CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Izza Hilang


__ADS_3

Bulan madu harusnya di isi dengan hal-hal penuh keintiman yang bisa lebih mendekatkan sebuah pasangan. Tapi tidak dengan Izza dan Arlan.


Sejak pagi itu, Izza yang slalu murung membuat Arlan merasa frustasi.


"Kamu ga makan.. ?" Tanya Arlan saat mereka berada di sebuah restoran mewah di tepi pantai untuk makan malam.


"Aku ga selera.. " Izza meletakkan sendoknya dengan lesu.


Arlan membuang nafas kasar, melambai pada pelayan meminta bill.


"Kita pulang. . " Arlan menggandeng tangan Izza sedikit kasar .


Sesampainya di luar Arlan melepas gandengan tangannya. Izza jadi tidak enak hati. Ini semua karna dia.


"Mas, kita balik lagi ke restoran yuk. Kamu belum makan.. " Bujuknya.


"Ga perlu. Aku sudah kenyang.. " Suara Arlan terdengar dingin. Sedingin terpaan angin malam pantai.


"Kita pulang besok pagi "


Arlan sudah berjalan jauh di depan, meninggalkan Izza yang terdiam mematung di tempat saat mendengar ucapan Arlan yang terakhir. Sinar bulan malam ini cukup terang, sangat indah jika di nikmati penuh kebahagiaan. Tapi tidak dengan mereka berdua.


Izza berlari memeluk Arlan dari belakang.


Bruk.


Dia memeluk erat tubuh suaminya. Membenamkan wajahnya di punggung lelaki itu.


"Maafkan aku.. " lirihnya.


Arlan menghela nafas berat, berusaha melepas pelukan Izza saat merasa wanita di belakangnya itu mulai bergetar menahan tangis.


"Kamu meragukan ku Za.. ?


Bukannya aku sudah mengatakan, kamu akan baik-baik saja.. "


Izza sudah sesenggukan hingga pelukan tangannya melemas. Hal itu di manfaatkan Arlan untuk mengurai pelukan itu dan berbalik untuk memeluk istrinya erat.


Izza menangis di pelukan Arlan. Arlan tidak tega melihat air mata itu, meski sedikit kesal. Dia berusaha meredam emosinya .


"Aku mungkin tidak seperti Reihan, yang jelas bisa melindungimu. Jadi kamu merasa nyaman jika bersamanya.. "


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu.Aku ga da maksut buat. ."


"Tapi kenyataanya seperti itu Za..


Kamu meragukan ku.. "


Izza mengurai pelukannya, menatap wajah sendu suaminya di bawah temaram bulan. Wajah penuh kekecewaan.


Arlan berbalik dan berjalan meninggalkan Izza. Dia ingin menyendiri, hati dan fikirannya sedang kacau.

__ADS_1


"Arlann.. !!"


Suara Izza yang memanggilnya tidak dia endahkan. Hingga tubuhnya terbawa jauh di sapu gelapnya malam.


Izza terjatuh di pasir, menangis sendiri. Kenapa hatinya jadi semelow ini sekarang. Dulu dia begitu tegar, sangat segan mengeluarkan air mata di depan orang lain.


Setelah cukup lama menangis, perlahan dia mulai berjalan kembali menuju hotel.


Dia berharap suaminya menunggunya di lobbi, karna kunci kamar dia yang membawanya.


Tapi harapannya sirna, tidak ada tanda-tanda Arlan di lobbi hotel. Dengan perasaan kecewa, dia memilih kembali ke kamarnya seorang diri.


Sudah hampir pukul 12 malam. Dan Arlan belum juga kembali. Izza berusaha menghubunginya , tapi nomer telponnya tidak aktif.


"Kemana dia .. " Mondar mandir di dalam kamar sendirian.


Ada rasa menyesal di hatinya, merasa mengabaikan usaha Arlan yang meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja.


"Arlan pasti kecewa banget, aku ga da maksut membandingkannya dengan Bang Reihan.. "


Merasa tidak tenang, Izza memilih turun untuk mencarinya. Dia akan meminta maaf pada suamianya itu.


