
Kediaman Fahat
Suasana rumah Fahat cukup meriah hari ini, Saudara mara dan teman terdekat tampak datang ikut meramaikan acara syukuran.
Setelah selesai membaca do'a, semua yang hadir di persilahkan untuk menikmati hidangan yang ada.
"Terima kasih semuanya yang telah meluangkan waktunya untuk datang di rumah saya ini.. "
Semua langsung menoleh ke arah Fahat, Fahat yang berdiri di tengah-tengah ruang tampak langsung meraih tangan Istrinya dan membawanya ke tengah ruang.
"Hari ini saya bersyukur sekali, masih di beri umur panjang.. bisa melewati bersama-sama dengan Istri saya, Humairah Razak sampai sekarang. 31 tahun berlalu.. Terima kasih Sayang, sudah menemani abang selama ini.. " Fahat membuka sebuah kotak bludru warna merah di depan istrinya.
"Ape ni bang.. ??" Humairah menutup wajahnya dengan tangannya saat tau isi kotak itu.
"Hadiah kecil dari abang.. "
Mengabaikan kotak itu, Humairah justru menghambur memeluk suaminya. Riuh tepuk tangan langsung memenuhi ruang.
"Rah tak butuh sangat isi kotak tu.. Rah nak kan same-same ngan abang selamanya.. "
Fahat mengurai pelukan istrinya dan mencium kening wanita suri hatinya itu.
"Terima kasih Rah... "
Kembali terdengar tepuk tangan dan si kembar langsung menghampur memeluk keduanya, tak lupa Izza ikut serta . Seorang fotografer langsung membidik kameranya. Merekam semua momen yang ada.
Ucapan selamat langsung datang dari semua sanak saudara tak terkecuali Arlan.
"Selamat Om.. tante .." Dia juga menyerahkan bingkisan pada mama Humairah.
"Terima kasih Ar.. " Ucap Fahat sambil tersenyum.
"Apa ini Ar... ?" Humairah membuka bingkisan kecil itu.
"Itu hadiah dari saya tante.. "
"Tante tak nak ini.. Tante nak kan kalian menikah sebagai hadiah untuk kami.. " Humairah meraih tangan Izza juga Arlan.
Semua yang hadir tampak memperhatikan mereka.
Tak terkecuali Izza dan Arlan yang langsung saling pandang dan bingung.
__ADS_1
"Ini dalamnya pasti cincin kan.. ini kalian pakai saja, sebagai pengikat kalian .." Fahat mengambil alih bingkisan kecil itu.
Izza ingin protes dan melepas genggaman tangan mamanya,tapi lirikan tajam Humairah langsung mengurungkan niatnya.
Sedang Arlan mulai sadar sudah di kerjai Fahat. Fahat berpesan untuk Arlan datang menghantarkan sepasang cincin yang di pesan di sebuah toko di Pekan Baru untuk hadiah ulang tahun pernikahan mereka dan memberikannya pada mama Humairah saat malam acara.
Rupanya itu hanyalah dalih Fahat. Arlan menatap Fahat meminta penjelasan. Tapi lelaki itu hanya tersenyum.
"Malam ini.. di depan saudara mara yang hadir malam ini. Arlan datang untuk melamar putri sulung saya Izza , dan malam ini juga, kalian yang hadir akan menjadi saksi pertunangan mereka.. " Seru Fahat.
Hadirin tampak bertepuk tangan, sebagian juga mengucap Syukur. Karna keponakan mereka akan melepas status janda nya .
Humairah mulai melepas cekalan tangan mereka saat Fahat membuka bingkisan berisi sepasang cincin itu.
Satu cincin langsung Dia berikan pada Arlan.
Arlan memandang cincin cantik berwarna putih itu dan beralih menatap Izza yang juga sedang menatapnya.
Izza tampak memelas, memohon dalam isyarat matanya agar Arlan tidak menerima pertunangan konyol itu.
Arlan menyeringai, mengabaikan tatapan protes Izza dan justru meraih tangan wanita itu, memasangkan cincin itu mantap di jari manis Izza.
Izza langsung menegang, menatap cincin yang sudah melingkar dijari manisnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Humairah mengangguk dan menyunggingkan senyumnya, kembali Izza menoleh ke arah papanya. Dan Fahat juga mengangguk ke arahnya.
"Ayo donk kak... buruan...!" Seru Dina
"iya kak.... " Dini tak mau kalah.
Di tatapnya wajah Arlan yang sedang menyodorkan jari tangannya. Dengan bergetar dia memegang cincin itu, mengarahkan ke jari milik Arlan dan memejamkan matanya saat cincin mulai masuk di jari manis Arlan.
Suara tepukan kembali menggema tapi kali ini lebih meriah di banding yang pertama tadi. Izza menangis di pelukan mamanya. Sedang Arlan langsung di rangkul hangat oleh Fahat.
Mama membawa Izza masuk ke kamarnya. Izza masih sesenggukan di rangkulan mamanya.
"Akak cakap hari tu akak nak bagi hadiah apapun untuk mama kan.. ?
Dan hadiah ni yang sejak dulu mama inginkan.. "
Izza masih menangis tergugu.
__ADS_1
"Maaf kan mama, juga papa.. kami cume nak kan yang terbaik untuk akak.. " Dia angkatnya wajah Izza agar saling menatap.
"Menikahlah.. kami akan bahagia melihat akak bahagia. Ape lagi nanti bile akak dah bagi cucu.. mama tentu lebih bahagia.. ''
Izza kembali tergugu memeluk mamanya erat.
"Mama.... " .
.
Di luar, Arlan sedang merenung sendiri di teras depan sambil menyesap minuman di gelasnya.
"Apa papa mengganggu.. ?"
Arlan langsung menoleh,
"Om..."
"Jangan memanggil om lagi, panggil papa.. " Fahat menepuk bahu Arlan lembut .
"Tapi Om... saya baru berbicara pada kakak saya untuk melamar Izza, tapi ini.. " Arlan melihat kembali cincin yang sudah melingkar di jarinya.
"Apa kamu yakin Izza akan menerima lamaranmu..? "
Arlan langsung menoleh ke arah Fahat, dia membenarkan apa yang di ucapkan papanya Izza itu.
"Hanya dengan ini.. kita harus bergerak cepat, Izza tu cukup keras pendirian..
Tapi kamu tenang saja, setidaknya dengan ini ada kejelasan untuk hubungan kalian kan.. "
"Apa kamu mau Kevin kembali merebutnya.. ?" Goda Fahat dan Arlan langsung menggeleng.
"Tentu tidak Pa.."
Fahat terkekeh menepuk kembali bahu Arlan.
"Papa tidak perlu lagi mengganti uang untuk membeli cincin itu kan.. ?"
Arlan langsung tersenyum. Ya dia memang yang membayarnya terlebih dahulu cincin itu, saat Fahat ternyata hanya memesan dan belum membayarnya .
"Tidak perlu Pa... aku ikhlas.. "
__ADS_1
Keduanya langsung tergelak bersama-sama .