
Bobby menggendong Giska, hendak membawanya ke rumah sakit. Ia bahkan melewati Trias begitu saja yang duduk di ruang tamu.
"Bli, mau kemana? Kenapa dengan Giska?" Trias beranjak berdiri, lalu bertanya.
"Ke rumah sakit," jawab Bobby singkat.
"Saya ikut." Trias langsung mengikuti Bobby sampai ke mobil.
"Saya ikut ya, Bli. Saya juga mencemaskan Giska," pinta Trias.
"Ya cepatlah masuk ke mobil!"
"Iya." Trias pun segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang.
"Jangan bicara apapun atau aku akan melemparmu keluar dari mobilku!" seru Bobby saat ia hendak melajukan mobilnya.
"Baik." Trias pun menurut. Ia paham, sebenarnya Bobby tak begitu suka padanya. Itu terlihat semenjak dua bulan terakhir ini. Ia merasa Bobby selalu sinis jika menatapnya.
Itu benar, sejak awal Bobby memang tak pernah menyukai Trias. Apalagi mengetahui pekerjaannya yang seperti itu, ditambah lagi sekarang dia hamil dan akhirnya Giska yang harus mengurus anaknya nanti.
Meski Bobby pernah mengatakan setuju untuk hal ini, tetapi sebenarnya ia sam sekali tidak setuju. Ia mengatakan setuju hanya karena menghormati Giska saja, sekaligus untuk membuat Giska senang.
Bobby pikir selama berjalannya waktu, Giska akan sadar dan melupakan bayi Trias yang akan dia adopsi, tetapi ternyata tidak. Semakin hari Giska justru semakin semangat dan tak sabar menunggu bayi itu lahir.
Beberapa menit kemudian...
Tibalah Bobby di rumah sakit. Ia langsung menggendong Giska dan segera memanggil dokter. Saking cemasnya ia akan kondisi Gisja, ia sampai lupa menunggu Trias. Entah dia sudah turun dari mobil ataukah belum saat ini.
"Pak, silahkan menunggu diluar. Saya akan memeriksa istri anda." Dokter meminta Bobby keluar dari ruang UGD.
Bobby baru saja akan protes, tetapi melihat wajah Giska, ia mengurungkan aksi protesnya. Ia pun memilih segera keluar dari sana agar Giska segera ditangani oleh dokter.
Bobby berjalan kesana kemari di luar UGD. Sesekali ia menatap pintu UGD itu, barangkali Dokter sudah keluar.
"Mengapa lama sekali? Apa yang terjadi dengan Giska sebenarnya?" gumam Bobby cemas. Ia terus saja mondar-mandir seperti setrikaan baju.
Pada saat Bobby mondar-mandir, ia tak sengaja berpapasan dengan wanita hamil yang baru saja lewat di depannya. Seketika ia pun teringat pada Trias. Karena Trias juga sedang hamil.
"Dimana gadis itu? Apa dia masih di mobil?" pikirnya.
"Biarkan saja lah. Dia kan sudah besar. Dia pasti tau jalan. Biarkan saja dia pergi sesuka hatinya. Justru semakin bagus jika memang dia pergi," gumamnya.
"Aduhhh!" Diparkiran mobil, Trias berteriak memekik kesakitan seraya memegangi perutnya yang sudah membuncit besar itu.
Trias menangis, menahan sakit seraya tangannya memegangi perutnya. Ia ingin berjalan tetapi tidak kuat. Entah mengapa tiba-tiba saja perutnya menjadi kram dan sakit seperti ini.
Trias ingin menyusul Giska dan Bobby, tetapi ia tidak kuat berjalan. Andai saja ia tak menjawab telpon tadi, mungkin saja ini tidak akan terjadi. Mungkin saat ini ia sudah bersama Giska dan Bobby.
__ADS_1
Beberapa menit lalu. Trias lebih memilih menjawab telpon daripada menyusul Bobby dan Giska. Awalnya ia biasa saja, tetapi saat panggilan telpon sudah berakhir, tiba-tiba saja perutnya terasa kram, mulas atau apalah. Ia sendiri tak paham rasanya. Tapi yang pasti ini terasa sangat sakit.
"Kenapa, Mbak?" Seseorang menghampiri Trias.