Suasana lobbi hotel masih ramai, meski sudah tengah malam. Banyak perempuan-perempuan berpakaian seksi di depan hotel itu.


Izza merapatkan jaketnya menyusuri jalan setapak menuju sebuah cafe di sebrang hotel.


Sesampainya di sana, dia mengedarkan pandangannya. Tapi Arlan tidak ada di sana.


Tanpa dia sadari, seseorang mengikutinya sedari keluar hotel tadi dengan senyum menyeringai.


"Arlan...!!" Serunya sambil menyusuri pantai.


Ada banyak gerombolan orang sedang berkumpul dan kebanyakan laki-laki membuat Izza tidak nyaman.


"Arlan...!!" panggilnya lagi.


Dia melangkah terlalu jauh, hingga kecapean sendiri. Dia mengedarkan pandangannya. Dan saat berbalik dia melihat bayangan seseorang mendekat.


"Arlan... !!" Senyumnya mengembang penuh, dia pun berjalan perlahan mendekat ke orang itu. 5 meter jarak mereka, Izza menghentikan langkahnya.


itu bukan Arlan. Dia tidak menggunakan jaket hitam tadi..


Merasa janggal, Izza perlahan mundur. Tapi orang itu justru semakin cepat mendekat.


Sekilas Izza bisa melihat, orang itu memakai masker hitam, jaket hitam dan topi hitam.


Dia langsung berbalik bersiap berlari.


Terlambat, orang itu justru lebih sigap meraih jaketnya.


"Lepas....!!" teriak Izza ketakutan.

__ADS_1


Dengan gerakan pantas. Kedua tangan Izza berhasil di tangkap oleh orang itu.


"Lepaskan aku.. !!" Izza meronta. Tapi cekalan tangan itu semakin kuat.


"Tolong... tolong.... !!"


Izza mulai panik. Tidak ada orang di situ. Dia masih berusaha melepas cekalan orang itu.


"Kamu siapa? lepaskan aku.. !!" Bentaknya.


Satu tangan orang itu mengayun di depan Izza, dan dalam sekejab pandangannya buram, kesadarannya mulai hilang dan pingsan.


Orang itu menyeringai penuh kemenangan.


.


Pukul 2 dini hari, Arlan melangkah pelan menuju kamarnya. Dia menghela nafas kasar, berusaha menetralkan hatinya.


Tok Tok tok


Hingga ketukan ke tiga, tidakada sahutan dari dalam. Dia juga berusaha menghubungi nomer istrinya, tapi tidak di angkat.


"Za.. sayang.. buka pintunya.. "


Merasa tidak ada jawaban, di memilih turun menuju resepsionis.


"Maaf mbak, boleh tolong telponkan kamar 201 . Saya sudah memanggilnya tapi istri saya tidak dengar. . "


"Kamar 201 ya pak, kuncinya ada di kami. Ibu menitipkan sebelum keluar tadi. Takutnya bapak kembali lebih dulu. " Resepsionis memberikan Acsescard itu.


Arlan terkejut tapi kemudian mengambil Aksescard itu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.


Dia terus menghubungi nomer Izza, tapi tetap tidak ada jawaban.


Brak.


Dia membuka kasar pintu kamar.


"Za... " panggilnya .


Dia membuka lemari, baju Izza masih lengkap. Artinya Izza tidak pergi dengan membawa bajunya serta.Tapi ini sudah setengah 3 pagi. kemana istrinya pergi. Apa dia keluar mencarinya.


"Arkhhh.... bodoh kamu Ar.. !! Kenapa kamu meninggalkannya saat dia sedang butuh kamu. . !!" Arlan menjambak rambutnya kasar.


Kemudian berlari menuju Lobbi. Dia sangat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Mbak, boleh saya lihat rekaman CCTV hotel ini . Istri saya belum kembali sampai sekarang.. "


"Sebentar ya pak.. "


Arlan begitu kalut, mendengar resepsionis sedang menghubungi managernya untuk meminta izin.

__ADS_1


Dimana kamu sayang...


__ADS_2