Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Dasar modus!


__ADS_3

"Pulang yuk, Mas. Sudah lama kita berada di sini." Ajak Giska.


"Tapi waktu nya masih lagi 1 jam, Gis. Kita lanjutkan dulu saja, ya." Ujar Ari.


"Ya, ya, Mas. Tapi Mas saja yang lanjut bernyanyi." Ucap Giska, ia menduduk kan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Ayolah, Gis. Kita bernyanyi bersama-sama, seperti tadi." Ari menarik tangan Giska, agar Giska mau bangun dari duduk nya.


"Tidak Mas, aku di sini saja. Kepalaku tiba-tiba pusing." Giska memegangi kepala nya. "Aku istirahat sebentar saja di sini, siapa tau nanti hilang pusing nya." Ucap nya.


"Kau pusing? ayo ku antarkan ke dokter."


"Tidak perlu, Mas. Sudah lanjutkan saja, aku hanya perlu istirahat sebentar." Ucap Giska. "Ada apa dengan kepalaku? kenapa tiba-tiba pusing sekali." Kepala Giska semakin terasa berputar-putar, hingga pandangan matanya pun menjadi buram. Semakin lama, kedua mata Giska seakan terasa berat, dan Giska pun tak sadarkan diri.


"Gis ... Giska." Ari menepuk-nepuk pipi Giska, namun Giska tak merespon nya.


Tanpa berpikir panjang, Ari pun langsung membopong tubuh Giska keluar dari ruangan itu. Ari berjalan dengan terburu-buru, hingga ia tak sengaja menabrak salah satu pegawai tempat itu. Namun, beruntung Giska tak terjatuh dari gendongan nya.


"Maaf, Mas." Ucap pegawai itu, "Ini Mbak nya kenapa, Mas?" tanya nya.


"Dia pingsan. Permisi, saya sedang buru-buru." Ucap Ari, ia hendak berlalu pergi dari sana, namun pegawai itu menghentikan nya.


"Biar saya bantu, Mas."


"Tidak perlu, biar saya sendiri. Saya akan membawanya ke klinik di sebrang jalan sana." Ujar Ari, ia pun berlalu pergi meninggalkan pegawai itu.


Ari terus berjalan sembari membopong Giska, namun bukan nya ia membawa Giska ke klinik, ia malah membawa Giska ke sebuah penginapan yang berada tepat di sebelah tempat karaoke itu.


Ari meregangkan kedua tangan nya, setelah ia membaringkan Giska di atas kasur. Ari mendekati Giska, ia memandang wajah cantik Giska lekat-lekat, ia membelai lembut pipi Giska, terulas senyuman di bibir nya.


"Kau sungguh cantik, Gis. Aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadamu." Gumam nya, sembari ia menyibakkan beberapa anak rambut yang sedikit menutupi wajah Giska.


Ari menatap Giska dengan penuh nafsu, rasanya ia sudah tak sabar ingin menerkam Giska. Di belainya pipi Giska, ia daratkan satu kecupan di kening Giska, tak hanya mencium kening saja, kini ia malah menciumi seluruh wajah Giska, dan saat ini pandangan nya terhenti pada bibir tipis berwarna merah jambu yang sedikit terbuka itu.


"Kenapa kau cantik sekali, Gis. Bibirmu, aroma tubuhmu, membuatku ingin menerkam mu." Gumam nya, tanpa menunggu lama, Ari membenamkan bibirnya ke dalam bibir Giska, ia menghisap bibir itu dengan penuh kelembutan, ia menelusupkan lidah nya untuk mengabsen seluruh deretan gigi di dalam mulut Giska.


˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚˚


Beberapa jam kemudian.


Giska nampak megerjapkan kedua bola mata nya, hingga ia membuka matanya sempurna. Pandangan mata nya menyesuaikan setiap sudut ruangan yang asing bagi nya.


"Kepalaku," Giska memegangi kepala nya yang masih terasa sedikit pusing. "Dimana aku? hah, ini?" Giska terkejut, ia baru menyadari bahwa Ari tengah tidur di samping nya sembari tangan nya melingkar di perut Giska.


Giska semakin terkejut tatkala melihat tubuhnya tak hanya memakai dalam saja. Baju dan celana nya sudah berserakan di lantai di bawah ranjang nya. Seketika ia langsung mendorong Ari, dan ia langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Tubuhnya gemetar, ia pun terisak di balik selimut itu, ia tak berhenti mengutuki diri nya sendiri. "Bodoh, aku memang bodoh. Kenapa aku bisa mempercayai laki-laki, dan sekarang? semua kembali terjadi lagi. Aku benci dengan diriku sendiri. Kenapa aku bodoh seperti ini?" Giska semakin terisak di balik selimut nya.


Ari yang menyadari ada yang mendorong nya, ia membuka kedua mata nya, ia mendengar suara isakan tangis di balik selimut, ia pun menarik selimut itu, namun Giska menahan nya.


