CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Mari Kita Mulai


__ADS_3

Suasana meja makan cukup meriah malam ini di kediaman Fahat. Apa lagi si kembar yang begitu dekat dengan kakak iparnya. Karna modus tentang Deki tentunya.


"Sayang, aku mau dendengnya.. " pinta Arlan lembut. Dan dengan cekatan Izza mengambilkannya untuk suaminya.


"Terima kasih.. " ucapnya.


Izza membalas senyum suaminya dan mengangguk. Fahat dan Humairah yang memperhatikan keduanya ikut tersenyum bahagia. Mereka merasa tenang karna Izza benar-benar menikah dengan orang yang tepat setelah kepergian Reihan.


"Kak, kapan kak Deki main kesini sih.. ?" Tanya Dini sambil menyuap makanannya.


"Mungkin setelah libur semester. " jawab Arlan.


"Suruh nginep di sini aja.. " Polos bocah bernama Dini berujar yang di sambut plototan kembarannya.


"Apa sih kamu De, kan ada mbak Vita di sini .. "


"Ya kali aja, kaka Deki mau gitu nginep di sini.. "


"Dina, Dini. Udah cepat habiskan makannya dulu.. " Fahat lebih dulu mengintrupsi keduanya sebelum lebih berdebat.


"Iya pa.. " sahut keduanya.


Tak lama makan malam pun berakhir, Izza membantu mama Humairah mengemas meja makan.Sedang Arlan memilih mengobrol dengan papa Fahat di ruang depan.


Obrolan keduanya masih berlanjut saat Humairah dan Izza ikut bergabung.


"Arlan cuti lame ke.. ?" tanya Humairah pada menantunya.


"1 minggu ma.. " jawab Arlan sembari tersenyum ramah.


"Ok lah tu, boleh pergi jalan-jalan. Ada yang diam je kat rumah cajap nak jalan tapi tak de kawan. " Humairah melirik pada Putrinya yang duduk di sebelah Arlan. Tentu saja yang di sindir adalah Izza.


"Apa sih ma.. " Merasa tidak enak karna sindiran mamanya. Izza memilih memakan potongan buah di depannya.


Arlan menatap istrinya lembut " kamu mau jalan-jalan kemana sayang.. ?"


"Eh, ga pengen ke mana-mana kok.. " Izza membuang pandangannya agar tidak grogi saat bersitatap dengan suaminya.


"Ngomong aja, nanti kita pergi sama-sama. Mau kemana.. ?" kali ini Arlan mengusap tangannya lembut membuat Izza merona malu.


Fahat dan Humairah kembali mengulum senyum melihat tingkah ke duanya.


Tiba di kamar, Arlan sudah lebih dulu rebahan. Perjalanan tadi pagi cukup melelahkan. Dia juga tidak sempat istirahat karna segan pada mertuanya yang ingin mengobrol.


Baru saja matanya terpejam dengan posisi tengkurap, terasa pergerakan di atas ranjang. Senyum tipis mengukir di bibirnya, meski kedua matanya masih terpejam.


Izza yang melihat Arlan tengkurap bolak balik melirik, tapi tidak berani menyapa. Sejujurnya dia ingin sekali masuk ke pelukan lelaki itu. Dia rindu suasana tidur sewaktu dulu. Tapi dengan posisi Arlan tengkurap, bagaimana dia akan masuk.


Mencebik kesal sendiri, Izza memilih membelakangi Arlan. Memeluk gulingnya erat. Berharap lelaki di sampingnya peka.


1 menit


5 menit


10 menit


Izza terus memperhatikan detak jarum jam di atas meja. Kembali dia melirik ke arah suaminya. Yang tampak tidur pulas.


"Ihh ngeselin...."

__ADS_1


Tidak sanggup membendung kekesalannya, dia memilih bangun. Meraih ponselnya dan keluar.


Arlan yang terjaga karna merasa ada pergerakan, celingak celinguk mencari istrinya.


"Apa dia di kamar mandi.. " gumamnya kembali menutup mata.


5 menit berlalu, Arlan langsung terduduk dan bangun mencari Izza. Di dalam kamar mandi kosong. Lalu kemana istrinya.


Perlahan dia membuka pintu dan keluar.


Ternyata yang di cari justru sedang menonton TV di ruang bawah.


"Belum tidur.. ?" tanyanya sembari mendekat duduk di samping istrinya.


Izza menoleh, sesaat terkejut mendengar suara suaminya. " Belum ngantuk.. " balasnya lalu fokus kembali pada layar TV.


Keduanya duduk bersisian, saling diam hanya fokus pada layar TV. Saat Izza iseng menoleh ternyata tatapan suaminya juga sedang menoleh ke arahnya.


Arlan tersenyum, sedang Izza yang gugup kembali menghadap ke TV.


"Ayo tidur, sudah malam.. " Arlan melihat jam sudah menunjukan pukul 12 malam lebih.


