Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Akhir kisah dan menjadi awal perjalanan


__ADS_3

"Sekarang katakan, Gis! Dimana letak kesalahanku untuk hal ini?" tanya Bobby, setelah ia mengutarakan semua nya kepada Giska. Giska adalah orang ke 2 yang ia beritahu tentang keadaan hati nya selama ini. Setelah ia memberitahu semua kepada Tia, pagi tadi.


"Tatap aku, Gis. Apa setelah mendengar semua ini, kau tetap ingin meninggalkanku?" Bobby menatap Giska dengan kedua mata nya yang memerah.


"Aku tidak mengerti semua ini. Aku masih ragu untuk percaya semua yang Bli Bobby katakan." Jawab Giska.


"Sekali saja, dengarkan kata hatimu, Gis. Apa kau pikir aku bisa mengarang semua cerita itu? Apa kau tidak bisa melihat keseriusanku?" Bobby berucap pelan. "Tatap mataku! Lihatlah, apa ada kebohongan di mataku?" pinta Bobby kemudian.


"Aku mengerti satu hal, Bli Bobby sangatlah mencintai Bu Tia. Cinta kalian begitu besar. Ini lah yang coba ku jelaskan sejak tadi, Bli. Ceraikan aku dan perbaikilah hubungan kalian kembali."


"Kau mulai lagi, Gis. Kau benar-benar tak bisa memahamiku." raut wajah Bobby kecewa.


"Bli Bobby sendiri yang mengatakan, selama ini Bli Bobby menutupi semua itu karena ingin mempertahankan pernikahan kalian, bukan? Dan Bu Tia juga, meskipun dia memiliki pria lain, tapi dia masih tetap bersama Bli Bobby, sampai saat ini. Bukankah itu artinya, kalian memiliki cinta yang begitu besar, dan kalian berdua tidak ingin berpisah satu sama lain. Bli Bobby jangan menghancurkan usaha yang sudah Bli Bobby lakukan selama ini, hanya demi diriku." Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Giska. Entah darimana ia mendapatkan kata-kata itu, pasalnya dia sendiri belum pernah mengenal cinta. Selama ini ia hidup di bawah bayang-bayang masa lalu kelam yang membuatnya tidak ingin berdekatan dengan pria.


Helaan napas terhembus kasar dari mulut Bobby. "Kau masih sangat muda, Gis. Kau tidak mengerti apa yang ku rasakan. Di dalam rumah tangga, tidak boleh mengambil keputusan sepihak seperti ini. Kita harus bicara dari hati ke hati, dan mencari solusi yang terbaik, untuk rumah tangga kita. Tidak akan ada suami yang langsung menyetujui permintaan istrinya, yang menginginkan perpisahan. Apalagi tanpa di dasari oleh alasan yang jelas. Begitupun dengan kita, kau tidak bisa berpikir seperti itu. Aku suami mu, dan aku berhak menentang keinginanmu itu. Bahkan, di pengadilan pun, hakim tak akan mengabulkan perpisahan, jika tidak ada alasan yang kuat, apalagi salah satu di antara suami istri itu tidak ingin ada perpisahan." Tegas Bobby.


"Baiklah, kalau begitu, lakukan hal yang sama dengan Bu Tia. Duduk dan bicaralah baik-baik dengan nya. Carilah solusi yang baik untuk kalian berdua. Bli Bobby tidak bisa mengabaikan Bu Tia seperti tadi. Aku bisa melihat, tadi Bu Tia sangat terluka. Aku yakin Bu Tia ingin memperbaiki kesalahan nya." Giska membalikkan ucapan Bobby.


"Ya, aku memang akan melakukan nya, Gis. Aku sudah mengatakan pada nya, kita akan menyelesaikan semua nya di rumah. Sekarang yang ku minta darimu, kau jangan lagi bicara tentang perpisahan kita. Aku akan menyelesaikan semua nya." Bobby menggenggam tangan Giska.


"Maafkan aku, karena aku terpaksa menceritakan tentang Tia kepadamu. Itu semua ku lakukan karena aku tidak ingin kau pergi dariku. Mungkin, aku masih baru mengenal mu, tetapi perasaan ku ingin, aku bisa membahagiakan mu. Aku ingin menjadi pria yang bisa menjagamu sampai kapanpun itu. Maafkan aku, jika sikap ku ini membuat hatimu terluka. Tapi percayalah, sebenarnya aku tidak ingin membahas wanita lain di depanmu, kalau saja tidak dalam situsai seperti ini. Aku tau, semua wanita tidak akan suka jika suami nya membahas wanita lain di depan nya. Aku benar-benar minta maaf." ucapan tulus dari hati Bobby, ia sampaikan dengan penuh harap, Giska akan memaafkan nya.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti itu, Bli. Aku lah yang ingin mendengar semua nya. Lagipula Bu Tia bukan orang lain di sini. Aku tidak berhak marah untuk hal ini. Sekarang, Bli Bobby pulanglah, selesaikan ini bersama Bu Tia." pinta Giska.


