panggil Izza saja .. tidak perlu Nona.. "


"Ohh baiklah. . maaf.. Jadi anda tinggal dimana Izza..? "


"Anda terlalu Formal Tuan.. saya tinggal di batam.. "


Arlan justru terkesima melihat senyum sekilas Izza.


"Cantik"


"Maksutnya.. ?" Izza menautkan alisnya bingung.


"Ekhh tidak-tidak maksut saya Batam adalah kota yang cantik.. Batamnya mana Izza.. ?"


"Nagoya.. " Jawab Izza asal.


"Ohh... Nagoya.. saya ada saudara juga di batam di Batu Aji.. "Terang Arlan.


Izza hanya mengangguk dan kembali menatap depan.Rupanya papanya sudah ada di stand makanan.


Dia segera bangun menenteng tasnya.


"Saya permisi dulu Tuan Arlan.. "

__ADS_1


"Ohh silahkan.. " Dengan berat hati Arlan berdiri membuka jalan untuk Izza.


Arlan tetap mamandangi kepergian Izza hingga wanita itu berhenti di dekat papanya. Dia menarik bibirnya tipis.


"Cukup cantik dan menarik.. tapi kenapa harus janda ya Allah... " Sesalnya dan kembali duduk memakan makanannya yang sedari tadi belum tersentuh.


Tiba-tiba pembawa acara memanggil namanya untuk naik ke atas panggung mempersembahkan lagu. Arlan tampak bingung, menatap sekeliling yang sedang melihat ke arahnya.


"Mari Dokter Arlan.. ini adalah permintaan langsung dari kedua pengantin .." Ucap pembawa acara.


Fahat ikut menoleh ke Arlan dan mengacungkan Jempolnya. Sedang Arlan yang bingung mulai berdiri dan melangkah ke arah panggung.


Dalam hati dia mengumpat kesal pada Rizal dan Lena yang sudah membuatnya jadi pusat perhatian.


"Dia Dokter pa.. ?" tanya Izza saat melihat Arlan naik ke panggung.


"Iya.. " Fahat bertepuk tangan menyemangati Arlan.


"Papa kenal... ?" Izza menoleh ke papanya yang tampak tersenyum lebar.


"Iya.. dia temanya Rizal. Tadi sempet di kenalin sama papa. Kenapa.. ? kamu kenal dia.. ?"


Izza menunduk, " Kami baru kenalan tadi. Tapi aku ga tau kalau dia seorang dokter pa.. "


"Memangnya kenapa kalau dia dokter.. ??" Fahat menatap lekat Putrinya itu.


"Aku.. aku hanya sedikit tidak nyaman.. mengenal dokter.. " lirih Izza tertunduk.


Fahat mengusap bahu putrinya itu lembut.


"Zaa... tidak semua dokter seperti Aldi.. "


"Terima kasih pembawa Acara. Dan saya Ucapkan Selamat menempuh hidup baru untuk sohib saya Rizal dan Lena.. Semoga sakinah mawaddah warohmah.. Aamin. Segera jadiin ponakan gue bro.. !!" Kelakarnya yang langsung di sambut tawa semua oranh dan tatapan tajam pengantin perempuan serta sumpah serapah Rizal.


"Ok.. dengan suara pas-pasan ini. Izinkan saya mempersembahkan sebuah lagu untuk sepasang pengantin di sana yang terlihat tersenyum, tapi hati dongkol mengumpat saya.. "


Semua orang kembali tertawa, bahkan ada yang terpingkal.


"Semoga hadirin tidak sakit telinga mendengar suara saya.. " Arlan mendekati pemusik merekues lagunya.


Semua tampak terpukau melihat Arlan yang terlihat necis dengan kemeja batiknya justru menyanyikan lagu jawa-banyuwangian.


Izza hanya mengerti sedikit makna lirik lagunya,dia belum begitu paham bahasa jawa timuran. Sesekali tatapan Arlan menuju ke arahnya. Dan Izza cepat-cepat menunduk.

__ADS_1


__ADS_2