Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2

Demi 9 Juta, Aku Jadi Istri Ke 2
Ada apa denganku ini?


__ADS_3

Bijaklah dalam memilih bacaan.


Area 21++++++++++


Bagi yang belum cukup umur, langsung skip saja ya part iniπŸ™πŸ™πŸ™


🌹🌹🌹


Usai Bobby keluar dari kamar, satu jam yang lalu. Tia berinisiatif menyusul Bobby di ruang tengah. Tia berjalan menghampiri Bobby, di ruang tengah. Dari kejauhan, ia bisa melihat dengan jelas, saat ini Bobby nampak sangat gelisah.


"Nampaknya obat itu sudah bereaksi." Gumam Tia, ia tersenyum penuh makna.


Tia berjalan melenggak lenggokkan tubuh sexy nya. Lingerie sexy berbentuk singlet yang ia pakai, membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas, dan itu berhasil membuat tubuhnya nampak semakin sexy. Dada yang menonjol besar, serta pantat yang bulat nampak bergerak seirama dengan langkah kaki nya.


"Pa..." Panggil Tia, saat sudah berdiri di hadapan Bobby.


Greebbb....


Tiba-tiba saja Bobby langsung memeluk tubuh Tia dengan sangat erat. Satu tangan nya pun mulai menjalar kemana-mana. Bibir nya pun mulai mengecupi bahu telanjang Tia. Tak berhenti di situ saja, kini bibir nya beralih mengecupi leher jenjang Tia.


Mendapat sentuhan hangat nan lembut dari Bobby, darah Tia pun berdesir hebat. Bulu-bulu halus di tubuh nya pun meremang. Ia seolah merasa dirinya tengah terbang melayang ke angkasa. Desahan manja pun lolos begitu saja dari mulut nya.


"Emmphhh..." Desah Tia.


"Apa kita akan melakukannya di sini, Pa?" tanya Tia dengan nada sensual. Jemari lentiknya pun membelai dan menelusuri pipi Bobby.


"Iya, Gis. Anggap saja kita mencoba suasana baru." Ucap Bobby lembut, seraya menarik lingerie yang Tia kenakan.


Deg... Hati Tia serasa tertusuk ratusan jarum, saat Bobby menyebut nama Giska. Padahal jelas-jelas saat ini dia lah yang sedang bersama Bobby. Bahkan saat ini tubuhnya lah yang sedang di belai oleh Bobby, tapi, kenapa malah nama Giska yang ia sebut?!


"Menyebalkan!" Gerutunya dalam hati. "Tapi, biarkan saja lah, meski Giska yang di ingat, yang terpenting saat ini tubuhku lah yang akan di nikmati." Batin Tia, ia tersemyum penuh makna. Ia mengesampingkan rasa sakit di hatinya, demi mendapat hak dari Bobby. Karena jarang-jarang ia di perlakukan Bobby semanis ini. Bukan jarang lagi, malah hampir tidak pernah selama 4 tahun terakhir ini.


"Uhhh..." Kedua mata Bobby berbinar, saat ia melihat dua gundukan sintal size D itu, nampak menonjol. Sungguh indah pemandangan nyata yang kini ada di depan matanya.


Tanpa pikir panjang, Tia langsung mendorong Bobby, hingga Bobby terduduk di sofa. Dengan lihai, ia langsung melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuh Bobby. Matanya pun seketika berbinar ketika ia melihat Joni sudah tegak, setegak tiang listrik. Tapi, Joni tidak karatan lho ya, wkwkwk.πŸ˜‚πŸ˜‚


"I love you, Pa." Bisik Tia dengan nada sensual. Tangan kanan nya pun langsung memegang Joni. Perlahan ia menarik ulur Joni, pijatan lembut nan menggoda juga ia berikan kepada Joni.


"Uusshhh... Uhhh...." Desahan pun lolos begitu saja dari mulut Bobby. Ia pun hanya bisa pasrah menerima pijatan dari Tia.


