
Karena kejadian itu, Reihan memajukan hari kepulangannya ke malaysia dengan membawa Whani serta. Keluarganya tidak keberatan, karna Reihan memberi alasan banyak pekerjaan.
"Untuk sementare dalam 2-3 bulan awak kene bolak balik dulu.. nanti selepas siap urusan surat kawin tu . Awak dah boleh pakai visa.. " Begitu penuturan papa Aziz di meja makan tadi.
Whani menatap banyaknya baju di Almarinya. Dia bingung ingin membawa yang mana. Tapi saat teringat ucapan papa Aziz tadi. Dia tersenyum. Bulan depan dia bisa membawa yang lainnya.
Dia mulai meraih koper dia atas Almari tapi kesusahan.
"Bang.. "
Reihan menoleh saat merasa di panggil.
"Emmm... boleh minta tolong ga.. ambilin koper di atas, aku ga nyampek.. "
Reihan bangun dari ranjang menuju ruang ganti dan segera menariknya ke bawah.
"Makasih .. " Dan Reihan hanya mengangguk dan kembali ke ranjang.
Whani terkadang bingung, ada saat Reihan sangat lembut padanya. Seperti tadi siang. Reihan tak segan memeluknya dan memanggil sayang. Tapi kadang hanya seperti patung dingin. Tanpa Expresi atau suara.
Dengan kepala yang masih di penuhi banyak pertanyaan, Whani yang sudah selesai menyusun bajunya langsung membaringkan badannya di ranjang dengan membelakangi Reihan.Tak lama Reihan justru keluar kamar.
Whani malas bertanya, toh tidak akan ada jawaban. Dia memilih memejamkan matanya.
Pukul 12 lebih Reihan baru masuk kamar, bertepatan pada saat Whani mengigau seperti biasanya. Reihan segera naik memeluknya erat, mengelus rambutnya bahkan sekarang mau mencium kening istrinya itu. Dan memang Whani langsung diam, tidak menangis lagi.
*s*ampai bila Izza.. awak akan lupakan dia. Tak kan menyebut namanya lagi..
Reihan membuang nafas kasar, dia mengingat percakapannya dengan Papa Fahat tadi.
Flashback
"Kamu bisa membawanya berobat di sana. kalau di sini papa takut mamanya akan curiga .. " Ucap Fahat saat mereka mengobrol di taman belakang.
"berape lame Izza dekat ngan dia pa.. ?"
Fahat menggeleng pelan, Menatap Reihan dengan wajah penuh kekecewaan.
"Papa slalu membebaskan Whani untuk melakukan apapun.. termasuk pergi ke club atau ikut acara apa. Tapi dia tidak pernah mabuk.Juga jarang.. kecuali bersama Diana, dia tidak akan pergi malam.." Fahat menyesap tehnya pelan. Menatap gelapnya malam yang mulai dingin.
"Whani tidak pernah membawa teman pria pulang dan yang papa dengar dari Dini. Whani memang melarang mereka datang.. itu demi mamanya.Dia tidak mau mamanya lebih mengecapnya wanita nakal dan mungkin akan membuat mamanya sedih.. Jadi papa kurang tahu berapa lama dia dengan Aldi. Hanya kevin yang papa tahu, karna kami pernah bertemu saat Diner bersama keluarga.. "
"Papa slalu percaya Whani bisa menjaga dirinya. . Dia juga sangat disiplin dengan kerjanya di Ruko. .
Meski punya penghasilan sendiri, Whani sangat jarang jalan ke Singapore seperti teman-temannya yang gila shoping.. Tenang, dia tidak akan menghabiskan uangmu.. " Fahat menatap menantunya itu. Dan Reihan hanya tersenyum tipis.
"Semoga suasana baru di sana bisa membuat traumanya hilang Rei.. Papa tau kamu menikahinya hanya karna menjaga kehormatan keluarga papa. " Fahat menepuk pundak Reihan Pelan.
"Jika kamu tidak juga bisa menerimanya nantinya.. jangan sakiti hatinya Rei. Kembalikan saja dia pada papa.. "
__ADS_1
Flashback off
Reihan masih memeluk Whani erat, mencium kepalanya berkali-kali. Whani sebenarnya sudah terjaga saat pelukan Reihan yang membuatnya sesak hingga terbangun. Dia memilih memutar memunggungi Reihan dengan tetap memejamkan matanya. Dan Reihan segera mendekat melingkarkan tangannya di pinggang Whani erat serta mencium rambut Whani.
"mimpi indah sayang.. " lirih Reihan mencium rambut Whani.
Whani tersenyum, bahagia di panggil sayang. Dia memegang tangan Reihan yang melingkar di perutnya dan memejamkan matanya.
.
Pagi ini terasa haru , mama Humairah menangis melepas anak sulungnya. Si kembar merengek minta ikut. Sedang Fahat hanya diam dengan raut wajah sedihnya.
"akak dah tak boleh lagi bangun siang tau.. jage diri kat sane.. " Mama memeluk Whani erat dan mencium pipi anaknya.
