CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Panas Cemburu


__ADS_3

Arlan menghela nafas panjang, setelah melihat Izza sudah tenang, dia menarik tangan ke atas memanggil pelayan untuk meminta bill.


"Ayo.. " Di tariknya tangan Izza berdiru dan berjalan beriring ke luar Resto. Mereka menuju eskalator dan turun di lantai 1.


Sebuah toko perhiasan mereka masuki. Izza menatap tak percaya pada lelaki di hadapannya itu .


"Ya mas.. mau cari apa.. ?" Sapa ramah karyawan toko itu.


"Saya mau mencari cincin pernikahan mbak.. " Arlan menarik Izza untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Karyawan toko itu langsung mengeluarkan beberapa contoh barang.


"Ini yang terbaru mas.. " Tunjuknya pada 5 set cincin couple itu.


Arlan memilihnya aendiri dan mencobanya pada jari Izza . Cukup cantik qalau sedikit longgar.


"Saya mau yang ini.. " Arlan mantap berdiri menuju etalase bagian lain.


Karyawan lain langsung menunjukkan padanya beberapa set perhiasan pada Arlan. Terlihat Arlan menunjuk salah satunya dan karyawan itu tersenyum membungkusnya.


Izza membuang pandangan ke luar toko.Lelaki itu terlihat tidak bergeming mwskipun Izza sudah berusaha menyatakan keburukannya di masa lalu. Tentang Aldi, Reihan dan lainnya.


"Ayo... " Ajak Arlan lagi.


Izza turun dari kursi diam mengekor di belakang Arlan menuju parkiran.

__ADS_1


"Aku tidak perduli apapun kamu di masa lalu Za.. Aku juga tidak perduli meskipun cintamu sudah pergi dengan Reihan.. Aku hanya ingin hidup bersamamu sekarang dan nanti.. " Ucap Arlan saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah Izza.


Izza memandang wajah serius lelaki yang juga sedang memandangnya .


"Mungkin aku tidak bisa mencintaimu sesempurna Reihan. Tapi aku berjanji padamu.. Kalau Cintaku hanya untuk kamu Izza.. "


Izza membeku, semua terlalu awal dan semu baginya. Tapi lelaki itu benar-benar sudah serius duarius.


"Izinkan aku menemani harimu..


Aku tau kamu butuh teman untuk berbagi.. " imbuhnya


"Tapi Ar.. "


Arlan menutup bibir Izza dengan jarinya.


Izza menegang, mencerna semua kata-kata Arlan dengan baik dengan hati berdebar.


"Aku ..aku.. " Izza tergagap menjawab.


Arlan tersenyum mengusap pipinya lembut. Perlahan memajukan wajahnya. Izza merem melihat Arlan yang semakin mendekat di depannya.


Ceklek


Izza membuka mata perlahan. Ternyata Arlan hanya membantunya membuka seatbelt. Dia sungguh malu.

__ADS_1


Arlan turun memutar dan membuka pintu bagian Izza. Izza turun dengan wajah semerah tomat.


Ini sungguh memalukan..


"Tidurlah dengan nyenyak Za.. selamat malam.. " Arlan tidak menunggu jawaban dari Izza. Dia langsung naik dan melajukan mobilnya.


Izza menatap kepergian Arlan yang terkesan buru-buru itu.Hingga mobil itu sydah tidak terlihat lagi daroli pandangannya,baru lah dia masuk.


Sepanjang jalan Arlan hanya merenung, memikirkan semua kata-kata Izza dan mendesah berkali-kali. Sedari tadi dia berusaha mengontrol emosinya di depan Izza.


Mendengar cerita Izza membuat hatinya panas dan cemburu.


Perasaan yang belum pernah dia rasakan pada wanita manapun sebelumnya.


"Arkkhh... !"


Arlan memukul setang kemudi yang tidak bersalah apapun. Mengumpat lampu merah yang menghalangi laju mobilnya dan lainya untuk melampiaskan Kekesalannya.


"Aku lebih suka bersaing dengan sesama pria secara nyata.. Ketimbang bersaing dengan orang yang sudah mati .. "


"Kenapa sedalam itu cintamu justru pada orang yang sudah tiada.. kenapa bukan padaku Za.. kenapa..? !"


Teriaknya sendiri di dalam mobilnya.


Arlan memarkirkan mobilnya dan turun berlari menuju rumah. Melempar sembarang baju yang dia pakai dan langsung menguyur tubuhnya denga Shower.

__ADS_1


Air dingin memang bisa meredakan emosinya secara perlahan.


__ADS_2