"Mas, tolong saya. Perut saya sakit sekali. Saya tidak kuat berjalan." Trias merintih, memekik kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Biar saya bantu, Mbak." Pria itu pun langsung menggendong Trias, lalu membawanya masuk ke rumah sakit. Saat bertemu petugas rumah sakit, pria itu langsung diminta membawa Trias ke ruang bersalin.
Sesampainya di sana. Staff sekaligus bidan di rumah sakit langsung memeriksa Trias. Namun sebelum memeriksa Trias, ia lebih dulu bertanya pada pria yang menolong Trias.
"Anda suaminya?"
"Bukan. Saya tadi melihat Mbak itu kesakitan di parkiran rumah sakit. Jadi saya membantunya ke sini."
"Kalau begitu anda silahkan keluar, Pak. Tunggu di luar, tapi jangan pergi kemana-mana dulu. Tetap di luar saja."
"Baik."
Setelah pria itu keluar, bidan itu pun langsung memakai sarung tangan di kedua tangannya, lalu setelah itu barulah ia memeriksa Trias.
Kebetulan juga Trias hanya memakai daster, jadi bidan tak kesulitan saat ingin memeriksa bagian bawah Trias. Hanya perlu melepas ****** ***** Trias saja.
"Kenapa ****** ***** saya dilepas?" Trias memrotes.
"Iya, supaya gampang diperiksa." Bidan itu langsung memeriksa bagian bawa Trias.
"Ini sudah bukaan 7," ucap bidan itu.
"Apa?" Trias menyahut.
"Sudah waktunya lahiran, Mbak. Hanya menunggu sampai bukaan 10 saja," jelas bidan itu.
"Lho tapi kandungan saya masih 7 bulan, Bu. Bagaimana bisa saya melahirkan?" Trias seketika bingung.
"Jadi masih 7 bulan?"
"Iya."
"Anda tadi kesini bersama siapa? Suaminya dimana?" tanya bidan itu.
"Saya tadi bersama teman dan suaminya, Bu," jawab Trias.
"Bisa dihubungi temannya? Atau kalau bisa suami anda. Minta dia segera datang ke sini," tutur bidan itu.
"Baik."
Setelah itu bidan meminta staffnya untuk memasangkan infus pada Trias. Lalu ia kembali menemui pria yang sudah membawa Trias tadi.
__ADS_1
"Anda boleh pergi, Pak. Karena Mbaknya tadi akan menghubungi keluarganya."
***
Di UGD.
Sudah hampir 30 menit Bobby menunggu Giska, akhirnya Dinar sadar juga.
Giska mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu. Lalu pandangannya terhenti pada Bobby.
"Kenapa membawaku ke sini?" tanyanya.
"Kau pingsan tadi, Gis."
"Pingsan?"
"Iya. Dokter sudah memeriksamu tadi. Kita harus menunggu hasil lab atas pemeriksaanmu tadi," ujar Bobby.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Bagaimana bisa sampais sakit perut seperti itu?" tanya Bobby kemudian.
"Aku juga tidak tau, Bli. Aku tadi bisa mengobrol bisa dengan Trias. Tapi tiba-tiba saja perutku mulas sekali. Entahlah rasanya aneh," jawab Giska.
"Mungkin kau ada salah makan sesuatu?"
"Tidak ada. Aku makan seperti biasa saja."
"Permisi..." Dokter kembali masuk ke ruang UGD, menghampiri Giska dan Bobby. Di tangannya tampak sebuah kertas, sepertinya itu laporan kesehatan Dinar.
"Hasil laporan sudah keluar, Pak. Seperti dugaan saya, bahwa istri anda ini..."
"Maaf, sebentar." Giska memotong kalimat yang hendak dokter katakan. Dokter pun tak menunda melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa?" tanya Bobby.
"Trias menelponku, Bli." Giska mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
"Biarkan saja dia." Bobby ingin mengambil ponsel itu, namun Giska sudah lebih dulu menjawab telpon itu.
"Hallo, Tri? Ada apa?"
"Haaa? Iya-iya baiklah." Panggilan berakhir. Giska berubah menjadi panik setelah panggilan itu berakhir. Ia beranjak bangun dari ranjang pembaringannya.
"Ada apa?" Bobby ikut cemas melihat istrinya cemas.
"Trias mau melahirkan, Bli. Aku harus ke sana." Tanpa menunggu persetejuan Bobby, Giska langsung berjalan keluar dari sana.
"Tunggu!"
__ADS_1
Bersambung....