Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Masalah lagi


__ADS_3

"Apa semua orang kaya, selalu seperti itu?" Giska pun mengambil uang yang berserakan itu, meski hatinya merasa sakit, namun ia tak memperdulikan nya. Toh ia juga sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini.


"Gis, kau di suruh ke ruangan, Bos." Panggil teman nya.


"Iya, Kak. Setelah ini, aku langsung ke ruangan, Bos."


Tok, tok, tok.


Giska mengetuk pintu di ruangan Bos nya, "Permisi, Bu." Ucap nya kemudian.


"Masuklah." Suara Bos nya menyahut dari dalam. Giska pun masuk ke dalam, ia berdiri di hadapan Bos nya, dengan menundukkan kepala nya.


"Kau di pecat! ini ambilah gajimu!" Ucap Bos nya to the point.


Giska terkejut, menerima kenyataan jika dirinya di pecat. "Saya minta maaf jika saya sudah melakukan kesalahan, Bu. Tapi saya mohon, berikan saya satu kesempatan lagi." Pinta Giska, ia mengatupkan kedua tangan nya ke depan.


"Tidak ada kesempatan lagi. Cepat ambil dan pergilah dari sini!"


Tubuh Giska melemas, "Baik, Bu. Terimakasih." Ucap nya sembari ia mengambil amplop di atas meja Bos nya. Ia pun pamit keluar dari ruangan itu.


"Baru juga satu minggu kerja di sini, sudah di pecat saja. Lalu, kemana aku harus mencari pekerjaan lagi." Giska berjalan keluar, sesekali ia terlihat mengusap air mata nya yang hampir membasahi pipi nya.


"Kenapa Bos memanggilmu, Gis?" tanya salah satu teman Giska. Ia datang menghampiri Giska.


"Aku sudah di pecat, Kak."


"Di pecat?"


Giska mengangguk, "Iya."


"Pasti gara-gara permasalahan dengan dua pelanggan tadi, Gis. Kau yang sabar, ya." Perempuan itu menepuk pundak Giska.


"Iya, Kak. Mungkin memang rezekiku bukan di sini. Ayo, aku akan berpamitan dulu, sebelum aku pulang." Giska mengajak teman nya ke bagian dapur, ia ingin berpamitan kepada semua pegawai yang ada di sana.


Giska pun langsung berpamitan kepada semua temannya yang ada di sana. Semua teman nya pun berhambur memeluk Giska, mereka meminta maaf, karena tak bisa membantu Giska sekarang ini.


"Sudah tidak apa-apa. Ya, sudah kalau begitu, aku pamit ya." Terselip senyum di sudut bibir Giska. Ia tak menyangka, semua teman nya sungguh baik kepada nya. Padahal mereka baru saling mengenal selama satu minggu ini.


"Ya, Gis. Semoga kau segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini."


"Iya, Kak. Terimakasih."


Giska pun keluar, ia berjalan dengan langkah yang berat, hingga ia sampai di tempat Kost nya. Beruntung kost nya tidak jauh dari warung makan itu, jadi dengan berjalan kaki, kurang lebih 10 menit, ia sudah sampai di Kost an nya.


Ceklek


Giska membuka pintu kamar kost nya.


"Gis..." Panggil seseorang dari belakang. Giska pun mengurungkan niatnya yang hendak masuk ke dalam.

__ADS_1


"Iya, Dek." Jawab Giska.


"Kok sudah pulang?" tanya Kadek.


Giska tersenyum pelik, "Aku di pecat, Dek."


"Sini dulu, duduk sini." Kadek meminta Giska duduk di lantai depan kamar nya. Giska pun langsung mendaratkan tubuhnya, hingga terduduk di lantai itu.


"Kok bisa di pecat?" tanya nya.


Giska pun menceritakan semua kejadian yang terjadi di warung tadi.


"Brengsek sekali orang itu, coba saja aku ada di sana, pasti sudah ku hajar dia." Ucap Kadek, ia terlihat kesal setelah mendengar cerita dari Giska.


"Biarkan saja, Dek. Semoga, aku tidak pernah bertemu dengan kedua orang itu lagi." Ucap Giska, ia juga merasa jengkel kepada dua orang suami istri itu.


"Ya, Gis. Terus rencanamu apa? kau akan mencari kerja dimana?"


"Aku belum tau."


"Bagaimana kalau kau kerja di warung bakso milik teman ku. Ya, untuk sementara saja, selama kau belum mendapatkan pekerjaan yang lain." Tutur Kadek.


"Kenapa harus sementara? kalau memang aku di terima kerja di sana, untuk apa aku mencari kerja lain nya, Dek." Ucap Giska.


"Temanku baru merintis usaha itu. Jadi, kemungkinan, dia tidak bisa memberimu gaji yang banyak."


"Baiklah, aku mau, Dek. Untuk yang lain nya, aku pikirkan nanti saja, yang penting, aku bisa kerja lagi sekarang." Ucap Giska, matanya berbinar bahagia.


"Kau sudah tidak takut lagi berdekatan denganku, Gis?" ledek Kadek. Giska pun langsung melepas pelukan nya.


