
Ilustrasi. Bayangin saja itu gambarnya malam ya😁
"Hooaammmm..." Giska menguap lebar. Ia baru saja terbangun. Ya, Giska tertidur di mobil, selama perjalanan tadi.
"Apa kita sudah sampai?" tanyanya seraya tangannya mengucek kedua bola matanya.
"Kok sudah bangun... Baru saja mau ku gendong, Gis." Ucap Bobby.
"Emmm, aku jalan sendiri saja. Sudah sampai kah?" tanyanya lagi.
"Sudah."
"Ya sudah, ayo kita turun, terus masuk ke rumah." Giska pun membuka pintu mobil, lalu ia pun melangkah turun dari mobil. Matanya membulat lebar saat melihat sekelilingnya.
"Lho.... Kita dimana, Bli?" Tanya Giska. Ia terkejut saat menyadari ini bukan di perumahan yang ia tinggali.
"Kita di Villa, Gis."
"Villanya siapa? Dan untuk apa kesini?" tanya Giska.
"Villanya orang. Ya, anggap saja ini bulan madu kecil-kecilan." Ucap Bobby.
"Bulan madu? Bli Bobby tidak salah?"
"Tidak lah. Kenapa? Apa kau tidak menyukai tempatnya? Apa kau kecewa karena aku mengajakmu bulan madu di sini. Di kota kita sendiri?" Tebak Bobby.
"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak enak saja dengan Bu Tia. Masa iya kita pergi berdua saja." Jawab Giska.
"Duhhh, kau ini Gis! Tia lagi, Tia lagi, yang kau pikirin. Kau jangan khawatir, nanti aku akan mengajak dia juga. Tapi giliran, tidak lucu kalau kita bulan madu bertiga, Gis." Bobby terkekeh.
"Ya, ya, terserah Bli Bobby saja."
"Ya sudah, ayo masuk!" Bobby pun menggandeng Giska masuk ke dalam.
Karena hari sudah malam, Giska dan Bobby pun memutuskan untuk langsung istirahat di kamar.
__ADS_1
_____________
Di tempat lain.
Tia juga tengah bersama pasangannya. Pasangan yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Pasangan yang selalu ia cari di saat ia tengah merasa kesepian. Pasangan yang selalu ada, setiap saat ia butuhkan.
"Roy... Apa kau tak rindu padaku?" Tanya Tia, seraya tangannya membelai manja dada bidang Roy.
Saat ini mereka berdua sedang duduk di sofa kamar tamu, di rumahnya. Ini adalah kali pertama Tia membawa Roy masuk ke dalam rumah yang ia tinggali bersama Bobby.
"Aku selalu merindukanmu, Tia."
"Bohong! Kau bohong, Roy!" Tia memukul dada Roy pelan. Ia pun memanyunkan bibirnya.
"Tak ada waktu sedetik pun yang ku lewatkan tanpa merindukanmu, Sayang." Kata Roy, mengusap lembut lengan Tia. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau kau benar merindukanku, kenapa sejak tadi kau diam saja? Kau tak mau bermain-main denganku seperti biasanya?!" Kesal Tia. Sudah berjam-jam mereka bertemu, tapi sampai saat ini keduanya hanya duduk-duduk di sofa saja. Tidak ada tindakan lebih, seperti biasanya.
Roy terkekeh melihat Tia kesal seperti ini. "Sayang... Rindu bukan selalu tentang ingin bermain di atas ranjang saja." Tutur Roy.
"Ahhhh munafik!" Celetuk Tia kesal. Ia pun beranjak bangun dari sofa.
"Pergilah, Roy! Percuma kai ada di sini." Ucap Tia, memalingkan wajahnya.
Roy pun langsung mendekap tubuh Tia. "Apa kau kesal karena kita belum melakukan itu?" Tanyanya pelan.
"Tentu saja aku kesal. Aku sangat merindukanmu itu sebabnya aku memintamu datang ke rumahku. Tapi kau malah seperti ini." Ujar Tia masih dengan ekspresi kesalnya.
"Aku sudah datang kesini, kan? Aku juga sudah bersamamu sekarang. Apa kau tidak merasa senang?" tanya Roy.
"Hmm." Tia hanya berdehem.
"Apa kau hanya membutuhkanku untuk bercinta saja?"
"Ya, untuk apa lagi kalau bukan untuk bercinta." Ucap Tia enteng.
"Aku tidak ingin seperti ini lagi Tia." Ucap Roy seraya melepas pelukannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kau tidak mau menjadi patner s#x ku lagi?" Tanya Tia.
"Kau sudah tau jawabannya, Tia. Aku sarankan, berhentilah bermain gila seperti ini." Ucap Roy.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau sudah bosan bermain denganku? Apa goyanganku sudah tidak hot lagi?" Tanya Tia sedih.
"Bukan itu. Aku hanya ingin kau kembali pada suamimu. Setialah padanya." Tutur Roy.
