
Sore harinya.
Saat ini Giska sedang bersama dengan Ibu mertuanya. Mereka berdua sedang berada di dapur. Keduanya nampak tengah memasak makanan untuk makan malam nanti. Meskipun masih gugup dan canggung, Giska harus tetap berdekatan dengan Ibu mertuanya. Karena tak mungkin, kan, ia menolak saat Ibu mertuanya ingin ia membantunya memasak sembari mengobrol. Mungkin dengan seperti ini, mereka berdua bisa jauh lebih dekat dan menjadi akrab.
Giska mengambil bagian, mencuci sayur dan ikan yang hendak di masak. Sementara Astuti memilih untuk menyiapkan bumbu yang hendak di gunakan.
"Kalau sudah selesai mencuci sayur dan ikan nya, letakkan saja dulu di sana, Gis." Perintah Astuti.
"I-iya, Bu." Giska pun meletakkan ikan dan sayur di tempat yang Ibu mertuanya tunjukkan.
"Duduklah di sebelah, Ibu." Astuti menepun kursi sebelahnya. Ia ingin Giska duduk di sampingnya.
"Iya, Bu." Giska pun mendaratkan pantatnya di kursi itu dengan ragu. Ia merasa sangat gugup duduk berdekatan dengan Ibu mertuanya seperti ini. Ia takut jika Ibu mertuanya akan memarahinya, nantinya. Saking gugupnya, ia sampai meremas ujung bajunya sendiri.
"Sebentar, Ibu akan cuci tangan dulu." Astuti bangun dari kursinya, lalu ia mencuci tangan nya di wastafel yang berada tak jauh dari sana. Setelah itu, Astuti pun kembali duduk di tempat semula.
Astuti pun mulai menyakan bagaimana awal Giska bertemu dengan Bobby, dulu, sampai akhirnya sekrang Giska menjadi istri Bobby. Tak hanya itu saja, Astuti juga menanyakan apa yang sudah Bobby lakukan, sehingga Giska bisa terbujuk olehnya.
Dengan takut, Giska pun menceritakan awal mulanya saat ia bertemu Bobby, dan semua kejadian yang ia alami dengan Bobby, ia ceritakan semuanya. Termasuk saat Bobby menggunakan Ibunya Kadek untuk membuatnya tak ada pilihan lain.
"Astaga, anak itu!" Gerutu Astuti.
"Bu, sebenarnya bukan itu saja, alasan saya menikah dengan Bli Bobby karena saat itu saya memerlukan uang 9 juta untuk memperbaiki atap rumah saya di kampung. Saya minta maaf, Bu, bukan maksud saya untuk memeras uang Bli Bobby, hanya saja saat itu saya tidak tau harus mencari uang sebanyak itu dimana." Ucap polos Giska tanpa berani menatap wajah Ibu mertuanya. Meski tengah merasa gugup, namun ia tidak takut untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya kepada Ibu mertuanya. Ia mengatakan semuanya karena ia tak ingin suatu saat Ibu mertuanya akan mengetahui itu dari orang lain. Karena kebenaran yang keluar dari mulut orang lain, terkadang tak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Astuti tersenyum, ia pun memegang dagu Giska, "Ibu bisa lihat dari kedua matamu, kau bukanlah gadis yang haus akan harta. Justru Ibu bangga, karena demi menyelematkan Ibu dari temanmu, kau sampai rela menikah dengan Bobby. Meskipun sebenarnya, itu hanya ancaman Bobby saja, Gis. Ibu yakin, Bobby tak akan pernah melakukan hal itu." Ucap Astuti, masih mengulas senyum di sudut bibirnya.
"Apa? Jadi itu semua hanya untuk mengancamku saja? Dasar Bli Bobby!" Gerutu Giska dalam hatinya. Ia pun hanya diam saja, di depan Ibu mertuanya.
"Sejak dulu jika Bobby menginginkan sesuatu, ia pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Ibu rasa, cinta Bobby kepadamu sangatlah besar, Gis." Tutur Astuti.
"Bagaimana mungkin, Bu? Kami baru saling mengenal. Dan sebenarnya kami tidak begitu saling mengenal, Bu." Ucap Giska sedikit takut.