"Aku akan pulang, nanti. Biarkan aku di sini bersamamu, Gis."


"Aku tidak ingin masalah kalian semakin melebar, Bli. Pulanglah dan selesaikan semua nya. Aku yakin, saat ini Bu Tia pasti sudah menunggu di rumah." Pinta Giska.


"Baiklah, aku akan pulang. Kenapa kau bisa jadi bijak seperti ini, Gis? Aku tidak yakin, wanita yang bersamaku saat ini adalah Giska, si gadis kecil pemalu dan penakut, yang ku kenal." Canda Bobby. Ia pun mencubit gemas kedua pipi Giska.


"Hmmm... Sudah sana Bli Bobby, pulanglah!"


"Aku juga tidak tau, kenapa aku bisa seberani ini dengan Bli Bobby." Lirih Giska dalam hatinya.


"Baiklah, Gis. Aku pulang ya. Kau baik-baik di rumah, ya. Nanti malam aku akan kesini." tutur Bobby, seraya mengusap lembut puncak kepala Giska.


"Ya, ya, Gis. Sudah jangan banyak bicara lagi. Aku pulang sekarang."


"I love you, Sayang..." Ucap Bobby setelah ia mendaratkan kecupan manis di kening Giska.


Giska hanya diam, ia tak menjawab ucapan manis dari Bobby. Ia hanya menatap Bobby sekilas, lalu ia memilih menatap ke arah lain.


Melihat Giska hanya diam saja tak membalas ucapan cinta nya, Bobby hanya bisa tersenyum. Ia juga tak bisa memaksa Giska untuk langsung menerima cinta nya. Ia sadar betul, ia masih menjadi orang asing di mata Giska. Namun, satu hal yang ia yakini, suatu saat nanti ia pasti bisa memenangkan hati Giska dan membuat Giska membalas perasaan nya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih ingin di sini bersamamu, Gis. Tetapi, sayang nya aku harus segera pulang dan segera menyelesaikan urusanku dengan Tia." Lirih Bobby dalam hati nya. Bobby pun melangkah keluar dari rumah Giska. Sesampainya di depan rumah, ia segera masuk ke dalam mobil nya, dan langsung melajukan nya.


***


"Giska, Giska... Jika orang lain di posisi mu. Pasti dia akan senang jika melihatku bertengkar dengan Tia, istri pertamaku, dan dia juga akan mengambil keuntungan dari pertengkaran ini. Tapi, kau malah ingin pergi, supaya aku dan Tia bisa kembali bersama. Kau adalah gadis yang berbeda, Gis. Tidak salah aku jatuh cinta kepada mu, Gis." Gumam-gumam Bobby. Sembari ia mengemudikan mobil nya.


"Sebenarnya, tidak perlu lagi untuk membicarakan ini dengan Tia. Karena semua itu percuma saja, Tia tetap tidak akan bisa mengahargai seseorang. Dia tidak pernah bisa berubah sampai kapan pun. Selama ini aku sudah berulang kali memperingatkan nya, tetapi, dia masih saja melakukan nya." Bobby tersenyum miris.


Mungkin semua orang berpikir, jika Bobby ingin mempertahankan rumah tangga nya dengan Tia, kenapa ia tak langsung menegur Tia, agar Tia bisa tau kesalahan nya. Selama ini Bobby memang sengaja bungkam, namun sebenarnya, Bobby selalu memperingatkan Tia, melalui pesan-pesan yang ia kirimkan ke ponsel Tia. Ia pikir, dengan cara seperti itu, Tia akan takut dan mengakhiri kegilaan nya. Namun ternyata, semua yang ia pikirkan tidaklah terjadi. Bukan nya Tia sadar, Tia malah mengabaikan pesan-pesan yang selalu Bobby kirimkan.


Setiap orang pasti mempunyai cara sendiri-sendiri, untuk menangani masalah kehidupan rumah tangga nya. Ada yang langsung menegur secara langsung, ada juga yang memilih memakai cara seperti yang Bobby lakukan. Apapun itu caranya, pasti mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk kebaikan.


Kini kesempatan yang Bobby berikan kepada Tia sudah habis. Kesabaran nya pun telah habis. Bobby memutuskan untuk berpisah dari Tia. Ia berharap, Tia akan menemukan pria yang ia inginkan, yang akan menjadi cinta sejati nya. Kini ia hanya tinggal menunggu pengacara nya membawa berkas-berkas perceraian nya. Ya, pagi tadi, Bobby sudah menghubungi pengacara nya untuk mengurus perceraian nya dengan Tia. Mungkin inilah akhir kisahnya bersama Tia, dan menjadi awal perjalanan nya bersama Giska.


Beberapa menit kemudian.


Sampailah Bobby di rumah nya. Saat ia hendak memarkirkan mobil nya, ia melihat mobil kedua orang tua nya sudah terparkir di sana. Bobby pun langsung turun dari mobil nya. Ia melangkah masuk ke rumah, langkah nya terhenti, saat ia melihat Ajik nya tengah menunggu nya di depan pintu.


"Ajik di sini?"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2