"Aku pasti akan kembali bersama Bobby. Aku pasti akan setia padanya. Tapi, setelah dia bisa membahagiakanku, seperti kau membahagiakanku. Aku akan berhenti mencari kepuasan di luaran, saat dia sudah bisa memberi kepuasan untukku." Ucap Tia tanpa beban. Ia tak sadar, jika ucapannya itu semakin membuat Roy sakit dan kecewa. Pasalnya keberadaan Roy yang tidak begitu penting, sangatlah terlihat.
"Sudahlah, Roy. Kau jangan naif. Aku membutuhkanmu karena kau bisa memberiku kepuasan. Dan aku juga selalu memenuhi semua kebutuhanmu. Aku selalu memberimu uang, kan. Anggap saja hubungan kita ini adalah simbiosis mutualisme. Sama-sama untung, kan." Ujar Tia.
"Tia..." Roy memegang kedua bahu Tia. "Kau tau betul bagaimana perasaanku padamu. Aku mencintaimu sejak dulu. Dulu saat kau menolak ajakanku, untuk menikah, aku memutuskan untuk pergi jauh dari hidupmu, agar aku bisa melupakanmu. Tapi sepertinya Tuhan ingin aku bisa kembali bertemu dengamu. Ya, setelah 2 tahun aku menjauh, malam itu kita kembali bertemu lagi. Saat itu aku sakit hati, saat mengetahui kau sudah menikah. Aku pikir kau tidak akan mau menikah secepat ini. Tapi ternyata aku salah, mungkin, ini juga salahku, karena dulu aku tidak memiliki harta yang cukup banyak, untuk membuatmu mau menerimaku. Bahkan sekarang pun aku masih tak memilikinya. Aku sadar, meski aku mencintaimu, tapi kau tidak bisa jadi milikku. Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, saja." Roy menjeda ucapannya sejenak, lalu ia kembali bicara.
"Satu hal yang tidak ku mengerti, kenapa semakin aku ingin melupakanmu, tapi rasa itu malah semakin tumbuh. Mungkin mulutku berkata, aku harus melupakanmu, tapi hatiku ingin aku bisa memilikimu. Sampai di malam itu, saat kau tiba-tiba mengajakku untuk berselingkuh, aku pun langsung mengiyakannya tanpa bertanya padamu, apa alasanmu ingin menduakan suamimu. Saat itu yang aku pikirkan hanyalah, aku bisa memilikimu. Meskipun dengan cara seperti ini, setidaknya aku bisa memilikimu. Aku pikir, mungkin suatu hari nanti aku bisa merebutmu dari suamimu. Kau akan meninggalkan suamimu, lalu menikah denganku."
"Tapi ternyata setelah 2 tahun kita bermain gila, kau masih tidak bisa meninggalkan suamimu. Bahkan kau hanya menganggapku sebagai patner s#x mu saja. Aku sama sekali tak ada di dalam hatimu. Yang kau ingat tentang diriku hanyalah kehangatan dan tusukan nikmat saja."
"Jadi, setelah ku pikir-pikir, untuk apa aku terus seperti ini. Sampai kapan aku menjalin hubungan seperti ini? Setiap orang pasti ingin menikah dan memiliki keluarga yang utuh. Aku pun sama. Aku ingin menikah dan mempunyai anak. Jika aku masih berhubungan denganmu, aku tidak akan bisa menemukan wanita yang mau menikah denganku. Itu sebabnya, aku sudah memutuskan, kita cukup sampai disini saja. Kau kembalilah pada suamimu, setialah padanya. Bangun rumah tanggamu dengan benar. Dan aku juga akan memulai hidup baruku. Aku akan mencari cintaku yang sebenarnya, cinta yang mau menerimaku, cinta yang mau ku nikahi dan mau hidup bersamaku selamanya." Lagipula aku juga sudah mendapat banyak uang darimu, jadi uang itu akan ku gunakan untuk hidupku yang baru." Tutur Roy panjang lebar. Inilah yang selama ingin ia katakan pada Tia. Jika sebelum-sebelumnya ia ragu untuk mengatakannya, namun kali ini, ia berhasil mengatakannya. Sakit rasanya mengatakan semua itu, tapi ya mau bagaimana lagi.
"Oke, kalau itu maumu. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan menerimanya. Tanpamu aku juga bisa mendapat kepuasan. Aku bisa mendapat apa yang ku inginkan, meski tanpamu." Ucap Tia dengan nada kesal.
"Pergilah!" Usir Tia.
Roy pun segera bangun dari duduknya. Ia berdiri di hadapan Tia, ia pandangi wajah Tia lekat-lekat, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Namun, sebelum ia keluar, ia mengucapkan salam perpisahan pada Tia. "Selamat tinggal, Tia."
___________
Kau salah, Bob. Tia sama sekali tidak mencintaiku. Dia hanya mencintaimu. Selama ini aku hanyalah patner s#x nya saja. Tolong, kau jaga Tia. Cintai Tia, bahagiakan Tia. ~ Roy.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf jika selalu lama up nya🙏
Maaf juga kalau belum feedback🙏