
Beberapa saat kemudian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit, Tia terlihat baru sampai di rumah nya. Hatinya semakin gusar ketika melihat mobil suaminya sudah terparkir di garasi. Tia pun langsung turun dari mobil nya. Ia berlari kencang memasuki rumahnya. Saking cemas nya dengan Bobby, ia sampai melupakan rasa lelah nya, setelah ia bercinta dengan Roy, tadi.
Ceklek...
Tia membuka pintu kamar nya, ia pun segera masuk ke dalam, lalu menutup pintu itu kembali.
"Pa..."Tia menghampiri Bobby di ranjang.
"Aku kira tadi, Papa mau menginap di tempat wanita itu. Jadi, aku keluar sebentar, untuk menemui temanku. Maaf, aku terlambat pulang nya, Pa." Ucap Tia gugup. Ia takut, Bobby akan marah kepada nya.
"Pa..." Panggilnya sekali lagi. Namun sayangnya, Bobby masih diam saja, tak menyahut.
Tia mengusap dadanya, "Syukurlah, dia sudah tidur." Batin Tia, ia merasa lega. Ia pun langsung meletakkan tas nya di meja, kemudian ia ikut merangkak naik ke ranjang. Entah ia lupa atau terlalu kelelahan, sehingga ia langsung tidur tanpa membersihkan tubuhnya yang masih terasa lengket, sisa-sisa pertempuran nya dengan Roy, tadi.
Sementara di balik selimut, Bobby yang merasa geram dengan kelakuan Tia, ia sengaja pura-pura tidur, karena malas melihat wajah lelah Tia yang baru saja bersenang-senang dengan pria lain. Karena rasa kesal dan malas nya, Bobby jadi melupakan tujuan nya pulang ke rumah.
***
Pagi harinya, matahari sudah menampakkan wujudnya. Cahaya nya menyusup masuk ke dalam kamar, karena tipis nya tirai yang terpasang di jendela kamar itu. Giska membuka kedua mata nya sempurna. Pagi ini ia nampak terlihat segar, karena semalam ia tidur dengan sangat nyenyak.
Giska menoleh ke samping nya, ia tak mendapati Bobby di sana. Ia pun turun dari ranjang nya, ia memeriksa kamar mandi nya, namun, Bobby juga tak ada di sana. Entah Giska merasa kesal atau kecewa atau apalah itu, dia sendiri tak mengerti.
"Dasar! semalam saja sok-sok an tak mau menjawab saat aku meminta nya pulang. Eh, tau-tau dia, malah pulang." Gerutu Giska.
"Ehmm, tapi, kapan ya Bli Bobby pulang nya? baru pagi ini, atau jangan-jangan dari semalam saat aku sudah tidur? Ahh, biarkan saja lah, kenapa juga aku repot mikirin dia." Giska terus saja bicara sendiri.
__ADS_1
Sementara di rumah Bobby.
Bobby baru saja terbangun dari tidur nya. Ia mengerjapkan kedua matanya, sampai ia membuka kedua matanya dengan sempurna. Ia melihat ke samping, yang ternyata Tia juga masih tidur, sembari tangan nya melingkar di perut Bobby. Bobby pun perlahan memindahkan tangan Tia, kemudian ia beranjak bangun dari ranjang nya.
Sejujur nya, Bobby masih sangat mengantuk saat ini. Bobby hanya dapat tidur sebentar saja, karena semalaman ia sulit tertidur, dan baru subuh tadi, ia baru bisa tidur. Bobby menyesal karena semalam memilih pulang ke rumah, daripada tetap tinggal bersama Giska.
"Andai saja aku tidak perlu bekerja, sekarang juga, aku akan pergi ke tempat Giska, untuk melanjutkan tidur, setidak nya dalam 3 jam ke depan." Lirih Bobby.
Bobby beranjak bangun dari ranjang nya. Karena mata nya masih terasa mengantuk, Bobby memilih untuk menyegarkan tubuhnya terlebih dulu, agar rasa kantuknya hilang. Ia pun langsung berjalan ke masuk ke kamar mandi.