"Gis, ayolah! Aku sudah tak tahan lagi." Rengek Bobby. Ia pun langsung membenamkan bibirnya ke bibir Tia.

__ADS_1


"Empphhh, Pa..." Tia melepas ciuman Bobby.


"Berikan aku kenikmatan dulu, baru kita mulai yang sesungguhnya." Bisik Tia menggoda. Ia pun langsung menarik tangan Bobby, dan ia meletakkan nya tepat di depan lubang miliknya.


"Buatlah aku melayang, Pa." Pintanya dengan suara sexy nya. Entah kenapa suara Tia terdengar seperti desahan. Dan itu membuat Bobby semakin bergairah dan hasrat nya pun semakin besar.


"Ayolah, Pa!" Tia membuka kedua pahanya, seolah ia ingin jari Bobby masuk ke dalam lubang miliknya.


"Sejak kapan kau jadi nakal seperti ini, Gis. Hmm tapi tidak apa-apa, aku suka kenakalanmu yang seperti ini." Bobby mengedipkan sebelah matanya.


Tanpa pikir panjang, Bobby beranjak bangun dari sofa, lalu ia pun berlutut di depan Tia. Kini ia bisa menatap dengan jelas belahan inti milik Tia yang berada tepat di depan muka Bobby.


Jari jemari Bobby perlhan mengusap lembut paha Tia, lalu perlahan merambat ke lubang kenikmatan milik Tia, lalu satu jari nya pun menelusup masuk dan mengoyak di dalam sana.


"Oowwhhggg, Pa..." Racau Tia sembari matanya terpejam lalu terbuka lagi.


Mendengar desahan dan racauan dari Tia, yang terdengar menggoda di telinga Bobby, semakin membuat Bobby bergairah. Ia pun menambah lagi 2 jari nya masuk ke dalam sana. Ia mengoyaknya dengan sangat lihai, sampai-sampai mulut Tia tak berhenti mendesah dan meracau.


"Awwhhhh... Ohhhhh.. Uhhhh." Desahan Tia terdengar semakin sexy.


Lalu...


"Awwhhhh..." Desahan demi desahan terdengar saling bersautan dari mulut Bobby dan juga Tia.


"Gis... Aku hampir...." Racau Bobby di sela-sela ia mengerjakan permainan nya.


"Stop panggil Giska! Aku Tia, Pa!" seru Tia. Kedua mata nya yang nampak sayu menatap kesal ke arah Bobby. Namun, meski begitu ia masih menikmati permainan Bobby yang mampu membuat tubuhnya bergetar.


Mendengar Tia berseru, Bobby pun seketika menghentikan permainan nya. Ia menatap Tia lekat-lekat, ia pun menjadi tersadar bahwa wanita yang sedang ia jamah ini adalah Tia, bukanlah Giska.


"Ada apa denganku ini?" batin Bobby. Ia pun langsung melepas penyatuan nya dengan Tia. Dan itu membuat cairan miliknya berceceran di paha Tia.


Bobby pun beranjak berdiri, dan langsung melangkahkan kaki menuju kamar nya.


Tia pun tersenyum menatap kepergian Bobby. Ia hendak bangun, tetapi ia urungkan karena tubuhnya benar-benar lemas. Tenaga nya telah terkuras akibat pergumulan nya dengan Bobby.


"Syukurlah, kau baru menyadari saat di detik-detik terakhir, Pa. Kau sungguh luar biasa, permainanmu sungguh epic sekali. Inilah yang ku rindukan selama 4 tahun terakhir ini. Rasanya aku tak ingin mengakhiri pergulatan ini." Gumam Tia, seulas senyuman pun tergambar di bibir nya.


