
Hari ini Arlan sengaja pulang tengah hari . Dia ingin memberikan istrinya Vitamin. Melihat istrinya sedikit pucat kemarin membuatnya khawatir dan juga dia punya maksut tertentu, ingin istrinya lekas hamil.
Dengan senyum mengembang. Arlan melajukan motor Deki membelah jalanan. Anak itu sedang naik gunung, sehingga motornya nganggur di rumah.
Sesampainya di rumah, suasana sedikit sepi.Tidak ada Izza yang menyambutnya, Ibu atupun mbok Mirah.
"Kemana semua orang.. " Jam menunjukan pukul 12. 45 .
Ini sudah waktunya makan siang.
Arlan melangkah masuk. Baru akan naik tangga, dia mendengar suara gaduh di samping rumah. Tepatnya dekat kolam dan Gazebo .
Karna penasaran, dia mendekat.
Terdengar suara ibunya melengking.
"Siapa yang lagi di marahi ibu.. "
Dia membuka pintu penghubung dapur menuju luar samping.
Disana, dia tercengang melihat istrinya sedang berdiri di tangga atas mengelap bagian dalam atap Gazebo. Sedang ibunya di bawah mengomel, menghardik dan memaki.
Nafasnya tersenggal. Wajahnya memanas. Jadi ini yang sebenarnya terjadi.
"Cepetan.. kamu megawe koyo siput. lelet. Kayak ga di kasih makan.. !"
"Habis ini kamu lap tangga di atas. Hari ini kamu belum mengelap nya kan. ? Jangan manja dan mengadu pada Arlan... !" Teriak ibunya.
"Ibu... !!!"
Izza menjatuhkan kain yang dia pegang saat mendengar suara menggelegar Arlan.
Ibu lastri seketika memucat, saat berbalik badan melihat wajah merah padam anaknya.
"Arlan.. kamu sudah pulang nak.. " Sumringah dia menghampiri Putranya.
Izza perlahan turun dari atas dan Arlan berjalan cepat menghampirinya. Mengabaikan ibu yang mendekat menyambutnya.
2 tangga sebelum menyentuh bagian lantai. Arlan meraih tubuh Izza menggendongnya di atas bahunya.
"Arlan.. turunin aku.. " Izza terkejut sampai hampir terantuk tangga.
Tanpa ba bi bu Arlan melenggang masuk membawa Izza menuju kamar. Mengabaikan panggilan ibu yang mengekor di belakangnya.
Izza di dudukkan di tepi ranjang. Arlan melepas hijab yang dia pakai. Lalu masuk ke kamar mandi, membawa handuk setengah basah.
Dengan telaten dia menyeka kringat di dahi istrinya. Membersihkan pipi. Bahkan bagian leher juga tangan.
Izza diam tidak meronta atau menolak. Arlan sedang dalam mode marah tapi menahannya. Terlihat dari urat lehernya menegang, wajahnya juga terlihat pias.
__ADS_1
"Kamu udah makan.. ?" tanyanya setelah selesai .
"Belum.. " lirih Izza.
Arlan bangun untuk keluar, meninggalkan Izza di kamar.
Di ruang makan, Lastri tampak mondar mandir. Hatinya tidak tenang, dia begitu takut kalau Izza mengatakan yang sebenarnya pada Arlan.
"Awas aja kalau dia berani ngadu .. " mengepalkan tangan dan geram sendiri.
"Kenapa lah Arlan pulang siang, biasanya juga sore.."
Arlan turun menuju meja makan. Berhenti sebentar memandang ibunya yang juga sedang melihatnya .
"Ar... Ibu.. ini ga seperti yang kamu kira.. " pujuk Lastri memelas.
"Istrimu sendiri yang mau naik tangga membersihkan gazebo. Ibu udah bilang ada Udin yang sebulan sekali datang sekalian nguras kolam.. "
Arlan diam mematung, rasanya begitu kecewa melihat ibu yang dia sayangi justru tidak bisa menyayangi istrinya.
Ibu juga berbohong, tidak mau mengakui kesalahannya. Dia begitu malu pada Izza.
"Bu.. Izza istriku sekarang. Anak ibu juga.Bagaimana jika orang tuanya tau tentang semua yang ibu lakukan padanya. Pasti mereka tidak terima.
