
Skip... skip..
area dewasa 21 +
Malam datang kembali di kota Batam. Suasana rumah sudah sepi. Karna keluarga dan kerabat sudah banyak yang pulang. Menyisakan tuan rumah saja.
Mama dan papa sudah tidur sejak sehabis isya' tadi karna kecapean. Izza sedang duduk bersama si kembar di ruang TV. Arlan tadi izin mengangkat telpon dari orang tuanya.
"Kak.. aku boleh ya ikut ke jawa.. " pujuk Dina.
"Alah... ngoming aja pengen ketemu pujaan hati.. " Sela Dini yang langsung mendapat lemparan bantal dari Dina.
"Iri bilang bosss . . "
Dini tidak terima melempar balik bantal itu.
"Sorry hooooo.... "
Izza yang sedang berbalas pesan dengan Nuri tidak tahan tidak terkikik melihat tingkah adiknya.
"Kalian ini.. masih kecil juga.. "
"Kak, kami udah 16 tahun.. bentar lagi Sweet Seventeen." Tegas keduanya hampir bersamaan.
Izza hanya mencebik.
"Apa istimewanya coba, kan baru ketemu sekali. ."
"Dia itu manis, sopan, dan badannya... badannya..." Belum selesai Dina menghayalkannya sebuah bantal mendarat membuyarkannya.
"Badannya dekil.. iyuhhhhh.... " Dini menggosok-gosok lengannya.
"Dini.. itu karna dia anak motor. .!" Protes Dina.
"Dari mana kamu tau dia anak motor..? " Selidik Izza.
"Ya kelihatan.. " Dina serba salah keceplosan.
Izza dan Dini mendelik penuh selidik.
"Akk.. aku tau dari profil WA nya... " jelas Dina gugup.
__ADS_1
"Apa...??!" teriak keduanya.
"Kalian sudah tukeran nomer, kok aku g tau..? " Ketus Dini .
"Wahh... wahh. ... " Izza mensidekapkan tangannya.
Dina hanya nyengir kuda, memasang aba-aba lari ke kamar .
"Dina... tunggu... " Dini cepat-cepat menyusul setengah lari.
Izza hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus dengan ponselnya.
"Loh.. kemana adik-adik.." Arlan muncul langsung duduk menyesap tehnya yang sudah dingin.
"Udah pada masuk kamar. Lagi pada heboh ngomongin Deki.. " Izza mengangkat wajah sebentar lalu kembali fokus ke layar ponsel.
"ohhh... kita kapan mau ke kamar.. ?" tanya Arlan penuh arti.
"Ya ayuk... " Izza yang tidak ngeh dengan ucapan Arlan, bangun langsung dari duduk menuju tangga .
Arlan tersenyum lebar mengikutinya. Bahkan menggandengnya.
Arlan tersenyum geli sendiri lalu menuju kamar mandi. Izza cepat-cepat mengganti bajunya. Dan saat dia belum selesai mengancing piyamanya Arlan sudah kembali membuat dia terkejut dan berbalik.
"Mau aku bantu...? " Arlan memeluknya dari belakang menahan tangannya yang akan mengancing kancing bagian atas.
"Tidak perlu.. " Izza berusaha melepaskan kaitan tangan Arlan. Tapi lelaki itu justru memutar badannya berbalik.
Mata mereka saling bertemu, Arlan mengulum senyum manisnya mengusap lembut wajah Izza.
"Kamu cantik sekali... "
Izza menunduk mendengar pujian Arlan. Wanita mana yang tidak suka di puji cantik. Hati Izza tentu saja berbunga-bunga meskipun dia berusaha menutupinya.
Arlan mengangkat dagu Izza kembali menatapnya. Perlahan menyergap bibir wanita itu yang sedari kemarin ingin sekali di sesapnya.
Izza membeku merasai kecupan hangat dari Arlan. Saat lumutan-lumutan lembut itu merajai area bibirnya. Dia hanya diam sambil memejam .
Matanya kembali terbuka saat Arlan mengahiri ciuman itu. Nafas mereka saling terengah-engah.
Arlan langsung mengangkat tubuh Izza yang membuatnya terpekik dan langsung melingkarkan tangannya di leher kokoh Arlan.
__ADS_1
Perlahan Arlan merebahkan tubuh Izza di ranjang itu. Kembali saling pandang sebentar sebelum kemudian bibirnya kembali Melumet bibir Izza.
Ciuman itu semakin lama semakin panas dan tangan Arlan sudah mulai tak terkendali. Mengabsen tiap jengkal kulit luar Izza. Izza yang mulai terbuai bahkan tanpa sadar melepaskan suara desahannya saat Arlan bermain dengan bukit miliknya.
Mereka mulai merasai gelora yang memuncak, baru pertama kali bagi Arlan. Yang tanpa Arlan tahu, ini juga pertama kalinya untuk Izza.
"Akhhhrh... " Pekik Izza saat merasai sesuatu di bawah. Dia meringis kesakitan.
Arlan mengangkat tubuhnya, memandang lekat ke arah Izza. Miliknya juga terasa susah untuk masuk. Arlan bingung, apa menjanda sudah lama membuat Izza kesakitan seperti ini.
Arlan menangkup kedua wajah Izza yang matanya basah. Dia heran dan,
"Za.. apa ini pertama kali untukmu..? "
Izza tidak menjawab justru membuang pandangannya. Arlan yang sudah di kuasai birahi kembali memberikan rangsangannya dan kembali memposisikan miliknya.
Dan saat Arlan berhasil menerobos masuk pada dorongan ke 5. Izza memekik menggigit jarinya sendiri.
Arlan merasakan yang dia baru saja menjebol sesuatu.
Dia langsung membuang tangan Izza ke samping dan menyambar bibir itu. Izza sedikit terisak dan Arlan dengan lembut kembali memberikan melumut-lumutan kecil dengan tangan sedikit menekan tengkuk Izza.
Setelah Izza sedikit tenang dia memandangi wajah wanita itu.
"Tahan ya... aku akan segera menyelesaikannya. ."
Bibir mereka kembali menyatu dengan tangan Arlan yang satu meremas lembut bukit milik istrinya. Dan bagian bawah yang mulai perlahan bergerak.
Izza kembali memekik dan Arlan berusaha memberikan rangsangan pada area lain agar kesakitan Izza berkurang.
Arlan yang sudah tidak tahan langsung menggila dengan bibir tetap tak lepas dari bibir Izza.
Tak lama dia nengeram panjang melepas apa yang seharusnya di lepas.
Nafas mereka terengah-engah, peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Arlan masih berada di atas tubuh istrinya, dengan tangan menjadi tumpuan agar tidak terlalu menindih tubuh istrinya.
Perlahan dia bangkit untuk turun dan mengecup sayang kening istrinya. Lalu menarik tubuh wanita itu merapat pada tubuhnya.
"Terima kasih sudah menjadi istri yang baik.."
Tak henti dia menciumi seluruh wajah Izza. Sedang Izza yang merasa kesakitan dan lelah perlahan memejamkan matanya. Berusaha melupakan rasa panas dan tak nyaman di bagian bawah.
__ADS_1