Merasa tidak enak karna suaminya menungguinya, Izza pun mengangguk lalu mematikan TV.


Beriringan keduanya naik ke tangga menuju kamar.


Saat sama-sama di atas ranjang, Arlan menarik wanita itu dalam dekapannya. Ciuman hangat dia berikan di pipi yang terlihat merona dalam temaram kamar.


"Bagaimana kabarnya.. ?" Tangan Arlan mengusap lembut bagian perut Izza.


"Baik kok.. "


Izza pun mendongak sebentar kemudian menunduk.


"Enggak, aku hanya susah tidur kalo malam. " Akunya.


"Jadi selama di sini selalu bergadang.. ?"


Wanita itu hanya mengangguk.


"Apa kamu sudah memaafkan ku.. ?"


Izza diam sesaat, yang membuat Arlan menghela nafas pelan.


"Bagian mana yang ingin di maafkan..?"


"Bagian yang terjadi di malam itu, aku bersumpah sayang. Aku ga ngapa-ngapain malam itu.. Aku.. " penjelasan Arlan terpotong saat Izza meletakan jarinya di bibirnya.


"Aku tau.. " Izza tersenyum menarik tangannya dari bibir suaminya.


"Maksut-maksut kamu.. ?" Arlan masih belum paham akan ucapan istrinya.


"Ibu dan Ayah, sempet mampir kesini dan ibu meminta maaf juga menjelaskan semuanya pada ku juga mama dan papa.. " terang Izza yang langsung membuat Arlan ternganga.


"Apa.. ?!"


"Iya, jadi ga usaha minta maaf lagi.. " Izza lebih membenamkan dirinya pada bidang suaminya yang dirindukannya itu.


Merasa tidak yakin, Arlan menarik kembali tubuh istrinya sedikit menjauh. "Sayang, kamu serius... ?"

__ADS_1


Izza yang di tarik menjadi sebal, rasa sensitifnya kembali datang.


"Kamu ga mau aku peluk mas.. ? menyebalkan.. "


"aapa... ?" Sadar apa yang dia lakukan salah, Arlan kembali menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.


"Lepasin... " ronta Izza.


" Enggak... "


"Lepas.... !"


"Enggak.. aku ga akan lepasin kamu sampe kapanpun.. "


"Nyebelin... ihhh.... " Izza mencubit perut Arlan.


"Ahhh... sakit... "


Dekapan itu pun terlepas.


"Sayang, kamu kejam.. "


"Bodo'.. !"


"Ich, jangan gitu. Maaf -maaf... " Arlan berhasil menarik kembali istrinya. Menghujani ciuman di seluruh wajah Izza.


"Jangan manyun ahh... Aku kangen loh liat senyum kamu.. "


"Iya kah.. ?" Izza yang sudah melunak kembali membenamkan wajahnya di dada Arlan.


"Heem.. Emang kamu ga kangen sama aku.. ?"


"Kangen lah.. "


"Benarkah.. ?"


Izza mendongak lalu mengangguk yang seketika membuat Arlan tersenyum penuh.


Tak menunggu waktu lagi, Di sambarnya bibir seksi Izza. Menyesapnya pelan dan lembut. Izza pun tak mau kalah , membalas setiap perlakuan Arlan.


Hingga nafas keduanya tersenggal barulah ciuman itu berakhir.


Senyum bahagia terukir di wajah keduanya.


"Mari Kita mulai semua dari awal, sayang.. ?" Ajak Arlan sambil mengusap lembut pipi istrinya.


Mendengar ajakan suaminya, Izza pun mengangguk setuju.


Arlan sudah tidak membendung rasa bahagia dan harunya. "Terima kasih... " Di ciuminya punggung tangan istrinya penuh Cinta.


Malam itu perasaan rindu 2 insan itu melebur menjadi satu. Bagi Izza, menjauh dari Arlan juga bisa lebih meyakinkan hatinya bahwa memang nama Arlan sudah terukir indah di relung hati tempat dulu di huni Reihan sepenuhnya. Bukan melupakan, Reihan tetap bersemayam dan tak akan terlupakan bagi Izza.


Tapi Arlan lah yang di cintainya di kehidupannya sekarang.


Sedang bagi Arlan, Izza adalah segalanya. Malam itu dia juga sadar. bahwa saat kita memaksakan sesuatu, justru terasa menyakitkan saat hasilnya tidak sesuai dengan pengharapan. Terbukti, saat dia bisa menerima ada Reihan di kehidupan Izza sebelumnya. Menerima masa lalunya. Izza justru bisa seutuhnya dia miliki. Dan tanpa di minta, istrinya pun menyingkirkan semua barang milik Reihan dari kamarnya. Hatinya tersentuh merasa di hargai sebagai sesosok suami.


Dia berjanji, Bahwa cintanya hanya Untuk Istrinya.


Cinta Untuk Izza.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2