"Entah bagaimana itu, tapi saat mendengar ceritamu tadi, Ibu yakin kalau Bobby memang memiliki perasaan cinta kepadamu. Dulu, saat dia hendak menikahi Tia, dia berjuang mati-matian untuk mendapat restu dari Ibu. Saking cintanya dia kepada Tia, dia sampau rela melakukan apapun, jalan manapun ia lewati hanya untuk mendapat restu dari Ibu. Dan sekarang, dia juga melakukan hal yang sama, saat dia ingin menikahimu," Astuti menjeda ucapannya sebentar, ia pun menghela napasnya, lalu ia pun meneruskan ucapannya kembali, "Ibu harap, kau bisa membuat Bobby setia, Gis. Jangan sampai Bobby jatuh cinta lagi kepada wanita lain, dan dia akan kembali melakukan kesalahan. Jangan sampai itu terjadi. Ibu harap, kau adalah jodoh terakhir untuk Bobby." Tutur Astuti.
Gluukkk...
Giska menelan salivanya. Ia bingung harus menjawab apa. "Tapi, Bu... Kenapa Ibu mau menerima saya sebagai istri kedua Bli Bobby? Padahal Ibu tau kalau saya tidak memiliki perasaan kepada Bli Bobby." Kata Giska ragu. "Duhh,salah tidak ya, aku bicara seperti ini?" Pikir Giska dalam hatinya.
"Itu karena Bobby mencintaimu. Meski kau tidak mencintainya, tapi Bobby yakin kalau suatu saat cinta akan tumbuh di dalam hatimu. Itu juga yang Ibu harapkan darimu, Gis." Tutur Astuti seraya membelai puncak kepala Giska.
"Iya, Bu. Saya akan berusaha menjadi istri yang baik, untuk Bli Bobby." Ucap Giska pelan.
"Itu baru benar, Gis. Mulai sekarang, kau jangan pernah memikirkan untuk mengakhiri pernikahanmu dengan Bobby, ya."
"Iya, Bu."
***
Pukul 19.37 Wita.
__ADS_1
Waktunya jam makan malam.
Gung De, Astuti dan juga Giska sudah duduk dan bersiap untuk menyantap makan malam.
"Wahhh, kelihatannya semua makanannya enak." Puji Gung De, seraya mengambil piring dan sendok, lalu ia segera bersiap mengambil makanan yang ada di hadapannya.
"Iya, ini semua menantumu yang memasaknya, Jik. Dia sangat pintar memasak." Astuti ikut memuji Giska.
Ya, setelah selesai berbincang-bincang tadi sore, Astuti iseng meminta Giska memasak makanan untuk makan malam, seoarang diri. Sebenarnya ia hanya bercanda saja mengatakan hal itu, namun ternyata Giska malah langsung mengiyakannya. Jadilah, Giska yang memasak semua makanan nya.
"Saya masih belajar, Bu, Ajik." Ucap Giska malu.
"Makanannya sunggh lezat, Gis." Ucap Gung De saat mencicipi masakan Giska. "Ayo-ayo kita mulai makan. Ajik sudah tidak sabar ingin mengahabiskan semuanya." Ajak Gung De yang tak sabar ingin langsung makan.
"Pelan-pelan, Jik." Tegur Astuti. Gung De hanya tersenyum, sembari mengunyah makanan nya.
"Makanlah, Gis." Ucap Astuti.
"Iya, Bu." Jawab Giska canggung. Ia pun mulai mengambil piring dan sendok. Lalu mulai mengambil makanannya.
"Bli Bobby... Tolong datanglah. Aku sungguh canggung disini." Gumam Giska dalam hatinya.
Baru saja ia berhenti bergumam, tiba-tiba Bobby datang dan langsung mencium puncak kepala Giska dari arah belakang.
"Malam, Sayang." Bobby mengecup puncak kepala Giska. Sontak Giska pun menoleh, ia pun tersenyum lega karena Bobby benar-benar datang.
"Kau kesini, Bob? Dimana Tia?" tanya Astuti.
"Duduklah dulu, ayo kita makan bersama-sama."
"Iya, Bu."
"Ajik... Lahap sekali makannya?" Bobby terkekeh melihat Ajiknya makan makan dengan lahapnya.