Giska tersenyum, "Karena aku sudah mengetahui, jika sebenarnya kau adalah perempuan, Dek." Giska terkekeh.


"Dasar kau!" Kadek memukul lengan Giska pelan.


Ya, Kadek adalah tetangga Kost Giska, sekaligus teman baru Giska. Awal pertemuan mereka, Kadek lah yang lebih dulu menyapa Giska, namun, karena penampilan Kadek yang seperti laki-laki, Giska pun tak merespon Kadek sama sekali, Giska selalu menjauh. Ya, karena Giska mengira jika Kadek adalah seorang laki-laki. Namun, 2 hari setelah nya, ada seorang tetangga kost nya juga, yang memberitahu Giska, bahwa Kadek adalah perempuan. Giska merasa malu, karena ia sudah salah mengira, namun Kadek pun tak mempermasalahkan nya. Dan dari situlah awal Giska dan Kadek berteman.


"Terimakasih Tuhan, kau selalu mengirimkan orang-orang baik, untuk membantuku." Giska tak henti-henti nya mengucap syukur.


***


Beberapa hari kemudian


Setiap orang pasti selalu menginginkan hal-hal baik, bertemu dengan orang-orang baik, menjalani hari-hari yang baik. Tapi, tidak semua keinginan setiap orang akan berjalan dengan kemauan nya. Ya, seperti hari ini, Giska kembali di pertemukan dengan suami dari wanita yang menyebabkan dirinya di pecat waktu itu.


"Mbak, bakso nya 1." Pesan pria itu, sesaat setelah ia duduk.


"Baik, Pak. Minum nya apa, Pak?" tanya Giska.


Pria itu pun menoleh menatap Giska, "Kau? kenapa kau selalu ada dimana-mana?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Pria ini, lagi! kenapa harus aku bertemu dengannya lagi!" gerutu Giska.


"Bapak, mau minum apa?" tanya Giska kembali. Ia mengacuhkan pertanyaan pria itu. Terselip senyum di bibir Giska, ia berusaha untuk tetap ramah.


"Es jeruk. Es batu nya, kasih yang banyak." Ucap pria itu singkat.


"Baik, Pak. Mohon di tunggu sebentar." Ucap Giska, ia pun pamit ke belakang.


"Bukankah dia orang kaya? kenapa dia mau makan di warung bakso pinggir jalan seperti ini?" batin Giska, sembari meracik bakso pesanan pria itu di mangkok. "Kenapa juga aku pusing-pusing mikirin, terserah dia lah, mau makan di mana saja." Giska terkekeh dengan pertanyaan nya sendiri.


Dengan sangat hati-hati Giska membawa bakso dan es jeruk untuk pria itu, ia tak ingin mengulang kejadian yang membuatnya sampai di pecat.


"Silahkan, Pak." Giska meletakkan bakso dan juga es jeruk itu, di meja pria itu.


"Yes, tidak tumpah lagi." Giska tersenyum, ia bersorak gembira di hati nya, karena ia berhasil meletakkan minuman, tanpa menumpahkan nya.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya pria itu.


"Tidak, Pak. Saya permisi. Selamat menikmati." Ucap Giska, ia hendak berjalan kembali ke belakang, namun, pria itu malah menariknya, hingga Giska terduduk di pangkuan pria itu.


"Apa-apa an sih, Pak!" Giska beranjak bangun, lalu segera kembali ke belakang.


"Dasar laki-laki, suka tidak tau diri. Nanti kalau aku bersikap tidak sopan kepada nya, pasti aku juga yang kena masalah. Padahal kan, dia duluan yang kurang ajar!" Gerutu Giska.


"Kau kenapa, Gis? sejak tadi ngedumel terus." Tegur Wayan sang pemilik warung bakso ini.


"Eh, tidak apa-apa, Mbok." elak Giska, ia menyelipkan senyum di sudut bibir nya.


"Oh, aku kira, ada apa." Wayan tersenyum, "Eh, Gis, hampir saja aku lupa, kau di panggil, oleh Bli Bobby. Kau di suruh menemaninya makan." titah Wayan.


"Bli Bobby siapa?"


"Itu, pria yang duduk di kursi itu." Wayan menunjuk kursi yang di duduki oleh pria kurang ajar itu.


"Hah! Kenapa aku harus menemaninya, Mbok? aku kan masih banyak pekerjaan." Tolak Giska. Ia merasa aneh, kenapa juga harus menemani seorang pengunjungnya makan. Di sisi lain, ia juga masih takut jika terlalu dekat dengan pria, apalagi ini pria asing. Pria yang masih Bapak nya saja mampu berbuat hal buruk kepada nya, apalagi pria asing. Begitu pikir nya.


"Sudah, sana pergilah, Gis. Nanti Mbok Wayan yang akan terkena masalah, jika kau menolak." Bujuk Wayan.


Giska mengela napas, "Baiklah, Mbok."


"Aku lagi, aku lagi. Masalah lagi, masalah lagi." Gerutu Giska sembari berjalan menghampiri pria itu.


"Permisi, Pak. Ada apa, anda memanggil saya kemari?" tanya Giska.


"Duduklah!"


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2