"Brengsek! kau laki-laki biadab!" teriak Giska di sela isakan nya, sembari ia berusaha menahan selimut nya agar Ari tak bisa membuka nya.


"Gis, maafkan aku. Aku sudah kehilangan akal. Maafkan aku, Gis." Ucap Ari, ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada Giska.


"Tapi aku tidak sampai melakukan itu, Gis. Aku masih bisa menahan nya." Ucap nya kembali, ia nampak bingung sendiri.


"Setelah apa yang kau lakukan padaku, dengan mudah nya kau mengatakan maaf!" bentak Giska, dengan suara yang terputus-putus.

__ADS_1


"Aku berani bersumpah, Gis. Aku tidak sampai melakukan itu. Tolong maafkan aku." Ari merengkuh tubuh Giska yang terbalut selimut, ia memeluk nya erat.


"Lepaskan! lepaskan aku! aku bilang lepaskan!" Giska berontak, dengan sekuat tenaga ia mendorong Ari, agar dia melepaskan pelukan nya.


Ari pun masih berusaha membujuk Giska, ia benar-benar merasa menyesal karena sudah bertindak sejauh ini. Ia sungguh menyesal telah merusak kepercayaan Giska, padahal dulu dengan susah payah ia bisa berteman dengan Giska, tapi sekarang, dirinya malah menghancurkan semua nya.


Selama ber jam-jam Ari membujuk Giska, hingga akhirnya Giska mau membuka selimut nya, dan sekarang Giska tengah memakai pakaian nya di dalam kamar mandi.


Giska nampak baru keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian nya, ia langsung berjalan ke luar kamar, ia melewati Ari tanpa bicara sepatah kata pun. Giska terus berjalan dengan mata nya yang terlihat sembab, karena ia terlalu lama menangis. Semua orang yang berpapasan dengan nya, memandangnya dengan penuh tanya, namun Giska cuek, dan ia memilih terus berjalan tanpa memperdulikan semua orang yang berada di sekitar nya.


Sementara Ari, ia berjalan mengikuti Giska, sesekali ia menggandeng tangan Giska, untuk mengajak nya berjalan bersama, namun Giska selalu menepis tangan nya. Dan kini Ari hanya bisa berjalan mengikuti Giska dari belakang, dengan rasa sesal yang mengganjal hati nya.


Brukk.


Giska menabrak seorang pria di lobby penginapan itu. Giska sekilas mendongak menatap pria yang di tabrak nya itu, lalu ia kembali menunduk.


"Giska..." Dengan cepat Ari menghampiri Giska, ia ingin membantu Giska berdir, namun lagi-lagi Giska menepis tangan nya.


"Kalau jalan, lihat-lihat, dong!" bentak seorang pria yang bertabrakan dengan Giska. Namun Giska tak menjawab apa pun, ia langsung berdiri sendiri dan kembali berjalan meninggalkan orang itu.


"Dasar tidak sopan!" bentak nya.


"Maafkan teman saya, Mas." Ari mewakili Giska meminta maaf kepada pria itu, lalu Ari berlalu pergi dan kembali menyusul Giska.


"Tunggu, bukankah dia gadis yang bertabrakan dengan ku, di depan restaurant waktu itu?" pria itu nampak kembali mengingat. "Dasar, gadis zaman sekarang, masih kecil sudah main-main ke penginapan." Gumam nya.


"Pa... Kenapa berhenti di sana?" teriak wanita yang sudah berada di depan meja resepsionis.


"Ya, tunggu." Pria itu berjalan ke arah wanita itu.


"Ada apa, Pa? kenapa terlihat kesal begitu?" tanya wanita itu.


"Sudahlah, di mobil mana enak. Lebih baik kita istirahat di sini sebentar, sebelum kita melanjutkan perjalanan." Ujar wanita itu, ia menggandeng pria itu.


"Terserah kau saja."


***


Di tempat lain.


Giska baru sampai di rumah majikan nya, ia berusaha tersenyum menyapa Atem yang membukakan pintu gerbang untuk nya.


"Kau naik ojek, Gis?" tanya Atem.


"Iya, Bi. Oh iya, Bi, apa boleh Giska minta tolong?"


"Kenapa, Gis?"


"Bi, tolong jangan bilang kepada Ce Diana jika aku sudah sampai di sini. Nanti kalau di tanya, bilang saja aku belum pulang." Pinta Giska.


"Kenapa begitu?"


"Aku ingin istirahat sebentar, Bi. Badanku sedikit meriang." Giska berbohong.


"Ya, baiklah, Gis. Masuklah ke kamar mu." Titah Atem.


"Terimakasih, Bi." Giska berlalu pergi ke kamar nya.

__ADS_1


"Ada apa dengan anak itu? mata nya terlihat sembab, seperti habis menangis." Batin Atem.


