CINTA UNTUK IZZA

CINTA UNTUK IZZA
Saingan


__ADS_3

"Makanlah.. " Arlan menyuapkan sesendok makanan ke arah Izza.


"Aku bisa sendiri.. " Tolak Izza


"Baiklah... " Di letakkannya makanan itu di pangkuan Izza.


"Sekarang cepat makan.. setelah itu minum obat mu.. " Arlan bangkit menuju pintu keluar.


Setelah kepergian Arlan, Izza berusaha menyendok makanannya. Tapi tangannya cukup lemah. Hingga kuah sayur bening itu membasahi bajunya. Berkali di coba, nyatanya memang tangannya cukup lemah tak da tenaga.


Dia langsung menangis, mendorong kotak makan itu ke samping hingga jatuh dan tumpah ke lantai .


"Huhuhu... " Dia berusaha membaringkan tubuhnya yang lemah tak berdaya.


"Rasanya aku ingin mati saja..!!"


Arlan yang kembali ke ruang itu sambil membawa obat tampak terkejut melihat makanan itu jatuh berserakan di lantai. Sedang Izza berbaring menghadap tembok sambil menangis.


Perlahan dia menutup kembali pintu untuk mengambil makanan baru.


Izza yang lemah mulai menutup matanya kembali.


"Aku butuh kamu bang.. Kamu ga ada di sini.. "


Arlan yang sudah berdiri di belakangnya tampak meremas kotak makan itu. Memandang wanita tak berdaya yang sudah menjatuhkan hatinya . Dia meletakkan makanan di meja dan keluar.


"Maaf.. tolong bersihkan lantai di kamar 05 tapi tolong pelan-pelan . Dia sedang tidur.. "


"Baik Dok.." Sang Cleaner langsung berjalan ke arah kamar itu.


Arlan kembali ke ruangannya untuk memeriksa pasien.


1 jam kemudian, saat pasien sudah habis. Arlan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Hallo... Rizal.. " Sapanya di talian.


"Ya ada apa Ar... bagaimana keadaan Izza.. ?"


"Dia masih seperti itu. Aku rasa sainganku cukup berat.. " Desah Arlan pelan.


"Maksutmu..?"


"Bersaing dengan orang yang sudah mati itu tidak semudah dengan yang hidup Zal. Izza benar-benar hidup dalam kenangan dengan Almarhum suaminya.. "


"Apa kau mulai menyerah..? "


"Tidak..!


Aku hanya ingin berkeluh kesah padamu bro. Hah.. kau ini... "

__ADS_1


Rizal terdengar tertawa di sana.


"Apa kau sudah menghubungi paman Fahat.. ?"


"Sudah.. dia memberi Izin. Dia juga mengatakan bahagia dengan niat ku untuk menikahi Izza..


Tapi semua dia kembalilan pada Izza, apa Izza mau menerima pinanganku.. "


"Berjuanglah Ar.. aku tahu kau serius kali ini. Aku akan mendukungmu.. demi adik ku. "


"Hahhh... bodoh.. memang kemana kau selama 1 tahun ini. Ada dirimu perduli padaku yang berusaha mencarinya. dan dengan gampangnya kau katakan


'Ar.. jangan mengganggu adikku '


Cih.... "


"Aku memang awalnya berfikir seperti itu Ar. Lo kan banyak cewenya..


Tapi saat kalian bertemu kembali, aku yakin ada rencana yang sudah Tuhan sedang di siapkan untuk kalian.. mungkin kalian memang jodoh.. "


"Jadi kau sudah mulai merestui kami.. ?"


"Ya. tapi kembali lagi ke Izza.. "


Arlan menutup panggilan dan tersenyum penuh arti. Dia juga akan berjuang mendapatkan hati Izza. Meski mungkin tidaklah mudah.


"Ok.. terima kasih sus.. "


Dia segera melangkah kembali ke ruangan Izza.


Di bukanya pintu perlahan, Izza sedang berusaha membenahi krudungnya.


"Perlu bantuan.. ?" Tawarnya.


Izza terkejut segera memegang erat krudungnya agar tak terbuka.


"aAku mencari pin krudungku .. " Masih dengan menatap sekeliling. Yang mungkin saja pinnya jatuh ke lantai.


Arlan segera berjongkok mengambil pin di bawah ranjang .


"Ini.. ?"


"Iya.. " Izza mengangguk dan mengambil pin itu dari tangan Arlan. Dengan membelakangi dia memasang kembali pin itu.


"Sudah makan.. ?" Arlan duduk kembali di kursi sebelah Izza.


"Sudah.. suster membantuku makan tadi.. " Lirihnya.


Arlan tersenyum simpul, Menarik ujung krudung Izza. Izza tampak terkejut mendur.

__ADS_1


"Ini panjang sebelah.. mau aku bantu betulkan.. ?"


"Tidak.. biarkan seperti ini.. " Tolak Izza terang-terangan.


Arlan menghela nafas panjang, mengambilkan jeruk dan mengupasnya.


"Makanlah.. " Di letakkannya jeruk di tangan Izza.


"Terima kasih.. " Izza mulai membuka dan menyuapkan untuknya sendiri. Tubuhnya sudah tidak selemah tadi.


Melihat Arlan yang tetap memandangnya, membuat Izza jadi serba salah.


"Apa kamu tidak sibuk, kasian pasiennya jika menunggu dokternya lama.. "


"Tidak ada pasien, suster akan memanggilku jika ada pun.. "


"Ohhh.. " Izza menunduk memainkan jeruk di tangannya.


"Kenapa.. ?"


"Aku tidak nyaman ada kamu di sini.. " Lirih Izza.


"Ok.. aku akan keluar, tapi tolong jawab. Kenapa kamu seolah tidak mengenalku tempo hari saat kita bertemu di toko mu.. ?"


Izza mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Arlan.


"Aku memang tidak ingat... " kilahnya.


"Ohyaa. lalu tadi sudah ingat..? "",Arlan tersenyum menggoda yang justru membuat Izza malu.


"Kenapa diam.. katakan saja.. jujur lebih baik.."


Izza baru akan membuka mulutnya tapi tiba-tiba terdengar salam dari luar dan pintu terbuka.


"Assalamualaikum... " Seru Nuri di ikuti Juan .


"Waalaikum salam... " Jawab keduanya.


"Ehhh pak dokter.. " Nuri tersenyum malu. Lalu mendekat ke Izza.


"Mbak Za... ini baju mbak Za aku bawain yang ada di toko aja. Aku ga berani buka tas mbak buat ambil kunci rumah. .


Dan.. " Nuri tampak membuka saku samping tas.


"Ini Hp mbak Za... dari tadi bunyi terus. . Orang bernama Kevin ga henti-hentinya menelpon. Aku ga berani mengangkat.. " Terang Nuri.


Arlan langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nuri.


Kevin?? siapa dia??

__ADS_1


__ADS_2