Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Kembali Ke Bali?


__ADS_3

"Dokter bilang apa, Gis?" tanya kakak Giska, ketika Giska kembali ke ruangan setelah bicara dengan dokter tadi.


"Kondisi Bapak sudah membaik. Kita lihat dua hari ke depan, Mbak, kalau semakin membaik lagi, Bapak bisa pulang ke rumah," jawab Giska seraya mendudukkan bokongnya ke lantai, dekat ranjang bapaknya.


"Membaik apanya? Sejak tadi Bapak masih mengeluh sakit. Perutnya sakit, punggungnya juga sakit katanya," ucap kakak Giska.


"Tadi juga katanya kepalanya pusing. Terus minta obat Paramex. Kata suster tidak boleh diberikan sembarangan obat karena tadi sudah diberikan obat di sini. Bapakmu malah marah-marah, kalau tidak diberikan obat paramex katanya mau bunuh diri," tambah kakak Giska. Ia mengadu apa yang terjadi ketika Giska ke ruangan dokter.


"Iya memang begitu, Mbak. Ternyata selama ini Bapak memang kecanduan minum paramex. Setiap hari bapak mengkonsumsi itu bahkan sehari bisa dua kali minum paramex. Makanya sekarang susah diberhentikannya," jelas Giska.


"Tapi kondisi Bapak sekarang memang sudah lebih baik daripada sebelumnya, Mbak. Apalagi saat masih di rumah. Ya sebenarnya Bapak tidak bisa menahan rasa sakit. Jadi selalu marah-marah ketika mengeluh sakit. Tapi kata dokter tadi, Bapak sudah banyak kemajuan kondisinya. Tidak mungkin kan dokter mengatakan hal bohong? Masa iya kondisi buruk dibilang baik oleh dokter? Tidak mungkin seperti itu," terangnya lagi.


"Ya kita lihat dalam dua hari ke depan, Mbak. Mudah-mudahan benar bisa segera kembali pulang ke rumah," tambahnya.


"Ya terserah kau lah, Gis. Tapi aku tidak bisa menginap karena harus buka toko di rumah. Jadi sebentar lagi aku akan pulang," ucap kakak Giska.


"Mbak, sesekali libur dulu lah tokonya. Jagain Bapak dulu di sini. Mbak juga selama dua minggu ini Bapak dirawat, Mbak hanya datang dua kali ini saja kan? Seminggu yang lalu dan hari ini. Masa iya mau segera pulang? Mbak tidak kasihan dengan Bapak?" sindir Giska.


"Ya kan sudah ada kau, Gis. Kau kan belum berkeluarga sedangkan Mbak sudah berkeluarga. Mbak harus urus suami dan anak di rumah. Belum lagi toko di rumah," sahut kakak Giska dengan entengnya. Bicara tanpa adanya beban sama sekali.


"Kau masih single, tidak ada masalah apapun. Hidupmu enak-enak saja. Beda dengan aku ini, banyak masalah yang sedang ku hadapi, Gis," tambahnya.


"Mbak kira dia saja yang punya masalah. Aku juga banyak masalah, Mbak. Bahkan rasanya aku sudah tidak sanggup lagi memikulnya. Banyak hal juga yang sedang ku pikirkan. Tapi kalau aku menyerah, siapa yang akan menjaga Bapak?" Giska membatin. Ingin rasanya ia katakan ini di depan kakaknya, namun apa daya, ia tak seterbuka itu untuk membagi masalahnya dengan siapapun apalagi dengan kakaknya.


"Aku mohon, Mbak. Kali ini saja ya. Mbak tolong jaga Bapak di sini. Ya paling tidak sampai besok, atau paling lambat lusa," pinta Giska dengan penuh kerendahan diri.

__ADS_1


"Memangnya kau kenapa? Kau sudah tidak ingin menjaga Bapak lagi? Kau mau bilang capek begitu?" tuduh kakak Giska.


"Bukan capek dan bukan tidak ingin. Tapi aku harus ke Bali, Mbak. Ada urusan yang harus ku selesaikan dulu. Sehari saja kok, tidak lama," jelas Giska.


