Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Kenapa selalu seperti ini?


__ADS_3

Giska langsung kembali ke kamar Bram, ketika tiba-tiba terdengar suara benturan dari dalam sana. Betapa terkejut nya dia, melihat Bram tengah membenturkan kepala nya di tembok secara berulang-ulang.


"Pak... Jangan seperti ini! cukup, Pak!" Giska menarik tangan Bram, ia berusaha menghentikan kegilaan Bram.


"Kepalaku pusing, rasanya sungguh sakit sekali! aku tidak tahan dengan rasa sakit ini! lebih baik aku mati saja." Bram berontak, ia kembali ingin membenturkan kepalanya.


"Tidak seperti ini caranya, Pak! cukup!"


"Kalau seperti ini, bukan nya sembuh, kepala Bapak malah tambah sakit nanti!" seru Giska.


"Kau tidak ikut merasakan nya, Gis! di sini aku yang merasakan nya!"


"Giska tau, Pak. Bapak harus sabar, tadi kan sudah minum obat, pasti nanti sembuh." Giska mencoba menenangkan Bram.


"Obat itu sama sekali tidak ada khasiat nya! buktinya sekarang kepalaku masih sakit!"


Dewi menghela napas, "Obat memang tidak bisa langsung, Pak. Pasti sembuh, tapi secara bertahap." Giska memberi pengertian.


Giska mencoba memijat Bram, agar Bram bisa tenang dan tak melakukan hal gila lagi. Sebenarnya Giska merasa tidak nyaman seperti ini, ia masih terbayang akan kejadian memilukan itu. Mungkin mulut Giska bisa memaafkan Bram, namun jauh di dalam lubuk hati nya, ia membenci Bram. Namun kembali lagi, rasa benci nya terkadang ia abaikan hanya karena rasa hormat nya pada Bram, terlebih lagi saat Bram sakit seperti ini, ia sungguh tak tega melihat nya.


Hari sudah semakin larut, Giska melihat jam di ponsel nya terlihat sudah pukul 23.30 WIB, Bram juga sudah tertidur, perlu waktu lama agar Bram bisa tertidur lelap seperti ini. Giska pun menarik selembar selimut hingga menutupi sebagian tubuh Bram. Giska pun langsung kembali ke kamar nya, rasa nya ia ingin cepat-cepat istirahat, sejak tadi ia sudah menahan kantuk nya, hingga kedua mata nya berair. Ia pun segera merebahkan tubuh nya di kasur, tak perlu waktu lama ia pun jatuh terlelap ke dalam mimpi nya.


***


Keesokannya, Giska tengah membersihkan rumah nya, sembari menunggu Bram pulang dari dokter. Ya, pagi tadi Giska meminta tolong kepada tetangga yang mempunyai motor, untuk mengatarkan Bram ke dokter.


"Setiap pulang ke rumah, barang-barang terlihat kotor semua, debu dimana-mana. Hmm, mungkin Bapak tidak sempat membersihkan nya." Gumam Giska. Ia pun meneruskan bersih-bersih rumah nya.


Tak lama kemudian, nampak Bram datang dengan di bantu oleh tetangga nya. Giska pun segera menghampirinya, namun ia tak ikut membantu memapah Bram, ia membiarkan tetangga nya yang memapah Bram hingga sampai kamar nya.


"Terimakasih, Mas Heri." Giska menyerahkan uang 20 ribu kepada Heri, sebagai ganti uang bensin.


"Sama-sama, Gis."

__ADS_1


"Bagaimana kata Dokter nya tadi, Mas?" tanya Giska.


"Bapak mu tensi nya tinggi, Gis." Jawab Heri.


"Ohh, pantesan, Bapak merasa pusing, ternyata darah tinggi nya kambuh." Ucap Giska.


"Iya, itu obatnya sudah ada petunjuk nya, Gis." Tutur Heri. Giska mengangguk.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Gis. Semoga cepat sembuh, Om Bram."


"Iya, terimakasih, Her." Sahut Bram dengan suara pelan.


Setelah Heri pergi, Giska membawakan semangkok bubur ke kamar Bram.


"Pak, makan dulu ya, nanti setelah makan obat nya di minum, supaya cepat sembuh." Ucap nya. Bram mengangguk.


˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚


Waktu terus berlalu, hingga tak terasa hari sudah mulai sore, seharian Giska di sibuk kan dengan membersihkan seluruh rumah nya, mencuci pakaian kotor milik Bram, dan ia juga harus mengurus Bram yang masih sakit.


"Sudah sedikit lebih baik, Gis."


"Syukur lah kalau begitu, Pak. Nanti malam obat nya di minum lagi." Tutur Giska.


"Iya."


"Kau sudah mandi, Gis?" tanya Bram.


Giska menggeleng, "Belum, Pak. Sebentar lagi, Giska masih keringetan."


"Ya sudah, kau istirahatlah dulu."


"Iya, Pak." Giska pun pamit pergi ke kamar nya, ia ingin merebahkan tubuh nya sebentar.

__ADS_1


2 jam kemudian


Giska nampak baru bangun dari tidur nya, ia mengerjapkan kedua mata nya, lalu ia membuka kedua bola mata nya secara sempurna.


"Astaga, sudah berapa lama aku tertidur?" Giska langsung mencari ponsel nya, di lihatnya sudah pukul 19.15 WIB, ia pun segera bangkit dari kasur nya, ia mengambil baju ganti lalu ia segera pergi ke kamar mandi.


Meski hari suudah gelap, Giska dengan santai melakukan ritual mandi nya, ia menikmati setiap guyuran air dingin yang membasahi tubuhnya. Saat ia hendak memakai sabun di seluruh tubuh nya, ia menangkap sosok yang berada di luar pintu kamar mandi, ia melihat melalui celah-celah pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu. Dengan cepat ia menutupi tubuhnya dengan handuk, ia memberanikan membuka pintu itu, namun ia tak melihat siapa pun. Namun pandangan nya tak sengaja melihat ad banyangan masuk ke kamar Bram, dengan cepat ia menutup kembali pintu kamar mandi nya, ia pun langsung mengenakan seluruh pakaian nya.


"Kenapa selalu seperti ini? apa salahku?" Giska memeluk tubuhnya sendiri, ia sungguh ketakutan, sampai-sampai ia tak melanjutkan acara mandi nya.


Giska berjalan perlahan melewati kamar Bram, ia melihat Bram tidur meringkuk menghadap tembok, tanpa mengenakan selimut, padahal tadi saat ia hendak mandi, Bram tidur dengan mengenakan selimut double di tubuh nya. Seketika hati Giska mencelos, rasa bencinya kembali menguasai nya, ia benar-benar benci dengan laki-laki yang tengah berbaring itu.


Giska mengutuki kebodohan nya sendiri, ia sungguh menyesal karena ia baru mandi saat hari sudah gelap seperti ini. Karena dinding kamar mandi nya hanya terbuat dari anyaman bambu, apalagi ada lampu penerangan di dalam sana, jadi dengan mudah orang bisa mengintip dari celah-celah anyaman bambu itu.


Giska langsung mematikan seluruh lampu yang meyala di dalam rumah nya, lalu ia segera masuk ke kamar nya. Ia mengambil 2 celana jeans yang lumayan ketat di dalam lemarinya, dan ia langsung memakai ke dua celana jeans itu. Dengan gemetar ia merangkak naik ke kasur nya, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa lampu nya di matikan semua, Gis?" teriak Bram dari dalam kamar nya. Karena kamar mereka bersebelahan, jadi suara Bram terdengar jelas.


"Aku lelah, aku mau istirahat." Jawab Giska datar. Ia tak perduli lagi dengan Bram, entah dia sudah minum obat atau belum, ia sudah tidak perduli.


.


.


.


Bersambung...


Haii, Maaf telat Up, aku lagi di kampung, di sini sinyalnya susah sekali😢😢😢


Terimakasih buat kalian yang masih mau menunggu🙏


Jangan lupa tetap beri dukungannya ya, beri like, komen, dan rate. Jika kalian mau vote juga tidak apa2 hehe.

__ADS_1


Ohhh iya, buat kakak2 Author yang sudah mampir ke sini, aku pasti akan mampir balik ke karya kalian, nanti kalau sinyalku udah bener lagi🙏🙏🙏


__ADS_2