Selang tak berapa lama, Bobby keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk yang melingkar di pinggang nya. Tubuhnya nampak segar dan harum. Saat Bobby hendak mengambil pakaian di lemari, tiba-tiba saja, Tia mengagetkan nya, Tia langsung menarik handuk yang melingkar di pinggang Bobby, hingga tubuh Bobby pun terlihat polos.
"Selamat pagi, Pa." Tia memeluk Bobby dari belakang. Entah sejak kapan Tia bangun, tiba-tiba saja muncul, dan langsung memeluk Bobby.
"Pagi." Jawab Bobby datar.
"Pa, Ayo kita buatkan cucu untuk Ajik dan Ibu." bisik Tia dengan suara yang di buat se sexy mungkin. Tia pun langsung mencium bibir Bobby. Bukan nya membalas ciuman Tia, Bobby malah mendorong Tia, hingga ciuman nya terlepas.
"Mandi dulu, Tia. Mulutmu bau." Ucap Bobby, lalu ia kembali membalikkan tubuh nya. Ia pun segera mengambil pakaian di dalam lemari, dan langsung mengenakan nya. Usai mengenakan pakaian nya, Bobby kembali berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk mencuci mulut nya yang baru saja mendapat ciuman ganas dari Tia.
Sementara Tia, ia seketika diam mematung, setelah Bobby mengatainya bau. Saat Bobby keluar dari kamar mandi, barulah ia tersadar, lalu, ia kembali menghampiri Bobby.
"Pa..." Panggil Tia.
"Apa." Sahut Bobby.
"Maaf, semalam aku bertemu dengan teman arisan. Jadi, aku pulang sedikit terlambat." Ucap Tia, ia memasang wajah melas, berharap Bobby akan mempercayai nya.
"Iya, tidak apa-apa." Jawab Bobby masih dengan muka datar nya.
__ADS_1
"Pa, masih ingat kan dengan ucapan Ibu kemarin siang? Aku ingin mewujudkan keinginan Ibu. Aku ingin hamil, Pa." Tia memasang muka sendu nya.
"Aku tau, bukan itu yang ingin kau katakan, Tia. Aku tau, ucapanmu akan mengarah kemana. Kau memintaku untuk menceraikan Giska, kan? percuma saja, karena aku tidak bisa mengabulkan nya."
"Kau jangan egois dong, Pa!" Tia mulai sedikit kesal.
"Maaf, jika aku terkesan egois. Ingatlah! kau sendiri yang menantangku waktu itu, hingga terciptalah kesepakan itu. Kenapa kau jadi seperti ini sekarang?" Senyum tipis tergambar di sudut bibir Bobby.
"Sebenarnya waktu itu, aku tidak sungguh-sungguh mengatakan semua itu, Pa. Saat itu, aku hanya sedang kesal saja. Tapi ternyata, kau malah menganggap serius ucapan ku."
"Lupakan kesepatakan itu! Aku mau, kau hanya cukup mencintaiku, dan memandangku saja, Pa." Tia memegang lengan Ricky.
"Aku tak mau berbagi." Ucap Tia kembali.
"Kau tak ingin membagiku dengan wanita lain, tapi kau sendiri malah membagi tubuhmu dengan pria lain. Ckc." Bobby membatin.
"Kenapa? apa kau takut, jika aku bisa melakukannya dengan Giska?" terselip senyuman tipis di bibir Bobby.
"Aku tidak yakin, kau bisa melakukan itu, Pa. Tetapi, aku juga tidak ingin kau sampai melakukannya dengan wanita itu. Cukup lakukan denganku saja, aku tidak akan mengeluh lagi." Tia merayu.
Bobby tersenyum miris, mendengar ucapan Tia. Memang benar ia sulit bergairah dengan Tia, itupun karena kesalahan Tia sendiri. Disaat Bobby tengah bercinta dengan Tia, tiba-tiba bayangan Tia yang tengah bercinta dengan orang lain, nampak di depan mata. Itulah yang membuat gairahnya hilang seketika. Berbeda jika bersama Giska, tanpa perlu Giska merayu, gairahnya selalu muncul dengan sendiri nya. Jadi terbukti, bahwa Joni nya Bobby sama sekali tak bermasalah.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1