"Urusan apa? Kekasihmu? Atau apa?"


"Urusan uang, Mbak. Aku mau mengambil gajiku yang belum diberikan oleh bosku di sana. Ya lumayan untuk tambah-tambah biaya rumah sakit Bapak. Karena sekarang uangku juga sudah menipis. Memangnya Mbak mau bantu bayar rumah sakit?"


"Aku juga sedang tidak ada uang," jawab kakak Giska secara langsung.


Giska pun tersenyum getir. "Iya makanya itu, aku harus ke Bali untuk mengambil uang. Jadi ku mohon, Mbak di sini dulu. Paling lambat lusa aku sudah kembali ke sini. Dan semoga juga lusa Bapak boleh pulang, jadi kan harus dibayar rumah sakitnya. Ku mohon, Mbak," pinta Giska.


"Ya baiklah. Aku akan menjaga Bapak di sini."


"Terimakasih, Mbak. Setelah ini aku akan bersiap-siap."


Untung saja ia masih memiliki cukup uang untuk biaya rumah sakit nanti dan juga untuk biaya ia pergi ke Bali. Uang yang ia miliki ia dapat dari tabungannya yang diberikan oleh Bobby sewaktu ia masih tinggal di Bali dan ditambah lagi dengan ia mendapat transferan dari Bobby sebelum ia lost contact dengan Bobby.


******


Di tempat lain.


"Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang kan?"


"Iya tapi tunggu dokter datang dulu. Harus diperiksa dulu."

__ADS_1


"Jam berapa datangnya dokter? Kenapa lama sekali? Aku ingin segera pulang."


"Iya sebentar lagi. Ini juga masih sangat pagi. Mungkin satu atau dua jam lagi dokter datang."


"Dua jam? Lama sekali." Terlihat raut wajah yang tak sulit untuk dijabarkan.


"Tunggu saja lah. Please lah kali ini jangan banyak komplain, yang ini lah, yang itu lah, yang lama lah! Aku lelah, Pa. Apa kau tidak kasihan denganku dan dengan bayi di dalam perutku ini? Selama dua hampir dua minggu aku menjaga dan mengurusmu di sini. Belum lagi urusan yang lainnya. Belum lagi aku harus pergi ke sana ke mari. Aku bahkan tidak bisa istirahat dengan nyaman, Pa. Tapi ini semua ku lakukan karena aku menyayangimu. Kau suamiku," ucap Tia dengan tegas.


Ya, itulah obrolah Bobby dan Tia di dalam kamar di salah satu rumah sakit.


"Kondisimu baru saja membaik. Sabarlah dulu, Pa. Jangan karena kau sudah diperbolehkan pulang, kau jadi buru-buru seperti ini. Pikirkan kesehatanmu yang baru membaik ini. Pikirkan aku dan juga calon anakmu ini. Jika sesuatu terjadi denganmu, bagaimana aku dan calon anak kita ini?" Tia mengomeli Bobby.


"Apa kau lupa dengan keadaanmu beberapa waktu yang lalu? Setelah kau kecelakaan, kau sempat koma selama dua hari. Kondisimu saat itu sudah sangat memprihatinkan, Pa. Apa kau tau bagaimana perasaanku saat itu? Aku benar-benar takut jika sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jadi tolong, sekarang kau harus benar-benar memikirkan kesehatanmu ini!" Tia masih tak berhenti mengomeli Bobby.


"Iya, maafkan aku." Bobby pun meminta maaf pada Tia.


"Tapi bagaimana aku bisa tenang di sini, Tia? Aku bahkan belum melihat ibuku lagi. Dan juga aku bahkan tidak mengabari Giska sama sekali. Entah bagaimana keadaannya sekarang? Entah bagaimana keadaan bapaknya Giska sekarang? Apa dia masih memiliki cukup uang atau tidak? Apa dia sehat?" Bobby membatin.


..


..


..


Bersambung...

__ADS_1


Akankah Giska bisa bertemu dengan Bobby?


__ADS_2