
Beberapa saat yang lalu.
Bobby duduk diam di kamar nya, ia merenungkan semua ucapan yang ia lontarkan kepada Giska, siang tadi. Ia berpikir tentang masa lalu Giska, yang menurutnya tidak baik sama sekali. Entah kenapa, meskipun ia baru mengenal Giska, ia merasa kesal saat membayangkan apa yang Giska lakukan bersama pria lain di masa lalu nya.
Bobby menyadari jika ia sudah keterlaluan, terhadap Giska. Ia juga sadar, seharusnya ia tak mempermasalahkan masa lalu Giska. Mau bagaimana pun, itu sudah menjadi masa lalu. Yang terpenting saat ini adalah masa depan. Yang harusnya ia lakukan adalah membuat Giska tak terjerumus kembali ke dalam pekerjaan kotor itu.
***
"Apa aku tidak boleh kesini? aku ini masih suami mu, lho!"
"Dan ya, aku minta maaf soal tadi siang. Tidak seharusnya aku mengungkit masa lalu mu, dan bicara buruk kepadamu." Ucap Bobby.
"Ini bukan masalah mengungkit, Bli! Tapi, Bli Bobby sudah meremehkan pekerjaan ku, dulu. Apa salah nya sih bekerja di warung bakso?" kesal Giska.
"Warung bakso?" Bobby menatap Giska bingung.
"Ya, warung bakso. Itu kan, yang kita bahas tadi!"
"Kok warung bakso?"
"Lah, kan memang sebelum kita menikah, aku kerja di warung bakso. Bli Bobby juga sering makan di sana, kan?"
"Bukan itu yang ku bicarakan tadi, Gis. Yang ku maksud adalah pekerjaan mu, saat kau masih di Surabaya." Jelas Bobby.
"Ohhh... Waktu di Surabaya. Aku kerja jadi pembantu. Pasti Bli Bobby mau menghina lagi kan?"
"Pembantu?" Bobby semakin bingung dengan Giska.
"Iya, pembantu. Kenapa? Mau bilang kalau ini pekerjaan rendahan? atau mau bilang, hanya karena ingin mendapat uang, sampai rela menjadi pembantu. Begitu?" sindir Giska.
"Bukan. Kau salah paham, Gis. Aku tidak pernah membedakan status seseorang dari pekerjaan nya. Asalkan, pekerjaan itu benar. Bukan pekerjaan yang tidak benar." Jelas Bobby.
"Lalu, tadi siang apa?" Giska masih kesal.
"Kau ini mengerti ucapanku atau tidak sih? aku bilang, kau hanya salah paham. Bukan pekerjaan itu yang ku maksud!"
"Terus? maksud nya apa sih? kenapa tidak mengatakan secara langsung saja. Apa maksud nya. Jangan bicara setengah-setengah seperti ini. Aku kan bingung jadi nya." Giska bertambah kesal.
"Jual diri. Itu yang ku biacarakan sejak tadii.
__ADS_1
"Bli Bobby menganggap aku menjual diri? jahat sekali! Asal Bli tau saja, aku memang orang miskin, aku memang perlu uang yang banyak. Tapi, aku juga tidak segila itu!" seru Giska.
"Bagaimana dia bisa berpikir aku menjual diri? Sementara berdekatan dengan pria saja, aku sudah ketakutan." Batin Giska.
"Pantas saja dia menghinaku seperti itu, dia salah paham padaku. Dia mengira aku pernah jual diri." Batinnya kembali.
"Sebentar, kau sendiri kan yang mengakuinya di malam pernikahan kita?" Bobby semakin bingung. Sebenarnya mana yang benar.
"Ya, saat itu aku kesal dengan Bli Bobby."
"Itu artinya, kau tak pernah menjual diri?"
Giska menggeleng, "Jual diri tidak pernah, kalau jualan bakso, baru pernah." Jawab Giska dengan polosnya.
Bobby pun langsung berhambur memeluk Giska. Ucapan terimakasih pun berulang kali keluar dari bibir Bobby. Meskipun sebenar nya, masih ada 1 pertanyaan yang mengganjal di hati Bobby. Namun, ia tak ingin menanyakan sekarang, karena ia tak ingin membuat Giska semakin kesal.
***
"Gis, maafkan aku ya. Karena sudah salah paham padamu. Harusnya aku mencari tau kebenaran nya dulu, sebelum aku memarahimu." Ucap tulus Bobby.
Giska pun menoleh, lalu ia menatap Bobby sekilas. "Iya." Jawab nya singkat.
