
"Gadis ini adalah istriku. Dan kau sudah salah menuduh istriku." Ucap Bobby, ia pun menarik Giska ke dalam pelukan nya. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung membawa Giska pergi dari sana.
Entah apa yang terjadi selanjutnya dengan wanita serta pria itu. Yang tak habis pikir, bisa-bisa nya wanita itu langsung menuduh Giska. Padahal Giska saja tak mengenal pria itu. Di saat seperti ini, kapal yang terombang ambing karena ombak yang besar, bukan nya lebih banyak berdoa memohon keselamatan, tapi ini malah membuat keributan, mana asal nuduh segala.
"Menyebalkan sekali. Aku tidak mengenal mereka semua, tapi tiba-tiba aku di bilang lon#e." Gerutu Giska dalam hati saat mereka sudah berada jauh dari orang-orang itu tadi.
"Kau tunggulah di sini, Gis. Biar aku kembali ke sana." Tutur Bobby seraya membantu Giska duduk di kursi kosong.
"Untuk apa kesana lagi?" Giska menahan tangan Bobby.
"Biar ku selesaikan semua nya. Aku akan mencari tau motif wanita itu, kenapa bisa menuduhmu seperti itu."
"Sudah tidak perlu, Bli. Biarkan saja."
"Aku tidak bisa menerimanya, Gis! Kau istriku, kau permataku. Dan orang itu sudah menghinamu. Aku akan mencari tau semuanya, tentang siapa wanita itu dan pria itu." Geram Bobby.
"Tidak perlu. Lebih baik kita kembali ke mobil saja. Kepalaku pusing sekali dan perutku juga mual." Ucap Giska seraya memegangi perutnya dengan satu tangan nya, sementara tangan yang satunya masih memegang tangan Bobby.
"Kau pusing dan mual?" Seketika Bobby langsung mendudukkan tubuhnya di samping Giska. Ia pun langsung menarik Giska ke dalam dekapan nya. "Apa kau mabuk laut?" tanya nya kemudian.
"Sepertinya iya." Ombak yang besar, sehingga membuat kapalnya bergoyang-goyang. Di tambah lagi udara malam yang dingin. Angin yang begitu kencang, semua bau penumpang, bau makanan, bau minuman tercampur jadi satu. "Perutku mual sekali, Bli. Bawa aku ke mobil saja." Pinta Giska. Rasanya saat ini ia ingin sekali merebahkan tubuhnya.
"Bahaya jika kita ke mobil, Gis. Ombaknya sungguh besar. Lebih baik kau rebahkan tubuhmu di sini saja, pakai pahaku sebagai bantal."
"Ada orang di samping kita, Bli. Mana bisa aku merebahkan tubuhku." Ucap Giska.
"Kau benar juga, Gis. Kau tahanlah sebentar ya, tetaplah menunduk seperti ini. Tetap tenang berada di pelukanku. Biar aku coba memijat kepalamu, siapa tau bisa mengurangi rasa pusing dan mualmu." Tutur Bobby. Ia nampak cemas sekali dengan keadaan Giska, namun ia bingung harus berbuat apa. Ditambah lagi saat ini mereka tengah berada di tengah lautan.
Sebentar, memangnya kalau kepalanya di pijit, bakal bisa mengurangi mual ya??? Kok aku ngelantur ππππππ
"Adiknya kenapa itu?" tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Bobby dan Giska.
"Istri saya mabuk laut sepertinya, Bu." Jawab Bobby.
"Ohh ini istrinya?" tanya Ibu itu.
"Iya."
"Ini saya punya minyak kayu putih dan juga Antangin. Kasih saja ke istrinya, siapa tau kondisinya menjadi lebih baik." Ibu itu menyerahkan minyak kayu putih kemasan botol kecil, serta Antangin sachet kepada Bobby.
Bobby pun langsung menerimanya tanpa ragu. Saat ini yang ia pikirkan hanyalah kesehatan Giska. Bobby pun langsung meminta Giska untuk meminum Antangin sachet itu, lalu ia mengoleskan minyak kayu putih di pelipis, leher, serta sedikit di hidung Giska. Tak lupa ia juga mengoleskan minyak kayu putih itu ke perut Giska. Setelah itu ia pun kembali mendekap Giska.
"Terimakasih, Bu." Ucap Bobby.
"Iya, sama-sama."
***
__ADS_1
Setengah jam kemudian, nampak kapal sudah mulai sandar. Setelah tadi sempat terombang ambing oleh besarnya ombak di tengah lautan, beruntung kapal bisa sandar dengan selamat dan aman. Semua penumpang pun tak henti-henti nya mengucap syukur karena telah di beri keselamatan oleh Tuhan.
Kini semua penumpang berjalan menuju kendaraan nya masing-masing. Ada yang sabar mengantri, ada juga yang sudah tidak sabar, alhasil mereka berjalan dengan berdesakan dengan penumpang lain nya.
Berbeda dengan Bobby dan Giska, kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Tadi saat kapal hampir sandar, Bobby lebih dulu membawa Giska turun dari lantai atas kapal, menuju lantai bawah, lalu ia pun segera membawa Giska masuk ke dalam mobilnya. Beruntung saat itu ombak sudah tak begitu besar, mungkin karena kapal sudah berada di tepi laut. Jadi Bobby tak merasa khawatir lagi jika berada di dalam mobil.
