Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Bagaimana hasilnya?


__ADS_3

"Gis, besok pagi kita akan tau hasilnya." Ucap Bobby. Ia meletakkan kantong plastik berisi alat test itu ke atas meja. Kemudian ia langsung merangkak naik ke kasur dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Giska.


"Iya, Bli."


"Mendekatlah, Gis!" Perintah Bobby. Giska pun langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Bobby. Dan Bobby pun langsung memeluk Giska.


"Aku sangat merindukanmu, Gis. Rasanya 3 hari ini hidupku ada yang kurang karena tidak bisa memelukmu seperti ini. Sebenarnya malam ini begitu aku bertemu denganmu, aku ingin langsung memakanmu, tapi aku rasa aku harus menahannya dulu." Batin Bobby seraya memeluk Giska. Lalu kecupan singkat pun mendarat di kening Giska.


"Semoga saja kau benar hamil." Batinnya lagi.


Seulas senyuman terukir di sudut bibir Bobby ketika ia mulai membayangkan akan ada bayi kecil yang lahir dari perut Giska. Sungguh kebahagian yang tiada tandingannya jika semua keinginannya itu benar terjadi.


Dengan perasaan bahagia, Bobby terus saja mendekap Giska. Malam ini tak sedetikpun ia biarkan Giska lepas dari dekapannya. Dan yang membuat malam ini semakin bahagia adalah karena sejak tadi ia mendekap Giska, Giska sama sekali tidak melakukan aksi protes untuk bisa lepas darinya. Tidak ada berontak, tidak ada protes.


Sementara Giska, ia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Sejujurnya ia tau kalau saat ini ia tidak hamil, melainkan hanya maagnya saja yang kambuh. Tapi di sisi lain ia juga menaruh sedikit harapan kalau ia memang benar hamil. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, Giska juga pasti senang kalau ada benih suaminya yang tumbuh di perutnya. Meski ia baru saja mencoba menerima pernikahannya ini, tapi kalau memang Tuhan memberikan anak secepat ini tentu ia akan menerimanya dengan penuh suka cita. Ya, meskipun ia sendiri masih terlalu muda, dan ia juga tidak mengerti bagaimana menjadi seorang Ibu.Tapi ia yakin, perlahan ia akan bisa mengerti tentang semua itu dan ia akan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk anaknya.


Namun, di tengah rasa sedikit berharapnya itu, tetap ada rasa sakit dan takut saat mengingat ucapan suaminya yang mengatakan bahwa saat ini kemungkinan besar istri pertama suaminya juga sedang hamil anaknya. Entah perasaan ini benar atau tidak, tapi perasaan ini memang Giska rasakan saat ini. Meski pikirannya berusaha menampiknya, tapi hatinya tetap saja merasakannya. Namun, meski hatinya sedikit menolak, bukan berarti ia tidak merasa bahagia ketika mendengar berita ini. Hanya saja mungkin penolakan di hatinya dengan rasa bahagianya atas kehamilan istri tua suaminya lebih besar penolakannya.


Jika kedua mertuanya tau tentang apa yang ia rasakan saat ini, pasti mereka akan mengatakan kalau Giska ini adalah wanita tidak tau diri dan juga tidak bisa menghargai. Pasalnya, Giska hanyalah istri kedua Bobby, sedangkan Tia adalah istri pertama Bobby. Jadi, biar bagaimanapun juga Giska tidak ada hak untuk tidak menyukai Tia, apalagi sampai tidak menyukai kabar kehamilan Tia.


Sudahkah Giska menjadi istri muda yang berhati buruk seperti istri muda di sinetron ikan terbang?πŸ˜‚πŸ˜‚


____________


"Sayang..." Lirih Bobby.


"Hmmm." Sahut Giska.


"Sekarang aja sayang-sayang, kemarin-kemarin saja cuek." Gumam Giska.


"Ada bilang sesuatu barusan?"


"Tidak! Aku tidak ada bilang apa-apa." Elak Giska.


"Jangan bohong. Aku dengar tadi kau ada bicara sesuatu." Ucap Bobby.


"Kalau sudah dengar, lalu kenapa masih bertanya lagi?"


"Ya, aku hanya ingin memastikan saja." Ujar Bobby.


"Memastikan apa?"


"Kok malah jadi kesal sih, Sayang. Sudah lupakan saja." Ucap Bobby.


"Maafkan aku ya, Gis. Maaf kalau aku sudah membuatmu tidak nyaman. Maaf kalau sikapku selama beberapa hari ini sudah membuat hatimu kecewa." Tambahnya seraya membelai puncak kepala Giska.


"Iya tidak apa-apa, Bli." Jawab Giska biasa saja.


Cup! Satu kecupan mendarat di kening Giska.


"Hmmm, Sayang...?"


"Apa?" Sahut Giska.


"Tidur yuk! Besok pagi harus bangun pagi terus kita test."

__ADS_1


"Iyaa."


___________


Malam kian larut. Namun Giska masih belum juga tertidur. Sejak obrolannya dengan Bobby berakhir, ia sudah berusaha menidurkan dirinya sendiri, namun tetap saja tidak bisa. Entah karena pikirannya masih kemana-mana atau sebenarnya ia masih belum memgantuk.