"Kau sudah memaafkanku, kan?" Bobby melingkarkan tangan nya di perut rata Giska. Ya, saat ini mereka berdua berada di atas ranjang.
"Jawab yang benar dong, Gis. Jangan hamm hemm hamm hemm, saja!" kesal Bobby. Ia pun semakin mempererat pelukan nya.
"Iya, iya. Jangan terlalu erat memelukku!"
"Bisa bahaya nanti kalau dia sedekat ini, bisa-bisa dia menerkamku lagi." Batin Giska, was-was.
Bobby terkekeh pelan, ia menyadari jika Giska merasa gugup dan was-was.
"Kau tenang saja. Malam ini kau akan aman." Ucap Bobby.
"Syukur deh kalau begitu." Giska merasa lega.
"Bli..."
"Apa."
__ADS_1
"Kenapa setiap malam Bli Bobby selalu menginap di sini? Apa istri Bli Bobby tidak marah kalah Bli Bobby terus menginap di sini?" Giska menggigit bibir bawah nya.
"Kau kan istriku. Kau marah, tidak? jika aku menginap di sini?"
"Maksud ku, istri pertama Bli Bobby." Giska meluruskan.
"Sudah tidurlah! jangan banyak bicara lagi! atau kau mau malam ini tidak jadi aman?" bukannya menjawab Giska, Bobby malah menakut-nakuti Giska.
"Iya, iya, aku tidur." Giska pun terpaksa menurut. Ia harus memendam rasa penasaran nya, karena Bobby tak mau menjawab nya. Karena merasa kesal, Giska pun tidur membelakangi Bobby.
"Apa aku sudah tidak adil ya kepada Tia?" batin Bobby.
Flashback On.
Beberapa saat yang lalu, saat Bobby akan pergi ke tempat Giska. Tia sempat meminta nya untuk tak pergi. Tia ingin Bobby tetap di rumah bersama nya dan menghabiskan waktu bersama nya. Dengan segala pertimbangan, Bobby pun mau menuruti nya, Bobby pun membatalkan niatnya untuk pergi ke tempat Giska.
Bobby yang melihat kesedihan di mata Tia, ia merasa bersalah, karena selama beberapa hari ini sudah sangat mengabaikan nya. Bagaimanapun juga Tia adalah wanita yang sudah hidup bersama nya selama hampir 6 tahun, ini.
"Kau dengar tadi apa yang Ibu katakan, Pa! Ibu ingin memiliki cucu dari kita. Bagaimana aku bisa hamil, jika kau tak pernah membuang benihmu ke dalam rahim ku." Ucap Tia.
"Ya, kau benar. Aku lah yang bersalah di sini. Aku yang lemah. Maafkan aku, karena aku belum bisa membuatmu hamil."
"Kau tidak perlu minta maaf, Pa. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah, ceraikan wanita itu. Dan aku akan mencari dokter yang hebat, untuk menyembuhkanmu." Tia menggenggam tangan Bobby. Ia menatap Bobby penuh harap.
"Aku tidak bisa melakukan nya. Apa kau lupa dengan kesepakatan kita?" tolak Bobby.
Berawal dari kekesalan Tia terhadap Bobby, karena Bobby tak pernah bisa menyelesaikan nya saat mereka tengah berhubungan, Tia pun meremehkan Bobby. Wanita mana yang bisa tahan, jika suaminya tidak bisa memberi kepuasan. Carilah wanita lain, jika ada yang bisa tahan dengan semua itu, itulah ucapan Tia yang secara tak langsung menantang Bobby.
Kesepakatan yang Bobby maksud adalah, kesepakatan antara Bobby dan Tia, yang isi nya, Bobby meminta persetujuan dari Tia untuk menikahi Giska, dengan dalih, Bobby bisa tidur dengan Giska, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak sakit. Meskipun itu hanya alasan Bobby saja. Tia pun mau menyetujui nya, dengan syarat, jika Bobby bisa menuntaskan nya bersama Giska, Tia meminta Bobby meninggalkan Giska, karena Tia menganggap bahwa Bobby telah sembuh. Intinya, Tia hanya menganggap Giska sebagai percobaan untuk suami nya.
"Lupakan kesepakatan itu! aku tau, kau tidak bisa melakukan itu dengan nya, kan, Pa? jadi untuk apa kau mempertahankan dia." Tia berucap dengan santai nya.
Tanpa menjawab apapun, Bobby langsung pergi meninggalkan Tia di kamar. Entah kenapa ia merasa kesal jika Tia memintanya untuk meninggalkan Giska.
Flashback Off.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....