Saat kapal sudah benar-benar sandar, petugas pun mulai membuka jalan nya kendaraan yang berada di kapal itu. Seluruh penumpang pun satu persatu mulai keluar dari kapal itu menaiki kendaraan nya masing-masing, termasuk Bobby dan Giska juga.
Setelah keluar dari kapal, Giska dan Bobby beserta yang lain nya menjalani pemeriksaan identitas di pos petugas yang akan kita lewati jika ingin meneruskan perjalanan nya. Setelah pemeriksaan selesai, Giska dan Bobby pun kembali melanjutkan perjalanan nya. Kalau jalanan lancar, hanya butuh waktu sekitar 4 jam an mereka bisa sampai di rumah.
"Gis, apa kau masih merasa pusing dan mual?" tanya Bobby.
Giska menoleh, "Sedikit, tapi sudah tidak parah seperti tadi, Bli." Ucap nya.
"Aku rasa kau masuk angin, Gis. Kau tadi hanya makan sedikit saja. Baiklah, kita akan beli makan setelah ini." Ucap Bobby seraya memegang tangan Giska dengan satu tangan nya. Ia pun mengecup punggung tangan Giska, "Sabarlah sebentar ya, Gis."
Giska mengambil ponsel nya, di lihatnya jam pada layar ponsel nya, nampak waktu sudah menunjukkan pukul 03.17 Wita dini hari. "Beli makan di jam ini? Man ada dagang buka, Bli?"
"Pasti ada, Gis. Nanti lihat di pasar-pasar pinggir jalan. Di jam ini semua pasar juga sudah mulai buka, Gis." Tutur Bobby.
"Hmm, tapi aku tidak ingin makan, Bli. Jika boleh aku ingin tidur saja. Mataku sungguh mengantuk sekali."
"Baiklah, kau tidur saja. Rebahkan kursimu, supaya kau nyaman tidur nya. Nanti sampi rumah aku akan membangunkanmu." Tutur Bobby lembut.
Bobby terkekeh, "Apa kau bisa menggantikanku menyetir mobil, jika aku merasa lelah?"
Giska menggeleng, "Aku tidak bisa menyetir. Tapi aku bisa menemani Bli Bobby mengobrol, ya hitung-hitung biar Bli Bobby tidak mengantuk." Ucapnya.
Bobby tersenyum, ia pun kembali mencium punggung tangan Giska. "Kau tidur lah, Sayang. Aku tidak akan mengantuk. Kau tenang saja, ya. Aku tau kau sudah sangat mengantuk. Tidurlah!" Perintah Bobby.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan tidur." Giska pun membenarkan posisi duduknya. Ia pun memilih langsung menghadap ke samping, membelakangi Bobby. Rasa kantuk yang menyerangnya, berhasil membuat Giska tertidur tanpa menunggu waktu yang lama.
Sementara Bobby, ia kembali fokus mengemudikan mobil nya. Saat ia melewati minimarket yang masih buka, ia pun menghentikan mobilnya. Ia turun lalu membeli 2 coffea kemasan botol, untuk membantunya agar ia tak di serang oleh rasa kantuk. Lalu kemudian, ia pun kembali melanjutkan perjalanan nya.
Selama kurang lebih 4 jam Bobby mengendari mobil nya dari pelabuhan Gilimanuk tadi, kini Bobby baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah milik orang tua Bobby. Karena tak tega membangunkan Giska yang tertidur lelap, Bobby pun memilih menggendong Giska, lalu lansung membawanya masuk ke dalam rumah.
"Kau baru datang, Bob? Dija Tia?" tanya Gung De.
(Kau baru datang, Bob? Dimana Tia?
"Iya, Jik. Tia suba mulih malunan, Jik. Suba jumah mungkin jani."
(Iya, Pak. Tia sudah pulang duluan, Pak. Sudah sampai rumah mungkin sekarang)
__ADS_1
"Jam kude ibi berangkat?" tanya Gung De kembali.
(Jam berapa kemarin berangkat?)
"Jam telu asane, Jik."
(Jam tiga sepertinya, Pak)
"Ohh, nah-nah, ajak kuren cai ke kamar." Titah Gung De.
(Oh, ya ya, ajak istrimu ke kamar)
"Iya, Jik."
"Tiang pamit ke kamar dumun, Jik. Kal istirahat malu." Pamit Bobby.
(Aku pamit ke kamar dulu, Pak. Mau istirahat dulu)
"Nah."
(Ya)
"Menantu keduaku." Batin Gung De.
***
Siang harinya, Giska nampak baru saja membuka kedua matanya.Perlahan ia menyesuiakan pandangan nya, ia tak melihat ada siapapun di dalam ruangan itu. Giska pun beranjak duduk.
"Dimana ini? Kamar siapa ini?" Giska menatap sekelilinya. Giska menatap ruangan itu bingung. Pasalnya ini bukan kamar nya yang biasa ia tempati di perumahan itu.
"Gis, kau sudah bangun?" Bobby tiba-tiba masuk ke kamar.
"Iya, ini dimana, Bli? Kamar siapa ini?"
"Ini kamarku, sekarang kita berada di rumah orang tuaku, yang tak lain adalah mertuamu." Jawab Bobby santai.
"Apa?" Giska reflek teriak.
"Ba-bagaimana...?"
.
.
.
Bersambung...
Maaf ya telat muluπ
__ADS_1
Maaf juga terlambat buat feedback ke lapak kakak2 authorπ