Di tempat lain Giska ketakutan karena ulah Bram. Ehh di sini Bobby malah ber ehem-ehem ria sama Tia. Ehh tapi ga salah juga sih, Tia kan masih istrinya juga. Maapkan Bobby yakkπŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™


***

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Bobby pun langsung berjalan menuju ranjang nya. Ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang itu. Tak perlu menunggu waktu lama, Bobby pun tertidur pulas di ranjang itu. Entah karena ia kelelahan atau karena matanya memang sudah mengantuk. Yang jelas, baru beberapa menit ia berbaring, ia langsung terlelap.


Tak lama setelah Bobby tertidur, masuklah Tia ke kamar itu. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Bobby, hingga akhirnya ia pun ikut tertidur.


🌹🌹🌹


Keesokannya, matahari sudah menampakkan wujudnya. Cahaya nya menyusup masuk ke dalam kamar, karena tipis nya tirai yang terpasang di jendela kamar itu. Pagi ini, pasangan suami istri ini, nampak masih tertidur pulas di balik selimutnya masing-masing. Sepertinya mereka berdua kelelahan akibat pergulatan semalam.


Berbeda dengan Bobby dan Tia yang masih tertidur pulas. Giska justru sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia bahkan sudah belanja di warung yang letaknya tak jauh dari rumah nya. Bahkan ia pun juga sudah memasak makanan untuk Bapak nya.


Saat Giska pulang ke rumah, ia tak mendapati Bram, di rumah. Entah kemana perginya Bram, sepagi ini. Atau jangan-jangan, semalam Bram memang tak pulang ke rumah.


Giska jelas merasa cemas akan keberadaan Bapak nya saat ini, ia juga merasa khawatir dengan kondisi Bram. Namun, sebisa mungkin ia mengubur kecemasannya tentang Bapak nya, mengingat apa yang Bapaknya lakukan semalam.


Mengingat tentang Bapak nya yang tidak berada di rumah, ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk segera mandi. Mengingat perbuatan Bapak nya, sungguh membuat Giska menjadi tak tenang ketika melakukan apapun di dalam rumah ini. Bahkan, saat ini pun ia mandi dengan sangat tergesa-gesa.


Sekitar 5 menit kemudian, Giska nampak keluar dari kamar mandi. Ia juga sudah terlihat rapi dengan celana jeans panjang dan juga baju lengan panjang yang langsung ia pakai di dalam kamar mandi. Entahlah, mandi selama 5 menit bersih atau tidak, yang jelas ia sudah memakai sabun dan juga menggosok gigi nya.


Kini Giska pun bersiap-siap untuk kembali ke Bali, pagi ini juga. Ya, seperti ucapan nya semalam kepada Bobby, ia sudah memutuskan untuk kembali ke Bali, pagi ini juga. Meskipun sebenarnya ia berat meninggalkan Bapak nya, karena baru sehari ia pulang ke rumah, setelah beberapa bulan ia tak pernah pulang. Sejujurnya, ia merasa rindu dengan Bapak nya, ia ingin menemani Bapak nya lebih lama lagi, tetapi mengingat apa yang akan Bram lakukan semalam, rasa rindu serta rasa cemas nya menghilang seketika.


Beberapa menit kemudian.


Saat Giska hendak berangkat ke terminal, Bram masih tak kunjung pulang.


"Apa aku tunggu sampai Bapak pulang saja, ya?" batin Giska, bingung. "Tapi, nanti kalau Bapak berbuat itu lagi bagaimana?"


"Ahhh, Biarkan saja lah, nanti juga pulang sendiri. Lebih baik aku langsung berangkat saja." Gumam Giska, ia mencoba sedikit melawan rasa iba nya terhadap Bram.


Sebelum Giska berangkat, tak lupa ia meninggalkan uang untuk Bram. Ia pun meletakkan uang itu di bawah bantal yang biasa di gunakan oleh Bram.


.


.


.


Bersambung...


Jangan bully Bobby yakk... 😁😁😁


Maapkan jika ada kata-kata yang keliru yakkπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2