Drrrttt....


Drrrrttt...


Drrttt....


"Seperti ada ponsel bergetar." Gumam Giska. Ia pun menoleh ke arah meja yang ada di dekat kasurnya, di atas meja itu nampak ponsel Bobby yang bergetar kencang sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


"Siapa yang menelpon di jam semalam ini?" Pikirnya.


Drrrttt...


Drrtttt....


Drrrtttt...


Sekali, dua kali, tiga kali, ponsel itu terus saja bergetar. Akhirnya Giska memutuskan untuk membangunkan Bobby.


"Bli..." Giska menggoyang-goyangkan tubuh Bobby.


"Bangun, Bli..." Ucapnya pelan seraya terus mengguncang tubuh Bobby.


Bobby yang merasa tubuhnya di guncang, pun langsung membuka kedua matanya.


"Itu ponselnya dari tadi bergetar terus." Ucap Giska.


"Sudah biarkan saja. Ini sudah jamnya orang istirahat, Gis. Abaikan saja ponselnya."


"Iya juga sih, lagian siapa yang menelponmu malam-malam begini sih, Bli?"


"Siapa lagi kalau bukan Tia. Sudah biarkan saja." Bpbby tetap tak ingin menjawab telponnya.


"Ohhh," sahut Giska sediki berbeda.


"Angkat saja dulu, siapa tau penting. Soalnya tidak hanya sekali lho, tapi berkali-kali." Ucapnya kemudian.


"Aruhhhh, biarkan saja. Sudahlah, ayo tidur lagi! Jangan begadang, besok kau harus bangun pagi-pagi untuk melakukan test." Tutur Bobby.


"Ya, ya, ya." Giska pun diam, tak lagi meminta Bobby untuk menjawab telponnya.


Entah Giska harus merasa senang atau harus senang dengan keputusan suaminya yang memilih untuk tidak menjawab telpon dari istri pertamanya. Tapi sebenarnya belum pasti juga sih, penelpon itu benar Tia atau bukan.


"Jangan ya ya ya, saja. Ayo tidur!"


"Iya, Bli."


***


Keesokan paginya. Waktu baru menunjukkan pukul 06.30. Bobby yang sudah bangun terlebih dulu, ia dengan semangat membangunkan Giska. Rasanya ia benar-benar tidak sabar mengetahui hasil yang ia impikan. Ya, mudah-mudah an saja hasilnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


"Nanti saja, Bli. Aku masih mengantuk." Giska menolak untuk bangun. Pasalnya ia baru tidur sekitar 3 jam saja. Ya, semalaman ia tidak bisa tidur karena pikirannya sibuk memikirkan hal-hal yang tidak sepatutnya ia pikirkan. Dan sekitar pukul 03.20 an, ia baru mulai tertidur.


"Ayo bangun sebentar saja, Sayang. Nanti lanjut tidur lagi, oke." Bujuk Bobby. Ia ciumpi pipi Giska, ia pencet-pencet hidung Giska, hingga ia kecup bibir Giska sampai akhirnya Giska merasa jengah dan memilih untuk bangun.


"Ayo aku antar ke kamar mandi, Gis." Bobby memapah Giska menuju kamar mandi. Bahkan ia juga ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Ini alatnya, Gis." Bobby menyerahkan alat test itu. Giska pun menerimanya.


"Tunggu di luar, Bli." Pinta Giska.


"Oke, tapi apa kau bisa memakai alatnya?" Tanya Bobby.


Giska menggeleng pelan, kemudian ia berkata, "Nanti biar aku lihat caranya di bungkusnya, Bli. Pasti ada kok." Ujarnya.


"Hmmm, baiklah." Bobby pun langsung keluar dari kamar mandi.


_______________


5 menit berlalu.


Tookk...


Tokkk.


"Gis... Sudah apa belum?" Tanya Bobby dari luar pintu kamar mandi.


"Belum." Sahut Giska dari dalam.


"Kok lama sekali? Memangnya kau belum ingin pipis?"


"Sudah, Bli. Tapi masih aku tahan." Sahut Giska lagi.


"Lho! Kok malah di tahan? Pantesan kau lama sekali."


"Aku bingung, ini pipisnya nanti di taruh dimana? Masa aku wadahin di tanganku sendiri? Kan jatuh semua nanti?" Tanya Giska konyol.


"Ya ampun, Gis.... Sejak tadi kau bingung soal itu?" Bobby terkekeh.


"Iya."


"Coba lihat di pojokan. Tadi aku ada meletakkan wadah di sana untuk kau pakai tempat pipismu. Ayo cepatlah!" Tutur Bobby.


"Ohhh iya, iya, Bli." Giska pun langsung mengambil wadah yang Bobby katakan. Lalu ia langsung meletakkan wadah itu di bawahnya untuk menampung air pipisnya.


Kemudian, ia celupkanalat test itu ke dalam air pipisnya itu sesuai dengan petunjuk yang tertulis di bungkusan alat itu.


____________


"Bagaimana hasilnya?"


Bersambung...


Maaf ya selalu lamaπŸ™πŸ™πŸ™


Maaf jika sampai saat ini belum feedback kakπŸ™

__ADS_1


__ADS_2