"Mama udah donk.. kakak kan bulan depan juga dateng lagi.. ".Whani berusaha memendam kesedihanya.
"Kakak... aku mau ikut.. " Seru Dina
"Aku juga.. " Seru Dini.
"Iya nanti kalau libur sekolah kalian kesana, tapi bikin pasport dulu ya.. " Whani mencium keduanya bergantian.
Beralih ke Fahat.Whani menatap sendu lelaki yang slalu memanjakannya itu.
"Papa.. " Menghambur ke pelukan Fahat.
"Pulang lah jika kamu tidak bahagia di sana, kedua tangan papa slalu terbuka untuk mu pulang.. " bisik Reihan.
Mama mendekat ikut memeluk Whani dari belakang. Semua tampak ikut terharu . Leha pun ikut menyeka air matanya.
"Dah lah tu.. dah macam nak pegi jauh je.. kau kan boleh bila-bila mase datang sane. . " Aziz menepuk bahu Fahat yang masih tak rela melepas Putrinya.
Whani pun mengurai pelukannya dan mengusap air mata di pipinya. Dia tersenyum dan mencium tangan papanya lalu mamanya.
"Whani berangkat pa.. ma.. Assalamualaikum.. "
"Waalaikum salam.. " jawab mereka serempak.
"Dini Dina.. jangan nakal.. " Ucap Whani. Merekapun mengangguk salim pada kakaknya dan mengusap ingus masing-masing .
Whani melambai mulai masuk ke mobil, dia akan semobil dengan Reihan dan Diana yang menghantar dengan mobilnya.
Sedang mertuanya dan Amir di mobil satunya dengan supir Fahat.
"Ni.. nanti aktifin terus netnyaya.. walaupun ada papa fahat, aku tetap mau laporan langsung sama kamu.. " Ucap Diana saat merela mulai melaju di jalan.
"Iya Na.. " Jawab Whani sambil menoleh ke suaminya yang terlihat diam dan datar saja.
"Ni.. kalau ada yang cakep kayak bang Rei, bulan depan bungkusin buat gue ya.. " Kelakar Diana.
__ADS_1
Whani membungkukan badannya ke depan setengah berbisik, tapi Reihan tentu mendengarnya .
"Lo kira nasi uduk, di bungkus.. Selera lo bukannya bule.. "
"Gue udah tuker selera, gue mau yang Sholeh kayak bang Rei.. " Diana menatal Rei yang tersenyum dari kaca mobil.
"Lo kena sawan apa.. ? " Whani memegang kening Diana.
"Ihh elo.. gangguin jalan. nanti nabrak gimana.. ?" Diana menghempas tangan Whani dan Whani langsung tertawa.
"Lo ya ... gue ini belum nikah, kalau gue cacat siapa yang mau nerima gue.. " Seru Diana dari depan dengan tetap fokus ke jalan.
"Orang yang tulus mencintai lo.. " Jawaban Whani langsung membuat Reihan menoleh ke arahnya. Sedang Whani menatap luar jendela.
"Ya.. tapi dimana lah mau nyari orang kayak gitu Ni.. yang banyak mah bulus, bukan tulus... " Desi mulai membelokkan mobil ke pintu masuk pelabuhan.
Whani masih menatap luar jendela, menghela nafas panjang.
Gue juga lagi nyari Na,
Nyari orang yang tulus mencintai dan mau menerima gue apa adanya..
Diana memarkir sempurna mobil itu dan mereka segera turun. Reihan membantunya mengangkat kopernya turun lalu Whani mengambil alih dan menyeretnya menuju pintu masuk.
Ke 2 mertuanya tampak menunggu di pintu masuk,
"Sayang oke ke.. Nak Amir tolong bawekan.. ?" Tanya Leha saat melihat menantunya menarik kopernya sendiri.
"Tak apa ma.. Ini ga berat kok.. " Whani tersenyum.
Bersama mereka semua masuk, Di ikuti Diana dan Supir.
"Mane Pasport awak.. ?" Reihan menyodorkan tangannya.
Whani segera membuka tasnya dan memberikanya pada Reihan, Dan Reihan langsung berjalan menuju counter tiket di ikuti Amir.
Ternyata mereka mendapat kapal jam 9 Jadi lah semuanya langsung bersiap Chek-in.
"Gue berangkat ya Na.. " Pamit Whani pada sahabatnya itu.
"Hati-hati ni.. kabar-kabar kalau udah sampai.. " Diana memeluk Whani erat.
"Iya.. " Whani mengurai pelukannya. Dan segera salim pada sopir papanya .
"Pak Amin.. Whani pamit ya. Tolong jaga Papa. . suruh papa kurangi makan bakso.. "
Sang sopir tertawa, "Mana berani saya non.. "
"bilang aja Whani yang suruh, pasti papa nurut.. "
__ADS_1
Diana segera salim pada kedua mertua Whani dan mereka saling melambai sebelum berpisah.