
Giska terus memijat kaki bapaknya sambil ia berusaha menahan air matanya yang terus-terusan ingin keluar dari kedua matanya. Rasanya ia benar-benar tak tahan melihat bapaknya seperti ini.
Hatinya nelangsa menatap bapaknya sudah tua namun ia masih belum bisa membahagiakan bapaknya hingga detik ini. Yang ia berikan hanyalah beban pikiran saja pada bapaknya.
Rasa sesal pun menyeruak di dalam hatinya. Ia menyesal sekaligus kecewa pada dirinya sendiri karena sampai saat ini ia tak bisa melupakan perbuatan bapaknya sampai-sampai ia memilih tinggal jauh dari bapaknya.
Pantasanya ia bisa tinggal bersama bapaknya. Ia bisa menjaga dan merawat bapaknya tetapi ia malah lebih memilih tinggal di Bali bersama Bobby.
Kali ini setelah melihat bapaknya sakit dan tak ada yang mengurus, hati Giska pun seakan teriris. Ia benar-benar sudah jahat pada bapaknya.
"Maafkan aku ya, Pak." Giska berucap lirih sembari terus memijat kaki bapaknya.
Bram pun menatap Giska. "Tinggalah di rumah, Gis. Cari saja kerja di sini. Nanti siapa tau bisa bertemu jodoh di sini," tutur Bram lemah.
"Mulai sekarang jangan lagi memikirkan pria Bali itu. Dia tidak bisa dipercaya, Gis. Bapak kan sudah bilang sejak awal. Jangan menjalin hubungan dengan pria Bali. Tapi kau masih saja ngotot. Sekarang lihat sendiri kan? Dia bahkan tidak bisa menepati janjinya," tambahnya.
"Mungkin Bapak benar. Tapi semuanya juga tak bisa semudah itu. Jika saja aku dan Bli Bobby belum menikah, maka aku akan langsung meninggalkannya. Tetapi karena aku sudah menikah, maka aku tak bisa langsung pergi begitu saja. Aku harus mengurus perpisahan terlebih dulu kan?" batin Giska sendu.
"Kenapa diam? Kau masih ingin kembali ke Bali dan menemui pria itu?" tanya Bram.
__ADS_1
"Sudahlah, Pak. Jangan bahas masalah itu sekarang. Yang terpenting sekarang adalah bapak sehat dulu," sahut Giska.
"Katakan dulu kalau kau tak akan kembali ke Bali!" desak Bram.
"Iya, Pak. Aku kan harus mengurus segalanya dulu," jawab Giska pelan.
"Apalagi yang mau di urus?" tanya Bram. Ia mulai terlihat kesal.
"Itu kerjaanku. Aku kan masih kerja ikut orang, Pak. Jadi tak bisa berhenti begitu saja. Harus bertahab. Jadi tidak bisa langsung." Giska beralasan. Ia belum bisa bicara jujur tentang hal yang sebenarnya.
"Kerjaan? Ckc?" decak Bram.
"Sejak dulu kau kerja terus sampai lupa pulang. Tapi mana hasilnya? Renovasi rumah saja belum bisa full. Tembok belum di lepo. Daripada kerja jauh-jauh tak dapat hasil apa-apa, lebih baik kerja saja di rumah." Bram mulai meremehkan Giska.
"Uang yang ku kirimkan setiap bulannya buat Bapak itu apa? Terkadang 1 juta, 1 setengah juta. Itu semua apa kalau bukan hasil?" ungkap Giska.
"Ya uang itu hanya untuk makan sehari-hari. Untuk biaya ke dokter, belu jamu dan beli kebutuhan yang lain-lain," jawab Bram.
"Iya itu kan sama saja sudah ada hasil, Pak. Kalau tidak ada hasil mana bisa aku kirim uang setiap bulannya sebesar itu?"
__ADS_1
"Memangnya gajimu di sana itu berapa? Kenapa kau tak bisa menyisihkan untuk nyicil untuk beli pasir dan semen. Untuk lepo tembok rumah?" tanya Bram
"Ya sabar, Pak. Semua itu perlu proses, Aku juga kerja belum terlalu lama. Aku bisa kirim uang setiap bulan untuk kebutuhan Bapak, itu saja sudah syukur," sahut Giska.
"Itu saja aku dapat uang dari Bli Bobby, Pak. Aku di sana bahkan tidak bekerja sama sekali. Aku di sana hanya makan tidur saja," batin Giska.
Giska memang sengaja berbohong pada bapaknya. Ia tak kerja namun ia bilang kerja.
"Sudahlah! Di sana tak dapat apa-apa. Jangan kembali ke sana lagi! Tinggal saja di rumah. Cari kerja di dekat sini saja," pinta Bram.
"Bapakmu ini sudah tua. Mataku juga sudah kabur jika melihat sesuatu. Pendengaranku juga sudah mulai berkurang. Entah kapan waktuku tiba," ucapnya kemudian.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...