Aku sebagai suaminya merasa gagal, tidak bisa menjaganya dengan baik seperti janjiku pada papa Fahat.. "
Lastri menghela nafas panjang, sadar kalau Arlan juga mendengar apa yang dia ucapkan tadi pada Izza. Tapi sisi hatinya memang ingin Izza tidak betah dan meninggalkan Arlan.
Arlan melangkah pelan menuju meja mengambil makanan dan minum untuk dia dan Izza.
Lastri masih diam dan angkuh tidak mau mengakui kesalahannya.
"Bu.. Izza istriku. Aku mencintainya.. Sangat mencintainya melebihi nyawaku. Aku tidak mau jadi durhaka pada ibu. Aku mohon, restui kami. Perlakukan dia dengan baik sebagaimana ibu memperlakukan menantu ibu yang lain.."
Lastri meradang mendengar kata-kata Arlan.
"Apa matamu buta Ar.. ?
Kamu lebih membelanya di banding ibu ? Lebih memilihnya begitu.?
Sesempurna apa janda itu sampai menjadikanmu budak cintanya..! " Sinisnya.
"Dari dulu ibu tidak menyukainya, ibu menyukai Syifa. Bagaimana ibu mau memperlakukan dia dengan baik. Dia saja tidak memperlakukan ibu dengan baik. Dia tidak menghormati ibumu..! " hasutnya.
Arlan berlalu menuju tangga. Dia sudah malas berdebat dengan ibunya. Yang ujung-ujungnya sama.
"Arlan... Arlan... ! Kita belum selesai bicara..!" Teriak ibu berkacak pinggang.
.
__ADS_1
Arlan tiba di kamar, di lihatnya Izza sedang memainkan ponselnya.
"Makan yuk, aku bawain makan buat kamu. Habis itu kamu minum vitamin ya.. "
Izza mengambil alih piring itu dari Arlan.
"Aku makan sendiri aja, kamu udah makan.. ?"
"Udah.. " Arlan membelai rambut istrinya sambil tersenyum getir. Sungguh hatinya merasa bersalah atas perlakuan ibunya. Rasa laparnya juga hilang sejak melihat istrinya seperti di anak tirikan oleh Ibunya.
Izza yang mulai menyuap merasa tidak nyaman dengan tatapan Arlan padanya.
"Kenapa kamu ga pernah cerita Za.. ?"
"Aku baik-baik saja Ar... " tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya yang berusaha menutupi luka.
"Ohh iya, aku ingin membeli oleh-oleh sebelum pulang. Boleh.. ?"
"Tentu saja boleh, nanti habis Asyar ya , biar ga panas.. "
Izza mengangguk, melanjutkan makannya. Dengan Arlan yang menemaninya. Arlan bahkan menyiapkan Vitamin untuknya.
"Apa perlu aku minum ini, ini obat apa.." Tanya Izza saat selesai makan dan di sodorkan obat.
"Kamu mau tau ini obat apa.. ?"
"Heem.." Angguk Izza penasaran.
"Ini obat biar kamu tambah cinta dan sayang sama aku.. " Tersenyum menggoda yang membuat Izza justru mengerutkan keningnya.
"Emang ada ya obat kayak gitu, aneh.. " Menelan 3 pil itu sekaligus.
"Ada, apa kamu lupa suamimu ini dokter. Dokter Cinta buat Izza.. " Satu ciuman hangat mendarat di pipi mulus Izza. Arlan tersenyum puas melihat Izza mendelik. Baginya sangat cantik dan menggemaskan.
"Kamu tau sayang, kamu tambah cantik dan bikin aku tambah jatuh cinta tiap pasang mode galak mu itu.. "
Izza hanya memutar bola matanya jengah.
"Wis sekarepmu lah.. "
Arlan merangkul mesra pinggang istrinya. Mengecup kening wanita itu berkali-kali.
Dia tahu, Izza terpaksa menerima pernikahan ini karna orang tuanya.
Tapi melihat Izza yang sudah bisa menerimanya dan tidak menolaknya, besar harapannya Izza akan luluh dan mencintainya suatu saat nanti.
Apa lagi di pernikahan mereka ini, juga berjalan selayaknya suami istri pada umumnya.
Apa Izza akan luluh.. ?
__ADS_1
Kita lihat saja nanti..