"Masakan istrimu rasanya lezat, Bob. Makanya Ajikmu sampai lahab begitu." Sahut Astuti terkekeh. Gung De pun hanya manggut-manggut saja.
"Sayang, kau yang memasak semuanya?" Bobby menatap Giska.
Giska pun mengangguk.
"Uhhh, aku juga mau makan masakanmu, Gis." Bobby pun mengambil piring, lalu mengambil makanannya. Lalu ia pun langsung melahapnya.
Giska yang melihat semua orang menyukai masakannya, ia pun menjadi senang. Itu artinya tak sia-sia ia bekerja sebagai pembantu selama 2 tahun, karena di sanalah ia mulai belajar memasak berbagai makanan yang sebelumnya tak pernah ia masak. Kini, semua itu bisa ia praktek an langsung, untuk suami dan mertuanya.
_______
"Kalian menginaplah di sini. Lagipula ini sudah malam." Astuti menahan Bobby da Giska yang hendak pulang.
"Nanti lain kali aku akan mengajal Giska kemari lagi, Bu. Sekarang biarkan kami pulang ke rumah, ya." Bujuk Bobby.
__ADS_1
"Lagipula aku ingin berduaan saja dengan Giska, Bu. Kalau kami di rumah kan bebas kalau mau berbuat apapun." Bobby mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Bli Bobby!" Protes Giska. Ia menatap tajam ke arah Bobby. Bobby hanya terkekeh melihat Giska melotot padanya.
"Dasar kau pedofilia." Ucap Astuti dan Gung De bersamaan. Keduanya pun saling menatap.
"Aku bukan pedofilia, ya." Protes Bobby memanyunkan bibirnya.
"Lalu apa namanya? Kau tega menyentuh istrimu yang masih 17 tahun." Ucap Gung De terkekeh.
"Ahhhh ,sudah-sudah. Kami pergi dulu." Pamit Bobby kesal. Yang benar saja, kedua orang tuanya malah menganggapnya pedofilia.
__________
"Kenapa tadi langsung pergi seperti itu, Bli? Pasti Ajik dan Ibu hanya bercanda tadi." protes Giska.
Bobby pun terkekeh, "Iya, mereka memang hanya bercanda, Gis. Aku sengaja membawamu pergi, karena aku ingin cepat berduaan saja bersamamu." Bobby mengacak rambut Giska dengan tanga kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kemudi setir mobilnya.
"Ishhhh..." Giska pun kembali merapikan rambutnya.
Bobby pun terkekeh.
"Bli Bobby..." Panggil Giska tiba-tiba.
"Hmmmm... Apa?"
"Apa semuanya akan baik-baik saja? Emm, maksudku apa Bu Tia benar-benar ikhlas menerimaku?" tanya Giska. Jujur, ia selalu saja merasa bersalah kepada Tia. Tapi, setelah mendengar ucapan Ibu mertuanya tadi, ia jadi berpikir ulang untuk meminta pisah dari Bobby. 'Apakah keputusan untuk tetap bertahan ini, salah atau benar?' Itulah yang masih ia pikirkan.
"Kau kan dengar sendiri tadi, Gis. Tia sendiri yang mengatakannya di depan semua orang, tadi. Sudahlah! Berhenti merasa tidak enak kepada Tia. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah menata kehidupan kita, pernikahan kita." Tutur Bobby.
"Iyaa... Aku akan belajar, Bli. Tolong ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan." Jawab Giska.
"Sungguh? Kau mau menerimaku dengan sepenuh hatimu?" tanya Bobby tak percaya.
"Iyaa..."
"Uhhhhh, aku mencintaimu, Gis." Ucap Bobby lantang.
"Ishhhh, tidak perlu teriak juga lah, Bli. Aku tidak tuli."
"Biarkan saja," Bobby memasang senyum lebar di bibirnya.
"Terimakasih ya Tuhan... Kau sudah membuat Giska membuka hatinya untukku. Ohh iya, kalau boleh aku minta satu hal lagi padamu, Tuhan... Tolong bantu aku, agar aku bisa memenuhi janji yang sudah ku ucap kepada Tia." Ucap Bobby dalam hatinya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...