Sementara Giska, ia langsung mengunci pintu kamar nya, lalu ia merebahkan tubuh nya ke kasur. Giska kembali menangis, namun ia berusaha menahan tangis nya agar tak sampai mengeluarkan suara.


"Apa yang mereka cari dari diriku? kenapa semua laki-laki memperlakukanku seperti ini?" Giska memukul-mukul tubuh nya sendiri. "Kenapa harus aku yang mengalami nasib seperti ini?" pandangan Giska menatap ke sembarang arah, ia terdiam mengingat semua nya.


***


Keesokan paginya.


Setelah semalaman Giska mengurung diri di kamar nya, bahkan makan pun tidak, mandi pun juga tidak. Pagi ini Giska bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa, ia dan Atem langsung mengerjakan tugas nya. Pekerjaan demi pekerjaan telah mereka selesaikan, dan kini waktu nya mereka menyegarkan tubuh nya masing-masing.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kini Giska sudah hampir 2 tahun menjadi pembantu di sini. Semakin hari Vellyn semakin lengket dengan Giska. Di usia nya yang baru memasuki 6 tahun, Vellyn semakin pintar, ia juga tumbuh menjadi gadis yang cantik nan lucu. Vellyn memiliki hati yang begitu baik, ia tak menganggap Giska sebagai pembantu nya. Ia menganggap Giska seperti kakak nya sendiri. Kakak yang selalu menemaninya setiap hari, dari dia bangun tidur hingga ia akan tidur kembali. Kakak yang selalu menemaninya bermain, kakak yang selalu sabar menghadapi tingkah nakal nya. Jika ada siapapun yang menyebut Giska adalah pembantu nya, ia pasti akan marah.


Berbeda dengan Sephine, Sephine yang kini sudah berusia 10 tahun, ia juga tumbuh menjadi gadis yang cantik nan imut. Tetapi sifat nya sedikit berbeda dengan Vellyn. Sephine tak mau begitu dekat dengan para pembantu, ia nampak jelas memberi jarak dengan para pembantu. Namun, itu semua bukanlah salah nya, karena itu adalah hak nya sendiri.


Back to Giska.


Semenjak kejadian bersama Ari waktu itu, Giska menjadi lebih menutup diri dengan semua laki-laki. Ia juga menjauh dari Ari, bahkan ia tak mau mengenal Ari lagi. Kini ia fokus menjalani kehidupan nya tanpa mau berdekatan dengan lelaki mana pun. Kini ia tak mau menjadi gadis lemah, yang gampang di manfaatkan oleh para lelaki.


Banyak lelaki yang mendekati nya, mengajak nya berteman, atau sekedar berkenalan. Seperti saat ini, ada beberapa pekerja jalanan yang sedang memperbaiki jalan tepat di depan rumah majikan nya.


"Gis, boleh minta nomor ponsel mu?" tanya bapak pegawai jalanan itu, yang melihat Giska tengah menemani Vellyn bermain di depan sana.


"Untuk apa?" jawab Giska dari dalam pagar, namun ia tak menoleh ke arah Bapak itu.


"Nanti ku isikan pulsa." Ucap Bapak itu di luar pagar.


"Tidak perlu. Pulsaku sudah banyak." Sahut Giska, lalu ia segera mengajak Vellyn masuk ke dalam.


"Dasar, modus mau mengisi pulsa ku. Miris sekali aku ini, sampai bapak-bapak itu pun, mau mendekatiku. Apakah di keningku tertulis kalimat gadis gampangan? sehingga semua orang selalu saja berniat buruk padaku. Tidak Bapak sendiri, tukang ojek, tukang becak, supir, semua sama saja." Batin Giska.


"Mbak Giska, kenapa orang itu tadi bisa tau nama nya, Mbak Giska?" tanya Vellyn.


"Mbak juga tidak tau, Vell."


"Mbak, jangan dekat-dekat sama orang yang tidak di kenal ya, nanti Mbak Giska di sakiti." Ucap Vellyn dengan polos nya.


"Iya, Vell. Aduh, perhatian sekali, sih." Giska mencubit pipi Vellyn dengan pelan. Ia terlalu gemas.


"Mbak, aku kebelet pipis." Vellyn memegangi milik nya, sembari tubuh nya sedikit membungkuk.


Giska langsung menggendong Vellyn, ia sedikit berlari hendak membawa Vellyn ke kamar mandi, namun saat melewati kamar mandi pembantu, Vellyn berontak turun, lalu ia langsung masuk ke kamar mandi itu.


"Vell, kenapa pipis di sini? nanti kalau Cici nya Vellyn melihat, pasti akan marah-marah." Ucap Giska.


"Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula di sana dan di sini itu sama saja. Sama-sama kamar mandi, jadi boleh pipis di mana saja." Jawab Vellyn.


"Ya, kalau Vellyn tidak apa-apa. Beda ceritanya kalau ketahuan Sephine." Batin Giska.


Dan benar saja...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2